
Setelah menurunkan Erica di kantor, Jonathan melambaikan tangannya. Ia berpamitan dengan manis pada Erica.
"Aku ada urusan dulu di luar ya,Sayang. Kalau ada apa-apa, kamu bisa telpon aku. Kalo aku ga angkat, kamu tolong handle berkas buatku dulu ya...Nanti sore aku kembali ke kantor, aku akan follow up semuanya." kata Jonathan berpesan pada Erica.
"Iya, Sayang..." jawab Erica tanpa banyak bertanya. Jonathan senang melihat Erica yang manis seperti ini. Jonathan meraih tengkuk Erica dan mencium dahinya.
"See you,sayang..." kata Jonathan.
"Hati-hati ya..." kata Erica
Jonathan mengangguk. Ericapun keluar dari mobil. Setelah saling melambaikan tangan, Jonathan memerintahkan Pak Herman agar menuju ke markas Baron.
Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang menuju Baron. Jonathan menelepon ajudannya yang tadi menelepon.
"Kalian dimana?" tanya Jonathan.
"Kami di rumah sakit, Bos. Bos bisa kemari saja langsung.."
"Oke,saya kesana."
Pak Herman langsung ke rumah sakit yang di maksud oleh ajudan Jonathan.
Setelah beberapa lama perjalanan, Jonathan telah tiba di rumah sakit yang dimaksud dan langsung ke ruang jenazah.
Ajudan menunjukkan pada Jonathan jenazah yang mengalami kecelakaan. Barulah disana Jonathan percaya bahwa lelaki yang ia bebaskan kemarin sudah meninggal.
"Jahanam! Bisa-bisanya dia mati sebelum membayar hutangnya!!" kata Jonathan menggertakkan rahangnya.
"Dimana kalian menemukan dia?" tanya Jonathan.
"Kami mengikuti pria ini sesuai perintah Bos. Dan pada saat kami mengikuti dibelakangnya, dia sengaja berdiri di jalan raya. Saat itu truk besar lewat dan langsung menabraknya." cerita seorang ajudan.
"Sial!"
Jonathan keluar dari kamar jenazah dengan wajah yang kesal.
"Hitung lagi berapa sisa yang belum bayar hutang! Bawa ke gudang jika mereka tidak bisa membayar!!" kata Jonathan dengan amarahnya.
"Baik, Boss."
"Sekarang saya ke gudang. Ada berapa orang disana yang belum bayar?"
__ADS_1
"Ada tiga orang, Boss."
"Kita kesana sekarang!"
"Baik, Boss."
Jonathan menuju gudang tahanan debitur yang belum bisa membayar hutangnya.
Jonathan membuka pintu gudang yang disinari dengan lampu warna kuning. Sudah ada orang yang duduk dengan lemas disana. Jonathan menghampiri pria yang terduduk lemas disana dengan darah di wajahnya.
"Bangun." kata Jonathan. Tetapi pria itu masih belum meresponnya.
"Bangun!" perintah Jonathan. Tapi lagi-lagi, belum mendapat respon.
"Kubilang bangun!!!" bentak Jonathan sambil menendang kaki pria itu. Sontak pria itu terbangun dan memandangi Jonathan dengan wajah yang gemetar.
"Iya, Tuan. Saya disini Tuan...." kata pria itu.
"Pinjam berapa kemarin?" tanya Jonathan dengan wajah yang tidak dapat dijelaskan.
"S-ss-saya pinjam lima belas juta Tuan buat berobat istri saya.." jawab pria itu sedikit gagap.
"S-saya ingin mengumpulkan uangnya dulu, Tuan..."
Jonathan menepuk pipi pria itu dengan satu tepukan yang terdengar keras.
"Kumpulin uangnya? Kemarin-kemarin kemana aja? Kenapa sekarang baru mau ngumpulin uangnya?" tanya Jonathan
"Maafkan saya, Tuan. Saya berusaha membayar hutang pada Tuan." kata Pria itu.
"Oke. Masih niat bayar hutang kan?"
"M-masih Tuan..."
"Ginjal masih ada kan?" tanya Jonathan dengan santai. Tapi pria itu terkejut dan membulatkan matanya ke arah Jonathan
"Tuan, saya mohon Tuan, berikan saya waktu, saya pasti akan bayar hutang saya Tuan...." kata pria itu dengan memohon.
"Nggak usah repot-repot. Jual saja ginjalmu. Itu melunasi seluruh hutangmu!!"
"Saya mohon, jangan Tuan!!!"
__ADS_1
"Besok ada kerabat saya yang mau operasi ginjal. Persiapkan diri Anda ya." Jonathan pergi meninggalkan pria itu sedangkan pria itu masih berteriak dan memohon pada Jonathan agar ginjalnya tidak diambil.
"Tuan, tolong Tuan...Jangan ambil ginjal saya Tuan, saya mohon ampun Tuan..."
Pria itu terus merengek agar diampuni oleh Jonathan. Tapi Jonathan tidak luluh sedikitpun. Ia masih merasa kesal karena pria yang tewas dan belum membayar hutangnya.
Baru pertama kali itu ajudan mendengar Jonathan ingin mengambil ginjal orang yang berhutang padanya. Dan apapun yang Jonathan perintahkan tidak ada yang berani melawannya.
"Besok, berikan suntik penenang, biar dokter ga kerepotan ngurus dia yang berisik!" titah Jonathan
"Siap Boss!!"
Jonathan kembali menuju mobil yang terparkir dan menaikinya.
"Ke kantor ya, Pak." kata Jonathan.
"Baik Tuan." Pak Herman melajukan mobilnya ke kantor..
Sesampainya di kantor , itu masih siang. Jonathan menelepon Erica dan ingin mengajaknya makan siang.
"Halo, Pak..." jawab Erica di seberang telepon
"Sayang,kamu ke bawah ya. Kita makan siang di luar. Aku tunggu di tempat tadi ya...."
"Iya,Pak..."
Erica merapikan penampilannya dan segera menuju lantai bawah. Erica mengatakan pada teman sekantornya bahwa ia akan keluar makan siang.
Sesampainya di bawah dan melihat mobil Jonathan,ia langsung menghampiri mobil itu dan masuk ke dalam.
"Kita makan apa ya enaknya hari ini?" tanya Jonathan pada Erica.
"Aku masih kenyang sedikit sih, Jo...."
"Yaudah kita makan aja nanti juga kamh lapar." kata Jonathan. Kali ini Jonathan menentukan makanan apa yang akan dimakan siang itu.
"Sushi ya, Pak."
"Baik, Tuan."
Erica memandangi pria disebelahnya dengan senyum yang lebar tanpa tahu apa yang Jonathan lakukan tadi..
__ADS_1