
"Rania! Sejak kapan kau berada di sana?" tanya Figo yang terkejut saat melihatnya.
"Sudah cukup lama untuk tak sengaja mendengar pembicaraan kalian Tuan" ucap Rania dingin.
"Ehmmm... Aku bisa jelaskan semuanya" ucap Figo sambil memegang belakang tengkuknya karena canggung.
"Silahkan, saya menunggu Tuan" ucap Rania sambil bersedekap.
Mama Figo pun memegang lengan anaknya dan memberi kode dengan menggelengkan kepalanya. Akan tetapi Figo hanya memberikan senyuman dan melepas tangan Sang ibu.
"Lebih baik kita duduk dahulu" ucap Figo mengajak ibunya dan Rania duduk di kursi panjang yang ada di lorong tersebut.
"Begini Rania...sebelum ayah mu masuk ke penjara, ia dan Papa ku mengalami kecelakaan saat akan pergi menemui investor untuk merger perusahaan mereka. Namun sayang kecelakaan itu menyebabkan satu orang tewas di tempat dan anggota keluarga lainnya mengalami kondisi yang cukup serius. Karena yang telah tiada adalah seorang pengusaha ternama maka keluarga mereka menuntut untuk pelaku penabrakan itu di hukum dengan berat. Maka pasal yang di timpakan kepada ayah mu adalah tentang kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Papa pada saat itu sudah memberikan tim kuasa hukum yang terbaik untuk membantu ayah mu menyelesaikan persidangan, sehingga hukuman ayah mu menjadi tiga belas tahun penjara dari sebelumnya dua puluh tahun penjara. Selama ayah mu di penjara, Papa tidak hanya berdiam diri tapi ia terus berusaha agar perusahaan bangkit lagi dengan mencari investor bahkan hingga keluar negeri. Papa sudah berjanji kepada ayah mu untuk memberikan saham beserta dividennya kepada putrinya saat sudah tiba waktunya" jelas Figo.
"Lalu kenapa Tuan merasa bersalah kepada ayah saya?" tanya Rania penasaran akan kata kata Figo yang ia dengar sebelumnya.
Mama Claudia yang terkejut pun langsung memegang tangan anaknya agar tak memberitahu kebenaran yang mereka sembunyikan. Figo pun hanya menatap mata ibunya yang memohon agar ia tak berbicara hal yang akan merugikan mereka nantinya.
"Aku hanya merasa bersalah karena tak pernah mencari mu dengan sungguh sungguh Rania" ucap Figo sambil tertunduk. Claudia pun akhirnya bisa bernafas lega mendengar jawaban anaknya.
Maafkan aku Rania yang harus menyimpan rahasia ini demi mama, aku tak ingin ia terluka, batin Figo.
__ADS_1
"Tapi karena sekarang aku sudah menemukan mu, aku akan segera menghubungi tim kuasa hukum perusahaan untuk membahas prosedur penyerahan saham kepada mu. Mungkin prosesnya agak rumit, tapi aku harap kau mengerti" ucap Figo lagi.
"Baik Tuan jika memang harus seperti itu, saya akan tunggu kabar dari Tuan" jawab Rania. "Jika sudah selesai boleh kah saya menemui ayah saya sekarang?" tanya Rania sambil berdiri.
"Silahkan" jawab Figo dengan tersenyum.
Sampai kapan aku harus menanggung beban ini Papa?, batin Figo saat melihat punggung Rania yang menghilang di balik pintu kamar perawatan ayahnya.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Setelah ia selesai menjenguk ayahnya, Rania berinisiatif untuk menelepon Vero agar mereka bisa pulang bersama. Karena saat tadi ia pamit dari kamar perawatan Ale, Sang kekasih masih di sana sedang sibuk dengan laptopnya mengurusi pekerjaan yang tertunda.
Tuuut... Tuuut... Tuuut... Tuuut... Tuuut...
"Tak seperti biasanya kakak begini? Ia selalu mengangkat telepon ku pada deringan ke tiga, bahkan terkadang ia yang lebih dulu menghubungi ku?" gumam Rania heran sambil menatap ponselnya.
Ia kemudian pun mencoba menelepon beberapa kali, akan tetapi tetap tidak ada jawaban.
"Mungkin kakak sedang sibuk dengan pekerjaannya, lebih baik aku coba mengirimnya pesan saja" fikir Rania masih positif walaupun ia tetap merasa heran.
📲 'Kenapa telepon ku tidak di jawab kak? Aku sudah selesai menengok ayah, apa kah kakak ingin pulang bersama ku?', Rania
__ADS_1
Vero yang menerima pesan tersebut pun langsung memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Ia sudah sengaja mengabaikan panggilan dari Rania, akan tetapi ternyata gadis itu tetap berusaha menghubunginya melalui pesan singkat aplikasi hijau.
📲 'Maaf aku sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, kau pulang saja bersama Jeff nanti aku hubungi dia untuk menjemput mu di rumah sakit', Vero
📲 'Tidak perlu kak, aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Aku akan pulang naik taksi online saja', Rania
Vero pun hanya membaca pesan tersebut dan menghela nafas dengan kasar. Kepalanya ia sandarkan ke sandaran kursi dan ia pun mulai memejamkan matanya, merasakan hatinya yang bimbang akan bagaimana ia mengambil sikap terhadap Rania.
Maaf kan aku Rania, sesungguhnya aku masih sangat mencintai mu. Karena bagi ku kau adalah cinta pertama dan terakhir untuk ku. Kau pula yang menjadi penyemangat ku di saat aku lelah belajar semua tentang perusahaan. Akan tetapi mengapa harus ayah mu yang menjadi penghalang bagi kita? Aku belum bisa memaafkan orang yang telah membunuh Papi dan membuat keluarga ku harus terpisah selama bertahun tahun. Mengapa takdir ini seolah mempermainkan hati kita berdua? Aku tidak bisa merelakan mu pergi, tetapi aku juga tidak bisa memaafkan ayah mu, batin Vero yang bimbang.
Tanpa di sadari Vero bahwa semua gerak geriknya di perhatikan oleh adiknya. Putri merasa kakaknya sedang ada masalah berat yang begitu membebaninya. Ia yakin itu bukan masalah pekerjaan karena bagi kakaknya yang jenius itu adalah hal yang mudah dan ia juga di dampingi oleh asisten dan orang orang profesional lainnya. Putri yakin bahwa masalah itu ada hubungannya dengan sahabatnya. Karena saat mereka di kamarnya suasana terasa dingin, kakaknya bahkan terkesan menghindar dari Nia bahkan untuk bertatapan mata sekali pun.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Akhirnya Rania pun pulang dengan memesan taksi online, karena ia tidak ingin membuat asisten Jeff bolak balik hanya untuk menjemputnya. Sepanjang perjalanan itu ia pun memikirkan sikap Vero yang berubah dingin kepadanya. Jangan kan untuk menelepon atau berbalas pesan, untuk bertegur sapa saja sepertinya ia enggan. Kebetulan di dalam taksi mengalun lagu yang sepertinya tepat menggambarkan isi hatinya sekarang. Sebuah lagu dari Prinsa Mandagie - Sahabat Dulu, walaupun ia percaya bahwa Vero tidak mungkin melakukan seperti apa yang tersirat di lagu tersebut.
Sebenarnya aku salah apa? Kenapa kakak tiba tiba berubah sikap seperti ini, bahkan sikapnya lebih dingin di bandingkan saat menjadi CEO Macan. Aku ingin bertanya langsung kepadanya tapi bagaimana jika ia saya enggan menatap ku langsung, batinnya sambil menghela nafas dan menatap nanar ke arah luar.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Happy Weekend..... 😉Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
__ADS_1
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏