Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 34


__ADS_3

"Nak Putra? Sudah lama ibu tidak melihat mu!" seru Ibu Wati sambil menepuk bahu Vero yang sedang mencium tangannya.


"Iya ibu mungkin sudah sepuluh tahun atau lebih" ucap Vero setelah sebelumnya mencium Oma terlebih dahulu.


"Ooooo....pantas saja ibu tidak mengenalimu. Kau sudah jauh lebih tampan, ke mana hilangnya pipi gembul mu ini?" tanyanya sambil mencubit pipi gemas Vero.


"Ah... ibu bisa saja" balas Vero sambil tersenyum.


"Ya sudah ibu harus segera pulang, kasian anak anak menunggu ibu untuk makan malam. Main lah besok ke sana jika kau ada waktu" ucap Ibu Wati sambil berpamitan kepada Oma dan juga Opa.


"Baik Ibu besok saya akan main ke panti, banyak yang ingin saya tanya kan kepada Ibu" ucap Vero saat mengantar ibu Wati menuju halaman.


"Pasti tentang dia kan?" tebaknya dengan tepat. Akan tetapi Vero hanya tersenyum penuh misteri.


Mereka pun makan malam dengan suasana yang hangat dan nyaman, setelah itu di lanjutkan dengan mengobrol di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Ehmmm... Oma sejak kapan ibu Wati pindah ke sini?" tanya Vero yang penasaran sejak tadi.


"Tak berselang lama saat kau pergi ke luar negeri" jawab Oma sambil meletakkan teh dan camilan yang di bawa oleh pelayan.


"Memang apa yang terjadi dengan mereka Oma?" tanyanya lagi yang semakin penasaran.


"Sudah besok kakak ikut aku saja jadi bisa sekalian mendapat jawaban pasti dari Ibu" ucap Putri menyela pembicaraan.


"Benar kata adik mu, nanti kau bisa bertanya hingga rasa penasaran mu itu terpuaskan" sahut Oma sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baik lah" balas Vero dan ia pun terdiam tapi tidak dengan otaknya yang di penuhi ribuan pertanyaan.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Keesokan harinya mereka pun pergi ke rumah Panti asuhan Bintang Harapan yang di kelola oleh Ibu Wati, letaknya pun tidak jauh hanya perlu berjalan kaki beberapa menit saja. Tiba di sana mereka pun di sambut dengan hangat oleh anak anak Panti karena semua sudah mengenal Putri dengan baik.


"Kak Ale!" seru anak anak kecil yang sedang bermain di halaman depan, sementara anak yang sudah lebih besar dan remaja membantu pekerjaan Ibu Wati seperti menjemur pakaian, menyapu dan mencuci piring.


"Ale?!" tanya Vero heran sambil menatap ke arah adiknya.


"Ia itu panggilan ku selama tinggal di sini, Oma yang melakukannya atas saran dokter untuk membantu menghilangkan sedikit trauma itu. Kakak sendiri juga kenapa di panggil Vero?!" tanya Putri balik kepada kakaknya.


Akan tetapi Vero hanya diam dan mengangkat bahunya karena tak ingin menjelaskan apa pun kepada adiknya.


Akhirnya Vero pun pergi berjalan ke arah dalam rumah untuk mencari Sang Ibu pengasuh di sana.


"Permisi" Vero mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.


"Nak Putra!" seru Ibu Wati terkejut melihat kedatangan Vero "Sedang apa di sini? Apakah Ale yang memaksa mu untuk ikut?" tanyanya sambil tersenyum ramah.


"Tidak Bu, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Apakah Ibu keberatan?" tanya Vero sedikit sungkan.


"Ooooo... Baiklah tidak usah ragu seperti itu. Duduklah dahulu Ibu akan buatkan teh untuk mu sebentar" jawabnya sambil berlalu ke dapur.


Sambil menunggu maka Vero pun melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan foto foto yang terpajang di dinding maupun di meja bufet panjang. Kebanyakan adalah foto anak anak panti dalam berbagai kegiatan dan juga pemberian hadiah oleh beberapa donatur yang cukup berpengaruh di kota ini. Tapi ada satu foto yang membuatnya berdiri ingin menatap lebih dekat ke foto tersebut. Foto adiknya dengan seorang gadis cantik yang menampilkan senyum termanisnya, seolah sedang tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Apakah kau merindukannya?" pertanyaan yang tiba tiba membuatnya menoleh karena terkejut. Dilihatnya Ibu Wati sudah berdiri di belakangnya dengan nampan berisi teh dan sedikit kue. Vero pun langsung duduk kembali dengan pipi yang merona karena ketahuan ia menatap foto tersebut dengan intens.


"Seperti yang bisa kau lihat, ia sudah tumbuh dewasa lebih cepat untuk usianya. Tapi kau tenang saja hatinya tidak tumbuh secepat kehidupannya" ucap Ibu Wati sambil ikut duduk dan meletakkan teh tersebut ke meja.


"Maksud Ibu apa sepertinya saya kurang faham?" balas Vero sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Setelah kematian Papi mu yang merupakan donatur utama dan pemilik panti, banyak kreditur yang datang untuk mengambil alih rumah yang di jadikan tempat panti asuhan. Mereka semua ingin menjual lahan tersebut untuk mendapatkan keuntungan, sedangkan anak anak akan di serahkan ke dinas sosial untuk kemudian di titipkan di berbagai panti asuhan lain" Ibu Wati pun memulai kisah perjalanan panti asuhan yang di kelolanya. "Saat itu kami semua sedih karena anak anak tidak mau di pisahkan dan mereka semua sudah bagaikan saudara dalam satu keluarga. Kami pun bingung hendak pergi ke mana saat itu karena cuaca hujan dan dingin, kami pun hanya bisa berteduh di emperan toko" ucapnya sedih karena teringat kejadian di masa itu.


"Beruntung saat itu mobil Oma dan Opa mu melintas dan melihat kami, mereka pun bergegas menolong dan mengajak kami tinggal di sebuah rumah lama yang sudah tidak di huninya lagi. Mereka pindah ke rumah baru yang berada di dekat situ untuk merawat adik mu yang saat itu baru pulang dari rumah sakit. Kami sangat beruntung bisa menempati rumah ini dan tidak perlu untuk berpisah. Ale pun yang kala itu sendiri merasakan kehangatan keluarga di panti ini hingga ia lebih sering bermain di sini di bandingkan di rumah kalian. Akan tetapi karena kondisi keuangan yang memburuk, terpaksa anak anak yang sudah beranjak remaja mulai membantu mencari penghasilan dari berjualan kue yang Ibu buat atau pekerjaan yang lainnya, termasuk Nia yang sudah ikut membantu Ibu berjualan di sekolah. Tak berselang lama banyak kabar yang beredar di masyarakat sehingga dinas sosial daerah kota pun meninjau tempat ini hingga akhirnya dijadikan panti asuhan agar bisa dapat tunjangan tetap dari pemerintah. Akhirnya di buatlah Panti Asuhan dengan nama Bintang Harapan agar panti ini bisa menjadi harapan bagi orang orang yang membutuhkan" lanjutnya bercerita sehingga Vero bisa mengerti kenapa nama panti asuhannya berbeda ketika melihat CV Sang sekretarisnya.


"Tetapi meskipun kami sudah mempunyai biaya tetap dari pemerintah dan beberapa donatur, Nia tetap bersikeras untuk melanjutkan dagangan Ibu di sekolah karena itu bisa jadi tabungan tambahan bagi kami semua. Bahkan ia pun memilih untuk langsung bekerja tanpa melanjutkan studinya. Seperti itu lah dia, cinta pertama mu yang dulu ingin kau ajak nikah saat kecil bukan?!" ucap Ibu Wati sambil tersenyum.


Sedangkan Vero yang di ungkit akan tingkahnya di masa kecil lalu hanya bisa tersenyum sambil tersipu malu.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2