
Joshua terbang ke Jakarta untuk menghadiri acara pertunangan Jonathan dan juga Erica. Saat bahagia yang ditunggu akhirnya datang. Joshua tidak menyangka bahwa kakaknya akan secepat ini bertunangan dengan seorang wanita yang polos dan juga baik hatinya.
Ya. Erica sangat baik. Terutama hatinya. Saat pertama kali bertemu, Christy langsung cocok dengan Erica.
Rumah Jonathan sudah di dekorasi dengan mewah. Bunga dipajang disisi kiri dan kanan. Christy menginginkan pesta pertunangan yang elegan tetapi sederhana . Karena Jonathan hanya mengundang orang terdekat saja.
Jonathan meminta Pak Herman agar menjemput Erica di apartemennya, sedangkan Jonathan ikut turun tangan membantu apa yang diperlukan di rumah.
...****************...
Apartemen Erica...
"Ibu..." panggil Erica dari luar kamar. Ibu hanya diam dengan perasaan yang berdebar.
"Ibu, bisa buka pintunya? Kita akan bicara."
Ibu menghela napas, ia bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk Erica.
"Erica..."
"Bu."
"Erica,ini terlalu mendadak buat Ibu. Kenapa Erica nggak bilang kalau akan bertunangan dengan Jonathan hari ini? Ibu nggak tahu apa yang harus Ibu siapkan." kata Ibu dengan perasaan khawatir di hatinya.
"Maaf, Bu. Erica baru bilang beberapa hari yang lalu kalau Erica setuju dengan pertunangan ini. Tapi Erica nggak nyangka kalau Tante Christy mau cepat-cepat dihalalin aja biar semuanya nggak jadi fitnah gitu, Bu..."
"Ibu setuju. Tapi Ibu nggak punya persiapan apa-apa." kata Ibu masih memiliki perasaan gelisah itu dihatinya.
"Nggak apa-apa, Bu. Ibu nggak usah mikirin harus bawa apa. Erica sudah pesan dan minta tolong Pak Herman mengambilkannya. Ibu tenang aja soal itu dan jangan khawatir ya, Bu. Ibu hanya perlu datang dengan baju yang bagus." kata Erica. Ibu akhirnya mengangguk dan menyetujui perkataan putrinya.
"Lalu, bagaimana dengan Eshan?"
"Eshan kan kerja, Bu. Jauh juga di Kalimantan. Mau balik juga pasti nggak mungkin kan, Bu?"
Ibu kembali mengangguk.
"Yasudah Ibu siap-siap dulu "
__ADS_1
"Iya, Bu. Pakai baju yang Erica belikan ya, Bu!"
Ibu mengangguk tersenyum dan masuk ke dalam kamar.
Dua puluh menit berlalu. Ibu sudah rapi dengan pakaiannya. Ia juga sudah siap pergi dengan segala keperluan yang dibelikan oleh Erica. Mereka langsung turun ke lobi apartemen karena Pak Herman sudah menunggu dibawah.
Setelah menaiki mobil, Erica sangat senang karena pesanannya sudah siap di dalam mobil dan ditata rapi oleh Pak Herman.
"Wah makasih banyak ya, Pak sudah ngambilin pesanan saya." kata Erica tersenyum..
"Sama-sama, Non. Oh iya. Ada kotak hijau itu untuk Non dari Mba Vanessa." kata Pak Herman. Erica mengernyitkan dahinya dan mencari kotak hijau yang dimaksud oleh Pak Herman.
Vanessa? Ngapain ngasih-ngasih?
Erica menemukan kotak hijau yang dimaksud dan membuka kotak hijau itu. Jantung Erica berdegup dengan cepat ketika melihat isi kotak itu setelah ia membukanya. Bukan barang atau sesuatu yang mengungkapkan rasa kebahagiaan bahwa ia akan bertunangan dengan Jonathan. Lebih daripada itu. Vanessa belum siap melepaskan Jonathan dari dalam hati Vanessa.
Erica melihat foto yang dicetak terselip di dalam kotak. Ada Jonathan dan Vanessa yang berpelukan dengan hangat dan mesra disana. Tidak hanya foto. Tetapi juga surat yang merupakan tulisan tangan Jonathan dan juga Vanessa. Isinya adalah ungkapan saling merindukan satu sama lain dan berharap waktu cepat berlalu dan segera mempertemukan mereka.
Erica membaca satu persatu kertas itu. Betapa darah di dalam dirinya mendidih dan ingin sekali meluapkan kemarahannya saat itu juga. Bisa-bisanya perempuan itu mengirimkan hal seperti ini pada dirinya pada saat hari pertunangannya. Apa maksudnya? Dan apa motifnya?
"Bagaimana Pak Herman bisa menerima kotak dari Vanessa?" tanya Erica dengan perasaan kesal.
"Jangan pernah terima barang apapun dari Vanessa lagi. Paham, Pak?" kata Erica dengan nada tegasnya, membuat Pak Herman tidak bisa berkata-kata lagi selain menuruti perkataan Erica.
"Baik, Non."
Ibu hanya memperhatikan kemarahan Erica dan mengelus punggung Erica. Sejujurnya, Ibu tidak tahu apa permasalahannya. Tetapi selalu ada alasan dibalik kemarahan Erica.
Setelah tiga puluh menit perjalanan berlalu, mobil diparkirkan di halaman rumah dan Pak Herman membawakan barang Erica yang ada di mobil. Erica ingin segera bertemu dengan Jonathan. Bukan karena rindu. Tapi ingin memberitahu kado dari Vanessa yang sangat menjijikan itu.
"Ericaaa sudah datang, Sayang?" kata Christy dengan nada yang bersemangat. Kemudian mata Christy melihat seorang Ibu dengan pakaian yang cukup pantas melekat di wajahnya.
"Ini Ibu saya, Tante."
Mendengar hal itu, Christy yang semula mengawasinya, kini tidak. Justru ia menyambut Ibu Erica dengan sangat terbuka dan ramah.
"Mari, Ibu, kita duduk di ruang tamu, yuk. Biar nanti Erica ketemuan dulu sama Jonathan. Er, Jo ada di kamarnya ya, lagi siap-siap." kata Christy sibuk melayani para tamu yang mulai berdatangan. Sementara Ibu sudah duduk di sofa sambil di temani cindy. Sedangkan Erica, menuju lantai dua ke kamar Jonathan
__ADS_1
Erica mengetuk kamar Jonathan dengan perlahan.
"Masuk!" kata Jonathan. Erica masuk ke kamar Jonathan.
Jonathan melihat siapa yang datang dan itu adalah Erica, kekasih hatinya.
"Sayaaaang....Kamu cantik banget." puji Jonathan dengan tulus melihat Erica memakai dress yang sangat cantik.
"Aku nemuin ini di mobil." kata Erica menyerahkan kotak hijau itu pada Jonathan. Melihat Erica hari itu tanpa senyum, Jonathan langsung berpikir ada yang nggak beres nih.
Jonathan meraih kotak hijau ukuran sedang itu dan pada saat ia membukanya, betapa terkejutnya Jonathan foto masa lalunya dengan Vanessa ada disini. Secarik surat juga ada disana.. Jonathan langsung terdiam dan melihat wajah Erica yang nggak enak itu.
"Aku...aku nggak tahu sama masalah ini, aku serius Erica." kata Jonathan langsung mengendalikan wajahnya agar tidak terlihat panik.
"Jangan pernah nunjukkin foto menjijikan itu di hadapanku, Jo! Cukup masa lalu kalian hanya kalian yang tau! Jangan pernah melibatkan aku juga dong!" kata Erica kesal
Jonathan tidak bisa membalas apa-apa
Kali ini ia tahu bahwa Erica sedang marah dengannya.
"Aku akan minta Pak Herman bakar saja kotak kecil ini. Jadi kamu nggak perlu khawatir." kata Jonathan mengelus rambut Erica
Tak lama setelah itu, Jonathan berjalan menuju pos jaga di lantai bawah dan segera bertemu dengan Pak Herman.
"Pak."
Herman yang sedang makan, menghentikan aktivitasnya dan meletakkan piring yang sedang ia santap ke atas sebuah meja.
"Pak Herman, kenapa kayak gini aja dikasih tau sama Erica sih? Dia marah-marah jadinya kan!" kata Jonathan.
"Maaf Tuan."
"Bakar ini sekarang juga! Jangan sampai ada sisa sedikitpun!" kata Jonathan. Herman mengiyakan dan segera membakar benda itu.
...****************...
Hai guys!!
__ADS_1
Siapa diantara kalian yg msh bingung sm jalan ceritanya?
Yup, jd aku bikin Jonathan disini jd tokoh yg berpengaruh ya. Berhati baik dan lembut tetapi juga jahat disisi lain. Msh belum terungkap kenapa Jo menjalankan bisnis Baron. Sabar ya. Sedikit demi sedikit akan diungkap tentang bisnis Baronnya.