
Keesokan harinya, Jonathan bersiap-siap merapikan bajunya yang dikenakan. Apartemen yang mereka tempati termasuk luas dengan dua kamar. Jonathan meminta Joshua ikut dengannya karena Jonathan akan mengajari Joshua bagaimana bernegosiasi di lapangan.
"Sudah siap?" tanya Jonathan melihat Joshua yang sedang memakan dasinya.
"Buat apa pakai dasi? Memang kamu di kantor?" tanya Jonathan sedikit tertawa
"Tadi katanya formal."
"Yah nggak usah pake dasi juga kali. Kita mau ketemu orang biasa. Bukan direktur."
Joshua melepas dasinya dan meletakkannya di atas meja rias.
"Okelah. Begini saja." kata Joshua pada akhirnya.
Mereka langsung turun ke basement mengambil mobilnya yang terparkir. Jonathan menyetir dan Joshua mengikutinya saja. Jonathan sambil melihat gps dimana letak rusub yang akan dibongkar. Lima belas menit kemudian Jonathan melihat rusun yang terlihat tidak terlalu layak ditempati. Jonathan memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan melihat rusun dengan penghuni yang masih bertahan tinggal disana.
Jonathan menemui beberapa orang yang telah bekerja sama dengannya. Ia mendiskusikan beberapa hal di ruang kantor rusun tersebut.
"Bagaimana? Sudah berapa unit yang setuju pindah?" tanya Jonathan kepada orang yang bekerja mengurus rusun disana.
"Sejauh ini baru tiga unit yang setuju pindah."
"Lainnya? Alasannya apa?" tanya Jonathan.
"Mereka tidak bersedia jika bangunan ini dibangun ulang dengan alasan biaya sewa akan semakin mahal dan bagaimana jika mereka menunggak membayar sewa?" kata kepala rusun disana.
"Bapak lihat deh. Bangunan ini sudah mau hancur. Dan kebetulan gedung ini berada di bawah naungan properti yang saya tangani. Kalau gedung inj hancur terus ada yang celaka, kalian mau minta ganti rugi sama saya? Begitu?" ujar Jonathan cepat. Joshua sedikit terkejut dengan keberanian kakaknya di pekerjaan lapangan.
"Tapi bagaimana mengenai uang sewa, Pak? Apa kita tidak bisa mempertimbangkan hal itu juga?"
"Kalau masih mau hidup, bayar sedikit lebih mahal itu wajar, Pak. Kecuali kalian sudah tidak punya keinginan hidup, boleh lah tinggal di gedung yang mau hancur ini."
Kepala rusun itu terdiam dan tidak tahu bagaimana harus menyahutinya lagi. Jonathan menghela napas panjangnya. Tidak habis pikir dengan cara berpikir seperti ini.
"Ada berapa total unit disini?"
"Sekitar seratus enam puluhan, Pak."
"Oke. Baik. Bagi yang memiliki kendala dan ingin mengajukan keluhannya, saya tunggu disini sekarang!!" perintah Jonathan. Kepala rusun itu mengangguk mengerti. Rasanya ia sudah sedikit takut dengan Jonathan yang tegas. Kepala rusub itu langsung mengirimkan broadcast message kepada seluruh penghuni rusun dan bagi yang bersedia menemui Jonathan, bisa langsung datang menemuinya di ruang kantor.
"Sedikit sulit." ucap Jonathan pelan.
__ADS_1
"Apa akan berhasil?" tanya Joshua sedikit cemas.
"Kita lihat saja nanti."
Penghuni rusun mulai ramai ketika mendapatkan broadcast dari kepala rusun. Mereka tidak menyangka bahwa pemilik rusun akan dapat secepat itu. Dan mereka tidak memiliki persiapan pindah dalam waktu depan.
"Apa yang harus kita lakukan? Pemilik rusun sudah meminta kita mengambil keputusan." kata seorang penghuni dari unit 15.
"Bagaimana ini? Aku juga tidak setuju dengan peraturan yang mendadak ini." sahut seseorang lagi dari unit 19.
"Bagaimana kita pindah? Kalau kita setuju, uang sewa akan semakin mahal!" sahut seseorang lagi dari unit 24.
Mereka berkumpul merundingkan apa yang harus dilakukan dengan peraturan yang ada. Suara mereka terdengar gaduh dan banyak kontra yang akan mereka ingin katakan.
Jonathan menunggu ada yang datang ke kantor. Ia menghentakkan kakinya secara berirama. Menunggu ada yang datang menanyakan mengenai pembangunan ulang rumah susun.
Dua puluh menit berlalu. Dan belum ada yang datang ke kantor.
Jonathan masih menunggu. Sedangkan Joshua sudah merasa bosan dengan menunggu.
"Permisi, Pak." kata kepala rusun menghampiri Jonathan.
"Sepertinya tidak ada yang datang." kata kepala rusun.
Jonathan melihat arlojinya dan sudah empat puluh menit berlalu.
"Saya tunggu lima belas menit lagi." kata Jonathan dengan wajah tegasnya. Kepala rusun itu mengelap keringat yang keluar dari dahinya.
"Baik, Pak."
Kepala rusun keluar dari ruang kantor dan menghela napas dalam-dalam. Ia merasa sesak dengan kedatangan Jonathan hari ini.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kepala rusun. Yang ternyata dikenal baik oleh kepala rusun.
"Bu Parmo?" sapa kepala rusun dengan senyum.
"Dimana kami bisa menanyakan tentang pembangunan ulang rusun ini?" tanya wanita paruh baya yang dipanggil Bu Parmo itu.
"Silakan masuk ke dalam kantor, Bu." kata kepala rusun membuka pintu ruangan dan membiarkan Bu Parmo masuk.
Setelah masuk, betapa kagetnya Bu Parmo, melihat lelaki tampan dengan jas dan pakaian yang wangi duduk di ruangan itu. Mata Bu Parmo membesar melihat paras wajah yang tampan. Apakah dia artia Korea atau semacamnya?
__ADS_1
"Ah selamat siang." kata Bu Parmo dengan lembut. Ia mengulas senyum wajahnya dengan genit dan melihat wajah tampan itu lekat-lekat. Benar-benar tampan, kata Bu Parmo.
"Ya, selamat siang." sapa Jonathan dengan senyum yang lembut.
"Saya ingin menanyakan tentang pembangunan ulang rusun ini. Benar Bapak pemiliknya?" tanya Bu Parmo melembutkan suaranya.
"Ya, benar itu saya. Silakan duduk." kata Jonathan. Joshua menghela napas. Akhirnya ada satu orang yang datang menanyakan tentang pembangunan ulang rusun.
"Seandainya dibangun ulang, apakah ada kompensasi bagi kami? Karena kami harus tinggal di tempat lain beberapa saat. kami juga harus memikirkan tentang biaya sewa." tanya Bu Parmo.
"Kami tidak memberikan kompensasi apapun. Tapi kami akan memberikan diskon bagi penghuni lama yang bersedia pindag dari sini. Agar kami bisa menjalankan pembangunan ulang." kata
Bu Parmo membulatkan matanya.
"Benarkah? Mengapa tidak ada kompensasi dari Anda? Seharusnya kalian menyiapkan kompensasi bagi kami. Mengapa kalian begitu pelit tidak mau memberikan kompensasi?" ujar Bu Parmo.
Jonathan tersenyum sinis.
"Pelit? Saya akan memberikan harga khusus bagi penghuni lama. Saya juga akan membangun fasilitas disini lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Anda lihat, gedung ini sudah mau hancur. Banyak retak dimana-mana. Bagaimana bisa Anda tinggal di bangunan yang sudah mau hancur? Saya ingin membangun ulang rusun ini dengan bahan baru yang lebih baik. Apakah kalian tidak ingin tinggal di tempat yang lebih nyaman?" balas Jonathan.
"Lalu bagaimana dengan uang sewa? Dengan bangunan baru, harga pasti lebih mahal. Dan kami semua tidak sanggup dengan harga baru!" ujar Bu Parmo lagi.
"Lalu bagaimana? Kalian semua mau tinggal dibangunan yang hampir hancur demi harga sewa yang lebih murah? Lalu bagaimana dengan kenyamanan dan keselamatan nyawa kalian? Apa tidak dipikirkan?" tanya Jonathan lagi.
"Lalu, kemana kami harus pergi selama pembangunan ulang?"
Perdebatan semakin seru. Joshua sudah mulai menegang. Tapi Jonathan masih semangat meladeni Bu Parmo.
...****************...
Visual Jonathan
Karena lebih sering ngedrakor, author lebih suka aktor wajah Korea. Huhuhu...Gimana ya? Gapapa kan?
Visual Jonathan aku langsung tertuju sama Ha Seok Jin. Gatauu kenapaa auranya kok kek cocok gitu sama Jonathan.
Terima kasih bnyk yg sudah baca sampai episode ini ya.
Aku lg membentuk karakter Jonathan, manis di depan Erica, tapi galak dibelakang Erica .. 😚
__ADS_1