
Setelah selesai makan siang mereka pun berpisah di lobi tower STAR Grup, karena Figo pun harus segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menantinya.
"Terima Kasih tuan atas makan siangnya tadi" ucap Rania sambil menundukkan kepala.
"Sudah lah tidak perlu sungkan seperti itu. Selamat kembali bekerja ya" balas Figo "Baiklah aku pun harus kembali bekerja, sampai jumpa lagi" lanjutnya sambil melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
"Hati hati di jalan Tuan" ucap Rania ikut membalas lambaian tangan dari Figo. Kemudian Rania pun bergegas naik lift untuk kembali ke meja kerjanya setelah mobil Tuan Figo berlalu menjauh ke arah jalan raya.
Setibanya di meja kerja ia pun melihat bahwa Tuan Vero sudah kembali dari pertemuan di luarnya tadi pagi dan sedang membahas sesuatu bersama asisten Jeff di dalam ruangannya. Ia pun kemudian pergi ke pantry membuat minuman untuk Sang CEO. Kali ini ia membuat lemon tea agar bisa meredakan suasana gerah di karenakan cuaca di luar yang agak panas. Selain itu ia pun juga menyiapkan makanan pendamping seperti buah yang mengandung banyak air.
Ketika ia hendak mengantar hidangan tersebut ke dalam, ia berpapasan dengan asisten Jeff yang saat itu sedang membuka pintu. Maka Jeff pun menahan pintu tersebut agar Rania bisa masuk tanpa perlu repot membuka pintu karena kedua tangannya sedang memegang nampan hidangan.
"Terima Kasih Asisten Jeff" ucap Rania sambil tersenyum dan hanya di balas anggukan kepala dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar. Ia pun kemudian menutup pintu di belakang Rania yang hanya bisa menghela nafas melihat respon tersebut.
"Tuan ini hidangan siang anda, karena cuaca di luar agak panas maka saya berinisiatif membuat minuman dingin agar anda merasa segar" ucap Rania sambil meletakkan hidangan tersebut di atas meja.
"Dari mana saja kau?" tanyanya menyelidik tanpa mengubris apa yang di katakan Rania.
"Saya hanya pergi makan siang seperti biasa Tuan" jawab Rania sedikit takut karena mendapat tatapan tajam dari sang CEO.
"Dengan siapa?" tanyanya lagi.
"Hanya pergi makan dengan seorang teman Tuan" ucap Rania sambil menundukkan kepalanya.
"Hanya teman kau bilang!" seru Vero sambil berdiri dan meninju meja dengan kepalan tangannya menahan emosi.
__ADS_1
"I... iya Tuan" jawab Rania yang tidak berani menatap Vero.
"Apa Kau yakin?!" balas Vero sinis sambil mendekat ke arah Rania.
"Ia Tuan" jawab Rania sambil bergerak mundur untuk menghindari Bossnya itu.
"Apa kau tidak bisa untuk tidak melanggar perintah ku?" ucap Vero geram dan terus mendekat ke arah Rania.
"Ma.. ma... maksud Tuan apa?" ucap Rania yang semakin takut karena ia sudah terpojok di sudut tembok.
"Perintah ku untuk tidak tersenyum kepada pria lain!" seru Vero sambil kedua tangannya memukul tembok dan secara tidak langsung ia pun mengukung Rania agar tidak bisa lari. Ia pun menatap Rania dengan intens dan perlahan lahan ia menundukkan kepalanya, kemudian ia mengecup bibir ranum Rania tanpa permisi. Ketika merasakan manisnya bibir tersebut ia pun tak bisa menahan diri dan semakin memperdalam ciumannya.
Rania yang terkejut pun hanya bisa diam sambil menahan nafasnya. Karena tidak merasakan respon dari lawannya, Vero pun tak lama melepaskan bibirnya dan berkata "Bernafas lah nanti kau bisa mati" ucapnya sambil tersenyum smirk.
Plak!
"Kenapa... Kenapa Tuan melakukannya kepada Saya?" tanya Rania dengan tubuh yang gemetar menahan tangis dan amarahnya.
"Apa kau tidak pernah menyadarinya selama ini hah!" balas Vero yang juga geram sambil memegang dagu Rania dengan kuat. Rania yang di tatap dengan intens oleh Vero hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah, menandakan ia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Boss nya tersebut.
"Karena aku mulai menyukaimu. Apa perhatian ku selama ini tidak bisa kau rasakan?" ucap Vero dengan lembut dan kembali menciun bibir merah muda tersebut. Dengan perlahan ia menelurusi setiap jengkal bibir yang terasa manis itu, ia pun menggigit kecil bibir Rania agar terbuka memberikannya kesempatan untuk mengeksplor lebih dalam lagi. Bibir Rania pun merespon ciuman lembut tersebut tanpa bisa ia kendalikan, lidah mereka pun bertautan dalam ciuman yang intens dan cukup lama.
Setelah beberapa lama, Vero pun melepaskan ciuman tersebut dan menempelkan dahinya dengan dahi Rania. Dengan nafas yang masih memburu jemarinya pun menyentuh bibir Rania yang sedikit bengkak akibat ulahnya. Mereka pun saling menatap ke dalam netra masing masing untuk mencari jawaban jujur dari perasaan mereka.
Tiba tiba terdengar dering ponsel dari arah meja kerja Vero, ia pun mencoba untuk mengabaikannya. Akan tetapi ponsel tersebut kembali berdering seakan sang penelepon tersebut sedang di buru waktu dan terdesak untuk segera bicara dengan Vero. Dengan kesal Vero pun berjalan untuk menerima panggilan tersebut. Lalu ia pun tersenyum ketika melihat nama adik kesayangannya tertera di layar ponsel.
__ADS_1
π "Halo... Putri Sayang" jawabnya santai tanpa menyadari bahwa Rania masih berada di ruangannya.
...β β β β β β...
Rania pun yang mendengar panggilan tersebut dengan perlahan berjalan menuju pintu, diam diam ia keluar dari ruangan tersebut karena tidak ingin mendengar percakapan mesra mereka lebih lama lagi. Ia pun berlari menuju toilet di ujung koridor dengan menahan tangisnya. Sesampai di dalam toilet ia pun mengunci pintu dan menghidupkan keran air di wastafel agar tidak ada yang mengganggunya. Ia pun akhirnya menangis dan terduduk lemas di bawah lantai toilet karena kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya yang gemetar
"Kenapa ia melakukan hal itu kepada ku? Sementara ia sudah memiliki sesorang yang begitu di sayanginya!" seru Rania dalam tangisnya.
"Aaarrrggghhh...!" ia pun menjerit dengan kesal saat bagaimana ia pun merespon ciuman tersebut.
Ia pun kemudian berdiri dan menatap kaca wastafel di hadapannya. Ia pun dengan kasar mengusap bibirnya yang memerah akibat ciuman mereka. "Itu adalah ciuman pertama ku. Ciuman yang telah lama ku jaga hanya untuk kakak seorang" gumamnya sedih sambil menundukkan kepalanya. "Maaf kan aku kak yang tidak bisa menjaga diri dan hati ku hanya untukmu" lanjutnya dengan penuh penyesalan.
Ia pun mencuci wajahnya untuk menghilangkan tangisnya, tapi semakin ia mencoba menghentikannya semakin deras air matanya yang jatuh. Air mata itu seakan mewakili perasaannya yang sedih karena ia pun mulai menyadari bahwa hatinya sudah mulai bercabang dan tidak bisa kembali di ajak untuk hanya setia pada satu nama yang telah lama terpatri jauh ke relung hati terdalamnya.
β£ β£ β β β£ β£
Happy Weekend..... π
Selamat Membaca semuanya...πππ
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... π€©...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...π Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update π Terima Kasih π
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... β‘Thanks!...
__ADS_1
Love Love Love buat kalian semua π₯°π₯°π₯°