Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 10


__ADS_3

"Permisi Tuan, sudah waktunya untuk pertemuan dengan investor di Restoran X" Jeff berkata untuk mengingatkan Vero janji temu yang telah di buatnya. Dia tidak menyadari bahwa telah terjadi ketegangan di ruangan itu terutama kedua wanita yang saling menatap tidak suka satu sama lain.


"Kau sudah dengar sendiri bukan kalau aku sibuk siang ini?!" jelas Vero kepada Olivia "Jadi aku harap kau mengerti Olive dan mau di temani berbelanja olehnya. Dan kau Rani, saya ingin kau membantu dan menemaninya berbelanja dan anggap saja ini salah satu tugasmu sekarang" perintahnya kepada Rania


"Baik Tuan, Saya mengerti" balas Rania sedangkan Olivia hanya menatap remeh dan tak percaya bahwa Vero akan bersikap seperti ini


"Baik lah selamat bersenang senang!" seru Vero sambil berlalu bersama Sang asisten


"Kau ikut lah dengan ku sekarang!" perintah Olivia sambil berjalan keluar dan Rania bergegas mengikutinya keluar dan masuk ke dalam lift.


...****************...


"Bersenang senang apanya?!" gumam Rania sambil melihat banyaknya tas belanja yang ada di tangannya.


"Ini sama saja seperti menghukumku. Aaahhh..... aku sudah lelah dan kaki ku sakit karena memakai heels ini" lanjutnya lagi sambil memijit mijit kakinya yang lelah saat menunggu Olivia di sebuah toko. "Aku bahkan belum sempat makan siang" saat merasakan perih di perutnya. Mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam keluar masuk toko, terkadang hanya melihat lihat saja tapi lebih banyak yang dibeli oleh Olivia.


"Olivia!" seru seorang pria sambil berjalan ke arah mereka. Auranya yang tampak seperti seorang model dengan postur yang tinggi dan wajah yang tampan, membuat semua orang melihat ke arahnya terutama para kaum hawa seolah mereka terhipnotis oleh senyumannya yang menawan.


"Figo!" sahutnya sambil menunggu Sang pria tampan tersebut menghampiri. Pria tersebut tanpa sungkan langsung memeluknya dan Olivia pun membalas pelukan tersebut tanpa ragu bahkan mereka sempat melakukan cipika cipiki (bahasa gaul anak zaman sekarang hehehe).


"Ke mana saja kamu sudah hampir waktunya shooting. Apa kamu tidak bersiap siap?" tanya Figo berjalan bersama. Saat berjalan beriringan seperti itu banyak mata menatap kagum kepada keduanya dan seolah olah menyiratkan bahwa mereka berdua adalah pasangan kekasih yang serasi.


"Kau!" seru Olivia sambil menunjuk Sang asisten yang ikut mencarinya bersama Figo "Pergi lah ke mobil dan simpan barang barang ku ini karena aku akan langsung ke lokasi bersama Figo. dan kau ikutlah bersamanya untuk menyimpan barang barang ku!" perintahnya lagi pada Rania


"Baik Nona" sahutnya


"Oh ya ini tips buat mu karena telah menemaniku" Olivia pun mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dompetnya dan memberikannya langsung kepada Rania

__ADS_1


"Terima kasih Nona, tapi itu tidak perlu karena ini sudah tugas saya" ucap Rania sambil menundukkan kepala


"Sudah lah tidak usah pura pura munafik seperti itu" balas Olivia sambil menaruh uang tersebut di genggaman Rania dan langsung pergi berlalu sambil menggandeng tangan Figo.


Akhirnya Rania pun terpaksa menerimanya sambil berjalan mengikuti Sang asisten menuju basement tempat mobil di parkir.


"Siapa kira kira pria itu? Kenapa mereka akrab sekali? Apa Tuan kenal padanya? Apakah Ia akan marah dan cemburu jika aku bercerita mengenainya?" isi fikiran Rania saat berada di dalam lift.


"Apa ini?!" ujar Rania bingung saat melihat ada kotak makan siang di atas mejanya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan untuk melihat siapa yang meletakkan kotak ini di mejanya, tapi ia tidak melihat siapa pun.


Ia pun melihat ada memo di atas kotak makan tersebut


*Jangan lupa makan siang nanti pekerjaan mu terbengkalai. Ingat makan di pantry! jangan sampai meja mu berantakan dan mengotori dokumen dokumen yang ada*


"Siapa kira kira yang memberikan ku ini?!" Rania masih bertanya tanya sambil berjalan ke pantry karena sebenarnya ia memang sudah sangat kelaparan.


Sementara itu dari dalam sebuah ruangan sepasang netra menyaksikan adegan tersebut dengan tersenyum. "Semoga kau menyukainya" ia berkata dalam hati.


Rania pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda setelah sedikit mengistirahatkan kakinya yang sungguh letih karena berjalan berjam jam di mall menggunakan heels, walaupun hanya setinggi tiga cm tapi cukup melelahkan.


Tok... Tok... Tok...


"Iya masuk lah" terdengar sebuah suara bariton menjawab dari dalam.


"Permisi Tuan, saya ingin menyerahkan dokumen yang telah di revisi untuk di tanda tangani" Rania berkata sambil masuk dan mendekat ke meja Sang CEO.


Tak lama suara HP nya pun berdering dan Vero langsung mengangkatnya dengan wajah yang sangat ceria

__ADS_1


"Halo Putri Sayang" jawabnya sambil tersenyum dan mengangkat tangannya memberikan tanda kepada Rania untuk menunggu sebentar saat dia sedang menelpon. Rania pun berdiri sambil bertanya tanya dalam hati "Siapa kah kira kira yang menelpon? kenapa raut wajahnya berubah drastis begitu? Aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu? ternyata Ia tampan juga jika tersenyum seperti saat ini?!" gumamnya dalam hati sambil senyum dan diam diam memperhatikan Sang CEO.


"Bagaimana kabarmu? apakah semua lancar?" Vero bertanya pada Sang penelpon "Tidak..... Aku tidak sibuk. Baiklah hari minggu nanti kita berkencan ya. Terserah kau saja yang menentukan tempatnya yang penting kau senang" Ia menjawab dengan senang "Baik lah baik lah. semoga hari mu menyenangkan" sahutnya sambil tersenyum dan menutup telpon tersebut.


"Kenapa Kau senyum senyum seperti itu?!" tanya Vero dengan dingin saat menangkap Sang sekertaris yang seperti hanyut dalam lamunan fikirannya sendiri.


"Maaf Tuan. Saya sedikit melamun" sahut Rania kaget karena ternyata Bossnya itu sedang mengawasinya


"Lain kali kerja yang benar. Jangan melamun" balasnya lagi dengan dingin


"Baik Tuan. Maafkan saya" sambil menundukkan kepala karena merasa bersalah


"Ya sudah mana dokumennya biar saya tanda tangani dan bisa kau serahkan langsung ke Divisi Humas" jawab Vero sambil melihat dan menandatangi dokumen tersebut.


"Ini Tuan. Saya permisi Tuan" sahut Rania langsung keluar setelah dokumen tersebut di tinjau dan di tanda tangani.


"Sebenarnya seperti apa hubungan mereka? Aku jadi benar benar bingung?" fikir Rania mencoba mencerna situasi yang terjadi hari ini.


"Ternyata Ia bisa juga seperti manusia biasa tanpa topeng wajah dinginnya itu" gumamnya sambil senyum saat mengingat wajah Sang CEO.


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...


Mohon beri dukungan Vote dan Likenya ya semua...😊 Terima Kasih 🙏


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2