Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 41


__ADS_3

Vero yang baru selesai meeting pun heran ketika melewati meja sekretarisnya yang kosong, bahkan ia melihat mejanya pun sudah rapih. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya dan memanggil Jeff melalui telepon interkom.


"Permisi Tuan" ucap Jeff setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk lah" sahut Vero kepadanya.


Jeff kemudian segera menutup pintu dan masuk. Vero pun kemudian bertanya kepadanya "Di mana Rania? Kenapa mejanya sudah kosong?" tanyanya langsung.


"Hmmm...tadi saya melihatnya terburu buru pergi, saya sudah berusaha untuk menahannya Tuan. tapi ia berkata nanti ia akan menghubungi anda langsung untuk meminta izin" jelas Jeff.


"Apa ia tidak mengatakan akan pergi ke mana?" tanyanya lagi kepada sang asisten.


"Tidak Tuan, Maaf sepertinya ia terburu buru karena sepertinya ada hal yang memang mendesak untuk di selesaaikannya Tuan" jawab Jeff lagi mencoba menilai situasinya.


"Baiklah kau boleh pergi" ucap Vero sambil melambaikan tangannya. Kemudian ia mengambil ponsel di saku jas nya dan mendial nomor sekretarisnya tersebut.


πŸ“ž Tut... Tut... Tut... 'Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan ini. Silahkan tinggal kan pesan anda setelah bunyi bip' Vero pun langsung memutus sambungan telepon tersebut ketika yang di dengarnya adalah suara operator.


'Kenapa ia tidak mengangkat telepon dari ku? Biasanya tak perlu menunggu hingga dering ke tiga' gumamnya dalam hati.


Ia pun kemudian mencoba menelepon kembali.


πŸ“ž 'Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan'


lagi lagi suara operator telepon yang menjawabnya.


"Kenapa sekarang teleponnya di matikan!" seru Vero kesal sambil melempar ponselnya ke atas meja, ia pun meremas rambutnya karena frustrasi. Tak berapa lama ia pun mencoba menelepon beberapa kali, akan tetapi masih jawaban sama dari operator yang di terimanya.


"Aaarrrgh.....!" teriaknya frustasi dan mulai mengendurkan dasinya saat bersandar di kursi kebesarannya.


Sementara Rania yang saat ini telah berada di dalam bus menuju rumah panti hanya bisa harap harap cemas mengenai berita yang akan di terimanya nanti. Ia pun melihat ponselnya yang telah kehabisan daya.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghubungi Tuan Vero karena ponsel ku mati. Mudah mudahan nanti Tuan Vero akan mengerti jika sudah ku jelaskan" ucapnya sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Sebenarnya tadi saat teleponnya berdering ia berencana untuk menjawab panggilan dari Bossnya tersebut untuk menjelaskan alasannya pergi meninggalkan jam kerjanya, akan tetapi belum sempat di angkatnya ponsel tersebut mati. Ia sudah mencoba beberapa kali tapi tetap saja ponsel tersebut tidak bisa menyala kembali. Malangnya lagi powerbank miliknya tertinggal di laci meja kerjanya, karena ia tadi pergi tergesa-gesa hingga tak menyadari ada barangnya yang tertinggal di meja.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...

__ADS_1


FLASHBACK ON


Pagi hari ini Ibu Wati berangkat ke pasar untuk membeli stock kebutuhan makan anak anak panti yang sudah mulai menipis. Ia pun mengajak seorang anak perempuan untuk menemaninya ke pasar, kebetulan anak tersebut masuk sekolah siang sehingga tidak mengganggu jadwal belajarnya.


Ketika saat sedang berjalan sambil melihat lihat sayur yang banyak berjejer di sepanjang jalan, tiba tiba tanpa sengaja seseorang menabrak Ibu Wati. Orang tersebut pun langsung berhenti dan meminta maaf dan kemudian memperhatikan Ibu Wati dengan seksama.


"Maaf jika saya lancang, tapi bukan kah anda Ibu Wati pemilik panti asuhan kasih bunda?" tanyanya ragu.


"Betul saya Ibu Wati, tapi sekarang saat sudah tidak mengelola panti asuhan tersebut" jawabnya menjelaskan.


"Ooooo begitu, tapi apakah saya boleh bertanya mengenai seseorang?" tanyanya lagi.


"Boleh saja jika saya mengetahuinya, akan tetapi bisa anda lihat sendiri bahwa saya sedang berbelanja. Jadi maaf saya tidak bisa berbicara dengan anda" ucap Ibu Wati lembut sambil menunjuk keranjang belanjanya yang baru separuh terisi.


"Baiklah saya tak akan mengganggu kegiatan Ibu, tapi saya akan menunggu Ibu di warung bubur di depan pasar. Karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Ibu segera" ucapnya lagi.


"Baiklah, saya nanti akan menemui anda jika sudah selesai" jawab Ibu Wati, kemudian ia pun melanjutkan kegiatan berbelanjanya.


Tak berselang lama setelah selesai membeli kebutuhan pangan anak anak panti, Ibu Wati pun menemui wanita paruh baya tersebut yang ternyata masih menunggu dengan setia di warung tersebut.


"Baiklah Bu, jelaskan apa yang ingin anda sampaikan" lanjutnya lagi sambil duduk di hadapan wanita tersebut.


"Sebelumnya perkenalkan saya adalah Atma, teman baik dari Ibu Rania yaitu Ibu Yanti. Saya dahulu pernah melihat Rania bersama Ibu di panti asuhan kasih bunda bersama ibunya. Saya sudah mencari cari Rania selama bertahun tahun ini Bu. Kenapa Ibu pindah?" tanya wanita tersebut.


"Ada sesuatu hal yang terjadi kepada pemilik rumah sehingga tanah hibah tersebut menjadi rebutan. Dengan terpaksa kami pun harus pindah ke sini dengan bantuan dari seseorang" Ibu Wati menjelaskan secara singkat.


"Ooooo....pantas saja saya tidak menemukan panti itu lagi di sana. Saya kehilangan jejak Rania dan berusaha terus mencarinya hingga sekarang, beruntung saya tanpa sengaja bertemu Ibu di sini" ucapnya sambil menyeka air mata yang ingin keluar di ujung pelupuk matanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Bu?" tanya Ibu Wati yang melihat kesedihan yang jelas terlihat di wajah wanita tersebut.


Akhirnya Ibu Atma pun menjelaskan apa yang telah terjadi selama bertahun tahun ini dan ia ingin bisa segera di pertemukan dengan Rania.


Akhirnya di sini lah sekarang Ibu Atma berada, di sebuah ruang tamu sederhana menanti kedatangan seorang gadis bernama Rania.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Ketika hari sudah menjelang malam, dari arah depan datang seseorang yang setengah berlari seakan di buru oleh waktu.


"Assalamu'alaikum Ibu" ucapnya saat memasuki pintu depan.


"Waalaikumsalam Nak, sini masuk nak. Apakah kau sudah makan malam?" tanya sang Ibu asuh kepada Nia yang baru tiba.


"Nanti saja Bu, aku masih bisa menahan lapar. Di mana wanita yang Ibu bicarakan di telepon tadi?" tanya Rania yang tak sabar ingin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Ibunya.


"Sabar lah Nak, duduk dulu akan Ibu panggil kan karena ia sedang mengobrol dengan adik adik mu" ucapnya lembut, kemudian masuk kedalam memanggil Ibu Atma sekalian membuat teh manis untuk mereka.


Tak berselang lama ia muncul bersama seorang wanita lain.


"Apakah kau Rania?" tanyanya terharu sambil memeluk Rania, sedangkan yang di peluk hanya bisa mengangguk saja karena bingung.


"Sebaiknya kita duduk dahulu" saran Ibu Wati sambil meletakkan cangkir teh dan toples kue kering di meja.


Mereka pun akhirnya duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu tersebut.


"Bagaimana keadaan Ibu saya? Di mana dia sekarang?" Rania bertanya dengan penuh kecemasan.


"Kuatkan Hati mu Nia" ucap Ibu Atma dengan mata berkaca kaca, sedangkan Ibu Wati pun memeluk bahu Rania yang tegang.


"Ibu mu sekarang sudah tenang di alam sana Nia" lanjutnya sambil menggenggam tangan Rania yang gemetar.


"A... a... pa...? Tidak Mungkin!" seru Rania terkejut dengan air mata yang berlinang dari kedua mata indahnya.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🀩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update πŸ˜‰ Terima Kasih πŸ™


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... β™‘Thanks!...

__ADS_1


Love Love Love buat kalian semua πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2