
Pagi hari, masih di kamar perawatan Rania.
"Kakak kapan aku boleh pulang?" tanya Rania ketika mereka sedang sarapan. Vero menikmati sarapan bubur ayam yang di pesannya, sedangkan Rania masih tetap sarapan dengan menu dari rumah sakit.
"Nanti kita tunggu dokter visit dulu pagi ini. Jika kau sudah boleh pulang maka aku akan mengantar mu pulang" jawab Vero.
"Haaah... " Rania hanya bisa menghela nafasnya karena masih harus menunggu, sedangkan ia sudah mulai merasa kondisinya baik dan terlebih lagi ia pun sudah mulai bosan di rumah sakit lebih lama lagi.
"Kau ingin pulang ke mess atau apartemen ku?" tanya Vero yang membuat Rania tersedak. Dengan segera Vero pun memberikan gelas berisi air mineral kepadanya.
"Maksud kakak apa bertanya seperti itu?" tanya Rania dengan wajah merona.
"Hahahahaha... tidak ada maksud apa apa. Kakak hanya berniat baik karena di apartemen ada Mami, Oma dan juga Opa yang bisa menjaga dan merawat mu di bandingkan jika kau pulang ke mess hanya seorang diri" ucap Vero menjelaskan maksud baiknya.
"Oooooo..... seperti itu" ucap Rania menganggukkan kepalanya. "Terima kasih atas perhatian kakak, tapi aku lebih nyaman di kamar ku sendiri kak. Jadi aku akan kembali ke mess saja kak" ucapnya mengutarakan apa yang di fikirkannya.
"Baik lah jika itu pilihan mu. Aku akan menghubungi OB yang biasa membersihkan mess untuk membersihkan kamar mu sekarang. Karena sudah beberapa hari tidak kau tempati, pasti kamar itu sudah mulai berdebu" ucap Vero lagi sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tidak perlu kak, biar nanti aku bersihkan sendiri" ucap Rania buru buru agar Vero menghentikan niatnya tersebut.
Vero yang sedang menelepon asistennya pun hanya mengangkat tangannya menghentikan protes dari Rania.
📞 'Jeff tolong hubungi OB yang biasa membersihkan mess untuk membersihkan kamar Rania hari ini. Karena hari ini ia akan pulang, pastikan kamarnya bersih dan rapih tanpa ada debu sedikit pun' Vero memberitahu kepada asistennya.
📞 'Baik Tuan. Apa ada lagi yang anda butuhkan Tuan?' Jeff bertanya jika masih ada yang harus di lakukannya.
📞 'Pasti kan kulkas di kamarnya berisi buah, susu, roti dan juga air mineral" ucap Vero lagi setelah berfikir sesaat.
📞 'Baik Tuan' ucap Jeff kemudian panggilan tersebut pun berakhir.
"Ya ampun kakak tidak perlu seperti itu, aku masih bisa membersihkan kamar ku yang tak terlalu luas itu" ucap Rania yang merasa tidak enak jika karyawan lain membersihkan kamarnya.
__ADS_1
"Kau ikuti perkataan ku atau kau tinggal di apartemen ku. Silahkan kau pilih yang mana?" tanya Vero yang langsung membuat Rania terdiam.
Tak berselang lama dokter yang bertanggung jawab pun masuk ke ruang perawatan dan memeriksa kondisi Rania.
"Nona anda sudah bisa pulang saat ini, jaga kesehatan dengan perbanyak makan makanan bergizi. Nanti saya akan resep kan vitamin untuk anda. Satu hal yang harus di ingat bahwa anda tidak boleh stress karena akan mempengaruhi kondisi imun anda Nona" jelas sang dokter.
"Baik dokter" jawab Rania sambil tersenyum.
"Jika begitu saya permisi dulu ya" ucap dokter tersebut sambil berlalu.
"Ya sudah kau bersiap siap dahulu, aku akan menebus vitamin mu serta menyelesaikan administrasi dulu" ucap Vero langsung ikut pergi keluar.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
"Padahal kakak tidak perlu mengantar ku pulang" ucap Rania saat mereka sudah berada di dalam mobil Vero membelah jalan raya ibu kota yang padat.
"Tidak apa apa sekalian aku menjemput Mami dan Oma, mereka ingin menjenguk Putri" jelas Vero.
"Oooooo.... lalu kenapa Opa tidak ikut juga kak?" tanya Rania heran.
"Semoga Opa cepat membaik ya kak, nanti sore aku juga akan menjenguk Ale" ucap Rania.
"Tidak perlu, hari ini kau beristirahat saja di kamar mu. Besok aku jemput jika kau ingin menjenguk Putri" ucap Vero.
"Kakak tidak perlu repot repot seperti itu" ucap Rania menolaknya karena ia masih merasa segan.
"Jika begitu kau tidak ku ijin kan keluar kamar mulai saat ini!" ucap Vero memberi ultimatum.
"Emang aku lagi di pingit nggak boleh keluar ke mana mana" ucap Rania heran.
"Silahkan kau pilih, di kurung di kamar mu atau pergi aku antar. Aku itu tidak mau terjadi hal buruk lagi kepadamu Nia" ucap Vero sambil membelai rambutnya lembut.
__ADS_1
"Baik lah kak" ucap Rania memahami kekhawatiran Vero. "Tapi sudah beberapa hari aku tidak masuk kerja, kakak juga tidak bekerja karena menemani ku. Bagaimana keadaan perusahaan sekarang kak?" tanya Rania penasaran.
"Kau lupa apa yang di katakan dokter hum?" tanya Vero yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Rania. "Jika begitu kau tidak perlu memikirkan perusahaan, kau harus menghindari stress. Untuk urusan perusahaan serah kan kepada Jeff, aku yakin ia bisa menghandle perusahaan. Lagipula ia juga di bantu oleh banyak karyawan lain yang profesional dan terbaik di bidangnya" jelas Vero.
"Baik lah, tapi aku juga sudah bosan kak berdiam diri terus. Aku ingin segera bisa bekerja kembali" ucap Rania.
"Jika kau sudah lebih baik, kau bisa bekerja lagi ya Ayang ku" ucap Vero gemas saat melihat bibir Rania yang manyun.
"Oya kak, apa kakak sudah mendapat info pelaku tabrak lari siang itu?" tanya Rania tiba tiba.
Aduh, bagaimana aku harus menjelaskannya ya?, batin Vero bingung.
"Kakak....." ucap Rania sambil menggoyangkan lengan Vero saat kekasihnya itu tidak langsung menjawab.
"Hmmm... sudah tidak perlu kau fikirkan, semua sudah selesai di urus oleh Jeff. Ingat kata dokter kau tidak boleh stress dan banyak fikiran" jawab Vero menghindar.
Maafkan aku yang tidak bisa mengungkap pelaku sebenarnya, karena kalian celaka ternyata karena aku, batin Vero sedih.
Sepertinya ada hal yang di tutupi oleh kakak mengenai pelaku sebenarnya, batin Rania yang masih ragu.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Keesokan paginya Rania pun menjenguk sahabatnya dengan di antar Vero. Karena Vero akan membeli sarapan untuk Mami terlebih dahulu, maka Rania pun berjalan menuju ruang ICU seorang diri. Ketika ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tiba tiba dari arah depan ada sebuah brankar yang di dorong oleh paramedis yang terlihat panik dan meminta di beri jalan oleh para pengunjung yang lewat.
"Ayah?!" seru Rania terkejut saat brankar tersebut melewatinya dengan terburu buru. Ia yang sempat melihat wajah pasien pun terkejut dan langsung mengikuti ke mana perginya brankar tersebut.
Apa aku tidak salah mendengarnya? Bagaimana bisa Rania mengenal Om Edwin?, Figo bertanya tanya dalam hati.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
__ADS_1
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏