
Tapi keindahan malam itu hanya berlangsung sementara. Karena Jonathan mendapat telpon dari salah satu ajudannya. Jonathan melihat nama ajudannya disitu dan mengangkat telponnya.
"Halo." sapa Jonathan di seberang telpon
"Bos."
"Kenapa?"
"Bos..."
"Apa? Ada apa?" tanya Jonathan tidak sabar.
"Dia..."
"Dia siapa? Kenapa?"
"Orang yang tadi siang mendonorkan ginjalnya meninggal Bos, dokter Willem memberi tahu saya."
Tubuh Jonathan terdiam. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Rasanya ada sesuatu yang lebih penting dari pada hanya sekedar uang. Yaitu nyawa seseorang.
"Sayang? Ada apa?" tanya Erica.
Jonathan masih belum menyadari jika Erica sedang memanggilnya.
"Jonathan!" panggil Erica dengan suara yang lantang. Dan Jonathan akhirnya menyadari panggilan Erica.
"Iya, Sayang?"
"Ada apa? Kamu kenapa?"
"Aku harus ke rumah sakit sekarang."
"Siapa yang sakit?"
"Aku akan ceritakan di jalan, okey. Sekarang aku harus ke rumah sakit dulu." kata Jonathan.
Erica tidak mengerti dengan apa yang akan Jonathan lakukan bahkan ia tidak tahu siapa yang sakit dan kenapa harus datang malam itu juga. Masih ada pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Jonathan setelah menerima telpon tadi.
Dengan jaket yang menutupi tubuhnya ia mengikuti Jonathan. Dan Jonathan tidak terlalu banyak bicara selama dalam perjalanan.
Setelah sampai di rumah sakit, Jonathan langsung menuju ruang ICU yang sudah ada dua orang ajudan Jonathan disana.
Erica terus mengikuti langkah Jonathan dan terkejut melihat dua orang bertubuh kekar dan kuat ada di depannya. Sejak kapan ada orang seperti ini? Erica tidak pernah melihat orang-orang ini sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Jonathan.
"Pendarahan, Bos. Jadi nggak bisa di selamatkan." kata salah satu ajudannya.
"Terus Dokter Willem dimana?"
__ADS_1
"Di ruangannya, Bos."
"Kita urus seperti biasa."
"Baik Boss."
Erica semakin mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dan apa? Ia melibatkan salah satu Dokter disini? Nggak salah?
Erica menarik tangan Jonathan.
"Kamu mau ketemu dokter siapa?"
"Dokter Willem."
"Terus?"
"Kita bisa bicarakan lagi nanti Erica. Sekarang aku harus bertemu dokter Willem dulu." kata Jonathan tanpa memberi waktu untuk Erica bertanya. Jonathan berjalan ke ruangan Dokter Willem. Erica mencoba mengikutinya. Dan ketika sampai di depan ruangan Willem, Jonathan mengetuk pintu ruangannya.
"Masuklah." kata Willem dari dalam ruangan. Jonathan membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan bersama Erica.
"Pak Jonathan." sapa Willem dan terkejut melihat ada Erica di sebelahnya.
"Dan Ibu...."
"Erica." kata Erica memperkenalkan dirinya.
"Bagaimana Dokter? Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Jonathan langsung pada intinya tanpa berbasa basi.
"Komplikasi. Dan dia juga sudah sempat mengalami pendarahan selama operasi berlangsung." Willem menjelaskan.
"Pendarahan?"
"Iya."
Jonathan terdiam tanpa berkata apapun lagi. Disusul dengan Erica yang tidak paham kenapa Jonathan terlihat begitu gelisah.
"Lalu, apa transplatasinya berhasil?"
"Berhasil. Tapi penerima donor masih belum sadarkan diri."
Jonathan beruntung karena ia akan segera mendapatkan uangnya. Tapi kenapa lelaki itu harus mati ketika berbisnis dengannya? Itu membuat Jonathan semakin menimbulkan rasa bersalah dalam hatinya. Ditambah lagi dengan tatapan Erica yang mengawasinya.
Erica langsung kembali ke ruang ICU dan melihat keadaan seorang lelaki yang baru saja meninggal karena menjalankan operasi. Jonathan ingin menahannyabtaoi
Ketika sampai disana, Ajudan ingin membuka selang pernapasan dan juga infus yang ada dalam tubuh lelaki itu. Tetapi Erica menghampirinya dengan cepat.
"Tunggu." kata Erica. Melihat Erica yang datang dan tahu bahwa itu adalah istri bossnya, mereka langsung menghentikan aktivitasnya. ..
Erica menghampiri tubuh lelaki itu dan melihat dengan seksama tubuh yang mulai membiru itu. Rasanya sangat sakit melihat itu semua ada di tubuh lelaki itu. Dengan mata yang nanar, ia melihat lelaki yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Erica memperhatikan tubuh lelaki yang lusuh dan dipenuhi dengan selang di bagian hidung, mulut dan tanga yang belum di copot oleh suster. Melihat itu hati Erica cukup teriris. Bagaimana bisa pria malang ini menerima takdirnya yang cukup tragis?
Tidak lama kemudian, Jonathan datang ke ruang ICU dan melihat Erica yang sedang berdiri persis di sebelah lelaki yang sudah tidak bernyawa itu.
Jonathan mengembuskan nafasnya yang berat dan melihat Erica dengan penuh rasa bersalah. Sekitar lima menit kemudian, Erica keluar dari ruang ICU dan berjalan dengan lemah. Tanpa daya, ia berjalan melalui lorong rumah sakit. Jonathan mengikuti Erica berjalan dari belakang. Setelah sampai di parkiran, Erica melihat ke belakang dan Jonathan menatap Jonathan dengan mata penuh kebencian.
Jonathan sendiri pun tidak sanggup berkata-kata lagi dengan tatapan Erica seperti itu.
Dengan rasa marah, Erica melayangkan tangannya ke pipi Jonathan. Jonathan sendiri pun terkejut dengan apa yang Erica lakukan.
"Erica..."
"Apa yang kamu lakukan pada orang itu, Jonathan? Orang itu sudah tidak bernyawa lagi!"
"Erica, kamu salah paham. Aku nggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini!"
"Ini ada kaitannya dengan dia meminjam uangmu?" tanya Erica. Jonathan hanya diam tanpa sanggup menjawab pertanyaan Erica.
"Jawab Jonathan!!" teriak Erica. Ia tak sanggup menahan air matanya lagi. Air matanya jatuh bergulir di pipinya.
"Iya, Erica."
"Astaga."
"Aku...."
"Berapa banyak dia meminjam uangmu?"
"Sekitar delapan puluh juta."
"Dan dia harus menggantinya dengan nyawanya?"
"Aku bersumpah Erica, dia yang menawarkan diri! Dia yang ingin urusannya denganku cepat selesai dan dia juga ingin segera melunasi hutangnya!" kata Jonathan
"Aku yakin kamu paham kalau ini bukan hanya sekedar hutang piutang, Jonathan. Tapi juga jual beli organ manusia! Ini picik sekali Jonathan dan ilegal!" kata Erica terdengar sangat kecewa pada Jonathan . Tidak ia sangka lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hatinya bisa melakukan hal keji seperti ini.
"Erica aku janji aku nggak akan melakukannya lagi. Aku pun ingin berhenti dan aku nggak mau melakukannya lagi."
"Kalau kamu mau berhenti, kamu bisa berhenti dari lama! Bukan menunggu orang sudah meninggal kamu baru menyadari kalau ini semua salah!"
"Erica, aku mohon dengarkan aku bicara dulu."
Erica masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin lagi bicara pada suaminya. Setelah ia tahu sisi gelap dari Jonathan ia tidak sanggup lagi menahan dirinya. Ia ingin pergi dari rumah itu sekarang juga. Tapi ini sudah larut. Ia tidak tahu kemana ia harus pergi.
"Aku mau pulang."
Jonathan ikut masuk ke dalam mobil bagian belakang dan tidak bicara lagi karena Erica duduk di bagian depan. Erica mulai menjaga jarak dengan dirinya. Betapa hancurnya hati Jonathan sekarang. Membongkar rahasia dan Erica sangat kecewa pada dirinya.
Kini Jonathan ingin benar - benar berhenti dari semua yang ia lakukan. Ia tidak ingin membuat Erica kecewa lebih jauh lagi tentang dirinya.
__ADS_1