Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 54


__ADS_3

Vero yang baru selesai membayar tagihan di kasir pun segera bergegas keluar cafe saat mendengar suara benturan yang cukup keras. Ia pun langsung melihat sekeliling untuk mencari Rania, namun sayang apa yang di cari tidak ada. Ia pun kemudian melihat ada sebuah kerumunan di dekat perempatan. Vero pun langsung berlari ke arah sana dengan hati yang berdebar.


Ya Tuhan...Semoga tidak terjadi sesuatu kepada Rania, batin Vero.


Vero pun mulai menyibak kerumunan tersebut, ia pun langsung lemas melihat apa yang terjadi. Ia melihat Rania yang menangis sambil memeluk sang adik yang sudah berlumuran darah. Vero pun yang terkejut langsung menghampiri Rania.


"Kakak....." ucap Rania bergetar menatap Vero sambil berurai air mata.


"Tenang Nia, aku akan panggil ambulans segera" ucap Vero sambil memegang bahu Rania.


"Maaf Pak, tapi saya tadi sudah telepon ambulans mungkin sebentar lagi tiba" salah seorang yang berada di kerumunan memberitahu Vero.


"Terima kasih Pak" jawab Vero sambil menganggukkan kepalanya. Ia kemudian pun menelepon asistennya untuk segera datang.


"Jeff segera datang ke persimpangan di dekat kantor. Telah terjadi kecelakaan. Datang Sekarang Juga!" seru Vero.


Vero pun kemudian memeluk bahu Rania yang masih menangis sambil memeluk sahabatnya.


Ngiung... Ngiung... Ngiung...


Terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan, kerumunan itu pun mulai menepi untuk memberi jalan ambulans tersebut lewat.


"Maaf Bu, permisi biar kami tangani pasien dahulu" ucap paramedis berusaha agar Rania melepaskan pelukannya untuk segera menolong Ale.


Vero pun dengan sigap mengangkat tubuh Rania dan memeluknya untuk menenangkan Rania yang masih gemetaran.


"Tuan! Apa yang terjadi?" tanya Jeff yang baru saja tiba.


"Aku pun tidak tahu pasti, tapi tolong kau urus semua yang ada di sini. Cari tahu siapa yang berusaha mencelakai adik ku! Aku bersama Rania akan ke rumah sakit melihat kondisi Putri!" ucap Vero memberikan perintah kepada sang asisten. Kemudian ia pun membawa Rania masuk ke dalam mobilnya untuk segera berangkat mengikuti ambulans di depan mereka.


Jeff pun terkejut saat melihat begitu banyaknya darah yang berada di aspal di sekitarnya. Ia juga melihat ada beberapa serpihan kaca dan logam dari suatu benda. Jeff pun tidak berlama lama lagi langsung menelepon seseorang untuk membantunya mengurus semua kekacauan yang terjadi.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Setibanya di rumah sakit, Putri pun langsung di bawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Vero dan Rania pun bergegas mengikuti brankar yang membawanya.

__ADS_1


"Dok tolong selamat kan adik saya" ucap Vero kepada dokter yang akan menangani Putri.


"Baik Pak, sekarang silahkan Bapak tunggu di luar agar saya bisa memeriksa kondisi pasien" jawab Dokter tersebut.


Akhirnya Vero pun mengajak Rania untuk menunggu di luar UGD. Rania yang masih shock, tidak bisa berkata apa apa hanya menangis di pelukan Vero.


"Aaawww.....!" seru Rania meringis menahan perih lukanya pada lengannya saat di sentuh Vero yang berusaha menenangkannya.


"Apakah kau terluka?" tanya Vero sambil melihat dengan seksama seluruh tubuh Rania untuk memeriksa luka yang mungkin ada. "Luka mu pun harus di rawat" ucap Vero sambil mencari suster untuk membantunya.


"Aku tidak apa apa Kak" ucapnya sambil menggelengkan kepala.


"Tidak! Kau juga butuh perawatan" perintah Vero tegas.


Tak lama datang suster menghampiri mereka untuk mengobati luka lecet dan memar yang di derita Rania.


"Keluarga pasien yang baru saja menjadi korban kecelakaan di mana?" tanya seorang perawat dari dalam ruang UGD.


Vero yang mendengarnya pun langsung berdiri, "Saya Suster. Bagaimana keadaan adik saya?" tanyanya.


"Kau tetap di sini, aku akan segera kembali. Suster tolong jaga dia" ucap Vero kepada Rania dan juga suster yang sedang merawatnya. Mereka pun hanya menganggukkan kepala.


Kemudian Vero pun bergegas masuk ke ruang UGD bersama perawat tersebut.


"Dokter ini keluarga pasien" ucap perawat tersebut kepada dokter yang berdiri di sebelah ranjang Putri.


Dokter tersebut pun berpaling melihat kepada Vero. "Begini Pak, saya sudah melakukan pertolongan pertama pada pasien. Akan tetapi karena riwayat pasien pernah mengalami gegar otak hingga koma, maka kami membutuhkan persetujuan Bapak sebagai walinya untuk melakukan tindakan operasi. Hal ini di karena kan ada gumpalan darah di belakang otak kecil pasien dan harus segera di lakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya" jelas Dokter kepada Vero.


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya Dokter" ucap Vero sambil menggenggam tangan sang Dokter.


"Itu sudah tugas saya Pak. Silahkan bapak tanda tangani surat persetujuan, saya akan mempersiapkan operasi segera" jawab dokter tersebut sambil balas menggenggam tangan Vero.


"Mari Pak ikuti saya" ucap perawat tersebut menunjukkan arah kepada Vero. Dengan segera Vero pun mengikutinya untuk menandatangani berkas yang di perlukan.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...

__ADS_1


Akhirnya Vero dan Rania pun duduk menunggu di ruang operasi setelah di lakukan persetujuan oleh anggota keluarga. Saat sedang menunggu tiba tiba Vero pun melihat sang asisten yang sedang berjalan tergesa gesa menghampirinya.


"Kau tunggu lah sebentar di sini. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Jeff. Aku tidak akan jauh jauh hanya di ujung lorong, jadi aku masih bisa mengawasi mu" ucap Vero kepada Rania sebelum pergi menemui asistennya.


"Kita bicara di ujung sana" ucap Vero berjalan menjauh, karena ia tidak ingin Rania sampai mendengar pembicaraan mereka agar tidak semakin terguncang.


"Jadi apa yang kau temukan?" tanya Vero langsung.


"Saya sudah mengecek semua CCTV di sekitar cafe dan menemukan sebuah mobil berwarna merah yang tampaknya sudah menunggu di sana sejak anda masuk ke dalam cafe. Mobil tersebut juga tidak mengurangi kecepatan saat mendekati persimpangan tersebut, malah ia menambah kecepatan. Saya menduga ini ada faktor kesengajaan bukan kecelakaan biasa. Dan mungkin targetnya adalah Nona Rania bukan Nona Putri, karena jika di lihat dari CCTV, Nona Putri terlihat mendoring Nona Rania" jelas Jeff memberitahu apa yang terjadi.


"Apa kau sudah mendapatkan nomor polisi mobil tersebut?" tanya Vero lagi.


"Kami saat ini sedang melacaknya bersama kepolisian Tuan" ucapnya lagi.


"Baik lah, lanjutkan penyelidikan ini sampai kau dapatkan tersangkanya dan apa alasannya mencelakai salah satu dari mereka. Aku akan di sini untuk menemani Putri dan juga Rania" ucap Vero.


"Baik Tuan" jawab Jeff dan langsung pergi untuk melanjutkan penyelidikannya.


Siapa orang yang ingin mencelakai Rania?, batin Vero bertanya tanya.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Di tempat lain tepatnya di sebuah kamar di apartemen mewah, tampak Olivia sedang mondar mandir dengan wajah yang ketakutan. Ia yang sempat melihat bahwa yang di tabraknya bukan Rania pun langsung melarikan diri sebelum ada yang melihat dan menyadarinya.


Bagaimana ini? Kenapa gadis itu mendorong sekretaris sialan itu?, batin Olivia geram.


"Aaarrrgh...! Apa yang harus aku lakukan sekarang!" seru Olivia sambil memegang kepalanya sendiri yang pusing memikirkan akibat dari tindakan yang di lakukannya. "Aku tau apa yang harus aku lakukan" lanjutnya lagi setelah berfikir, kemudian ia pun langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2