
"Siapa yang tadi menelepon? Kenapa tidak langsung kau sambung kan kepada ku?" rentetan pertanyaan yang di berikan Vero ketika Sang Sekretaris sudah ada di hadapannya.
"Maaf Tuan tapi tadi itu bukan telepon yang ditujukan kepada Anda" ucap Rania sambil menundukkan kepalanya karena merasa bagaikan sedang di interogasi oleh Sang Boss.
"Maksud kamu bagaimana? Ini kan kantor ku kenapa orang tersebut menelepon tapi bukan untuk mencari ku?" tanya Vero gusar menatap Rania sambil bersandar di kursi kebersarannya.
"Maaf kan saya Tuan, tapi itu tadi telepon dari kolega saya" balas Rania ragu ragu.
"Bukan kah kolega mu itu adalah kolega ku? kan kau bekerja untuk ku?" tanya Vero kesal karena Rania masih menutupi siapa penelepon tadi yang membuatnya tersenyum.
"Waduh sepertinya aku salah berbicara. Sekarang aku harus lebih berhati hati lagi dalam segala hal terutama perkataan ku. Apakah aku harus jujur mengenai siapa yang menelepon ku tadi?" gumamnya merasa bimbang.
"Hei! Kenapa kau jadi bengong begitu?" seru Vero sambil mengetukkan jarinya ke meja karena gemas melihat tingkah Rania yang merasa serba salah.
"Maaf Tuan, tapi telepon itu tadi dari teman saya yang menanyakan nomor ponsel saya. Maaf kan saya Tuan lain kali saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama" ucap Rania menjelaskan sambil menundukkan kepala sebagai permintaan maaf dan penyesalannya.
"Baik lah sudah tidak masalah. Sekarang buatkan Aku teh" balas Vero yang jadi merasa bersalah karena melihat Rania yang sedikit bersedih.
"Baik Tuan, saya permisi" ucapnya sambil berlalu keluar menuju pintu.
"Apakah yang menelepon tadi Mr. F? Orang yang sama dengan yang mengiriminya bunga mawar tersebut?" gumam Figo dalam hati.
"Aaahhh kenapa juga harus memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu" lanjut Vero kesal sambil mengacak acak rambutnya frustasi karena sebenarnya hatinya masih di penuhi rasa cemburu melihat Rania yang bahagia ketika menerima telepon tadi.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
__ADS_1
Weekend pagi yang cerah ini mereka berdua telah berada di mobil dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan Mall STAR Grup yang baru. Hari ini Asisten Jeff tidak bisa ikut menemani karena harus menjemput salah satu arsitek dan desain interior di bandara, sedangkan para dewan dan investor ingin melihat langsung perkembangan pembangunan tersebut. Sehingga akhirnya Rania lah yang menemani Sang Boss untuk pergi ke lokasi pembangunan.
Hari ini mereka pergi dengan menggunakan pakaian yang sedikit kasual dengan mengenakan sepatu sneaker agar mudah bergerak saat di area pembangunan tersebut. Sebelum pergi mereka telah berdebat cukup lama hanya untuk menentukan siapa yang akan mengemudi ke area pembangunan tersebut.
"Biar saya saja Tuan yang mengemudikan mobilnya, kan saya sudah cukup berlatih bersama Anda selama ini. Tuan tinggal duduk saja di belakang agar tidak kelelahan selama perjalanan" ucap Rania menawarkan diri untuk membawa mobil tersebut.
"Tidak bisa!" seru Vero segera.
"Kenapa tidak Tuan?" tanya Rania bingung.
"Jalan menuju ke area pembangunan itu berkelok dan cukup ramai, sedangkan kau baru saja selesai belajar mengemudi. Bagaimana jika kau tidak bisa mengendalikan kendaraan ini? Kau ingin membahayakan nyawa ku?" balas Vero kesal.
"Maaf Tuan, bukan seperti itu maksud saya" ucap Rania sambil menunduk untuk menghindari tatapan tajam Vero.
Rania pun akhirnya masuk dan duduk di kursi penumpang depan. Ketika ia hendak memakai seatbelt, tiba tiba saja seatbelt tersebut macet dan berkali kali di tariknya tapi tetap saja tak bisa di gerakkan. Akhirnya Vero mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Rania untuk kemudian memakaikan seatbelt tersebut. Lalu tatapan mereka pun bertemu dalam jarak yang sangat dekat hingga mereka bisa saling mendengar detak jantung masing masing yang saling berpacu. Akhirnya Rania lah yang memutus kontak mata tersebut dengan memalingkan wajahnya yang terlihat merona ke arah jendela.
"Eheeemmm" Vero pun berusaha menetralisir perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. "Sungguh begitu menggemaskan wajahnya yang merona seperti itu" gumamnya dalam hati dan mulai melajukan kendaraan mereka membelah jalanan ibu kota.
Sementara Rania masih berusaha menghilangkan perasaan malunya akibat tatapan tak sengaja mereka tadi. "Aroma parfumnya sungguh menggangu indra penciuman ku. Kenapa hati ku jadi berdebar debar seperti ini? Wahai hati tenangkanlah diri mu!" seru Rania dalam hati sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil.
Mobil mereka pun terus melaju menuju area pembangunan yang berada di pinggiran ibu kota, lebih tepatnya hampir mendekati daerah pantai yang terkenal dan banyak di datangi oleh berbagai turis dalam dan luar negeri. Ketika melewati restarea maka Vero pun menghentikan mobilnya untuk mengisi bahan bakar.
"Kau beli lah sarapan atau cemilan di minimarket itu untuk teman dalam perjalanan. Aku akan membeli bahan bakar dan menggunakan toilet" ucap Vero kepada Rania sesaat sebelum turun dari mobil.
"Baik Tuan" balasnya sambil berlalu menuju minimarket yang berada di restarea tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Tuan ingin makan apa? Kebetulan tadi aku membeli sandwich keju daging kesukaan anda" tanya Rania sambil menyodorkan sebungkus sandwich kepada Vero.
"Hei! Apa kau tidak melihat aku sedang mengemudikan mobil? Kau ingin kita celaka karena aku melepaskan tangan dari setir ini?" balas Vero sambil tangannya melepaskan kemudi dan menggapai sandwich tersebut.
"Jangan Tuan, biar saya saja yang membukakan sandwich ini" ucap Rania setengah ketakutan saat melihat kelakuan aneh Vero tadi.
"Nah... begitu lebih baik bukan" balas Vero sambil tersenyum karena rencananya berhasil.
Akhirnya dengan amat sangat terpaksa Rania pun menyuapi sandwich tersebut langsung ke mulut Vero hingga habis dan tidak lupa memberikannya minuman pula. Tidak hanya itu, ketika Rania mulai membuka snack cemilan maka Vero pun memberi kode ingin mencicipinya. Dengan begitu Rania pun menyuapinya hingga cemilan itu habis oleh mereka berdua.
Setelah melewati beberapa kelokan, maka mulai tampak garis pantai di sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Rania pun membuka jendela mobil dan mengeluarkan tangannya untuk merasakan sejuknya angin pantai yang berhembus. Vero pun yang ingin memarahinya pun akhirnya terdiam ketika melihat wajah Rania yang tersenyum senang sambil menatap laut dengan bertumpu pada lengannya yang ia letakkan di atas kusen jendela mobil. Angin pantai pun memainkan rambutnya yang panjang tergerai indah. Melihat hal itu Vero pun mematikan AC dan mulai ikut membuka jendela mobil. Tangannya pun keluar untuk ikut merasakan sejuknya hembusan angin pantai. Ia pun tersenyum ketika hatinya merasakan kedamaian saat angin pantai menyentuh wajahnya. Mereka pun terus melaju dengan terus menatap keindahan pantai yang mereka lewati selama perjalanan.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel ini dengan memberikan Vote dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Terima Kasih 🙏
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...
__ADS_1