Rahasia Erica

Rahasia Erica
Kiriman Video


__ADS_3

Erica memulai harinya yang baru sebagai istri dari Jonathan. Ia memulai dengan pekerjaan di bagian Pluit dimana Erica akan memegang cabang itu. Asisten bernama Andrea akan selalu mengikuti kemanapun Erica pergi.


Jonathan memilih Andrea juga tanpa sebab. Andrea cukup pintar membela diri, jadi jika ada sesuatu yang menimpa Erica, Andrea akan membantu menanganinya.


Saat Erica memasuki kantornya yang di daerah Pluit, karyawan yang ada disana memberi salam dengan hormat pada Erica. Erica menyambutnya dengan senyumannya dan berkenalan satu per satu. Andrea yang baru pertama kali ke tempat ini langsung mempelajari seluruh isi kantor ini.


Kini Erica telah sampai di ruangannya. Jonathan membuat dirinya senyaman mungkin. Erica tersenyum melihat ruangan kantornya yang wangi dan bersih.


"Karena hari pertama, santai saja dulu sambil mempelajari berkas disini. Kamu duduk di meja itu. Aku sudah meminta Jonathan untuk menyiapkan meja untukmu. Dan kita seruangan." kata Erica.


"Baik, Bu."


"Kita akan mempelajari berkas dari apartemen yang ada di bawah dulu." kata Erica.


"Siap, Bu."


Erica dan Andrea duduk di ruangan yang sama. Tidak memaksakan diri untuk bekerja keras karena hari ini adalah hari pertama mereka. Erica masih terus mempelajari berkas dengan memperhatikan satu per satu detailnya. Hingga akhirnya jam makan siangpun tiba.


"Maaf Bu, sudah jam makan siang. Apa kita mau makan siang sekarang?" tanya Andrea.


"Duluan aja. Saya masih mau pelajari ini."


"Mau saya pesankan makanan, Bu?"


"Cheeseburger."


"Baik, Bu "


Andrea turun ke bawah. Ia akan membawakan pesanan Erica.


Saat Andrea keluar dari ruangannya, semua karyawan yang ada disana langsung menyapa Andrea dengan sopan. Andrea tanpa senyum berlalu dari hadapan mereka. Sekilas, terdengar bisik-bisik dari mereka..


"Itu asisten Bu Erica? Kok judes ya?"


"Iya, judes banget. Kenapa gitu ya?"


"Kayaknya Bu Erica baik. Kok asistennya beda?"


Andrea hanya tersenyum mendengar kasak kusuk itu sambil jalan menuju pintu lift.


Sementara itu Joshua di Kalimantan sudah mengerjakan proyek dan itu hampir lima puluh persen. Joshua masih terus mengkordinir pembangunan itu.


"Gimana? Apa ada yang perlu ditambahi lagi?"

__ADS_1


"Sejauh ini bahan-bahan masih cukup, Pak."


"Oke. Kalau ada yang kurang kasih tau ya?"


Joshua kemudian berjalan ke tempat dimana barang-barang di stok. Joshua juga mengecek ponselnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat video di ponselnya mengenai Jonathan yang sedang bertemu dengan pemuda di sebuah gang dan pemuda itu di tarik paksa masuk ke dalam mobil oleh beberapa ajudan Jonathan.


Joshua terkejut dan membulatkan matanya. Ia langsung menelpon nomor yang mengiriminya pesan. Tetapi nomor itu tidak aktif. ..


Joshua merasa panik. Ia tidak tahu bagaimana harus meresponnya. Ia mencoba menelpon Jonathan dan mencari tahu apa yang ia lakukan.


Sambungan telpon terdengar cukup lama. Ia merasa khawatir dengan apa yang Jonathan lakukan saat ini. Tetapi tidak lama kemudian, Jonathan menganggkan telpon dari Joshua.


"Halo?" sapa Jonathan dari seberang telpon.


"Kak! Lo lagi ngapain?"


"Ngapain apanya? Ya gue di kantor lah."


"Lo yakin?'


" Kenapa? Kok nggak percaya? Gue mau meeting bentar lagi "


"Lo lagi nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan?"


"Lo nggak lagi nangkep orang masuk ke dalam mobil lo kan?"


Jonathan tidak menjawab. Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaam Joshua.


"Kak!"


"Ya nggak lah. Ngapain gue kayak gitu? Lagian, kok lo bisa nanyain kayak gitu tuh dasarnya dari apa?"


"Gue percaya lo, Kak. Jangan sampe karena apa yang lo lakukan sekarang malah nanti jadi bikin ancur nama lo sendiri."


"Maksudnya apa sih, Josh, gue ngapain emangnya?"


"Lo hati-hati, Kak. Ada orang yang mata-matain lo. Ada yang ngirim video ke gue tentang lo suka nangkepin orang yang ngutang sama lo."


Jonathan kembali terdiam.


"Kak." Joshua kembali melembutkan suaranya lagi.


"Lebih baik lo berenti nyiksa orang yang ngutang sama lo. Kalo Kak Erica tau, lo mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Erica nggak bakalan tau!"


"Tetep aja. Lo harus mikir kemungkinan suatu saat nanti Erica tau apa yang lo lakukan. Ini nggak bener, Kak."


"Udah lo diem aja, kalo nggak ngomong juga Erica nggak bakalan tau!"


"Gue udah ingetin lo berulang kali ya. Dan ini entah ke berapa kalinya. Berenti atau nama lo bakalan ancur nantinya."


"Ngomong apa sih! Nggak bakalan!"


"Oke, Kak. Bye."


Joshua langsung menutup telponnya. Kini, Jonathan ketar ketir dengan ucapan adiknya sendiri. Ia memang tidak memikirkan kemungkinan jika orang lain tahu akan perbuatannya. Karena ia menutupi semua apa yang ia lakukan dengan serapi mungkin. Bahkan ia berusaha agar Erica jangan sampai tahu apa yang dilakukannya dengan Baron. Jonathan tetap ingin menjadi pria yang baik dimata Erica.


Andrea masuk ke ruangan Erica dan meletakkan sekantong makanan untuk Bossnya..


"Dea. Besok kita cek lokasi apartemen ya."


"Baik, Bu."


Erica membuka kantong itu dan melihat ada tiga buah cheeseburger dan kentang. Tak lupa Andrea juga memesankan lemon tea dengan less icenya.


"Kamu tahu darimana makanan saya biasanya kayak gini?" tanya Erica.


"Pak Jonathan sudah memberitahu saya jika Ibu pesan Cheeseburger, maka seperti itulah isinya."


"Thank you, Dea."


"Sama-sama, Bu "


Erica langsung menyantap cheeseburger yang wangi itu.


Sedangkan Jonathan dengan segala kekhawatirannya, mencoba mengerti dengan situasi ini. Ia akan merasa tenang jika tidak ada seseorang yang bisa mengganggu pikirannya.


Jonathan segera menelepon Erica.


"Halo. Sayang." kata Jonathan menyapa di seberang telpon


"Iya Sayang, kenapa?"


"Nanti malam kita dinner yuk. Aku jemput." kata Jonathan.


"Wow keren banget. Baru hari pertama kerja diajak dinner." kata Erica jadi iri. Erica menyudahi pembicaraannya dengan Jonathan di telpon.

__ADS_1


Menjadi pengantin baru memang masib terdengar romantis. Terlebih lagi Andrea. Andrea tidak mendapat ruang untuk bicara pada ruangannya sendiri.


__ADS_2