
"Tuan?!" ucap Ale.
"Kakak?!" ucap Nia.
Mereka pun mengulang pertanyaan yang sama sambil berpandangan, lalu mereka pun beralih melihat Vero yang berdiri dengan santainya. Ia hanya berdiri memandang mereka sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku jeans yang di gunakannya.
"Maksud mu dia Boss yang sering kau ceritakan itu?" tanya Ale.
"Dan Dia adalah kakak yang pernah kau katakan itu?" tanya Rania.
Mereka pun saling bertanya untuk memastikan apa yang ada di fikiran mereka. Akhirnya mereka pun saling menganggukkan kepala pertanda bahwa semua itu adalah benar.
"Jadi Putri, apa saja yang sudah di ceritakan teman mu ini kepada mu tentang Boss Arrogannya? Hmmm?" tanya Vero kepada adiknya, akan tetapi pandangan matanya tertuju kepada sekretarisnya yang terlihat agak pucat.
'Putri?' Rania mulai bertanya tanya dalam hati, "Aaah... Calestra Putri! Kenapa aku bisa lupa nama panjangnya!" serunya dalam hati saat ia mengingat nama sahabatnya itu. Rania pun agak memucat karena terkejut, saat Vero memandangnya tajam dan mengatakan 'Boss Arrogannya' dengan penuh penekanan.
"Aaah... kakak sudah lah tidak usah di perpanjang masalah itu. Apa kakak tidak bisa mencoba melupakannya?" ucap Putri sambil memeluk manja tangan sang kakak, saat di lihat wajah sahabatnya yang mulai memucat.
'Aduh....bagaimana ini? Apa yang akan di lakukan kakak? Apa kah ia masih ingat semua yang ku ceritakan?' gumamnya yang sedikit gelisah.
"Melupakan apa Putri sayang?" tanya Vero penuh penekanan sambil berbalik menatap adiknya. Sementara yang di tatap hanya bisa menggelengkan kepalanya, memberi kode kepada sang kakak.
"Sudah lah Ale, itu bukan masalah besar. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi seperti yang aku katakan tadi" ucap Rania kepada Ale sambil tersenyum.
"See?" ucap Vero kepada adiknya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Jadi bisakah kau tinggal kan kami? Banyak hal yang ingin aku katakan kepadanya" lanjutnya lagi kepada Putri.
Ale pun melihat ke arah sahabatnya untuk meminta persetujuannya, akan tetapi hanya di tanggapi oleh Rania dengan anggukan kepala sambil tersenyum. 'Semoga kau baik baik saja Nia', batinnya
Kemudian ia pun dengan beranjak pergi walaupun ia tampak ragu meninggalkan sahabatnya dengan sang kakak.
"Jadi di sini tempat persembunyian mu?" tanya Vero sesaat setelah adiknya menghilang dari pandangan. Ia pun kemudian duduk di sebuah bangku di hadapan Rania.
"Maaf Tuan, tapi saya tidak bersembunyi bukan kah saya sudah meminta izin cuti dari kemarin? Lalu kenapa Tuan berusaha mencari tahu keberadaan saya" jawab Rania berusaha santai.
"Apa kau lupa bahwa tak jauh dari sini tinggal Opa dan Oma Putri? Yang menandakan aku berhak mengunjungi mereka kapan pun aku merindukan mereka" ucap Vero tak kalah santainya.
"Ya ampun... Aku lupa lagi bahwa ia adalah kakak Ale" gumamnya dalam hati.
"Hmmm...jadi selama ini kau cerita apa saja soal Boss mu yang Arrogan dan aneh?" tanya Vero hingga membuat Rania salah tingkah.
'Aduh... Kenapa dia harus membahas hal itu sich", batinnya lagi.
__ADS_1
"Maaf kan saya Tuan jika saya telah salah dalam berucap. Tapi cerita itu sebelum saya mengenal Tuan dengan lebih baik lagi" jawab Rania berusaha meredam kekesalan Bossnya.
"Lalu bagaimana pendapat mu setelah mengenal ku dengan lebih baik?" tanya Vero lagi.
"Aaahhh...sepertinya aku salah berbicara lagi", batinnya.
"Tentu saja Tuan adalah pimpinan yang baik dan bijaksana serta memperhatikan kesejahteraan karyawan" jawab Rania.
"Baik lah jika ternyata kau sudah bisa merubah pandangan mu kepada ku. Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita?" tanya Vero di luar dugaan.
"Maksud Tuan bagaimana?" tanya Rania balik terkesan seolah olah ia lupa dengan hal itu.
'Padahal kan masih tersisa satu hari lagi, kenapa ia harus bertanya sekarang', batinnya kesal.
"Kau tidak usah berpura pura bodoh Rani, kau pasti bisa menebak ke mana arah pembicaraan ku" ucap Vero sedikit kesal.
"Tapi kan kesepakatan kita akan berakhir lusa Tuan, jadi saya masih memiliki waktu untuk menjawabnya hingga waktunya tiba" ucap Rania masih ingin mempertahankan argumennya.
"Hahahaha... Apa bedanya antara hari ini atau lusa? Bukan kah sudah jelas kau akan menjadi pengantin ku?!" ucap Vero sambil mendekat kan wajahnya ke arah Rania dan tersenyum smirk. Seketika itu pun pipi Rania merona dan hatinya mulai berdesir merasakan kedekatan mereka.
"Sudah ku duga, kau pun menyukai ku di lihat dari reaksi mu yang seperti ini" gumam Vero dalam hati penuh kemenangan.
"Jika itu yang kau inginkan, akan aku wujud kan untuk mu" jawab Vero sambil mengangkat dagu Rania dengan telunjuknya. Rania yang terkejut dengan sikap dan perkataan Bossnya itu hanya bisa terdiam karena terkejut. Mata mereka pun saling bertemu untuk mencari kebenaran tentang perasaan masing masing.
Rania lah yang pertama kali memutus kontak mata di antara mereka, ia pun mencoba menjaga jarak.
"Tapi Saya tidak pantas untuk Anda Tuan. Apalah saya yang hanya seorang gadis yatim piatu ini, anda bisa lihat sendiri kan bagaimana kehidupan saya yang sesungguhnya? Jika Anda hanya ingin bermain main saja lebih baik anda henti kan sekarang Tuan!" ucap Rania yang akhirnya mengucapkan kekhawatirannya selama ini.
"Untuk apa aku bermain main dengan perasaan seseorang Rani! Apa kau tak bisa melihat ketulusan ku saat bersama mu hah?!" seru Vero yang mulai terlihat kesal. Rania pun hanya bisa terdiam, bibirnya pun serasa kelu saat melihat ekspresi frustasi dari wajah itu.
Dari kejauhan Rania melihat Ibu asuhnya yang baru saja kembali dari luar berjalan mendekat ke arah mereka. Rania pun bergegas menghampirinya untuk menghindar dari Vero.
"Nak Putra sedang apa kau di sini?!" seru Ibu Wati saat melihat Vero sedang bersama Rania.
"Apa...! Benar kah apa yang barusan saja aku dengar?" gumam Rania dalam hati terkejut, ia merasakan kakinya goyah seakan tak mampu untuk berpijak. Matanya pun mulai memerah saat memandang wajah Vero yang menampilkan senyuman terindahnya.
Dia...hanya dia di duniaku
Dia...hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
__ADS_1
Tanpa ada dia di hidupku
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuk sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan...bantu ku 'tuk berubah
'Tuk memiliki dia, 'tuk bahagiakannya
'Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Untuk dia......
(Lirik By Sammy Simorangkir - Dia)
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰
__ADS_1