
Erica mengantar kepergian Jonathan ke bandara. Walaupun sudah ada Joshua disana, Jonathan tetap meminta Erica ikut dengannya.
Di dalam mobil, Joshua merasakan kecanggungan antara Erica dan Jonathan, dan itu membuat Joshua tidak nyaman di antara mereka.
"Kenapa sih, Jo, diem-dieman? Ngobrol kek, apa kek. Kan bisa." ucap Joshua.
"Gue lagi mikirin nanti apa yang harus dilakuin di Pontianak." sahut Jonathan.
"Udah, itu kan bisa lo pikirin kalo udah ada di pesawat. Ini kan kalian ada di mobil, ngobrol kek sana. Jangan diem aja. Masa pacaran diem-dieman." kata Joshua kesal melihat keheningan mereka.
"Kamu mau ikutan ngobrol juga ga, Josh?" tanya Erica
"Kok aku, Kak? Kan yang pacaran kalian."
"Ya nggak apa-apa. Kalau mau ngobrol bareng juga, kita bisa ngobrol bertiga."
"Kak Erica bikin aku jadi canggung aja deh."
"Santai aja, Josh. Aku tadi lagi bikin laporan. Jadi belom sempet ngobrol sama Jo. Mungkin nanti pas kita nunggu boarding, kita bisa ngobrol bareng." kata Erica tersenyum
"Lagian lo ngarepin gue ngapain sih? Pegangan tangan? Adegan mesra?"
"Ya, nggak juga sih. Cuna baru kali ini gue ngeliat orang pacaran diem-diem aja. Biasanya kan mesra-mesra gitu." kata Joshua.
"Dasar mesum lo emang!" kata Jonathan tertawa. Mereka meledek satu sama lain, Erica mendengar dengan seksama . Dan akhirnya mereka sampai di bandara.
Jonathan dan Joshua mengeluarkan koper masing-masing. Erica membantu mereka yang sedang mengeluarkan barang-barangnya..
Joshua akan mengurus boarding pass sedangkan Jonathan menunggu Joshua di ruang tunggu.
"Er...." panggil Jonathan memandangi Erica. Erica balik menatap Jonathan.
"Ya, Jo?"
"Pulanglah sama supir. Aku sudah meneleponnya agar mengantarmu pulang." kata Jonathan. Erica menatap Jonathan lekat-lekat.
__ADS_1
"Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Jonathan sambil tersenyum.
"Ah, nggak apa-apa kok. Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai."
Jonathan tersenyum mendengar ucapan Erica untuknya.
"Baiklah, aku akan mengabarimu." jawab Jonathan mengelus rambut Erica dengan lembut. Erica merasa malu diperlakukan seperti itu di depan umum.
"Kalau begitu aku pulang sekarang ya." kata Erica tersenyum .
Jonathan mengangguk.
Erica mulai membalikkan badannya dan melambaikan tangannya ke arah Jonathan. Hari itu, Erica pulang dengan selamat diantar oleh supir kantor.
...****************...
Erica merebahkan dirinya di atas kasur. Ia merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Ia selalu bertanya pada hatinya, mungkinkah ia jatuh cinta kepada Jonathan? Sejak kapan perasaan itu muncul? Rasanya ia selalu berusaha menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta pada Jonathan. Tapi kenapa kali ini rasanya ia gagal mempertahankan prinsipnya?
Apakah karena Jonathan sudah menyatakan perasaannya, jadi Erica merasa ingin mengakui juga perasaannya yang tersembunyi?
"Wah, gila sih, gila! Ericaaa... Gede banget ini apartemennya. Beruntung banget lo bisa ngejalanin bisnis bareng Jonathan. Ga bakal sia-sia deh lo kalo bisa ngedapetin apartemen sebesar ini." kata Arista langsung menyemburkan ocehannya ketika baru masuk ke dalam rumah apartemen baru milik Erica.
"Jangan sembarangan kalo ngomong. Gue juga ga ngerti kenapa dia bisa ngasih gue apart sebagus ini." balas Erica.
"Lo yakin, Er, nggak suka sama bos lo itu? Udah tajir, ganteng, mau jadiin lo pacar boongan. Dari pacar boongan, bisa jadi beneran loh nanti." kata Arista.
"Hm yaa kalo dibilang ganteng ya emang ganteng sih. Siapa sih yang ga suka sama Jonathan? Ganteng, baik, tajir, perhatian kalo jadi pacar. Cewek manapun pasti luluh." sahut Erica.
"Nah lo luluh nggak?" tanya Arista ingin meyakinkan.
"Ya pastilah."
"Terus mau dikemanain hubungan kalian?"
"Kan gue udah bilang ya,kalo gue sama Jonathan cuma ngejalanin kerjasama aja. Dia butuh jasa gue, ya dia bayar gue. Udah, sampe disitu aja."
__ADS_1
"Yakin? Ga ada sedikitpun lo deg-degan di deket dia atau minimal sesek napas?" Arista masih berusaha menginterogasi dan mengorek informasi apa saja yang bisa ia dapat dari Erica.
"Nggak ada, nggak ada." jawab Erica merasa yakin.
"Yakin lo ya? Hati-hati menyesal di akhir." kata Arista memperingatkan
"Iya, yakin gue."
"Oke. Eh ya, lo kapan rencana pulang ke Sukabumi?" tanya Arista
"Ya gatau sih, nunggu libur. Apalagi ngga ada Jonathan di kantor mana bisa gue minta cuti."
Arista mengangguk mengerti.
"Emang kenapa?"
"Kalo lo ke Sukabumi, gue ikut ya. Mau healing di desa..."
"Bisa aja kan, sok merendah..."
Arista tertawa dan juga Erica. Erica akan merasa kesepian beberapa hari tanpa Jonathan. .
Jonathan mendaratkan kakinya di Pontianak. Setelah ia mengembangkan bisnis real estate di tiga kota besar di Pulau Jawa, kini ia ingin mengembangkan real estate di luar Pulau Jawa, yaitu Kalimantan.
Jonathan mengembangkan senyumnya dan berjalan menuju jalan utama bersama Joshua.
"Lahan yang akan kita pakai sudah bersih?" tanya Jonathan
"Masih ada beberapa orang yang nggak mau pindah dari sana dengan alasan sudah tinggal disana bertahun-tahun. Kita akan membangun ulang rumah susun kumuh itu menjadi tempat yang lebih baik. Apa mereka nggak mau?" tanya Jonathan
Joshua diam saja tanpa menjawab pertanyaam Jonathan. Jujur saja dalam hal seperti ini,bukan keahlian Joshua bicara dengan orang-orang yang enggan digusur. Melainkan pekerjaan lapangan adalah keahlian Jonathan.
"Sepertinya akan sulit menangani ini semua. Baiklah kita lihat dulu rumah susun yang akan kita perbaiki." kata Jonathan.
Joshua tidak banyak bicara. Ia mengikuti apa yang diarahkan oleh Jonathan.
__ADS_1