Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 65


__ADS_3

Vero pun langsung menerus kan pesan dari Figo ke ponsel Rania.


📲 'Jika Rani ingin menemui ayahnya silahkan datang ke kamar perawatan 306 an Edwin Sanjaya. Nanti saya akan berbicara kepada para penjaga di depan kamar agar ia di perkenankan untuk melihat pasien', Itu isi pesan dari Figo mengenai kamar ayah mu. Apa kau ingin melihatnya?', tulis Vero dalam pesan tersebut.


📲 'Aku bingung kak, karena aku pun masih ingin menemani Ale di sini. Karena sepertinya Mami lelah, mungkin kakak sebaiknya mengantar Mami untuk beristirahat sejenak', balas Rania via aplikasi hijau.


📲 'Baik lah akan aku coba tanya kan kepada Mami', balas Vero.


Vero pun menghampiri Mami yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa tersebut.


"Mami..." ucap Vero lembut sambil menyentuh pundak ibunya. "Mami mungkin sebaiknya Vero antar pulang untuk beristirahat sebentar, sepertinya Mami lelah" ucap Vero lagi.


"Tidak perlu Vero, siapa yang akan menjaga Putri jika Mami tidak ada di sini? Kau juga tidak menemani Putri karena mengantar Mami" balas ibunya yang tidak ingin meninggalkan adiknya seorang diri.


"Tante tidak perlu khawatir, Nia akan menemani Ale sampai kak Vero kembali. Tante bisa beristirahat sejenak di rumah dan kembali lagi nanti malam untuk menjaga Ale" ucap Rania yang merasa bahwa ibu sahabatnya sedikit lelah.


"Benar apa yang di katakan Nia itu Mi. Mami kan bisa menjaga Putri nanti malam, sekalian Mami bisa membawa keperluan Putri yang lainnya. Jika bisa bawa kan makanan kesukaan Putri" ucap Putri yang merasakan hal yang sama dengan sahabatnya.


"Kau tidak boleh makan makanan selain dari yang di berikan pihak rumah sakit!" seru Vero dengan tatapan tajam kepada adiknya.


Putri yang melihat itu pun hanya memajukan bibirnya karena takut dengan ancaman sang kakak.


"Nanti setelah kau sehat dan keluar dari rumah sakit, kau akan kakak ajak menikmati semua makanan kesukaan mu" ucap Vero lagi saat melihat adiknya merajuk manja.


"Terima kasih kakak ku sayang" ucap Putri sambil memberikan kecup jauh untuk sang kakak.


Mami dan Rania yang melihat tingkah mereka pun hanya bisa tertawa sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ya sudah, ayo Vero antar Mami pulang" ucap Vero sambil berdiri.


Mami pun akhirnya ikut berdiri dan menghampiri putrinya untuk berpamitan.

__ADS_1


"Tante titip Putri ya Nia" ucap Mami kepada sahabat anaknya dan di balas oleh Rania dengan anggukan kepala "Pasti itu Tante" ucapnya.


"Mami pulang sebentar ya sayang" ucap Mami sambil memeluk dan mencium puncak kepala anaknya.


"Hati hati di jalan ya Mami" balas Putri sambil tersenyum.


"Kakak pergi sebentar ya" ucapnya kepada dua gadis kesayangannya, ia pun tak lupa memberikan kecupan singkat di puncak kepala keduanya. Lalu ia pun bergegas menyusul sang ibu dan tak lupa menutup pintu kamar.


"Aku yakin kakak tadi sebenarnya tidak hanya ingin mencium kepala mu itu saja. Tapi ia sepertinya masih sungkan kepada ku" ucap Ale meledek sahabatnya itu.


"Ia bukan sungkan kepada mu, tapi ia menghormati ku karena tadi masih ada Mami" balas Rania.


"Ngomong ngomong Mami dan lainnya sudah tahu belum jika kalian berdua memiliki hubungan yang istimewa?" tanya Ale penasaran.


"Entah lah" jawab Rania sambil mengangkat bahunya. "Terlalu banyak kejadian yang terjadi, hingga aku pun tidak terfikir kan hal tersebut. Aku juga tidak sempat bertanya kepada Kakak, apa kah ia sudah bercerita atau belum. Jadi aku tidak berani berkata apa pun, karena aku ingin kakak yang menjelaskan kepada semuanya" ucap Rania lagi.


"Sip! Aku setuju dengan mu Nia" balas Ale sambil mengancungkan kedua jempolnya kepada Rania.


"Kau ingin makan buah apa?" tanya Rania kepada temannya saat membuka kulkas kecil yang berada di ruangan perawatan tersebut.


"Baik lah" ucap Rania sambil mengambil piring dan pisau kemudian duduk kembali di dekat pembaringan sahabatnya.


"Nia apa kah kau tahu siapa orang yang menabrak kita? Sebenarnya ia sengaja ingin menabrak mu atau ia hanya lah pengemudi mabuk saja?" tanya Ale di sela sela kesibukannya memakan buah apel.


"Aku juga tidak tahu cerita detailnya seperti apa, karena sepertinya kakak mencoba menutupi sesuatu" jawab Rania sambil terus memotong dan mengupas buah apel.


"Aku juga merasa seperti itu. pasti ada sesuatu yang tidak boleh kita ketahui" ucap Ale sambil menguyah buah apelnya dan menempelkan garpu di ujung bibirnya.


"Yang aku tahu bahwa asisten Jeff lah yang mengurus semua hingga selesai tanpa ada keributan apa pun, karena aku tidak melihat ada berita apa pun mengenai kecelakaan kita, padahal hal itu terjadi di siang hari. Tidak mungkin kan tidak ada seorang saksi pun atau bahkan CCTV" jelas Rania mengemukakan pendapatnya.


"Jika sudah seperti itu, maka kita tidak akan menemukan petunjuk sedikit pun walaupun kita sudah berusaha siang dan malam tanpa tidur sedikit pun. Bahkan hingga kulit kita keriput dan otak kita kehabisan oksigen akibat terlalu banyak berfikir" canda Ale sambil tersenyum membayangkannya.

__ADS_1


"Hahahaha... tapi bagaimana bisa seperti itu?" tanya Rania sambil tertawa.


"Karena kakak orang yang perfeksionis dan ia tidak mentolerir kesalahan sekecil apa pun, maka bisa di pastikan asisten Jeff akan menghilangkan semua jejak agar kita tidak bisa menemukan apa pun. BAM! Seperti sihir maka hilang semuanya" jelas Ale sambil mempraktekannya.


Rania pun hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Setelah Mami kembali untuk menjaga Putri, maka Rania pun berpamitan untuk pulang dan berjanji akan datang lagi esok hari. Vero pun langsung bersiap untuk mengantarnya, walaupun Rania menolaknya karena takut jika Vero merasa lelah. Akan tetapi Mami mendukungnya untuk menemani Rania dan langsung beristirahat saja di apartemen, menemani Opa dan Oma hingga esok hari mereka bisa berkunjung bersama.


"Bisa kah kita mampir sebentar ke kamar ayah kak?" tanya Rania saat mereka sedang berjalan menuju keluar rumah sakit.


"Baik lah" jawab Vero sambil mengikuti Rania.


Ini sebabnya aku tidak bisa membiarkan kau pulang sendiri, karena kau pasti akan mampir melihat ayah mu. Aku tidak ingin memberi celah kepada pria penggoda tersebut, batinnya.


Setelah mendapat izin dari para penjaga, Rania pun membuka pintu kamar sang ayah.


"Ayah... " ucap Rania lirih.


Seorang pria paruh baya yang sedang bersandar di ranjang kamar tersebut pun menengok mendengar panggilan tersebut.


Deg...!


Betapa terkejutnya Vero saat melihat pria yang di panggil ayah oleh Rania. Ia pun langsung berbalik arah dan terdiam di balik pintu luar kamar. Ia pun menyandarkan tubuhnya dan menenangkan irama jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Aku yakin bahwa ia adalah orang itu! Tatapan mata itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, batin Vero.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊

__ADS_1


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


__ADS_2