Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 71


__ADS_3

Triiiing...!


Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Vero pagi itu ketika ia sedang sarapan bersama Mami. Sementara Opa dan Oma sudah kembali ke rumah mereka, di karenakan kondisi Putri yang sudah lebih baik.


📲 'Hari ini kita berangkat jam berapa ke rumah sakit kak?', Rania


📲 'Hari ini Jeff yang akan menjemput dan mengantar mu ke rumah sakit. Kau tunggu saja di lobi mess', Vero


📲 'Emang kakak tidak ke rumah sakit hari ini?', Rania


Vero yang bingung menjawab isi pesan tersebut pun lalu meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kesal. Mami yang heran melihat tingkah putranya yang pagi itu tampak kesal pun bertanya.


"Siapa yang kirim pesan? Kok jadi asem gitu mukanya? Masih pagi loh ini." ucap Mami bertanya dengan mengejek Vero.


"Bukan siapa siapa Mi" ucap Vero datar dan langsung melanjutkan makannya.


"Hari ini kita jemput Nia jam berapa?" tanya Mami yang membuat Vero mendengus kesal.


"Kita langsung ke rumah sakit" jawab Vero singkat dan langsung menyelesaikan sarapannya.


Pasti ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, batin Mami.


Tak berselang lama mereka pun berangkat ke rumah sakit setelah sebelumnya Mami menyiapkan makanan kesukaan Putri agar ia tidak bosan karena terus terusan makan makanan rumah sakit.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


"Hmmmm... Asisten Jeff" panggil Rania ragu ragu saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalan raya menuju rumah sakit.


"Iya Nona" jawab Jeff sopan kepada kekasih Bossnya itu.


"Jangan seperti itu, panggil aku seperti biasa saja Asisten Jeff" ucap Rania yang merasa canggung di panggil seperti itu.


"Maaf sepertinya tidak bisa Nona, karena kita berada di luar kantor" jawab Jeff.


Bisa di potong gaji ku nanti jika Tuan tahu aku tidak sopan kepada calon istrinya. Walaupun sekarang ia mungkin masih ragu akibat peristiwa itu, batin Jeff.

__ADS_1


Rania yang tidak mau berdebat dengan asisten yang merupakan atasannya itu pun memilih diam saja.


"Hari ini Tuan Vero sedang sibuk ya?" tanyanya yang penasaran akan alasan Vero tak menjemputnya.


"Maaf tapi saya kurang tahu Nona, karena saya hanya di perintahkan untuk menjemput saja" jawab Jeff yang tak memberi jawaban pasti.


Rania yang mendengar jawaban itu pun hanya menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke belakang.


Maaf kan saya Rania, karena saya tidak bisa memberitahu alasan akan sikap Tuan Vero saat ini, batin Jeff.


Sesampainya di rumah sakit mereka pun langsung menuju kamar perawatan VIP di mana Putri di rawat.


Tok... Tok... Tok...


Sreeek...!


"Selamat Pagi" ucap Rania saat masuk ke dalam kamar.


"Rania?!" seru Mami terkejut saat melihatnya masuk ketika ia sedang menyuapi Putri.


"Pagi Nia" ucap Ale semangat sambil melambaikan tangannya.


"Selamat Pagi Nyonya...Nona Muda..." Jeff pun memberi salam kepada keduanya. "Selamat Pagi Tuan" lanjutnya sambil berjalan ke arah Vero.


"Mari kita bicara di luar" ucap Vero dingin sambil berdiri dan membawa tablet serta ponselnya. Ia pun berjalan melalui Rania tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan menengok ke arahnya pun tidak. Ia menganggap seolah Rania tidak ada di sana.


Rania yang bingung pun hanya bisa menatap punggung Vero yang menghilang di balik pintu dengan penuh pertanyaan.


Sebenarnya ada apa dengan kakak? Aku kira ia sibuk dan tidak bisa ke rumah sakit? Tapi nyatanya ia telah berada di sini lebih dulu. Ia tidak menyapa dan menatap ku, seolah aku hanya angin lalu baginya, batin Rania.


Putri yang melihat sikap kakaknya yang berubah menjadi dingin seperti itu pun merasa heran.


Ada masalah apa dengan mereka? Kenapa sikap kakak sangat berubah seratus delapan puluh derajat pagi ini? Aku bahkan belum pernah melihat sikap dingin kakak yang seperti ini. Apakah Rania mau berbagi cerita dengan ku? Mungkin saja aku bisa mendamaikan mereka, batin Putri


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...

__ADS_1


Saat tiba di lorong dekat kamar Sang ayah, Rania mendengar suara seperti orang sedang berdebat. Ia pun menghentikan langkahnya dan menajamkan pendengarannya.


"Maksud kamu apa mengatakan hal seperti itu?" suara seorang wanita paruh baya bertanya.


"Maksud aku itu baik Ma, agar semua jelas dan clear" ucap seorang pria yang sepertinya lebih muda.


"Baik bagaimana? Selama ini semua sudah berjalan sebagaimana mestinya!" seru wanita itu.


"Tapi kita bisa bertahan dan hidup dengan nyaman karena pengorbanannya Ma! Mama jangan lupa itu!" seru pria itu lagi.


"Kamu juga jangan lupa, bahwa Papa kamu lah yang sudah berjuang untuk bisa mengembalikan kondisi perusahaan hingga seperti sekarang! Sudah cukup kita memberikan saham lima puluh satu persen kepada anaknya beserta dividennya selama ini. Sementara ia hanya diam saja di dalam sana, menikmati makan gratis tiga kali sehari dan tidur tanpa beban" ucap wanita itu penuh amarah.


"Tapi itu karena ia yang di korbankan Ma. Jika posisinya di balik pun pasti ia akan berjuang demi perusahaan mereka. Mama tau kenapa aku sampai saat ini tidak mau bergabung di perusahaan Papa?" tanya pria itu balik.


"Itu karena kamu sudah nyaman dan menikmati kehidupan mu sebagai model internasional" tebak wanita tersebut.


"No Ma! Bukan itu alasannya" jawab pria tersebut sambil menggelengkan kepalanya. "Alasan yang lebih tepat adalah karena rasa bersalah ku kepada DIA!" seru pria tersebut sambil menunjukkan ke arah kamar ayah Rania di rawat.


Kenapa pria itu menunjuk ke arah kamar ayah?, batin Rania.


Ia bingung karena walaupun hanya melihat belakang punggung pria tersebut, tapi ia bisa dengan jelas melihat arah telunjuk pria tersebut.


"Untuk apa kau merasa bersalah kepadanya?" tanya wanita itu. "Lagipula Papa mu sudah tiada, jadi tidak ada gunanya lagi mempermasalahkan apa yang sudah terjadi" ucap wanita itu lagi.


"Tapi itu adalah permintaan terakhir Papa kepada ku Ma! Aku akan terus terbebani dengan perasaan ini" ucap pria itu sambil mengusap wajahnya frustrasi


"Mama mohon fikirkan segala risikonya, jika sampai media tahu pasti perusahaan juga akan menjadi terguncang. Apa kau akan mengorbankan nasib ribuan karyawan dan keluarganya demi dia dan ego mu?" ucap wanita tersebut berusaha membujuk.


"Biar lah nanti aku fikirkan dahulu Ma" ucap pria tersebut sambil membalikkan badannya dan langsung membulatkan matanya saat melihat seseorang di belakang sana.


"Ra... Ra... Rania?!" seru Figo terkejut saat melihat Rania berada di ujung lorong tersebut dengan raut wajah yang tak terbaca.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊

__ADS_1


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


__ADS_2