Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 43


__ADS_3

Setelah berganti baju dan mencuci mukanya, Rania yang lelah baik fisik maupun jiwanya pun terlelap dengan segera sambil mendekap surat dari sang Ibu. Ia merasa hatinya belum siap untuk di kejutkan dengan hal lain lagi sebab hari ini sudah banyak kejutan yang di dapat dalam hidupnya.


Sementara seseorang yang mencemaskan nya tak bisa memejamkan matanya, ia masih terus saja mencoba menghubungi nomor Rania. Tapi harapannya sia sia karena yang menjawab panggilannya masih operator telepon dengan setia. Akhirnya ia punn mencoba memejamkan matanya berharap esok mendapat jawaban akan kehadiran Rania.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Ke esokan paginya setelah selesai sarapan mereka pun bersiap untuk mengunjungi tempat terakhir peristirahatan Ibu Rania. Karena jarak yang cukup jauh, maka Ibu Atma sudah menghubungi anak sulungnya untuk mengantar mereka pergi.


"Karena Bibi tidak bisa menghubungi mu atau ayah mu, maka Bibi berinisiatif untuk memakamkan Ibu mu di tempat kelahirannya yang juga merupakan kampung halaman Bibi" ucap Ibu Atma menjelaskan "Bibi minta maaf jika hal ini tidak sesuai dengan keinginan mu, mungkin nanti jika kau ingin memindahkannya ke tempat keluarga mu beritahu saja Bibi nanti akan Bibi bantu" lanjutnya lagi.


"Bibi tidak perlu meminta maaf atas hal itu, jujur Nia sangat bersyukur karena Ibu memiliki sahabat seperti Bibi yang begitu peduli padanya. Nia juga tidak berniat untuk memindahkan Ibu ke mana pun, karena Nia yakin Ibu pasti bahagia bisa kembali dan beristirahat di tanah kelahirannya" jawab Nia yang secara tidak langsung berterima kasih kepada Ibu Atma.


Ibu Atma pun hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Rania yang terasa dingin. Sepanjang perjalanan ia terus menggenggam tangan mungil tersebut seakan ingin menyalurkan kekuatan kepada Rania.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, tibalah mereka di sebuah pemakaman umum yang terlihat rapi dan terawat. Mereka pun berjalan melewati beberapa batu nisan hingga mereka tiba di batu nisan yang bertuliskan nama 'Yanti Atmaja' yang merupakan nama Ibu kandung Rania.


Begitu melihat langsung makam Ibunya, Rania tak kuasa menahan bobot tubuhnya lagi hingga ia terduduk sambil memegang batu nisan Ibunya dan menangis terisak isak.


"Ibu... Ibu... Ibu... Maaf kan Rania baru bisa datang" ucap Nia dalam tangisnya.


"Sebaiknya kita bersihkan dulu makam Ibu mu Nia, baru kemudian kita mengaji dan kirim doa untuk almarhumah" Ibu Wati pun mencoba mengajak Rania agar bisa berfikir rasional.


Mereka pun membersihkan rumput dan dedaunan yang menutupi makam tersebut. Setelahnya mereka pun menaburkan bunga dan air mawar di atas makam tersebut. Rania pun meletakkan buket bunga di dekat batu nisan sang Ibu. Mereka pun mulai mengaji surah yasin dan memanjatkan doa untuk ketenangan Almarhum di sisiNya.


"Kenapa Ibu tidak pernah mau berbagi penderitaanmu dengan ku? Kenapa Ibu menanggung semuanya sendirian? Jika aku tahu kebenarannya aku tidak akan meninggalkan mu Ibu? Kita akan berjuang bersama karena bagi ku kau adalah sosok yang sempurna. Seorang malaikat tanpa sayap" ucap Rania dalam hati sambil terisak mencoba menahan tangisnya.


Akhirnya setelah satu jam di sana, mereka pun pergi meninggalkan makam tersebut. Walaupun berat untuk Rania meninggalkan pemakaman tersebut karena ingin rasanya ia ikut bersama sang ibu untuk berbagi kesedihan mereka, tapi Rania yakin bahwa sesungguhnya Ibu nya telah damai dan berbahagia di alam sana maka ia pun harus kuat demi sang Ibu. Ia pun pergi berlalu walaupun sesekali masih menatap ke belakang.


"Baik lah Bu kami pamit dahulu, Terima kasih atas jamuan Ibu kepada saya, maaf jika saya merepotkan" ucap Ibu Atma berpamitan kepada pemilik panti tersebut. "Bibi harap kau kuat Nia, karena ini semua sudah menjadi takdir untuk mu. Main lah sesekali ke rumah Bibi, jangan sungkan untuk menghubungi Bibi kapan pun kau ingin bercerita atau sesekali beri kabar kepada Bibi" lanjutnya sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat dan nomor ponselnya.


"Tidak perlu berterima kasih Bu kita sekarang sudah seperti bersaudara, sering sering lah main ke sini karena pintu ini selalu terbuka untuk Ibu berkunjung kapan pun" ucap Ibu Wati kepada sahabat Ibu Rania tersebut.


"Baik Bi, nanti aku akan sering menghubungi. Bibi juga jangan sungkan untuk menghubungi ku" ucap Rania sambil memeluk Ibu Atma.

__ADS_1


Ibu Atma pun hanya tersenyum dan membalas pelukan Rania dengan hangat. Akhirnya setelah berpamitan Ibu Atma pun kembali pulang dengan putra sulungnya. Rania pun masuk kembali ke dalam panti asuhan bersama sang Ibu asuh.


"Kau tidak apa apa meninggalkan pekerjaan hari ini?" tanya Ibu Wati kepada Rania.


"Ya ampun Bu, Aku lupa bahwa hari ini belum akhir pekan!" seru Rania dan langsung berlari ke arah kamarnya.


Ibu Wati pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak asuhnya itu.


Saat tiba di dalam kamar, Rania pun bergegas mencari ponsel dan charger di dalam tasnya. Lalu langsung saja ia memasukkan chargernya ke panel listrik dan segera mengisi daya ponselnya.


"Ya ampun, bagaimana bisa aku lupa untuk mencharge ponsel ku. Bisa bisa aku kena SP 1 ini karena tidak masuk kerja tanpa memberitahu atasan ku. Mana dari kemarin aku tidak memberi kabar" gumam Rania sambil memijat pelipisnya.


Setelah menunggu beberapa saat, ia pun mencoba menghidupkan ponselnya. Ia amat terkejut saat begitu banyak panggilan dan pesan yang di kirim hanya oleh satu kontak, yaitu 'CEO Macan'.


📱 'Kenapa kau pergi di saat jam kerja?''


📱 'Kenapa ponsel mu di matikan?'


📱 'Kenapa kau tidak menelepon ku kembali?'


📱 'Apa yang sebenarnya terjadi padamu? '


📱 'Di mana kau sekarang?'


📱 'Apa Kau senang membuat ku khawatir seperti ini? '


📱 'Cepat hubungi aku sekarang juga! '


📱 'Berhenti lah bermain main seperti ini! '


📱 'Kenapa hari ini kau tidak masuk?'


📱 'Kenapa kau melakukan hal ini pada ku?'

__ADS_1


📱 'Aku mohon hubungi aku'


📱 'Tolong segera hubungi aku'


📱 'Aku sungguh khawatir dengan mu'


📱 'Please.....'


Seperti itu lah beberapa isi pesan dari Vero yang menyiratkan keputusasaannya karena tidak mendapat kan kabar dari Rania, belum lagi puluhan panggilan telepon yang tak terjawab.


"Ya ampun... mengapa begitu banyak panggilan dan pesan darinya? Bisa bisa habis aku kena omelannya" gumam Rania sambil mendial nomor Bossnya tersebut.


Tuuut... Tuuut... Tuuut...


"Bagaimana ini? Kenapa panggilan ku di abaikannya? Mungkinkah ia sedang sibuk meeting? Lebih baik aku kirim pesan saja sekarang, nanti saat istirahat makan siang aku akan coba menghubunginya kembali" ucap Rania kepada dirinya sendiri.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Drrrt...Drrrt...Drrrt...


Tring...


Tanda sebuah panggilan dan pesan masuk pada sebuah ponsel pintar yang tak sengaja tertinggal di meja kerja sang pemilik. Hal ini dikarenakan ia melempar sembarangan ponsel tersebut akibat kesal tidak dapat menghubungi seseorang yang membuatnya khawatir dan tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...

__ADS_1


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰


__ADS_2