Rahasia Erica

Rahasia Erica
Masa lalu


__ADS_3

Erica duduk di kursi pantai yang terbuat dari kayu jati dialasi dengan alas busa yang empuk. Ia memandangi kolam renang dengan pemandangan laut yang indah. Lampu kuning di salah satu sudut menjadi pencahayaan malam itu.



Pintu kaca bergeser sedikit. Erica menoleh ke kanan dan dilihatnya Jonathan dengan baju kemeja kasualnya. Wajahnya sedikit lesu dan seketika terlihat lega ketika melihat Erica sedang duduk dj kursi pantai.


"Kamu disini?" tanya Jonathan. Tidak ada jawaban dari Erica. Jonathan mengerti. Pastilah Erica merasa kecewa dengan hal yang baru saja menimpanya. Bertemu dengan Vanessa, terlebih lagi memakai dress dengan rancangannya. Wanita mana yang bisa bahagia mengetahui semua itu?


Jonathan mengambil posisi duduk di sebelah Erica. Kursi yang ada di sebelah Erica. Ia duduk memandangi Erica.


"Jangan melihatku begitu." kata Erica.


"Maafkan aku ya. Aku nggak tahu ada Vanessa disini." kata Jonathan. Erica menghela napasnya.


"Aku bisa apa? Dia masa lalumu. Pastilah tahu kamu punya resort disini. Jadi dia kesini."


"Tapi aku nggak tahu kalau dia ada disini. Aku berani bersumpah. Kalau aku tahu, aku pasti nggak akan kesini, aku akan ke resort yang satunya lagi." kata Jonathan.


"Memang kamu punya berapa resort?" tanya Erica.


"Hmm...Di Bali ada tiga."


Erica hanya mengangguk mengerti.


"Baiklah, baju itu kamu ganti saja. Aku nggak mau kamu pakai baju itu." kata Erica.


"Baju ini bagus."


"Tapi aku nggak suka. Gantilah."


"Kenapa? Karena rancangam Vanessa? Dia pintar mendesain."


"Erica,ayolah. Aku nggak mau kamu memakai baju itu."


"Apa masih ada Vanessa dihati kamu, Jonathan?" tanya Erica.


"Untuk apa? Dia meninggalkan aku. Bahkan dia nggak memikirkan perasaanku saat dia meninggalkan aku. Kerjaanku kacau. Perasaanku kacau. Semuanya kacau."


"Apa masih ada rahasia lagi yang belum aku ketahui, Jonathan?"

__ADS_1


"Kenapa kamu memanggilku begitu?"


"Aku hanya ingin memastikan."


Erica marah. Erica kecewa. Tanpa meluapkan emosinya, tapi nadanya sungguh penuh amarah. Bahkan tatapan matanya. Jonathan takut akan hal itu. Hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari Erica.


"Tidak ada Erica Sayang...Aku bersumpah nggak ada hal yang aku rahasiakan lagi."


Erica memejamkan matanya. Ia menghela napasnya lagi. Ia tahu suatu hari nanti akan bertemu dengan Vanessa. Tapi ia tidak menyangka bahwa dalam keadaan seperti itu. Vanessa cantik. Terlalu cantik untuk diabaikan.


"Baiklah,aku akan mengganti dress ini. Apa hanya ini dress desain milik Vanessa?" tanya Erica.


"Hm, sejujurnya ini semua Prasetya yang pesan. Aku nggak tahu yang mana saja." kata Jonathan. Erica mendelik tajam pada Jonathan.


"Iya,aku telpon Pras sebentar."


Jonathan menelepon Prasetya. Ia menanyakan perihal baju yang dipesankan dan diletakkan dalam kotak. Ia menanyakan mana saja gaun yang di rancang oleh desainer bernama Vanessa..


Setelah beberapa lama berbincang dengan suara yang tinggi, Jonathan menutup telponnya. Ia membalikkan tubuhnya pada Erica.


"Hanya itu saja kata Pras." ucap Jonathan.


"Kalau kamu merasa lelah, kita nggak usah keluar lagi. Kita bisa bersantai disini dan....."


"Dan apa?"


"Apa saja."


Erica sudah kembali di halaman resort dengan memakai sebuah lingerie warna hitam yang berada di kotak tadi sore.



Lingerie hitam dengan outer. Walau baju ini terbuka tapi sedikit nyaman karena tipis. Udara di Bali sedikit panas dan lumayan dingin malam hari.


Bagian atas yang terbuka membuat bulatan itu menyembul keluar dan memperlihatkan tubuh Erica yang indah. Karena lingerie itu pula lah Erica terlihat seksi. Dengan rambut yang digerai menambah kecantikan Erica malam itu.


"Kamu pakai lingerie itu?" tanya Jonathan menatap Erica tidak berkedip.


"Kenapa? Tidak sesuai dengan harapanmu ya?" tanya Erica. Ternyata suasana hatinya belum sepenuhnya membaik.

__ADS_1


"Kamu masih marah?" tanya Jonathan. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Erica yang memandangi pemandangan laut yang sudah tidak terlalu kelihatan itu karena hari sudah gelap.


"Aku nggak marah."


"Lalu?"


"Aku hanya berpikir bagaimana kamu bisa mengabaikan Vanessa yang cantik itu demi aku? Aku yang hanya sekretarismu. Aku yang hanya bawahanmu." kata Erica. Mendengar hal itu, Jonathan menjadi tidak suka. Ia tidak suka Erica merendahkan dirinya sendiri seperti itu.


"Kata siapa? Kata siapa kamu hanya sekretarisku? Kamu adalah Erica, pacar dari Jonathan Johnson! Pewaris J&J Group, properti yang bersaing di Indonesia! Dan aku akan melamarmu setelah mendapat restu dari Ibumu sepenuhnya! Kamu akan kujadikan istriku! Tidak boleh ada seorangpun yang boleh merendahkanmu termasuk dirimu sendiri! Paham?!" kata Jonathan dengan wajahnya yang tegas. Erica sudah sering melihat Jonathan marah di kantor karena karyawannya. Tapi tidak pernah berapi-api seperti ini.


Erica terdiam. Ia tidak berani mengatakan sepatah katapun pada saat Jonathan seperti ini.


Kemudian Jonathan membelai rambut Erica yang panjang dan ikal. Tatapannya menatap Erica dengan dalam. Balutan gaun Erica malam ini membuat Jonathan menjadi bahagia karena ia adalah seorang lelaki yang normal.


Dikecupnya dahi Erica. Tangannya mulai menjalar turun ke lengan Erica. Ia membelai lembut dan mulai meraih pinggang Erica yang ramping.


Ditariknya tubuhnya dalam pelukannya sehingga Jonathan dapat langsung mendaratkan ciuman hangatnya pada Erica. Erica yang tidak bisa memberontak karena tenaga Jonathan sangat besar, melingkarkan tangannya pada punggung Jonathan dan meremasnya perlahan. Malam itu, ia ingin melahap habis tubuh Erica dibalik balutan lingerie hitamnya.


...****************...


Plakkk!!!!


Vanessa menampar Prasetya di kantornya. Kemarahannya membabi buta ketika tahu Jonathan telah bersama wanita lain.


"Kenapa kamu nggak beritahu saya kalau Jonathan bersama wanita lain? Saya pikir kamu akan memberitahu pada Jonathan dengan dress yang aku kirim itu! Tapi apa? Dress itu dipakai oleh pacarnya Jonathan sekarang!" Vanessa meluapkan amarahnya.


"Saya baru tahu kalau tadi Pak Jonathan datang bersama wanita lain, Bu Vanessa. Saya pikir, Pak Jonathan datang bersama Anda. Jadi saya berikan baju itu bersama baju pesanan Pak Jonathan yang lain." kata Prasetya membela dirinya.


"Saya pikir kamu mengatur pertemuan saya dengan Jonathan karena benar-benar tahu kalau saya juga mau ketemu Jonathan. Tapi ternyata kamu sama sekali nggak tahu kalau Jonathan dan saya sudah lama berpisah."


"Kalau saya tahu Anda dan Pak Jonathan sudah berpisah, saya tidak mungkin mempertemukan Anda, Bu. Saya mencoba mempertemukan karena Bu Vanessa juga yang meminta. Mana mungkin saya inisiatif dalam hal seperti itu, Bu?"


Prasteya merasa bersalah. Tapi ia lebih tidak ingin disalahkan oleh Jonathan. Karena Jonathan telah memberikan pekerjaan dengan posisi yang bagus. Ia juga butuh menafkahi keluarganya. Mana mungkin Prasetya mengkhianati Jonathan semudah itu?


"Baiklah, aku akan anggap pertemuan ini tidak ada artinya! Saya nggak akan meminta bantuan kamu lagi untuk mempertemukan saya dengan Jonathan!" kata Vanessa. Ya. Dia sudah kalah. Jonathan sudah membela wanita itu dengan baik didepannya. Bahkan tadi Prasetya ditelpon Jonathan dan dimarahi habis-habisan hanya karena masalah dress.


******


Update gece guys..udh lama ga update ♡ komen dan vote jangan lupa gassss☕︎︎☕︎︎

__ADS_1


...****************...


__ADS_2