
Eshan sudah sampai di Jakarta. Ia diberitahukan oleh Jonathan tempat peminjaman uang dengan jumlah yang banyak ke orang di sekitar yamg ada di Jakarta. Walau baru pertama kali di Jakarta, Eshan berusaha mengenali daerah itu. Eshan diinformasikan oleh Jonathan bahwa Baron berada di sekitar Ibu Kota Jakarta.
Setelah berusaha keliling kesana dan kemari, akhirnya Eshan menemukan tempat yang desainnya seperti rumah, tetapi dalamnya ditata dengan rapi seperti perkantoran. Tempat itu sangat indah dan memanjakan mata. Berbagai barang mahal terpajang disana.
Eshan bertanya pada ajudan yang menjaga pintu disana.
"Selamat siang, Pak." kata Eshan menyapa penjaha yang ada disana.
"Siang." jawab ajudan itu dengan tegas.
"Saya direkomendasikan teman saya, katanya kalau mau pinjam uang bisa disini?" tanya Eshan dengan sedikit ragu. Ia hanya mengetes saja. Ia tidak percaya dengan ucapan pacar Erica itu. Dalam hatinya, ia akan memukulinya jika pacarnya Erica berbohong soal ini.
Ajudan itu tidak langsung menjawab. Ia menyalakan alat komunikasinya yang ada di telinga dan mendengar aba-aba yang diberikan melalui benda itu.
"Ya, benar." jawab ajudah itu dengan nada yang kaku.
"Lalu, kemana saya bisa meminjamnya?" tanya Eshan. Perlahan keraguannya mulai sirna.
"Ikut saya." kata Ajudan itu. Eshan mengikuti langkah ajudan itu dan tibalah ia disebuah ruangan luas yang tidak terlalu banyak perabot tapi memiliki benda pajangan yang mahal terpampang nyata disana.
Pasti pemiliknya sangatlah kaya, batin Eshan setelah melihat porselein besar dengan tulisan aksara China disana. Ia juga melihat kristal dengan bentuk patung Liberty.
Eshan berdecak kagum ketika melihat benda itu terpajang di etalase kaca.
Ajudan itu berkomunikasi lagi melalui alat komunikasi yang ada ditelinga. Dan mengangguk dengan cepat.
Pintu ruang kantor terbuka. Ia melihat kekasih Erica berdiri dengan setelan jas mahal disana.
"Halo." sapa Jonathan dengan santai. Ia melihat raut wajah Eshan yang bingung ketika melihatnya masuk ke ruangan kantor itu.
"Kamu...." Eshan menunjuk Jonathan dengan perasaan yang bingung. Seluruh Ajudan menatap Eshan ketika Eshan berbicara tidak sopan pada atasannya itu.
Jonathan tertawa.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Khusus peminjam hari ini aku akan memberikan perlakuan spesial." kata Jonathan sambil memberi isyarat pada ajudannya agar bersikap tenang.
"Kamu nggak membohongi saya kan?" tanya Eshan penuh curiga.
"Buat apa saya berbohong? Ini memang tempat untuk meminjam uang bagi mereka yang kesulitan. Ah. Karena pemiliknya tidak datang hari ini, jadi aku yang akan mewakilkannya." kata Jonathan.
Eshan masih terdiam dan bingung. Mengapa pacar Erica menjalani pekerjaan seperti ini? Apakah Erica akan baik-baik saja jika tahu pacarnya adalah seorang rentenir seperti ini?
"Baiklah. Abang. Abang mau pinjam berapa?"
"Benar disini saya bisa pinjam seberapa banyak saya mau?"
"Terserah Abang. Abang mau pinjam berapa. Saya akan bantu biar Abang dapat pinjaman." kata Jonathan dengan senyum diwajahnya. Ia senang, akhirnya ada seseorang dengan sukarela mau menjadi mangsanya dikemudian hari.
Eshan berpikir kemudian. Sejenak ia meragukan. Apakah ini benar adanya atau tidak? Masalahnya ia ingin meminjam dalam nominal yang besar.
"Bagaimana kalau tiga puluh juta?" tanya Eshan. Ia hanya mencoba mengetes terlebih dahulu pacar Erica ini membohonginya atau tidak.
Eshan menjadi bingung lagi. Kenapa Jonathan menanyakan hal seperti itu?
"Baiklah. Aku sebenarnya butuh lima puluh juta. Aku ingin membayar semua hutangku." kata Eshan dengan jujur.
"Kalau begitu, bagaimana aku akan lebihkan sepuluh juta? Dengan syarat, ini hanya ada diantara kita berdua. Erica tidak perlu tahu soal ini. Aku yakin, Abang juga nggak mau kan kalau Erica dan Ibu mengetahui hal ini?" tanya Jonathan mencoba bernegosiasi.
Eshan kembali berpikir. Benar juga. Kalau Erica dan Ibu tahu, pastilah mereka akan kecewa berat. Sejujurnya, Eshab tidak mau melakukan hal ini. Hanya saja ia tidak memiliki pekerjaan, jadilah ia harus berhutang seperti ini.
"Baiklah, aku setuju."
"Ambil enam puluh juta. Dalam bentuk kartu. Sekarang." perintah Jonathan pada ajudannya. Ajudan itu segera mengambil kartu berisi enam puluh juta dan memberikannya pada Jonathan.
"Ini kartu milik kami. Abang bisa gunakan." kata Jonathan menyerahkan kartu itu. Kini tatapan Jonathan mulai berubah. Eshan menerimanya dengan senang hati. Sangat mudah sekali meminjam uang seperti ini. Eshan merasa lega karena bisa membayar hutangnya di Sukabumi.
"Tapi ingat, jika uang ini habis, Abang nggak bisa meminjamnya lagi. Kecuali Abang punya jaminan." kata Jonathan.
__ADS_1
"Jaminan? Apa maksudnya? Aku nggak bawa apa-apa kesini!" Eshan mulai terdengar panik.
"Jangan panik dulu, Bang. Abang bawa kok jaminannya itu. Kemana-mana. Setiap hari lagi."
Eshan tidak mengerti dengan ucapan Jonathan.
"Apa itu?"
"Ginjal Abang."
Sontak Eshan langsung histeris ketika Jonathan mengatakan hal seperti itu.
"Gila kamu ya! Kamu mau ambil ginjal saya kalau saya nggak bisa bayar hutang!"
"Loh, ya terserah. Abang butuh nggak? Kalau nggak butuh saya ambil lagi nih." kata Jonathan dengan senyum kemenangannya. Eshan mulai keringat dingin. Ia menyadari bahwa Jonathan adalah orang yang berbahaya. Ia tidak menyangka, adiknya berpacaran dengan orang licik seperti ini.
"Baiklah. Saya setuju."
"Gitu dong. Itu baru Abang yang baik." Jonathan tersenyum setengah ikhlas menyerahkan kartu ATMnya pada Eshan.
"Oh ya, Bang. Ingat. Ini antara kita berdua."
Eshan mengangguk mengerti.
"Baiklah. Saya pulang dulu."
"Jangan repot-repot cari kendaraan umum, Bang. Tadi kan saya sudah bilang kalau saya akan memperlakukan Abang spesial. Kamu! Antarkan Abang ini ke Sukabumi." perintah Jonathan dengan tegas pada salah satu Ajudannya.
"Siap, Tuan." jawab Ajudan dengan cepat.
Eshan sangat takjub dengan Jonathan. Sebesar apa kuasanya hingga memiliki bawahan yang begitu banyak dan sangar seperti ini. Jonathan tersenyum pada Eshan. Tapi Eshan sudah mulai berkeringat dingin. Ia merasa ketakutan.
Kemudian, Eshan diantarkan oleh salah satu ajudan memakai mobil dan pulang ke Sukabumi.
__ADS_1