
Erica dengan hati takut masuk ke dalam mobil. Ia sangat takut jika Jonathan akan menceramahinya macam-macam... Baru sekali ini dia melakukan kesalahan dan momen itu tepat bersama Geo, mantannya! Astaga! Jonathan pasti berpikir aku akan macam-macam di belakangnya.
Diliriknya Jonathan. Ia melihat wajahnya serius dan kaku. Tidak ada senyuman seperti biasa di wajahnya. Erica mencoba melirik wajah Jonathan. Ah tidak seperti biasanya. Erica yakin Jonathan marah karena hal tadi.
"Maaf, ya, Sayang..." kata Erica dengan menundukkan wajahnya.
Jonathan sadar bahwa Erica sudah membuka suara di dalam mobil.
"Maaf buat apa?" tanya Jonathan tidak mengerti.
"Aku tadi nggak bermaksud sama Geo. Dia yang memaksaku." kata Erica.
"Ini salahku karena membiarkan kamu sendiri. Seharusnya kamu bersama ajudan." kata Jonathan.
"Ajudan? Memang kita punya seseorang semacam itu? Bukannya namanya bodyguard ya?" tanya Erica bingung dan khawatir.
"Sama saja." jawa Jonathan pendek
"Sayang, kamu marah ya? Maafin aku ya, tadi aku lagi cari baju terus Geo..."
"Udah tau. Aku nggak marah kok." kata Jonathan dengan lembut. "Aku cuma takut kamu diapa-apain sama dia."
"Nggak kok aku ga kenapa-kenapa."
"Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa kamu chat aku dan bilang tolong? Kamu tahu nggak aku khawatir? Aku takut kamu diapa-apain, Erica." kata Jonathan. Ah. Baru kali ini Jonathan merasa khawatir seperti ini dengan dirinya.
"Aku..."
"Dan DIA. Dia berani-beraninya kurang ajar dan bilang mau merebut kamu dari aku? Apa itu bagus menurut dia bilang kayak gitu ya?" tanya Jonathan lagi. Erica hanya terdiam tidak bicara sedikitpun. Jonathan butuh melampiaskan kemarahannya.
"Ingat ya, Pak Herman, kalau ada yang macam-macam sama Erica bilang saya! Saya nggak mau Erica kenapa-kenapa!" kata Jonathan. Pak Herman mengangguk ketika tahu Tuannya sedang marah.
"Aku minta maaf sayang..."
"No. It's not your fault! It's him!"
Erica terdiam lagi.
__ADS_1
"I'm sorry."
"Kamu harus ke rumah. Istirahat dan kita akan urus belanjaan nanti. Aku akan berikan asisten untuk kamu." kata Jonathan.
"Asisten buat aku?"
"Iya buat jagain kamu. Jaga-jaga kalau ada kejadian kayak gini lagi." kata Jonathan. Erica diam saja tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mencoba menuruti apa yang Jonathan pinta.
...****************...
Geo baru sampai ke apartemennya di bilangan Jakarta Selatan. Apartemen yang cukup mewah menurut dirinya sendiri itu adalah milik pribadinya dari hasil kerja sampingannya memuaskan hasrat wanita kesepian. Ya. Geo bukan lelaki baik dan memang pantas dilepaskan oleh Erica. Geo hanyalah lelaki yang memuja tubuh seorang wanita cantik dan seksi. Dengan kesal, ia memencet tombol kode di pintunya. Pada saat sedang menekan tombol itu, mulut Geo dibekap oleh seseorang.
Geo tidak dapat melihat siapa itu. Ia berusaha meronta tetapi tubuhnya sudah lemas. Karena sudah tidak berdaya dan penglihatannya pun mulai menggelap, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya selanjutnya. Tubuhnya terasa ringan dan.... Ada dua orang yang berusaha membawanya ke suatu tempat. Bukan ke dalam apartemennya. Tetapi sebuah tempat yang dipenuhi kayu dengan lampu kuning diatasnya.
Tubuh Geo di dudukkan di sebuah kursi dan tangannya pun diikat...
Saat didudukkan, ia tidak sadar, sampai akhirnya ja mencium aroma yang tidak sedap yang singgah di hadapan wajahnya.
Ia ingin menutupi hidungnya karena bau yang tidak sedap itu semakin menyengat...Tapi Geo tidak bisa menggerakkan tangannya. Matanya ditutup sehingga ia tidak bisa melihat apapun disekelilingnya.
"Woy! Siapa yang iket begini!" seru Geo. Ia merasa dirinya tidak dapat menggerakkan apapun.
"Apaan sih! Bau busuk itu!"
"Ya emang...Busuk...seperti sesuatu yang ada dibawah situ hahahaha" ejek orang itu lagi.
"Maksud kalian apa!"
"Eh, lo pikir kita nggak tau kalo lo suka nginep di hotel gonta ganti cewe? Dan berani-beraninya mau gangguin cewenya bos kita? Nyali lo mungkin kayak kucing kali ya ada sembilan." kata orang itu berbicara pada Geo. Tetapi penutup mata Geo masih belum dibuka.
"Cewe bos kalian? Siapa? Gue ga ganggu siapa-siapa!"
"Yakin? Tadi sore nggak gangguin siapa-siapa?"
"Maksud kalian? Erica?" tanya Geo penasaran siapa wanita yang ia ganggu.
"Tuh bener kan, dia gangguin Nona Erica! Bener-bener minta dihajar kan gangguin Nona Erica!" kata salah seorang yang ada disana.
__ADS_1
"Gue ga kenal kalian! Lepasin gue sekarang!"
"Seharusnya, lo hati-hati lagi cari masalah sama siapa!"
Tiba-tiba mereka semua terdiam. Mereka melihat Jonathan datang dengan hentakan kakinya yang lembut menggunakan sepatu pantopelnya.
"Woy! Kalian siapa! Ngomong! Kenapa pada diem semua!" kata Geo masih berteriak. Tetapi tidak ada yang menyahutinya. Jonathan berdiri dengan mengantungkan kedua tangannya di saku celananya. Memperhatikan Geo yang berbicara sendiri disana.
"Kalian pikir wanita yang kalian panggil Nona itu siapa? Itu mantan gue! Erica! Erica cuma cewek dari kampung yang suka sama duit!" kata Geo berusaha merendahkan Erica.
Tetapi kesabaran Jonathan setipis tisu. Ia langsung melayangkan bogem yang panas di pipi Geo. Geo pun terbatuk karena mendapat pukulan yang tidak ia sangka itu.
"Siapa sih lo! WOY!!"
Jonathan mengisyaratkan pada bawahannya agar membuka penutup mata. Dan setelah penutup mata itu terbuka, ia melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya. Jonathan, kekasih Erica.
Jonathan meminta bangku dan duduk di hadapan Geo.
"Masih ingat gue?" tanya Jonathan. Geo membulatkan matanya melihat kekasih Erica di depan matanya saat ini.
"Pacarnya Erica kan?"
"Yes."
"Lo ngapain giniin gue? Gue nggak ada salah sama lo!"
"Buat lo nggak ada salah kan, tapi buat gue, ada!" kata Jonathan tersenyum. Senyum yang mematikan bagi orang lain.
"Apa?"
"Lo mau coba merebut Erica? Oh ya? Karena apa? Tubuhnya? Dan bilang apa? Cuma karena wanita dari kampung dan suka sama duit?" ulang Jonathan dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Jadi wanita seperti itu yang lo suka? Wanita yang hanya mementingkan uang?"
Jonathan menatapnya sinis.
"Bos." seseorang datang dan menyerahkan selembar kertas padanya.
__ADS_1
"Ini latar belakang yang Bos minta." lalu ia menyerahkan kertas selembar itu. Jonathan membuka lembaran itu dan memeriksa latar belakang Geo. Sedikit demi sedikit ia membaca apa yang tertulis disana. Ketika sedang membacanya, ia menemukan sebuah nama yang tidak asing tertulis disana. Nama seorang wanita yang pernah datang ke rumahnya menemua Joshua. Nama itu adalah Zaneta. Ya, Jonathan tidak salah lihat. Itu adalah Zaneta.