Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 77


__ADS_3

*Jika hati berkata lain, maka mulut adalah dusta.


Dengarkan lah isi hati mu... 💓*


Setelah satu bulan bergumul dengan hati dan fikiran nya, akhirnya Vero pun telah membuat sebuah keputusan terpenting dalam hidupnya. Ia hingga harus terbang ke luar negeri untuk berdiskusi dengan Mami dan adiknya mengenai masalahnya ini.


"Apa?!" Seru Mami dan Putri terkejut saat mendengar penuturan Vero mengenai ayah Rania dan hubungannya dengan kecelakaan mereka. Untung saja sang ibu tidak sampai drop karena mendengar berita tersebut.


"Jadi hanya karena alasan itu sikap kakak berubah kepada Nia?" tanya Putri.


Vero pun hanya menganggukan kepalanya dan kemudian tertunduk lesu.


"Tapi kenapa Nia tak pernah bercerita apa pun mengenai ayahnya?" tanya Putri.


"Mungkin ia tidak ingin menyakiti mu, karena ia pun baru bertemu ayahnya saat kau sedang di rumah sakit. Ia mungkin tidak ingin membuat mu bersedih karena ia sudah cukup merasa bersalah atas kondisi mu saat itu. Ia masih berfikir bahwa kau celaka akibat dirinya" jelas Vero mengungkapkan isi fikirannya.


Harusnya kau tidak perlu merasa seperti itu Nia. Pasti berat bagi mu melalui semua ini sendirian, terutama menghadapi sikap dingin dan arogan kakak. Maaf kan aku Nia yang tidak bisa menjadi sahabat terbaik untuk mu, batin Putri sedih.


"Jadi apa keputusan mu Nak?" tanya Mami kepada Vero.


"Entah lah Mi, aku pun ragu. Oleh karena itu aku ke sini untuk meminta pendapat kalian, karena ini juga berhubungan dengan kalian sebagai keluarga ku. Aku tidak ingin kalian mengetahuinya dari orang lain di kemudian hari" jawab Vero yang sepertinya lelah akan semua ini.


"Menurut Mami sebaiknya kau berdamai dengan hati mu Putra. Untuk apa kau terus menyimpan dendam seperti itu, lagipula pelaku sesungguhnya pun orang lain bukan?" tanya Mami.


Vero pun hanya bisa mengangguk pasrah.


"Apa kau fikir Nia dan ayahnya tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya? Tapi sampai saat ini tidak ada berita apa pun yang muncul mengenai peristiwa saat itu. Apa kau tahu artinya Putra?" tanya Mami.


Vero pun hanya bisa menggelengkan kepalanya kembali.

__ADS_1


"Itu artinya Nia dan ayahnya sudah bisa menerima semuanya, hingga mereka tidak pernah meminta persidangan ulang. Yang terpenting adalah hati kita masing masing Nak. Tak perlu kau hiraukan apa yang orang lain katakan, yang terpenting adalah kita yang menjalani kehidupan kita sendiri. Cukup kau tutup telinga mu saja, dan jalanilah kehidupan yang kau inginkan dengan bahagia Putra" ucap Mami memberi wejangan kepada anak lelakinya.


"Lagi pula Alm. Papi mu pun sudah tenang di sisiNya. Ia pun pasti ingin melihat mu bahagia Vero" ucap Mami sambil tersenyum saat mengingat mendiang suaminya.


"Baik lah Mi, jika itu adalah pendapat kalian semua. Aku akan memikirkan baik baik semua ini" ucap Vero pada akhirnya.


"Nia adalah gadis yang baik, Mami yakin ia bisa membuat mu bahagia" ucap Mami.


"Nia itu sahabat terbaik ku kak sampai kapan pun, jadi kakak jangan menyakiti dia lebih dalam lagi karena aku tidak akan tinggal diam" ancam Putri.


"Memang apa yang bisa kau lakukan gadis manja?" tanya Vero kepada adiknya dengan nada yang meremehkan.


"Aku akan membuat kakak seperti kambing guling! Biar kakak kepanasan di atas api dan jadi gosong!" ucap Putri sambil mengepalkan tangannya.


"Coba saja kalau bisa" jawab Vero sambil menjulurkan lidahnya dan langsung berlari.


Mami hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak anaknya.


"Apa kau bisa melihatnya Pi? Mereka sekarang sudah tumbuh dewasa, Terima kasih karena kau telah menjaga mereka dari atas sayang" gumam Mami lirih sambil mendongak ke atas.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Akhirnya setelah menginap beberapa hari di rumah Mami, Vero pun kembali ke tanah air untuk menjalankan misinya yang tentu di bantu oleh sang asisten.


"Jeff aku sudah memutuskan semuanya dan kau jelas harus membantu ku!" ucap Vero saat sang asisten menjemputnya di bandara.


"Baik lah Tuan, tentu saja saya akan membantu Anda. Jadi anda bisa memberitahu saya apa rencana anda Tuan?" tanya Jeff.


Lalu Vero pun menjelaskan rencananya secara detail kepada sang asisten agar ia bisa mengerti.

__ADS_1


"Sudah jelas bukan apa yang aku sampaikan?" tanya Vero memastikan.


"Sudah Tuan" ucap Jeff yakin sambil menganggukkan kepalanya.


"Good" gumam Vero lirih.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Rania pun bersiap siap untuk pergi menemui klien yang akan melakukan kerja sama dengannya. Walaupun ia merasa cukup aneh karena sang klien ingin bertemu di saat malam hari, bukan pagi ataupun siang hari. Tapi Rania tetap menerimanya karena ia berfikir ini semua demi masa depan perusahaannya.


Setelah berpamitan dengan sang ayah, ia pun melajukan kendaraannya menuju alamat yang sudah di berikan oleh sekretarisnya tersebut. Saat sudah sampai tujuan ia cukup terkejut karena tempat mereka akan meeting pun merupakan sebuah restoran yang berada di lantai atas sebuah hotel. Restoran tersebut tergolong mewah dan untuk kalangan atas.


Rania pun kemudian di antar oleh salah seorang pelayan ke sebuah ruangan VIP yang cukup luas. Sejujurnya ia cukup merasa heran karena suasana yang cukup sepi dan terbilang hening.


"Mungkin karena ini hari kerja bukan weekend maka tempat ini tidak terlalu ramai" gumamnya masih tetap berfikir positif.


Ia pun terkejut saat membuka pintu ruangan tersebut dan di lihatnya jalan yang di taburi bunga mawar dan lilin lilin kecil yang mengarah ke sebuah meja tunggal. Tapi ia tidak bisa melihat siapa pun yang berdiri di sana karena suasana yg cukup redup.


Sepanjang jalan menuju meja tersebut terdengar alunan musik yang terdengar dari seorang pianis di atas panggung. Lagu lagu romantis seperti A Thousand Years - Christina Perri dan juga Lebih Indah - Adera.


Rania bertanya tanya dalam hati siapa yang berniat mempermainkan nya seperti ini. Tak sedikit pun terlintas di dalam otaknya yang cerdas ada seseorang yang begitu berniat sekali mengerjainya, sedangkan ia tidak merasa sedang berulang tahun.


Ketika Rania sampai di ujung meja, tiba tiba sebuah lampu menyorotinya hingga matanya sedikit silau. Rania pun lalu menghalangi matanya dari silau sinar lampu tersebut. Ia pun jadi tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam kegelapan seberang meja. Kemudian orang tersebut pun keluar, yang ternyata adalah seorang pria.


"Kakak?!" seru Rania yang terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Apa maksud semuanya ini kak?!" tanyanya menunjuk ke seluruh ruangan tersebut. Ia benar benar tak pernah mengira bahwa pria di bawah bayang bayang tersebut adalah Vero.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Jangan Lupa VOTE LIKE FAVORIT ya buat semua Readers tersayang 💞💞💞🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2