
Tiga tahun yang lalu....
Tengah malam, Joshua terbangun. Ia merasa haus dan ingin sekali mengambil air minum. Hari itu tidak ada orang tuanya di rumah. Hanya ada Jonathan dan bibi yang biasa mengurus keperluannya.
Ah memang dasar orang tua. Kalau Anak-anaknya sudah besar pastilah ingin merasakan kembali indahnya bulan madu.
Joshua terkadang hanya bisa tertawa melihat kemesraan Christy dan juga Dion. Kemesraan mereka diusianya yang sudah bertambah tua, membuat anak-anaknya hanya bisa tertawa geli melihatnya.
Baru saja Joshua keluar dari kamar, ia mendengar suara ribut dari sisi sebelah kanan. Ya, disana adalah sisi kolam renang yang dikelilingi oleh rumput dan juga bale untuk bersantai.
Awalnya, Joshua hanya melihat Jonathan sedang berbincang ringan dengan salah satu karyawannya .
Tapi tidak. Joshua membulatkan matanya dan Jonathan tidak hanya berdua dengan salah satu karyawannya yang memakai kemeja hitam.
Tapi ada dua orang lagi dengan badan kekar yang berdiri berhadapan dengan Jonathan.
Dan, wah apa itu? Seseorang lagi yang tangannya sedang ditahan dan... Bugh!!! Jonathan memukulinya!! Astaga .
Pemandangan apa ini yang baru saja Joshua lihat? Ia tidak menyangka bahwa pandangan matanya melihat kakaknya yang baik dan bertanggung jawab memukuli orang lain.
Terdengar samar apa yang mereka bicarakan. Tapi yang Joshua dengar dengan jelas adalah orang yang dipukuli oleh Jonathan merintih kesakitan dan memohon agar Jonathan tidak memukulinya.
"Kalian benar-benar nggak punya akhlak! Harusnya kalian bawa ke Baron bukan ke rumah saya!" kata Jonathan menampar pipi salah satu ajudannya itu.
"Tapi bos, kami benar-benar menemukannya di sekitaran rumahnya Bos! Maka dari itu saya langsung seret dia kemari! Maksudnya biar bos bisa cepat ketemu dia gitu bos!!" kata salah satu ajudannya membuat pembelaannya.
"Jadi , berapa dia kemarin berhutang?" tanya Jonathan menatap tajam orang yang dibawa oleh ajudannya.
__ADS_1
"Empat puluh lima juta, Bos."
Jonathan berjongkok menghadap wajah sang debitur itu. Mengangkat wajahnya dengan jemarinya. Gerakannya kasar. Tidak lembut sama sekali.
"Kemarin kamu pinjam uang saya langsung kasih. Sekarang saya minta uangnya, kenapa banyak alasan?" tanya Jonathan. Debitur itupun menatap Jonathan ketakutan. Ia tidak menangis tidak tahu harus menjawab apa.
"Ampuni saya , Pak! Saya janji akan bawa uangnya. Tolong jangan bunuh saya!" kata debitur itu dengan nada memohon.
Jonathan menyeringai dengan tajam. Senyumannya miring ke kanan dan ia berdiri dihadapannya. Diluar dugaan. Bukannya memberi belas kasih, Jonathan menendang debitur itu dengan cepat dan mengaduh kesakitan.
"Akkkhhhh....."
"Saya bukan pembunuh! Kamu pikir saya mau bunuh kamu atau bagaimana? HAH!!!" Jonathan kesal. Ia naik pitam karena disangka ingin membunuhnya. Ia menendang pria itu bertubi-tubi. Joshua yang melihatnya dari lantai atas, terkejut dengan apa yang dilakukan Jonathan. Tidak pernah ia melihat Jonathan seperti itu sebelumnya.
"Kamu harus membayar hutangmu! Bagaimana caramu membayar?! Dasar manusia bodoh!"
Jonathan menghentikan tendangannya. Ia menjadi kesal. Ia memandangi pria itu dengan tatapannya yang tajam.
"Jadi, kapan kamu mau bayar hutang?"
"Saya masih belum ada uangnya, Pak.."
"Tapi, saya mau bayar, Pak..."
"Terus mana uangnya?"
"Masih saya usahakan, Pak.."
__ADS_1
"Pakai apa?"
"Tolong beri saya waktu...."
"Saya punya solusi bagus. Lupakan uang itu dan fokuslah membayarnya."
"Bagaimana caranya Tuan? Sedangkan saya bekerja terus untuk membayar hutang pada Tuan... Saya sungguh ingin membayarnya Tuan..." rintih lelaki itu dengan lebam diwajahnya.
"Kamu tahu kan kalau saya hanya rentenir yang meminjamkan uang? Lalu kenapa kamu sampai menyebut bahwa saya jangan membunuh kamu? Kamu pikir, dengan saya membunuh kamu, uang saya akan kembali?" tanya Jonathan dengan tatapan matanya yang tajam.
Lelaki itu amat ketakutan. Ia mencoba segala cara agar bisa lepas dari jeratan hutang yang mengikatnya seperti ini. Sungguh, berada disituasi seperti ini antara hidup dan juga mati. Lelaki itu pasrah apabila dirinya terbunuh malam itu juga karena tidak sanggup membayar hutang.
"Saya punya kerabat yang sedang membutuhkan donor ginjal. Kalau kamu bersedia mendonorkan ginjal kamu, hutangmu akan saya anggap lunas dan saya tidak akan mengejar kamu lagi. Bagaimana? Tentu saja saya tidak membunuh kamu. Kamu bisa tetap hidup walau hanya dengan satu ginjal. Hutangmu pun lunas." kata Jonathan. Lelaki itu terkejut mendengar solusi yang diberikan oleh Jonathan
"Tapi Tuan..."
"Kalau kamu nggak mau, bayar sekarang juga hutangnya!!!" teriak Jonathan sambil memukuli lelaki itu. Lelaki itu tidak berdaya. Ia tidak punya kekuatan melawan Jonathan..Ia menuruti apa yang Jonathan pinta dengan menandatangani surat diatas materai.
"Saya setuju, Tuan..Asalkan hutang saya lunas dan tidak dikejar lagi." kata lelaki itu dengan pasrah.
"Nah itu baru bagus. Pintar namanya! Ambilkan kertas dan materai. Buat si bodoh ini tanda tangan dengan surat pernyataannya!!" perintah Jonathan pada salah satu ajudannya.
"Siap Bos!"
"Beruntung sekali nyawa kamu nggak hilang malam ini. Besok-besok, kalau mau minjem uang ke rentenir seperti saya hati-hati. Jangan bisanya minjem tapi nggak bisa bayar!! Nggak akan saya biarin kamu lolos di tangan saya! Paham kamu!" kata Jonathan. Lelaki itu hanya mengangguk lemah dan menandatangani surat perjanjian diatas materai itu.
Sementara itu Joshua keringat dingin. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat melalui jendela kaca. Ia merasa apa yang ia lihat kali ini bukanlah Jonathan Johnson dari keluarga J&J Group. Ia berharap apa yang ia lihat malam itu benar-benar bukan kakaknya. Tapi apa daya. Joshua dengan jelas melihat melalui matanya sendiri bahwa yang melakukan hal diluar akal sehatnya itu adalah kakaknya.
__ADS_1
Jonathan yang selama ini ia kenal dengan kepribadian hangat dan juga menyenangkan. Joshua kembali masuk ke dalam kamarnya tidak jadi mengambil air minum malam itu. Ia menundanya sampai keesokan harinya.