
Tower STAR Grup
Pagi ini ketika Rania sampai di depan mejanya ia di kejutkan dengan sebuah kiriman buket bunga mawar peach yang ada di atas mejanya.
Terdapat sebuah kartu ucapan di atas buket tersebut.
...'Teruntuk Rania....
...Bunga ini melambangkan ketulusan hati ku sebagai rasa syukur Terima kasih ku yang tak terhingga atas semua bantuan mu selama ini....
...From : Mr. F'...
"Siapa Mr. F?" tanya Rania bingung sesaat setelah membaca kartu tersebut. "Apakah mungkin Tuan Figo?" tanyanya dalam hati. Ia pun lalu mengambil dua vas dan mengisinya dengan air. Vas yang satu di isi dengan bunga gardenia yang selalu di belinya setiap pagi dan di letakkan di ruangan Sang CEO, sedangkan vas yang satunya lagi di isi buket bunga mawar peach yang baru ia dapat kan. Kemudian vas tersebut di letakkan di pojok meja kerjanya agar semakin indah di pandang mata.
Tak selang berapa lama kemudian, datang lah Sang CEO bersama Sang Asistennya. Ketika sampai di meja sekertaris nya, raut wajahnya langsung berubah dingin. Rania pun hanya terdiam dan menundukkan kepala tanda hormat.
"Bunga dari siapa lagi ini?!" tanyanya geram sambil mengambil kartu yang berada di atas buket tersebut.
"Itu benar benar di kirim untuk saya Tuan" balas Rania sambil menahan ketakutannya akan kemarahan Sang Boss "Kenapa aku bisa lupa untuk menyimpan kartu ucapan itu" gumamnya dalam hati menyesali kecerobohannya.
Vero terlihat semakin menahan amarahnya ketika membaca apa yang tertulis di dalam kartu tersebut. Dia meremas dan membuangnya ke dalam kotak sampah. "Letak kan bunga itu ke dalam ruangan ku sekarang juga!" ucapnya kesal "Dan mulai besok tidak perlu lagi ada bunga di meja ini dan ruangan ku!" perintahnya lagi sambil berlalu masuk ke dalam ruangannya. Asisten Jeff dan Rania mengikutinya masuk sambil membawa vas buket bunga mawar peach tersebut. Rania pun langsung meletakkan vas tersebut di meja yang ada dan langsung berlalu keluar sebelum dapat perintah aneh lagi dari Sang Boss. Sedangkan Vero hanya diam menatap ke arah luar melalui jendela besar di ruangannya berusaha menahan dan memendam cemburu yang mulai merasuki hatinya tanpa pernah permisi.
"Baru juga sebentar aku menikmati keindahan bunga tersebut, tapi kini meja ku kembali suram" gumam Rania sedih saat telah tiba di meja kerjanya. "Sebenarnya ada baiknya juga aku dapat bunga tersebut sehingga kini aku tidak perlu pergi pagi pagi untuk membeli bunga gardenia lagi" lanjutnya sambil tersenyum dan memulai aktivitasnya.
Tak berselang lama telepon di mejanya berdering.
"Halo dengan kantor CEO Star Grup" ucapnya saat mengangkat telepon tersebut.
"Maaf apakah saya berbicara dengan Rania?" tanya Sang penelepon.
__ADS_1
"Iya. Ada yang bisa saya bantu? Apakah anda ingin di sambung kan dengan Tuan Vero?" jawab Rania lebih lanjut.
"Syukur lah jika begitu. Tidak aku hanya ingin berbicara dengan mu saja" balasnya.
"Berbicara dengan Saya?" tanya Rania heran sambil mengerutkan kening lagi.
"Iya karena saya tidak tahu harus menghubungi mu ke mana, maka dari itu saya menelepon ke kantor mu" jawab orang dari seberang telepon sambil tersenyum.
"Tapi anda kan bisa menghubungi saya melalui ponsel?" tanya Rania lagi masih bingung.
"Nah itu dia masalahnya. Saya dari kemarin kemarin lupa untuk menanyakan nomor ponsel mu, jadi bisa kah kau memberikannya sekarang?" ucapnya lagi menjelaskan.
"Tapi maaf, ini saya berbicara dengan siapa ya?!" tanya Rania lebih bingung lagi karena ia tidak bisa mengenali Sang penelepon.
"Hahahaha. Apakah kau sudah melupakan ku? padahal aku sudah mengirimkan mu bunga agar kau selalu ingat pada ku" jawabnya sambil tertawa.
"Tuan Figo?" tanya Rania ragu ragu.
"Maaf kan saya Tuan karena tidak bisa langsung mengenali suara Anda. Saya juga minta maaf jika sudah membuat Anda tersinggung dengan pertanyaan saya tadi" ucap Rania sambil tersenyum malu.
"Hahahaha. Sudah lah tidak apa apa yang penting apakah kau sudah menerima kiriman buket bunga mawar dari ku?" lanjut Figo untuk memastikan lagi.
"Aku sudah menerimanya Tuan. Terima kasih karena Tuan sudah repot repot mengirimkan saya bunga" ucap Rania tanpa menyebutkan bahwa bunga tersebut berakhir di ruangan Sang CEO.
"Tidak masalah itu hanya sebagai bentuk Terima kasih ku karena sudah menolong Arga beberapa waktu lalu" balas Figo "Sebenarnya aku ingin mengajak mu makan siang tapi aku bingung harus menghubungi mu ke mana, maka dengan terpaksa aku menelepon mu ke kantor. Aku harap tidak menggangu pekerjaan mu" lanjutnya menjelaskan lagi.
"Anda tidak perlu repot repot seperti itu Tuan, karena saya tulus untuk menolong Anda dan Arga waktu itu" balas Rania agar Figo mengerti.
"Baiklah aku mengerti ketulusan hati mu tapi izin kan aku untuk mengucapkan Terima kasih dengan cara yang benar. Apakah tidak boleh?" tanya Figo masih tetap berusaha mengajaknya untuk makan siang.
"Baik lah jika Tuan memaksa" balas Rania yang akhirnya menerima ajakan tersebut.
__ADS_1
"Oke jika begitu bisakah aku meminta nomor ponsel mu agar bisa menghubungi mu untuk waktu dan tempatnya? Atau jika boleh aku bisa menjemput mu juga" jawab Figo sambil tersenyum penuh harap.
"Anda tidak perlu repot repot menjemput Tuan, karena saya masih bisa berjalan sendiri. Baik lah sekarang Anda bisa catat nomor ponsel saya" ucap Rania sambil menyebutkan angka angka yang merupakan nomor ponselnya.
Tak berselang lama ponselnya pun berdering dengan menampilkan nomor baru yang belum tersimpan.
"Itu nomor ponsel ku, jangan lupa di simpan ya" ucap Figo yang mendengar suara dering ponsel dari seberang telepon.
"Baik Tuan" balas Rania sambil mengambil ponselnya.
"Ya sudah berhubung aku sudah dapat nomor ponsel mu maka aku akan mematikan telepon agar kau bisa melanjutkan pekerjaan mu. Sampai bertemu lagi" ucap Figo sambil mematikan sambungan telepon mereka.
"Baik Tuan sampai jumpa" balas Rania dan meletakkan gagang telepon tersebut sambil tersenyum.
Rania tidak menyadari bahwa segala gerak gerik yang di lakukannya tadi saat menelepon di perhatikan oleh seseorang dari dalam ruangan CEO di mana dari arah jendela terlihat jelas. Orang tersebut pun merasa kesal dan menahan amarah melihat mimik wajah yang di tampilkan olehnya seperti senang dan bahagia.
"Ke ruangan ku sekarang!" perintahnya geram melalui interkom.
"Baik Tuan" ucap Rania "Ada masalah apa lagi ini?" gumamnya bingung sambil berjalan memasuki ruangan CEO.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel ini dengan memberikan Vote dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Terima Kasih 🙏
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...
__ADS_1