Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 18


__ADS_3

Pagi Hari di ruangan CEO Star Grup


"Rani, segeralah kemarilah" panggil Vero melalui interkom.


"Baik Tuan" ucapnya langsung bergegas masuk.


"Ada yang bisa di bantu Tuan?" tanya Rania saat sudah berada di hadapan Vero yang duduk di kursi kebesarannya.


"Itu sejak kapan di sana ada bunga?" tanya Vero heran sambil menunjuk meja di sudut dekat sofa yang telah ada sebuket bunga gardenia di dalam vas kaca.



"Maaf Tuan tadi pagi saat saya tiba bunga itu sudah ada di atas meja saya, tapi tidak ada nama pengiriman serta di tujukan untuk siapa. Jadi saya letakkan dalam vas dan di pajang di sana agar ruangan anda terlihat lebih cerah" jelas Rania perihal asal asul bunga tersebut.


"Hmmm... boleh juga ide mu. Baiklah mulai besok selalu tempat kan bunga di vas tersebut" perintah Vero lebih lanjut.


"Apa?!" seru Rania terkejut "Jadi maksudnya saya setiap pagi harus mengganti bunga itu dengan yang baru Tuan?" tanyanya mencoba untuk mengerti.


"Iya kamu lah, masa saya yang harus melakukannya?!" ucap Vero sangsi "Apa kamu keberatan?" lanjutnya lagi.


"Tidak Tuan, mana berani saya menolak perintah Anda" sahut Rania saat mendapatkan tatapan tajam dari Vero.


"Bagus! Sekarang kau boleh keluar" ucap Vero sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Haaah... bertambah lagi tugas aneh ku" gumam Rania sambil keluar dan menutup pintu.


Setelah kepergian Rania tampak Vero berfikir dengan keras "Siapa sebenarnya pengirim bunga tersebut dan apa tujuannya? Apakah dia mengetahui kenangan masa lalu di balik cerita bunga tersebut? Atau Ia hanya berniat memberikan kepada Rani saja? Jika seperti itu kenapa tidak menulis sebuah kartu ucapan dengan namanya agar semua jelas. Mungkin kah orang tersebut diam diam menyukai Rani?" tapi sekuat apa pun Vero berfikir, ia masih tidak bisa memecahkan teka teki tersebut.


...****************...


Di pagi hari weekend yang cerah tiba tiba ponsel Rania berdering, ia pun bergegas untuk melihat siapa yang menelponnya sepagi ini. Betapa terkejutnya ia saat melihat nama penelponnya adalan 'CEO Macan', ia pun berniat untuk mengabaikan panggilan tersebut. Tak berselang lama ponselnya pun berdering lagi dengan nama penelpon yang sama, hingga panggilan ke tiga barulah di terima telpon tersebut.


"Hei... apakah kau masih tidur? Kenapa lama sekali kau menerima telpon dari ku?" seru Vero begitu panggilannya tersambung.


"Maaf Tuan saya tadi sedang di kamar mandi" sahut Rania berbohong.

__ADS_1


"Alasan saja kau ini. Sudah lah sekarang cepat keluar, saya tunggu di parkiran segera" balas Vero dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.


"Ada apa lagi ini?!" gumamnya sambil menatap bingung pada ponselnya karena tiba tiba terputus tanpa mendengar persetujuan darinya.


Rania pun bergegas keluar sebelum CEOnya itu tambah marah dan kesal padanya.


"Apa ini pakaian mu untuk berolahraga?!" tanya Vero sambil menatap Rania yang kala itu mengenakan celana training panjang warna abu abu dan kaos berwarna senada yang terlihat kebesaran untuknya serta sneakers berwarna putih dengan nuansa pink. Rambutnya yang panjang di ikat seperti ekor kuda dengan wajah segar tanpa make up, karena ia hanya menggunakan pelembab dan lip balm saja pada bibirnya.


"Memang ada masalah ya Tuan?" ucap Rania heran sambill melihat penampilannya sendiri yang seperti biasanya jika ia akan berolahraga."Kenapa ia selalu berkomentar tentang cara ku berpakaian?" gumam Rania dalam hati. Berbeda dengan penampilan Vero yang tampak memukau menggenakan celana pendek olahraga berwarna hitam dipadukan dengan kaos berwarna putih yang pas melekat di tubuhnya sehingga menampilkan otot otot seluruh badan bagian atasnya. Sneakers hitam dengan list berwarna merah yang digunakannya merupakan keluaran terbaru dari merek sepatu ternama.


"Tidak ada masalah apa apa. Ya sudah mari kita berangkat" ucap Vero sambil menuju mobilnya yang terparkir.


"Mohon maaf Tuan, tapi kita mau ke mana ya?!" tanya Rania heran sambil mengikuti Vero.


"Apa kau sudah lupa akan janji mu sendiri?!" Vero balik bertanya sambil bersandar di pintu mobil yang sudah terbuka.


"Janji apa ya Tuan?" Rania bingung berusaha mengingat sambil mengerutkan keningnya.


Vero yang tampak kesal akhirnya menutup pintu dan menghampiri Rania yang masih diam di tempatnya berdiri. "Jangan berusaha mengingat dengan otak kecil mu ini" ucap Vero sambil menunjuk kening Rania yang berkerut karena sedang berfikir keras mengenai janji apa yang telah ia ucapkan.


"Ooooo... janji itu rupanya" gumam Rania sambil mundur berusaha menjauhkan wajahnya yang merona.


"Akhirnya kau sudah ingat juga" ucap Vero sambil berdiri dan menetralkan jantungnya yang berdebar debar saat wajah mereka berdekatan. "Ayo kita berangkat" lanjut Vero sambil berjalan menuju mobilnya.


"Kita akan berlatih di mana Tuan?" tanya Rania yang penasaran saat mobil mereka sudah melaju membelah jalanan ibu kota.


"Tentu saja di lapangan yang luas agar kau tidak membuat mobil ku ini lecet jika kau menabrakkannya pada sesuatu" jelas Vero


"Kenapa tidak menggunakan mobil perusahaan saja jika ia takut mobilnya aku rusakkan" gumam Rania kesal.


"Hei... kau mengatakan apa? Menjelek jelek kan ku ya?!" seru Vero saat melihat mulut Rania berkomat kamit dari samping tanpa mendengar ucapannya dengan jelas.


"Aku tidak mengatakan apa apa Tuan" sahutnya sambil memberikan senyuman manisnya kepada Vero.


Vero pun langsung terdiam saat hatinya langsung berdebar tak kala melihat senyuman itu.

__ADS_1


Akhirnya tiba lah mereka di sebuah lapangan terbuka di mana biasa orang orang menggunakannya untuk berlatih mengemudi.


Sebelum memulai Vero telah memberikan instruksi awal untuk belajar mengemudi mengenai perpindahan gigi, kopling dan lain lainnya termasuk penggunaan lampu sein dan wiper.


Maka di mulai lah pelatihan pertama Rania mengemudi oleh Vero. Sesuai instruksi Vero maka ia pun perlahan lahan mulai menjalankan mobil tersebut memutari lapangan tersebut.


"Perhatikan kaca spion"


"Hidupkan sein jika ingin berbelok"


"Hati Hati ada pohon di depan mu"


"Pindahkan gigi secara perlahan"


"Jangan lupa injak kopling"


Tiba tiba mobil berhenti dan Rania keluar dari mobil sambil membanting pintu dengan kesal.


"Hei... kenapa berhenti? Kita bahkan belum satu putaran lapangan ini!" ucap Vero kesal karena tiba tiba berhenti.


"Karena anda menggangu konsentrasi ku Tuan dengan memerintah tanpa henti seperti itu" balas Rania yang juga kesal "Sudah lah lebih baik aku nanti belajar kepada instruktur profesional. Anda juga tidak perlu khawatir jika aku akan merusak mobil Anda yang berharga ini" lanjutnya masih kesal.


"Baik lah. Maaf kan aku. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi" ucap Vero mengalah saat menyadari kesalahannya sebelum Rania berubah fikiran.


"Baik lah mari kita lanjutkan Tuan" sahut Rania sambil menahan senyum saat melihat ekspresi Vero seperti itu.


Akhirnya mereka pun menyelesaikan latihan hari ini hingga beberapa putaran mengelilingi lapangan tersebut.


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel ini dengan memberikan Vote dan Likenya serta komentar kalian para pembaca semua...😊 Terima Kasih 🙏


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2