
Rania pun menatap ponselnya dengan bingung, walaupun sebenarnya ia selalu mendapatkan perlakuan yang sama dari Bossnya tersebut. Tapi ia masih saja heran karena Bossnya itu selalu saja mematikan sambungan telepon lebih dahulu tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
"Sudah lah mungkin itu adalah salah satu kebiasaan buruknya" gumam Rania sambil mengangkat bahunya tak peduli.
Tiba tiba Ibu Wati masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu kira kau tertidur Nia, sebab dari tadi ibu panggil tak ada sahutan" ucapnya sambil mendekat ke arah Rania.
"Maaf Bu tadi Nia habis menelepon atasan untuk minta izin cuti hari ini" jawabnya menjelaskan.
"Ooooo... apakah dia memberikan mu izin untuk tidak bekerja hari ini?" tanya Ibu Wati penasaran.
"Tentu saja Bu, itu kan merupakan hak karyawan untuk mengambil jatah cuti mereka jika di butuhkan. Aku juga baru kali ini izin tidak masuk kerja Bu" Rania menjelaskan sambil tersenyum.
Ibu tidak perlu tahu kejadian lainnya agar ia tidak khawatir, batinnya.
"Baik lah sekarang ayo keluar. Kau kan belum makan siang dari tadi, sudah jadi dingin itu lauk di meja" ucap Ibu asuh tersebut sambil mengajak Rania berdiri dan keluar kamar.
"Baik Ibu" ucap Rania segera berdiri dan meletakkan ponselnya di meja kamar.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Hari esok saat sore menjelang senja, Nia sedang duduk di sebuah ayunan yang terpasang di sebuah dahan di pohon yang kokoh. Ayunan itu di buat oleh Opa untuk tempat bermain Ale dan Nia, sehingga tempat itu merupakan tempat favorit mereka bermain atau sekedar merenung atas apa yang terjadi dalam hidup. Pemandangan pegunungan nan jauh di sana nampak indah, belum lagi banyak bunga bunga indah di halaman yang dapat tercium aroma harumnya apa bila angin bertiup.
Saat sedang melamun itu lah, kemudian dia merasa seseorang memanggilnya dari kejauhan. Ketika melihat ke belakang ia pun tersenyum saat melihat sahabatnya sedang berlari menuju arahnya.
"Hati hati, nanti kau bisa terjatuh!" teriak Rania saat melihat cara lari sahabatnya itu yang seakan akan seperti akan tersandung.
Sedangkan Ale hanya melambaikan tangannya dari kejauhan sambil tersenyum.
"Haaah... Haaah... Haaah... Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik baik saja?" tanya Ale sambil mengatur nafasnya saat sudah tiba di dekat sahabatnya.
__ADS_1
"Sudah tentu aku baik baik saja" jawab Rania sambil tersenyum.
"Aku dengar dari Oma bahwa ada seorang sahabat lama Ibu mu yang datang berkunjung? Maaf aku baru bisa datang, karena aku baru saja menyelesaikan ujian akhir semester ku" ucap Ale terdengar sedih.
"Sudah lah tidak apa apa, aku bisa mengerti kesibukan mu sebagai seorang mahasiswi" Rania mencoba membuat agar sahabatnya itu tidak bersedih.
"Aku yakin kamu pasti memahami ku, jadi bisa kah kau menceritakan yang telah terjadi kepada ku?" tanya Ale lagi.
Rania pun menarik nafas dalam sebelum mulai menceritakan kejadian kemarin yang sudah membuat hidupnya terasa jungkir balik. Rania pun menceritakan semua yang terjadi tanpa terlewat kan satu hal pun. Setelah selesai ia pun mencoba tersenyum dengan mata yang sudah mulai berembun.
"Maaf kan aku Nia, karena aku tak berada di sampingmu saat masalah terberat di hidupmu" ucap Ale sambil memeluk sahabatnya tersebut, ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan sahabatnya tersebut.
"Tidak apa apa Ale, aku mengerti alasan kau tidak bisa bersama ku" ucap Rania sambil membalas pelukan sahabatnya tersebut.
Kemudian mereka pun berpelukan sambil menangis bersama di ayunan tersebut. Setelah beberapa saat mereka pun saling pandang dan tertawa bersama. Mereka menertawakan wajah mereka yang terlihat sembab dan berantakan akibat menangis.
"Hahahahaha... Kau seperti badut dengan hidung merah seperti itu" ucap Ale tertawa sambil menunjuk hidung Rania yang memerah.
Rania pun kembali menghela nafasnya setelah berhasil menenangkan diri. Ia yang menghela nafas berulang kali membuat sahabatnya penasaran.
"Ada hal lain yang mengganggu mu ya? Kenapa kau terus menghela nafas mu berkali kali?" tanya Ale.
"Aku bingung harus bagaimana dengan Boss ku itu" ucap Rania sendu.
"Maksud mu bagaimana? Apa masalah perjanjian yang kau buat dengannya?" tanya Ale memastikan bahwa apa yang di fikirkan sahabatnya itu sama dengan apa yang di fikirnya.
"Iya masalah itu. Kau tahu bukan bahwa lusa adalah batas waktu perjanjian kami, sedangkan aku sampai saat ini pun belum mengetahui di mana keberadaan kakak. Ingin rasanya aku tidak masuk kerja agar tidak bertemu lagi dengannya, tapi kau kan tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di Ibu Kota" jawab Rania mengeluarkan sedikit unek unek nya selama ini.
"Kalau aku boleh usul sich kenapa tak kau Terima saja perasaan Boss mu itu? Bukan kah kau bilang ia menjadi orang yang berbeda jika sedang di luar dengan mu. Ia juga begitu lembut dan perhatian pada mu. Untuk apa kau menunggu cinta mu yang tak kunjung datang" ucap Ale memberi pendapat.
"Apa yang kau katakan itu benar, tapi entah kenapa separuh hati ku yang terdalam ini seperti tak rela melepas kakak. Ia sudah terlalu lama menempati ruang di hati ku. Mungkin karena dengannya aku merasa tidak pernah berakhir karena aku percaya pada janjinya yang akan menemui ku, entah itu dulu atau pun sekarang" ucap Rania yang merasa bimbang dengan hatinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak pernah merasakan debaran saat kau menghabiskan waktu bersama Boss mu itu? Coba lah jujur pada ku dan juga hati mu Nia" ucap Ale lagi agar sahabatnya itu bisa menilai hatinya sendiri.
"Jujur aku pun merasakan debaran di hati ku ini setiap kami berkencan. Aku bahkan selalu merasa wajah ku panas saat ia menunjukkan sikap lembutnya kepada ku. Tapi terkadang aku juga kesal jika ia sudah berubah arrogan lagi. Entah lah aku sendiri benar benar bingung Ale!" seru Rania sambil menutup wajahnya.
"Bukan kah memang seperti itu sebuah hubungan, layaknya rollercoster yang selalu naik dan turun? Kenapa tidak kau coba untuk menjalaninya? Siapa tau dia mau membantu mu mencari kakak jika kau sudah menerima perasaannya?" usul Ale lagi.
"Kau ini sungguh aneh! Mana ada pria yang akan rela mencari seseorang yang di cintai oleh kekasihnya, bahkan orang yang di cari pun bukan mantan kekasihnya" jawab Rania sambil tersenyum.
Ale pun akhirnya hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tertawa. Mereka pun tertawa lepas bersama karena fikiran bodoh dan gila tersebut.
"Apakah kalian sedang membicarakan aku?" tanya sebuah suara bariton dari arah belakang mereka. Mereka pun langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung membelalakkan matanya.
"Kakak!"
"Tuan!"
Seru Rania dan Ale bersamaan karena terkejut melihat pria yang berdiri di belakang mereka.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Happy Monday All.... Semangat beraktivitas lagi guys... 😉
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰
__ADS_1