Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 66


__ADS_3

"Ayah... " ucap Rania lirih.


"Ra... Ni... A... " ucap lelaki paruh baya tersebut terbata bata karena terkejut.


Rania pun mendekat untuk memeluk sang ayah, ia menangis terisak isak saat memeluk tubuh ayahnya yang terasa kurus dan juga lemah. Sang ayah hanya bisa merangkul Rania pun ikut menangis, sebab sebelah tangannya di kunci di pinggiran ranjang dengan sebuah borgol. Mereka pun menangis bersama.


"Bagaimana bisa kau menemukan ayah di sini Rania?" tanya Ayahnya bingung.


"Aku tidak sengaja melihat ayah pada saat aku berkunjung ke rumah sakit ini dan kebetulan aku kenal dengan Tuan Figo, anak rekan bisnis ayah" jelas Rania.


"Kau kenal dengan Figo?" tanya ayahnya terkejut dan hanya di balas anggukan kepala oleh Rania. "Nak Figo sudah banyak membantu ayah selama ini, bahkan ketika ayahnya telah tiada pun ia tetap membantu ayah" ucap Ayahnya sambil tertunduk.


"Kenapa ayah tidak pernah berusaha mencari ku selama ini?" tanya Rania sambil terisak isak.


"Maaf kan ayah Nia, karena ayah tak ingin membuat mu malu memiliki seorang ayah narapidana" jawab ayahnya ikut menangis. Cukup lama mereka berpelukan sambil menangis.


"Apa kau datang sendiri Nia?" tanya ayahnya setelah mereka bisa meredakan tangisan mereka.


"Tidak, aku bersama... " ucapan Rania terhenti saat ia tidak melihat Vero berada di dalam kamar perawatan tersebut. "Maksud ku, aku tidak sendiri karena ada ayah" Rania meralat ucapannya.


Ke mana kakak pergi? Apa ada hal yang mendesak? Kenapa ia tidak memberitahu ku? Aku kan jadi bingung, batin Rania.


"Bagaimana kabar ibu mu Nia?" tanya sang ayah.


"Maaf kan aku Ayah karena aku tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Ibu kini sudah tidak bersama kita lagi, ia sudah tenang di sisi Nya" ucap Rania sambil kembali menangis terisak.


"Ma... Ma... Maksudmu... Ibu mu sudah tiada Nia?" tanya ayahnya memastikan perkataan Rania, ia cukup terkejut mendengarnya hingga tangannya bergetar.


Rania pun menangis sambil menggenggam tangan ayahnya dan menganggukkan kepalanya dengan berlinang air mata.


"Ini semua salah ayah! Seharusnya ayah tidak meninggalkan kalian! Jangan pernah Maafkan ayah Rania!" seru ayahnya histeris menghempaskan tangan Rania. Rania yang terkejut pun membentur meja.


Praaanggg...


Gelas yang berada di atas meja kecil itu pun terjatuh dan pecah berkeping keping.

__ADS_1


Para penjaga yang mendengar kegaduhan pun bergegas ke dalam dan segera memanggil perawat. Ayahnya semakin histeris tatkala melihat para penjaga dan berusaha menarik narik tangannya yang di borgol.


"Lepaskan.....saya tidak bersalah! Saya harus menemui istri saya! Lepaskan saya sekarang!" jerit ayahnya semakin menggila.


Para perawat pun segera menyuntikkan obat ke dalam infus sang ayah agar ia bisa tenang kembali. Perlahan lahan ayahnya pun kembali tenang dan mulai memejamkan mata, kembali terlelap karena pengaruh obat.


"Saya mohon tinggal kan ruangan ini, biarkan pasien beristirahat agar kesehatannya tidak semakin memburuk" ucap perawat tersebut sebelum pergi keluar.


"Nona sudah dengar perintah dari suster bahwa pasien harus beristirahat, jadi saya harap anda segera pergi agar kami bisa bertugas kembali" ucap salah satu penjaga kepada Rania.


"Baik lah Pak, besok saya akan kembali lagi" ucap Rania sambil membetulkan selimut ayahnya dan berjalan keluar dengan tertunduk sedih. Saat ia keluar kamar, Rania melihat Vero yang sedang duduk tak jauh dari kamar sambil memegang kepalanya yang tertunduk.


"Kakak kenapa ada di sini?" tanya Rania.


"Aku...Aku...Aku tadi tiba tiba menerima telepon dari Jeff, maka aku tidak bisa ikut masuk" ucap Vero terbata bata akibat terkejut saat melihat Rania sudah ada di hadapannya. "Apakah kau sudah bertemu ayah mu? Apakah benar ia ayah kandung mu?" tanya Vero memastikannya.


"Tentu saja ia benar ayah kandung ku, mana mungkin aku salah mengenali ayah ku sendiri. Apa perlu aku melakukan tes DNA?" tanya Rania bercanda.


"Tidak perlu jika kau sudah yakin. Ayo kita pulang jika sudah selesai" ucap Vero berdiri dan berjalan menuju ke arah mobil mereka terparkir.


"Kenapa aku merasa sikap kakak sedikit berubah?" gumam Rania heran sambil menatap punggung Vero yang berjalan di depannya.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Saat tengah malam, ayah Rania pun terbangun. Ia kembali menangis saat mengingat bahwa istrinya telah berpulang terlebih dahulu.


"Maaf kan ayah yang tidak bisa menjaga kalian Bu, tidak seharusnya ayah meninggalkan kalian saat Ibu sedang terpuruk. Harusnya kita berjuang bersama sama, maaf kan ayah yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Tapi Ibu lihat sendiri sekarang Ayah sudah menerima hukuman akibat perbuatan ayah kepada kalian" gumamnya sambil menangis tersedu sedu. Lalu ia pun teringat kejadian di masa lalu yang berkelebat di otaknya bagaikan sebuah slide video.


FLASHBACK ON


Hari itu ia akan bertemu dengan rekan bisnisnya untuk membicarakan mengenai masalah perusahaan mereka yang sedang mengalami kerugian. Mereka pun bertemu di sebuah cafe karena itu hari minggu.


"Maaf aku terlambat" ucap Fery (ayah Figo).


"Tidak masalah, aku pun baru tiba" ucap Edwin (ayah Rania).

__ADS_1


Mereka kemudian pun memesan minuman sebelum mulai membahas permasalahan perusahaan mereka yang cukup genting.


"Jadi bagaimana apakah kita akan mengambil tawaran merger dari perusahaan Pak Daniel?" tanya Fery


"Apakah kita sudah tidak bisa meminta bantuan dari pihak bank lagi? Entah kenapa firasat ku berkata ini tidak akan berjalan sesuai rencana" ucap Edwin yang merasa gelisah.


"Aaahhh... itu hanya perasaan mu saja, bukan kah perusahaan Pak Daniel merupakan perusahaan besar? Bisa jadi nanti perusahaan kita pun akan menjadi perusahaan besar karena kita bermitra dengan mereka" ucap Fery menyakinkan rekannya tersebut.


Edwin pun hanya diam sambil merenungkan apa yang di katakan oleh rekannya. Ia pun meminum kopi yang telah mereka pesan sebelum pergi menemui calon mitra mereka.


"Sudah aku saja yang bawa mobil mu, sepertinya kau sedang banyak fikiran" ucap Fery sambil mengambil kunci di tangan Edwin.


"Terima kasih ya" ucap Edwin dan masuk ke kursi penumpang.


Mereka pun berkendara dalam diam, tiba tiba langit berubah gelap dan hujan pun turun dengan derasnya di sertai petir di mana mana.


"Sebaiknya kita menepi dahulu, sangat berbahaya bila kita terus berkendara!" seru Edwin berusaha mengalahkan suara hujan.


"Tidak perlu sebentar lagi kita sampai tempat tujuan kita!" seru Fery di tengah derasnya suara hujan. Saat itu Fery pun berusaha menikung mobil yang berada di depannya, namun naas dari arah berlawanan datang sebuah truk. Karena jalan licin akibat hujan, Fery pun tidak bisa mengendalikan laju mobil dan membuang setir ke arah kiri.


Tiiiiin... Tiiiiin... Tiiiiin...


Braaakkk.....


Ckiiiiiittttt.....


Suara benturan dan rem mobil terdengar sangat keras memecah kesunyian malam.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2