Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 35


__ADS_3

FLASHBACK ON


"Kakak lihat lah gambar ku ini?" ucap seorang anak perempuan cantik yang berlari menghampiri seorang anak laki laki dengan kacamata yang menghias wajahnya yang sedikit gembul.


"Hati hati nanti kau terjatuh" balas anak lelaki tersebut mengingatkannya.


"Lihat lah ini kak!" serunya sambil menunjukkan sebuah gambar sepasang anak lelaki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan menggenakan pakaian ala princess disney dan jas hitam. "Ini adalah impian ku ketika besar nanti kak" lanjutnya sambil mendongak menatap langit sedang berkhayal tentang masa nanti.


"Jika begitu menikahlah dengan ku! Aku janji akan membuat pernikahan seperti putri disney yang kau mimpikan" ucap anak laki laki tersebut lantang.


"Benarkah! Kakak akan menepati janji hingga kita dewasa kelak?" tanya anak perempuan tersebut sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


"Iya kakak berjanji" ucapnya yakin sambil menautkan jari kelingking mereka bersama. Mereka pun saling menatap dan tersenyum dengan mematri janji tersebut hingga ke relung hati mereka yang terdalam.


FLASHBACK OFF


Janji itu lah yang membuat Vero kembali dan mulai mencari keberadaan sang pengantin kecilnya. Hingga tak di sangka pertemuan tak terduga yang membuat mereka bersama.


"Lalu sekarang Nia bekerja di mana Bu?" tanya Vero untuk lebih memastikannya lagi bahwa benar foto yang ia lihat sebelumnya adalah wanita yang ia cari selama ini.


"Ibu pun tidak tahu pasti di perusahaan apa tapi ia berkata bahwa ia bekerja di salah satu perusahaan terbesar di ibu kota. Ia selalu mengirimkan uang tepat waktu untuk ibu, dia berkata bahwa itu untuk keperluan adik adiknya di panti. Atau mungkin Ale lebih tahu karena mereka telah bersahabat sejak kecil" jawab Ibu Wati.


"Baik lah Bu mungkin nanti saya akan tanya kepadanya, tapi bolehkah saya meminta foto mereka berdua bu?" tanya Vero meminta izin.


"Ambil saja jika kau mau, ibu masih punya banyak foto kenangan mereka berdua. Apa kau mau melihat yang lainnya?" tanya Ibu Wati sambil mencari album lama mereka di salah satu laci bufet tersebut. Mereka pun akhirnya saling bercerita dan tertawa bersama setiap melihat masing masing foto yang berbeda.


"Kau tumbuh dengan baik calon pengantin kecilku" gumam Vero dalam hati saat melihat perubahan Rania dari tahun ke tahun. "Tapi kenapa kau seperti tak pernah mengenalku? Apa kau sudah lupa tentang janji kita dahulu? Aku pun langsung bisa mengenal mu saat kita bertemu, aku hanya memastikan jati diri mu dan memyakini bahwa perasaan ku tak pernah pudar untuk mu" hatinya terus bertanya tanya setiap melihat senyum manis itu.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Sementara itu gadis yang sedang di bicarakan oleh mereka sedang melamun di area laundry sambil menunggu mesin cuci selesai bekerja untuknya. Terdengar sebuah lagu yang di putar oleh penjaga di sana melalui pengeras suara.


Ratusan purnama berlalu


Tapi cinta tak pernah berlalu


Walau kau usir aku di hidupmu


Tapi cintaku tetap diam


Ratusan purnama berlalu


Sendirian aku tanpa cinta


Tak pernah ada cinta yang lain


Hatiku terbuka hanya untukmu

__ADS_1


Duhai cinta, enggan menawar rasa


Gelombang marahmu terlalu berlebih


Berderit-derit bunyi jantungku


Biar jauh jarak pandang kita


Namun hati dan jiwaku


Selalu merasa di sisimu


Duhai cinta, sulit 'ku meraba


Diam dan dinginmu mengapa?


Ribuan hari 'ku mengingatmu


Membaca semua puisimu


Mengering raga ini menantimu


Ratusan purnama cinta kita kembali


Duhai cinta, enggan menawar rasa


Gelombang marahmu terlalu berlebih


Berderit-derit bunyi jantungku


Biar jauh jarak pandang kita


Namun hati dan jiwaku


Selalu merasa di sisimu


Duhai cinta, sulit 'ku meraba


Diam dan dinginmu mengapa?


Ribuan hari 'ku mengingatmu


Membaca semua puisimu


Mengering raga ini menantimu


Ratusan purnama cinta kita kembali lagi

__ADS_1


Ratusan purnama cinta kita kembali


(Ratusan Purnama by Melly Goeslaw feat Marthino Lio)


Entah mengapa lagu itu seperti mengisahkan dirinya yang telah menunggu cinta pertamanya datang selama ratusan purnama tanpa pernah ia sadari.


"Haaah..." ia pun menghela nafasnya jika mengingat peristiwa yang telah lama berlalu. Akan tetapi ia pun kembali tersenyum ketika mengingat peristiwa yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Ia pun mengibas ngibas kan tangannya karena merasa pipinya panas di ruangan yang berpendingin ini.


"Entah lah hati ku kini bimbang, jujur aku masih mencintai kakak di relung hati ku yang terdalam karena ia adalah cinta pertama ku. Semua ini belum berakhir bagi ku, bahkan kami saat itu belum memulai apa pun. Tapi aku pun tidak bisa membohongi hati ku yang berdebar saat mendapat tatapan dan perhatian dari CEO macan ku itu. Bahkan hati ku pun masih berdesir ketika teringat akan c*uman itu." gumamnya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya malu sendiri jika teringat peristiwa itu.


"Apa yang harus aku lakukan dengan hati ku yang bercabang ini. Karena aku tidak bisa jika harus memilih satu di antara keduanya" lanjutnya merasa sedih hingga tanpa di sadarinya bahwa mesin cuci tersebut telah berhenti bekerja.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


"Baik lah Ibu kami pulang dulu" ucap Vero kepada Ibu Wati, lalu ia pun mengajak Putri untuk pulang karena hari telah menjelang sore.


"Hati hati di jalan" balas sang ibu asuh sambil melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa lagi adik adik semua" ucap Putri kepada anak anak panti yang sedari tadi telah sibuk bermain dengannya.


"Iya kak. Terima kasih hadiah oleh olehnya kak Ale" balas anak anak itu kompak sambil tersenyum memeluk hadiah mereka masing masing.


"Tidak masalah, jaga baik baik ya hadiah itu" ucap Putri sambil mengedipkan sebelah matanya dan anak anak itu pun menganggukan kepala mereka dengan semangat.


"Jaga baik baik benda berharga itu ya Nak Putra" Ibu Wati sedikit berbisik kepada Vero, yang hanya di tanggapi dengan senyuman terindah darinya.


"Benda berharga apa yang dimaksud ibu tadi kak?" tanya Putri saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Bukan apa apa" jawab Vero santai.


"Ayo lah kak katakan apa itu?" tanya Putri yang penasaran sambil bergelayut manja di lengan kakaknya.


"Sudah lah itu bukan urusan anak kecil" ucapnya lagi sambil mengacak acak rambut adiknya dengan sayang.


Putri pun hanya bisa cemberut sambil tetap memeluk lengan sang kakak selama perjalanan pulang.


"Itu adalah sebuah hal berharga yang berkaitan dengan pengantin kecilku" gumam Vero dalam hati saat teringat foto yang di berikan oleh Ibu Wati saat mereka melihat album. Ia meminta salah satu foto Nia yang tampak cantik dan berbeda pada saat kelulusan SMAnya dulu. Ia pun akan selalu menyimpan foto tersebut di dalam dompetnya.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...

__ADS_1


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰


__ADS_2