
"Oya... Kakak sedang apa di sini?" tanya Rania ketika mereka sedang duduk di kursi.
"Aku mencari mu karena kau pergi tanpa kabar. Aku bahkan sudah menelepon mu berkali kali, tapi tidak kau jawab" jelas Vero.
Rania pun lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, ia pun terkejut saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Vero. "Maaf kak jika aku tidak menyadari bahwa ponsel ku bergetar, karena nada dering ponsel ku di silent" ucap Rania tertunduk.
"Sudah lah tidak masalah" ucap Vero menenangkan Rania sambil mengelus rambut hitamnya. "Tapi kenapa aku merasa aneh dengan nama yang tadi terlihat di ponsel mu ya?" tanya Vero saat tadi ia tidak sengaja melihat nama panggilan yang tertera di layar ponsel Rania.
Waduh! Aku dalam masalah besar! Kakak pasti marah, bagaimana ini?! Karena banyak hal hal yang terjadi akhir akhir ini, aku tidak terfikir untuk menganti nama id pemanggil untuk kakak, batin Rania cemas sambil buru buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Bagaimana keadaan Ale kak? Kenapa kakak meninggalkan Mami untuk menjaganya sendiri?" tanya Rania mengalihkan perhatian Vero dari ponselnya.
"Ya ampun aku sampai lupa memberi mu kabar baik ini!" seru Vero.
Ini semua gara gara aku melihat laki laki penggoda itu di samping Rania, batin Vero.
"Maksud kakak kabar apa?!" tanya Rania bingung.
"Putri baru saja sadar dari tidur panjangnya dan sekarang ia sudah pindah ke kamar perawatan VIP" jelas Vero.
"Syukur alhamdulillah ya Alloh" ucap Rania sambil berdoa dan mengusapkan ke dua telapak tangan ke wajahnya. "Jika begitu ayo kita lihat Ale sekarang kak, kenapa kakak masih tetap di sini?" tanya Rania bingung sambil menarik tangan Vero agar berdiri.
"Apa kau akan meninggalkan ayah mu sendiri di sini?" tanya Vero heran melihat Rania yang antusias.
"Tidak apa apa, kan di sini banyak perawat juga dokter. Lagipula aku tidak bisa menemuinya karena ia sedang tertidur. Nanti juga Tuan Figo akan memberikan kabar kepada ku masalah kamar perawatan ayah" ucap Rania mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Figo.
"Tunggu!" seru Vero sambil menahan tangan Rania yang hendak menelepon Figo.
"Kenapa kak?" tanya Rania sambil menaikkan alisnya heran.
"Biar aku saja yang menghubunginya dan mulai sekarang jangan pernah kau menghubunginya tanpa izin dari ku. Mengerti?!" ucap Vero penuh penekanan.
"Baik lah kak" jawab Rania sambil menahan senyumnya.
Lucu juga melihat kakak cemburu seperti itu, batinnya dengan senyum yang makin lebar.
Vero pun lalu menghubungi Figo menggunakan ponselnya.
__ADS_1
📞 'Halo, ini aku Vero' ucap Vero saat panggilan tersebut tersambung.
📞 'Apa kah ada masalah dengan Rani?' tanya Figo yang terkejut mendapat telepon dari Vero.
Kenapa ia khawatir sekali dengan kekasih ku?, batin Vero sambil menatap ponselnya dengan kesal.
📞 'Halo... Halo... Halo... Apa anda masih di sana Tuan?' tanya Figo saat tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.
📞 'Eheeemmm' Vero berusaha menetralkan suaranya 'Rania baik baik saja selama ia bersama ku, hanya saja sahabatnya yang koma sudah siuman dan ia ingin menjeguknya segera. Jika kau sudah mendapat kamar perawatan untuk ayahnya, silahkan hubungi ku langsung! Bukan Rania!' ucap Vero dengan penuh penekanan pada kata terakhirnya.
📞 'Kenapa harus seperti itu Tuan?' tanya Figo heran.
📞 'Sudah itu bukan urusan mu! Aku tunggu info nomor kamarnya' ucap Vero dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Cemburu bilang boss" gumam Figo sambil menggeleng gelengkan kepalanya saat menatap ponsel dengan sambungan telepon yang telah terputus tiba tiba.
"Ish kenapa kakak bicara kasar seperti itu? Tuan Figo kan sudah baik membantu menjaga dan merawat ayah" ucap Rania memukul lengan Vero.
"Aaawww...sakit Nia" ucap Vero sambil mengelus lengannya yang di pukul.
"Udah kak nggak usah lebay" ucap Rania sambil berjalan menjauh menuju lorong rumah sakit.
"Sudah mulai berani nakal ya sekarang" ucap Vero sambil merangkul Rania saat langkah mereka sudah sejajar. Rania pun hanya tersenyum dan mereka pun mulai berjalan menuju kamar perawatan VIP.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
"Mami kenapa kaki ku tak bisa di gerakkan? Apa kah aku akan lumpuh Mi?" tanya Putri sedih saat berusaha menggerakkan kedua kakinya.
"Tenang lah sayang, kau tidak lumpuh hanya saja karena kau sudah terlalu lama berbaring sehingga sendi di tubuh mu belum bisa bekerja secara optimal. Dokter sudah menjadwalkan untuk melakukan fisioterapi agar kau bisa berjalan normal kembali." jelas Mami menenangkan Putri agar tidak histeris.
"Syukur lah Mi jika seperti itu." ucap Putri menghembuskan nafas dengan lega.
"Yang sabar ya Sayang, nanti kita akan berlatih perlahan hingga kau bisa kembali berjalan normal lagi" ucap Mami sambil mengelus rambut putrinya dengan sayang.
Sreeek...
Pintu geser tiba tiba terbuka dan...
__ADS_1
"Ale!"
"Nia!"
seru kedua gadis tersebut bersamaan. Rania pun berlari menghampiri sahabatnya di pembaringan dan langsung memeluknya.
"Aku rindu pada mu" ucap Rania sambil berurai air mata.
"Aku pun rindu pada mu" ucap Ale membalas pelukan sahabatnya dan saling menangis bersama.
Vero dan Mami pun hanya tersenyum bahagia melihat kedua sahabat tersebut saling melepas rindu.
"Apa kau baik baik saja? Tidak ada yang terluka?" tanya Ale langsung melihat kondisi temannya saat pelukan mereka terurai.
"Aku tidak terluka sama sekali, ini semua berkat kau. Terima kasih banyak Ale" ucap Rania sambil menggenggam tangan sahabatnya.
"Sudah kau tidak perlu seperti itu, kemarin itu pun aku refleks mendorong mu" ucap Ale sambil menepuk nepuk tangan Rania dalam genggamannya.
"Aku hanya berharap pelakunya sudah mendapat hukuman yang setimpal. Betul kan Kak?" tanya Ale kepada Vero.
"Iya, semua sudah selesai di urus. Kalian tenang saja dan fokus pada kesehatan kalian" ucap Vero sambil tersenyum.
Maaf aku tidak bisa memberi tahu kalian siapa pelaku sebenarnya. Biar lah ini menjadi rahasia antara aku dan Mami saja, batin Vero yang tidak ingin melihat kebahagiaan keduanya rusak.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Tring...
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Vero.
📲 Jika Rani ingin menemui ayahnya silahkan datang ke kamar perawatan 306 an Edwin Sanjaya. Nanti saya akan berbicara kepada para penjaga di depan kamar agar ia di perkenankan untuk melihat pasien, isi pesan tersebut yang ternyata kabar dari Figo mengenai ayah Rania.
APA? Aku tidak salah membaca kan? Bagaimana mungkin ayah Rania adalah Edwin Sanjaya? Apakah kebetulan memiliki nama yang sama atau benar benar merupakan orang yang sama? Kenapa seolah takdir mempermainkan kami seperti ini?, batin Vero terkejut saat membaca isi pesan tersebut.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
__ADS_1
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏