
Vero yang terkejut mendengar seruan dari Putri langsung bergegas datang ke meja luar dekat taman yang telah di pilih Sang adik dengan membawa dua cup ice cream ukuran medium rasa strawbery dengan berbagai macam toping di atasnya.
"Siapa yang kau panggil dengan cara berteriak seperti itu?" tanya Vero sesampainya di meja.
"Oooooo... aku tadi seperti melihat sahabat ku di area lobi bawah sana" sahutnya sambil menunjuk ke bawah lewat pembatas kaca "Tapi sepertinya aku salah liat karena dia tidak merespon ku" lanjutnya sambil mengangkat bahu.
"Ya sudah lain kali jangan berteriak seperti itu malu jika dilihat orang, kan kau itu perempuan jadi harus bisa berbicara sopan dan lemah lembut di mana pun kau berada" nasehat Vero kepada adiknya "Sebaiknya kita makan ice cream ini sebelum mencair" sambil menyodorkan pesanan Sang adik
"Baik lah Kak. Hmmm...enak sekali ice cream ini, langsung meleleh di dalam mulut ku" sahutnya sambil menyendokkan ice cream dalam porsi besar.
"Pelan pelan makannya" ujar Vero tersenyum melihat cara adiknya makan ice cream "Memang sahabat mu tadi teman satu kampus dengan mu?" tanya Vero sambil memakan ice creamnya.
"Bukan kak. Ia itu teman ku dari sejak tinggal di rumah Opa Oma" jelas Putri
Dan Vero pun kaget mendengar perkataan Putri "Maksud mu teman dari kota X?!" tanya Vero menegaskan lagi "Mungkinkah itu Dia?!" Vero bertanya tanya dalam hati.
"Iya betul sekali kak. Tapi ia pergi ke ibu kota bukan untuk melanjutkan study seperti ku, melainkan untuk bekerja agar dapat meringankan beban ibunya dan membantu perekonomian keluarga mereka kak" Jelas Putri lagi.
"Apakah kau tahu di perusahaan mana ia bekerja?" rasa penasaran Vero membuatnya ingin tahu lebih detail mengenai sosok tersebut.
"Aku tidak tahu pasti ia bekerja di mana, tapi yang pasti ia bekerja di salah satu perusahaan terbesar di ibu kota kak. Tapi aku merasa kasihan padanya kak" jawab Putri lesu
"Kasihan bagaimana maksud mu?" tanya Vero ingin tahu lebih jauh lagi.
"Boss tempat dia bekerja sangat galak dan dingin kak. Suka memerintah seenaknya kak, hanya karena dia atasan harusnya tidak boleh semena mena terhadap bawah. Bahkan ia menjulukinya seperti hewan buas kak. mengerikan pokoknya kak?" jelas Putri sambil bergidik takut.
__ADS_1
"Jika seperti itu kenapa ia tidak berhenti saja dari pekerjaannya itu?!" usul Vero
"Ish... mana bisa gitu kak. kan tadi sudah aku jelaskan bahwa ia harus membantu perekonomian keluarganya, jika ia berhenti dari mana ia dapat uang untuk membantu ibunya apalagi mencari pekerjaan di ibu kota kan susah kak walaupun ia itu pintar" ujar Putri sambil terus menghabiskan ice creamnya.
"Ya sudah cepat habis kan ice cream mu biar kakak antar pulang sebelum malam" tegas Vero
"Baik lah Kak" sahut Putri tanpa banyak berkata kata lagi hingga ice cream tersebut tandas.
Sementara Vero masih berkutat dengan fikirannya yang terus mengiangkan sebuah nama di masa lalu.
...****************...
"Siapa yang bersamanya kemarin? Mereka terlihat sangat mesra? Apakah Ia yang kemarin menelponnya?!" begitu lah isi fikiran Rania di pagi hari yang cerah ini. Hal ini disebabkan karena Ia kemarin tak sengaja melihat Sang Boss sedang berjalan bersama seorang wanita di mall menuju ke arah bioskop. Yang menggangu fikirannya adalah bagaimana mesranya mereka saat berjalan dan wajah Sang CEO yang terlihat sangat bahagia dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya sehingga menambah ketampanannya. Hanya saja ia kemarin tidak melihat siapa wanita yang bersamanya hingga membuat dia penasaran hingga kini.
"Ish... kenapa aku jadi terganggu dengan hal itu? Memang apa hubungannya dengan ku? Dengan siapa pun Dia berhubungan dan berkencan itu bukan urusan ku! Aku hanya perlu menjalankan tugas ku dengan baik dan benar agar Ia tidak menghukumku dengan tatapan tajam nan dingin itu!" tegas Rania dalam hati sambil mengangkat bahu tak peduli lagi.
"Maaf Tuan, saya tidak melihat kedatangan anda" sahut Rania sambil menundukkan kepala
"Bagaimana Kau bisa sadar akan kehadiran ku jika kau terus memikirkan orang lain dalam fikiran mu itu!" balas Vero dengan dingin dan menatap tajam yang seolah menusuk ke dalam hatinya.
"Maksud anda apa Tuan?!" ujar Rania memberanikan diri menjawab karena rasa bingungnya lebih besar dari pada rasa takutnya.
"Aaahhh... sudahlah cepat buat kan aku sarapan sandwich sekarang juga!" perintah Vero sambil berlalu masuk ke dalam ruangannya. Jeff yang mengikuti Sang CEO pun menatap heran dan bingung mendengar perkataan Tuannya itu yang dia anggap cukup ambigu.
"Baik Tuan akan saya siapkan segera" balas Rania langsung ke pantry menyiapkan sarapan Sang CEO sebelum dia kembali memberikan tatapan tajamnya yang seakan ingin membunuhnya.
__ADS_1
Saat menjelang jam pulang kerja, tiba tiba Vero keluar dari ruangan dan berkata "Kau ikut lah dengan ku sekarang!" perintahnya sambil menatap Rania.
Ia pun bergegas mengikuti Bossnya yang telah berjalan lebih dulu di depannya. "Maaf Tuan sebelumnya kita mau ke mana?" tanyanya memberanikan diri saat berada di dalam lift.
"Kita akan melihat proses foto shoot di atas untuk pembuatan banner promosi mall kita yang baru" jelas Vero sambil merapikan dasinya.
"Ooooo begitu ya Tuan, tapi kenapa anda tidak mengajak asisten Jeff saja Tuan?!" Rania kembali bertanya.
"Ia sedang sibuk. Bukan kah kau ini sekertaris ku?! Jadi sudah sewajarnya kau juga menemani ku menggantinya jika sedang luang" Vero bertanya balik ke Rania sambil menatapnya tajam.
"Baik Tuan" jawabnya tanpa bisa membalas tatapan atasannya itu. Dia tetap diam hingga mereka tiba di area syuting.
Olivia pun langsung berjalan menghampiri Vero begitu di lihatnya Sang pujaan hatinya berjalan dengan gagah menuju arahnya, lebih tepatnya spot yang akan di gunakan untuk syuting.
"Vero apa kau ingin bertemu dengan ku hingga datang kemari?" tanya Olivia manja sambil menggandeng tangan Vero
"Tidak aku hanya ingin melihat bagaimana proses foto shoot hari ini karena ini sangat penting untuk promosi mall terbaru nanti" balas Vero sambil melepaskan tangan Olivia secara halus.
"Ooooo begitu ya" sahut Olivia sedikit kecewa "Lalu untuk apa kamu mengajak office girl itu?" tanyanya menunjuk Rania yang berjalan di belakang Vero dengan tatapan menghina.
"Apa maksud perkataan mu itu!" seru Vero menahan amarah dan menatap Olivia dengan dingin.
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...
__ADS_1
Mohon beri dukungan Vote dan Likenya ya semua...😊 Terima Kasih 🙏
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰