
Jonathan mengantar Erica pulang. Setelah kedatangan Zaneta, suasana menjadi tidak nyaman dan Christy juga menjadi tidak enak hati dengan Erica. Christy janji, ia akan mengundang makan malam lagi dengan suasana yang lebih nyaman.
Jonathan melihat Erica yang diam saja di sepanjang perjalanan. Ingin sekali Jonathan menyentuhnya. Tapi ia menahan dirinya.
"Maaf ya. Suasana makan malam tadi jadi nggak nyaman." kata Jonathan. Mobilnya sudah terparkir di depan lobi. Ia tidak langsung membukakan pintu untuk Erica. Karena masih ada hal yang ingin ia bahas sedikit dengannya.
"Nggak apa-apa. Lagipula aku senang bisa ketemu sama wanita itu." kata Erica.
"Aku nggak sangka kalau pacar Joshua adalah selingkuhan mantan kekasihmu."
Erica tersenyum kecut.
"Sekarang aku merasa senang bisa putus dari lelaki tidak tahu malu seperti dia. Aku selalu berusaha bersyukur setiap harinya. Maka dari itu aku tidak berpikir bahwa aku akan sakit hati setelah berpisah darinya." kata Erica.
"Kamu kuat. Aku aja mungkin akan melontarkan kata-kata kasar untuknya."
"Kata-kata kasar hanya akan membuat dirimu menjadi lebih buruk. Sebaiknya ucapkan saja dengan kata-kata yang menyakitkan. Rasanya lega banget bisa melontarkan kata-kata yang selama ini aku pendam." kata Erica...
Jonathan hanya bisa tersenyum dalam hatinya ketika melihat senyum Erica mengembang diwajahnya.
"Terima kasih ya malam ini." kata Jonathan,
"Aku juga terima kasih telah dipilih menjadi orang bisa kamu percaya." balas Erica.
"Sama-sama."
Malam itu, Jonathan bisa melihat jelas kecantikan Erica di bawah sinar lampu. Matanya , hidungnya, bibirnya... Membuat Jonathan jatuh cinta pada kekasih samarannya. Ia tidak tahu lagi kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya. Rambut Erica yang terurai, Jonathan mengulurkan tangannya dan merapikannya. Seketika, jantung Erica berdebar kencang dan salah tingkah.
Tatapan Jonathan menatap Erica lekat-lekat malam itu. Ia tersihir dengan segala kecantikan yang dipancarkan oleh Erica.
"Jo..." tegur Erica.
Jonathan tersadar dari lamunannya dan kembali fokus dengan suasana malam itu.
"Iya, Er."
"Aku pulang dulu ya." kata Erica.
"Oke." Jonathan tersenyum dan membantu Erica melepaskan seatbeltnya. Erica membalas senyum Jonathan.
Ah...perasaan apa ini? Kenapa hatinya sangat bergetar hebat ketika Jonathan menatapnya seperti itu?
Erica langsung menaiki lift apartemennya sedangkan Jonathan juga langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di dalam apartemen, Erica mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
__ADS_1
Menjadi kekasih pura-pura dari seorang CEO sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Ingin sekali ia menghindari tatapan Jonathan. Tapi tidak bisa. Tatapan itu begitu menusuk jantungnya.
Erica menatap dirinya di cermin. Wajahnya merah dan hatinya.... Ia tidak bisa mendeskripsikannya dengan jelas...
Hatinya berdebar tidak keruan.
Kenapa dengan hatiku?
Ah,kenapa begini? Ini nggak benar. Nggak seharusnya dia memiliki perasaan ini. Karena sudah ada perjanjiannya bahwa ini hanyalah sebuah bisnis. Tidak lebih dari itu.
Ini akan menjadi sesuatu yang salah.
Erica memantapkan hatinya agar tidak jatuh cinta pada atasannya itu...
...****************...
Keesokan harinya, Arista mengajaknya nongkrong di kedai kopi favorit Erica. Erica memesan kopi gula aren yang biasa di pesan. Hari ini pulang kerja Erica agak senggang. Karena ia menyelesaikannya sejak kemarin. Terlebih lagi, minggu depan Jonathan akan ke Pontianak. Jadi akan terasa lebih santai sedikit.
"Er." sapa Arista yang baru datang dan sudah memesan cappucino.
"Ih baru dateng." kata Erica yang sudah menunggu sejak tadi.
"Udah lama ya nunggu?" tanya Arista langsung menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Nggak sih, cuma bosen aja nungguin kelamaan."
"Ya ampun. Iya maaf maaf gue belom kasih tau lo kalo gue pindah apart. Jadi gue pindah dadakan gitu kemarin."
"Gue tau sih lo dikasih apart. Tapi masalahnya gue gatau kalo lo udah pindah. Gue pikir lo masih lama pindah. Atau apa.. Lagian lo juga ga bilang sih kalo mau pindah. Gue kan gatau juga." ucap Arista dengan nada yang kesal.
"Iya sorry sorry. Gue kemarin pindah ke Big Tree Apartement. Gedung B nomor 501 ya." kata Erica dengan nada yang terdengar santai.
"What? Big Tree? Itu kan apart mahal banget gila. Kok bisa sih lo dikasih apart semahal itu?" tanya Arista nggak percaya. Ia sangat iri dengan perubahan sahabatnya semenjak menjadi kekasih bohongan dari bossnya sendiri.
"Nggak paham gue. Gue juga nggak mau terima. Tapi ya lo tau sendiri lah harga diri dia bakalan turun kalo gue gamau terima. Jadi ya gue terima aja. Lagian gue kan nerima itu semua nggak gratis, Ris." jelas Erica. Tanpa ada nada yang dilebihkan olehnya.
"Ya emang nggak ada yang gratis di dunia ini. Terus gimana hubungan lo sama boss lo? Udah sampe sejauh mana?" tanya Arista
"Kemarin gue udah diajak ke rumahnya. Dinner." jawab Erica.
"Dinner? Sama keluarganya?"
"Iya. Eh tapi waktu kita lagi dinner, ngobrol-ngobrol gitu, ada selingkuhannya Geo ke rumah dong!" Erica mulai bercerita apa yang terjadi malam itu pada Arista.
"Serius lo? Terus-terus?"
__ADS_1
"Ternyata dia itu pacaran sama Joshua, adiknya Jonathan. Dan ceweknya selingkuh gitu. Aih gilasih parah banget, gue ga nyangka bakal nemu momen awkward disana."
"Ngakak. Bisa-bisanya dia nggak tau malu gitu udah selingkuh terus malah ke rumah mantannya." Arista menggelengkan kepalanya.
"Sama, gue juga nggak nyangka bakal dateng gitu terus bikin keributan. Aduh....“
"Terus lo ketemu dia dong disana? Lo tatap muka deh tuh sama selingkuhannya Geo, hahah..." Arista menertawakan apa yang dialami oleh Erica. Karena jika Erica memendam perasaan kecewa karena Geo berselingkuh, bisa-bisa Erica tidak bisa melanjutkan hidupnya. Jadi lebih baik melupakan dan menghadapi kehidupan yang baru...
"Iya, dia mau ngejek gue gitu. Tapi ya ga bisa lahm Level gue sama dia beda."
"Bagus, bagus, lo nggak merasa terintimidasi sama dia intinya. Bersyukur deh lo nggak berlarut-larut kesel karena kejadian itu."
"Nggaklah, Ris. Menangisi lelaki yang nggak sayang sama kita itu cuma buang-buang energi. Lebih baik fokus sama orang yang lebih bisa menghargai kita apa adanya."
Arista tepuk tangan. Ia merasa bangga dengan Erica yang tegar dan kuat menghadapi hatinya yang terluka karena seorang pria.
Disela-sela pembicaraan mereka, ponsel Erica berbunyi. Jonathan meneleponnya.
Erica memberi isyarat bahwa Jonathan menelpon dan ia harap Arista tidak berisik.
"Iya, Jo..." sapa Erica.
"Erica, kamu dimana?"
"Aku lagi di kafe sama temen aku."
"Besok malam aku ke Pontianak, malam ini ada kebutuhan yang harus aku beli. Kamu bisa bantu aku?" tanya Jonathan dengan nada sedikit terburu-buru.
"Jam berapa, Jo?" tanya Erica sambil melirik jam tangannya.
"Kalau bisa sekarang aku jemput kamu."
"Hah? Sekarang?" Erica tidak percaya kalau Jonathan akan menjemputnya sekarang juga.
"Oh iya, iya, Jo. Aku di kafe Madame. Kamu bisa kesini ya." ujar Erica.
"Oke."
Teleponpun langsung di tutup oleh Jonathan.
"Bos gue mau jemput gue, Ris." kata Erica begitu ia menutup telepon dari Jonathan.
"Hah, seriusan? Yah gue ditinggal dong."
"Sorry banget...nanti kita bisa nongki lagi ya kalo bos gue udah di Pontianak." jawab Erica sambil mengulas senyumnya dengan bahagia. Entah mengapa, ada aura berbeda dari Erica. Arista merasakan kebahagiaan itu..
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Jonathan sudah ada di depan kafe dan menjemput Erica.