Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 27


__ADS_3

Setelah mereka terdiam cukup lama dalam hujan dan Vero mulai bisa mengendalikan dirinya, maka ia pun mulai menarik tangan Rania untuk berteduh di sekitar resto. Mereka pun terdiam dan mulai merasakan kedinginan akibat air hujan yang membasahi tubuh mereka.


"Ayo ikut aku!" seru Vero sambil berjalan menarik tangan Rania.


"Kita mau ke mana Tuan?" tanyanya sambil tetap mengikuti langkah Vero dari belakang.


Vero pun tidak menjawab dan hanya terus berjalan hingga berhenti di sebuah resort penginapan yang berada di sekitar pantai tersebut.


"Tuan kita mau apa di sini sekarang?" tanya Rania bingung dan sedikit takut sebenarnya.


"Malam ini kita terpaksa menginap di sini, karena tidak mungkin kita pulang dengan kondisi basah seperti ini" jawab Vero "Tenang saja aku akan pesan dua kamar jika kau khawatir" jelasnya melihat apa yang menjadi keraguan Rania.


Vero pun langsung ke bagian resepsionis untuk segera check in karena jujur saja ia sudah merasakan kedinginan saat tubuhnya yang basah di terpa angin malam yang makin dingin.


"Maaf Tuan karena ini akhir pekan maka semua kamar penuh dan hanya tersisa satu kamar saja dengan single bed Tuan" ucap salah satu resepsionis tersebut menerangkan kondisi resort tersebut yang telah terisi penuh. Memang pantai yang mereka kunjungi cukup populer sehingga wajar bila akhir pekan seperti ini semua kamar penuh, beruntung masih tersisa satu kamar untuk mereka sewa. Oleh karena itu Vero berencana membangun Mall di kawasan pantai tersebut agar bisa semakin menarik minat wisatawan dan menaikkan nilai UMKM para pengusaha lokal di sana.


"Baiklah tidak apa apa" balas Vero langsung menyetujui untuk sewa kamar tersebut. Setelah menerima kunci dari resepsionis tersebut, maka ia memberikan kunci tersebut kepada Rania. "Kau pergi lah ke kamar lebih dahulu, aku akan ke toko sebentar membeli pakaian ganti untuk kita" ucapnya sambil menunjuk dirinya dan Rania yang telah basah kuyup oleh hujan.


"Baik Tuan" jawab Rania dan bergegas menuju kamar mereka, karena ia pun sudah tak tahan untuk bisa menghangatkan badannya yang sudah mulai kedinginan.


Rania pun cukup terkejut ketika membuka pintu kamar tersebut yang ternyata di dekorasi cukup romantis untuk pasangan yang sedang jatuh cinta. Ia pun menatap bingung ke arah tempat tidur yang cukup besar di tengah ruangan yang menghadap ke arah jendela dengan pemandangan pantai.

__ADS_1



"Beruntung ada sofa di pojok sana sehingga aku bisa tidur dengan nyaman di sana. Karena tidak mungkin aku tidur di ranjang itu" gumam Rania sambil melihat lihat sekeliling kamar tersebut.


Tak berselang lama Vero pun masuk dan melihat Rania sedang melihat hujan di luar melalui balkon yang ada di kamar mereka.


"Bisa bisa kau masuk angin jika terus berada di luar" ucap Vero yang cukup membuat Rania terkejut karena tidak menyadari kedatangannya. "Ini ganti lah pakaian mu agar bisa di laundry sebelum kita pulang besok" Vero menyerahkan sebuah paper bag kepada Rania "Kau bisa gunakan kamar mandi di kamar ini dengan nyaman karena aku akan ke pemandian air panas yang ada di sini" lanjut Vero lagi.


"Terima Kasih Tuan" balas Rania sambil mengambil paper bagian tersebut dari tangan Vero.


"Jangan lupa tutup jendela balkonnya agar serangga tidak masuk ke dalam kamar ini" ucap Vero sebelum pergi keluar meninggalkan Rania seorang diri.


"Sebenarnya apa yang telah aku lakukan tadi? Pasti Tuan Vero berfikir bahwa aku bertindak kurang ajar dengan beraninya memeluk dia seperti itu" gumam Rania saat memikirkan kembali kejadian saat mereka berpelukan di pantai. Ia masih mengingat bagaimana Vero yang cuma bisa terdiam saat merasakan pelukan darinya dan ketika berbalik ia dapat melihat raut wajah Vero yang memandanginya dengan intens melalui netranya yang seolah membuat Rania terhisap ke dalamnya untuk merasakan kegundahan apa yang di alaminya. "Aaahhh... Rania kenapa kau bertindak begitu ceroboh!" serunya pada diri sendiri dan menenggelamkan seluruh wajahnya yang terasa terbakar ke dalam bathtube.


Sementara di pemandian air panas yang berada di bagian luar hotel seorang pria tampak termenung sambil menatap rintik hujan yang masih terus turun menggantikan badai yang telah berlalu. Badai yang selalu mengingatkannya akan kejadian di masa lalu yang selalu membekas di ingatannya. Akan tetapi malam badai hari ini telah membuatnya berbeda karena seorang wanita yang perlahan hadir di hidup dan mulai masuk ke hatinya tanpa permisi. Ia masih ingat bagaimana cantiknya wajah wanita tersebut dengan bibir yang gemetar karena dingin yang mulai merasuki tubuhnya yang mungil. Ingin rasanya ia mencicipi manisnya bibir tersebut, tapi ia harus sekuat tenaga menahan diri agar wanita tersebut tidak menjauh darinya.


Segera setelah di rasa cukup untuk menghangatkan dirinya, maka ia pun segera pergi untuk berganti pakaian yang telah di belinya di salah satu toko oleh oleh di hotel setelah sebelumnya membersihkan diri. Ia pun memasukkan kembali pakaiannya yang basah ke dalam paper bag untuk di laundry agar besok telah kering dan bisa di gunakan saat mereka pulang.


Tok... Tok.. Tok...


"Rani apa kau sudah selesai? Boleh aku masuk?" tanya Vero meminta izin sebelum masuk, karena ia khawatir takut mengejutkan wanita itu jika ia tiba tiba masuk. Akan tetapi karena tidak mendapat jawaban ia pun lalu membuka pintu dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Rania.

__ADS_1


Betapa terkejutnya ia ketika melihat Rania telah tertidur pulas di atas sofa dengan hanya menggunakan sebuah selimut tipis yang ada di atas sofa. Vero pun hanya menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut. Lalu ia pun masuk ke dalam bathroom dan yang lebih membuatnya terkejut adalah baju sekretarisnya itu yang berjejer di atas gantungan handuk. Vero pun akhirnya langsung memasukkan semuanya ke dalam paper bag lain dengan wajah merona saat terselip pakaian dalam di antaranya. Setelah selesai Vero pun langsung ke depan bagian resepsionis meminta agar pakaian tersebut di laundry dan selesai besok pagi. Tak lupa ia meminta bantal dan selimut tambahan yang cukup tebal.


Sesampainya di kamar, ia pun meletakkan bantal dan selimut tersebut di meja. Lalu dengan perlahan ia menggendong Rania untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Ia pun menyelimutinya agar tetap hangat, tanganya pun membelai wajah mulus Rania dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia pun memberanikan diri untuk mengecup kening Rania dengan lembut agar tak terbangun.


"Selamat Malam. Semoga kau bermimpi indah" ucap Vero dan mengecup keningnya sekali lagi dengan lebih dalam.


Lalu ia pun mematikan lampu yang ada di meja samping tempat tidur. Kemudian ia pun tidur di atas sofa menggantikan Rania dengan menggunakan selimut tebal untuk menahan dinginnya cuaca malam tersebut. Ia pun yang lelah akibat kejadian hari ini langsung terlelap dan masuk ke alam mimpinya sendiri.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


...Happy Monday All.... Semangat beraktivitas lagi di awal tahun ini... 😉...


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Terima Kasih 🙏


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...

__ADS_1


__ADS_2