
Di sebuah pub yang cukup mewah dan private, terdapat seorang wanita yang sedang minum sendiri di meja dekat bar. Tiba tiba seorang pria pun datang menghampiri dan kemudian duduk di sebelahnya
"Sedang apa kau di sini Olie? Kenapa kau tiba tiba minum seperti ini?" tanya Figo kepada wanita tersebut.
"Entah lah, aku sedang pusing! Aku ingin melupakan semua rasa sakit yang kurasakan ini!" seru Olivia marah.
"Apa yang telah terjadi sebenarnya? Ceritakanlah semuanya padaku agar aku bisa membantu meringankan beban mu" ucap Vero mencoba menenangkannya.
Bukan kah dia harusnya bertemu Vero siang ini? Kenapa ia tampak sedih dan frustasi sekali alih alih merasa gembira?, batin Figo.
"Aku sangat kecewa dan sakit hati akibat ucapannya!" seru Olivia kemudian menenggak minuman di hadapannya dalam sekali teguk. Ketika ia akan menuangkan kembali minuman tersebut ke gelas, tangan Figo pun mencegahnya.
"Nanti kau bisa mabuk Olie. Ceritakan lah masalahnya, aku akan menjadi pendengar yang baik" ucap Figo mengalihkan perhatian Olivia dari minuman tersebut.
"Kau tahu? Ternyata rumor yang selama ini beredar itu benar adanya, bahwa Vero menjalin hubungan dengan sekretaris sialan itu!" seru Olivia marah dengan mata yang mulai berembun. "Yang lebih membuat ku kecewa adalah kenyataan bahwa dia lah wanita yang selama ini di cari cari oleh Vero. Cinta masa kecilnya itu" ucapnya lagi sambil mulai berurai airmata.
Figo yang terkejut dan mencoba mencerna situasi, tak bisa berkata apa pun sehingga Olivia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menuang minuman ke dalam gelasnya kembali.
"Sudah Olie hentikan!" seru Figo mencegahnya untuk minum kembali. "Sebaiknya kita pulang sebelum kau bertambah mabuk" lanjutnya sambil berusaha membantu Olivia berdiri.
"Lapaskan! Aku tidak ingin pulang! Aku tidak ingin kembali ke apartemen ku yang sepi" ucap Olivia sambil menangis. "Aku yang selama ini menemani Vero berjuang dalam kesendiriannya, membantunya dalam mewujudkan impiannya, aku yang selalu memberinya semangat ketika ia mulai lelah untuk belajar. Aku yang selalu ada di sisinya! Tapi kenapa sedikit pun ia tidak melihat ku" ucapnya dalam tangisan yang terdengar pilu.
Figo yang iba dengan kondisi Olivia pun akhirnya kembali duduk dan menemani Olivia yang sedang bersedih.
Aku tak akan semudah ini menyerah dan kalah. Jika aku tak bisa memilikinya, maka siapa pun tak akan bisa memilikinya. Aku akan mencari cara untuk menghancuriannya! Aku tak akan jatuh sendiri seperti ini, batin Olivia sambil menggengam erat gelas di tangannya seakan ingin menghancurkan gelas tersebut menjadi berkeping keping.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
"Kau chatting dengan siapa? Kenapa senyum senyum seperti itu?" tanya Vero curiga di sela waktu makan siang mereka.
"Iiihhh kakak kepo dech! Mau tau aja urusan orang" jawab Rania mencoba menggoda Vero.
"Sudah berani menjawab sekarang ya" balas Vero dengan geram.
Alih alih menjawab, Rania pun hanya menjulurkan lidahnya seolah mengejek Vero. Akhirnya Vero yang kesal pun mengambil ponsel Rania dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
"Selesaikan dahulu makan mu, nanti jadi dingin" ucap Vero dengan dingin pula.
"Baik Tuan" jawab Rania kesal sambil mulai makan.
Selama makan, ponsel Rania pun tak berhenti bergetar menandakan adanya beberapa notif chat yang masuk.
"Sepertinya mendesak sekali urusan mu!" ucap Vero semakin kesal karena terganggu.
"Anda penasaran ya Tuan?!" balas Rania yang kembali menggoda Vero.
Vero pun hanya diam dan terus melanjutkan makannya.
Biar kakak tahu gimana rasanya di kerjain, seperti aku yang dulu selalu salah mengira dan bertanya tanya, batin Rania sambil tersenyum.
Selesai makan ia pun langsung mengambil ponselnya kembali yang langsung ada panggilan masuk.
📞 'Halo Kau sudah sampai di mana?'
Belum sempat ia mendengar jawaban dari orang tersebut, Vero pun langsung sigap mangambil ponsel tersebut dari Rania.
📞 'Kakak! Kenapa kau yang menjawab teleponnya?' tanya seseorang dari seberang yang ternyata adalah adiknya sendiri. Dengan wajah merah karena malu, Vero pun mengembalikan ponsel kepada Rania.
Rania pun menerima ponsel tersebut sambil menahan tawanya.
"Apa!" seru Vero pelan karena semakin kesal.
📞 'Halo... Halo... Halo... Nia... ' panggil Ale karena tak mendengar jawaban dari seberang.
📞 'Maaf Ale, tadi sedang ada yang cembokur' jawab Nia sambil tetap menahan tawanya.
📞 'Hahaha... Apa kakak curiga kau chatting dengan pria lain?' tanya Ale sambil ikut tertawa. 'Pantas saja tadi ia yang menjawab telepon ku. Ooooo ya... aku sebentar lagi sampai halte bus. Apa kalian sudah selesai makannya?' tanya Ale lagi.
📞 'Iya kami sudah selesai. Baik lah tunggu di sana nanti aku akan menuju ke sana sekalian kembali ke kantor' jawab Nia.
📞 'Baik lah aku tunggu. Jangan lama lama' ucap Ale.
__ADS_1
📞 'Ok' jawab Nia sebelum memutuskan panggilan tersebut.
Ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.
"Kau sengaja ya menggoda ku dari tadi?" tanya Vero kesal.
"Tidak Tuan, tapi anda saja yang terlalu curiga" jawab Rania sambil tersenyum manis. "Sudah lah Ay jangan marah, kasian jika Ale menunggu lama di halte" lanjutnya lagi sambil memasang wajah imut menggemaskan.
"Ya sudah. Ayo kita pergi" jawab Vero sambil menghela nafas karena tidak bisa marah kepada kekasihnya ini.
Saat sedang membayar di kasir, tiba tiba ponsel Rania pun berdering kembali.
"Sepertinya Ale sudah tiba, aku tunggu di halte bus depan ya Ay" ucap Rania sambil menunjukkan ponselnya yang menampilkan panggilan dari sang sahabat. Vero pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Rania pun bergegas keluar dari cafe.
Olivia yang sedang mengintai dari kejauhan pun melihat Rania yang keluar dari cafe sambil menelepon, kemudian berjalan menuju perempatan sambil melambai ke arah seseorang di seberang.
"Itu kan gadis manja yang suka aku lihat bersama Vero?" gumam Olivia saat melihat ke mana arah lambaian tangan Rania. "Siapa dia? Apa mereka saling mengenal? Jangan jangan mereka berkerjasama untuk menjauhkan Vero dari ku!" ucap Olivia semakin geram melihat wajah keduanya yang terlihat riang dan bahagia.
Tanpa mengetahui bahwa akan ada bahaya yang mengintainya, Rania pun berdiri di perempatan menunggu lampu tanda menyeberang berubah warna menjadi hijau. Sementara Ale melihat dengan ekor matanya bahwa ada sebuah mobil berwarna merah yang sedang melajukan ke arah persimpangan jalan tersebut pun menunggu.
Ini lah kesempatan ku. Aku harus bisa memanfaatkannya dengan baik!, batin Olivia.
Lalu ia pun kemudian menginjak gas dengan dalam sehingga mobil pun melaju semakin kencang dan tidak berhenti meskipun lampu sudah berubah warna menjadi merah.
Brrruuuk!!!
Terdengar bunyi benturan keras, lalu sesosok tubuh melayang dan kemudian terjatuh ke jalan dengan banyak darah yang mengalir di sekitar tubuh tersebut.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏
__ADS_1