
Setelah selesai menerima telepon dari adik kesayangannya, Vero baru menyadari bahwa Rania sudah tidak berada di ruangannya lagi. Ketika ia hendak keluar dan membuka pintu, ia di kejutkan dengan kehadiran Jeff asistennya yang telah berada di depan pintu ruang kerjanya.
"Apakah anda sudah siap Tuan?" tanya Sang Asisten.
"Siap untuk ke mana? ini kan belum jam pulang" jawabnya dengan ekor mata yang mengarah ke meja Sang Sekretaris yang tidak berpenghuni.
"Bukan kah kita akan ada pertemuan di Hotel X Tuan? Apa anda sudah lupa?" tanya Jeff untuk mengingatkan jadwal Sang Boss.
"Baiklah, mari kita berangkat agar tidak terlambat" ucap Vero sambil berjalan.
"Ke mana perginya Rani? Kenapa ia meninggalkan mejanya kosong tidak seperti biasanya?" ucap Jeff sambil meninggalkan dokumen di atas mejanya.
"Sudahlah mungkin dia sedang di kamar mandi" ucap Vero kepada Jeff tetap terus berjalan. Jeff pun akhirnya bergegas mengikuti Tuannya agar mereka tiba sesuai jadwal.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Setelah puas menangis, Rania pun berusaha menenangkan dirinya untuk bisa kembali bekerja.
"Ah ya ampun... Aku lupa membawa tas kosmetik ku" gerutu Rania ketika melihat wajahnya yang sembab karena habis menangis dan juga bibirnya yang masih merah akibat peristiwa tadi. Tapi mana mungkin ia sempat mengambil pouch kosmetiknya, karena ia saja tadi langsung berlari begitu bisa keluar dari kandang macan tersebut.
Rania pun memberanikan diri membuka pintu toilet dan melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan di sekitar. Untung saja ini merupakan lantai tempat ruangan CEO, maka tidak mungkin ada yang ke sini jika tidak ada keperluan. Rania pun bergegas pergi untuk kembali ke meja kerjanya dan memoles sedikit wajahnya agar tidak ada yang menyadari bahwa ia habis menangis. Ia pun melirik sekilas ke arah ruangan CEO tapi tampak sepi bagai tak berpenghuni.
"Ke mana perginya Boss macan itu setelah melakukan hal gila terhadap ku" gumam Rania. Ia pun kemudian melihat lampu notif pada ponselnya berkedip, menandakan bahwa ia mendapat sebuah pesan.
📱'Aku pergi rapat di luar. Nanti kita bicara lagi'
Isi pesan tersebut yang di kirim oleh kontak bertuliskan 'CEO Macan'.
__ADS_1
"Dia fikir aku mau membicarakan peristiwa tadi dengannya" gumam Rania sambil mencebikkan bibirnya. "Atau jangan jangan ia akan membicarakan pemecatan ku karena tadi telah berani menamparnya!" lanjutnya lagi terkejut ketika mengingat apa yang telah di lakukannya kepada Bossnya itu. "Aaahhh... Rania kau itu gila!" ucapnya frustasi sambil menutup wajahnya. "Tapi biarlah jika aku di pecatnya selama aku bisa mempertahan kan harga diri ku. Masih banyak pekerjaan lain yang bisa aku lakukan. Aku tidak mau terus di permainkan olehnya!" ucapnya kembali memberi semangat pada dirinya sendiri. "Fighting Rania!" serunya sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia kemudian pun melanjutkan pekerjaannya sebelum fikirannya kembali ke peristiwa tadi.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Sementara itu di dalam sebuah mobil mewah tampak seorang pria sedang mengemudi mobil sambil melamun, sedangkan gadis cantik yang duduk di kursi penumpang terus saja berceloteh walaupun tidak mendapat tanggapan dari pria di sampingnya yang tampak sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Kakak!" seru Putri sambil menggoyangkan lengan Sang pria dengan keras.
"Ada apa? Kenapa teriak teriak seperti itu? Jarak kita kan tidak jauh hingga puluhan kilometer" ucap Vero dengan kesal melihat tingkah adiknya itu.
"Habis dari tadi kakak tidak menanggapi ucapan ku" jawab Putri dengan mode merajuk.
"Maaf kakak sedang memikirkan sesuatu tadi. Emang apa yang ingin kau bicarakan?" ucap Vero sambil mengacak acak rambut adiknya dengan sayang.
"Pasti kakak sedang memikirkan seorang wanita kan? Siapa dia kak?" tanya Putri yang bersemangat sambil menatap kakaknya.
"Hahaha... ada ada saja kau ini. Mana ada yang mau dekat dengan kakak mu ini?" ucap Vero sambil menutupu kegugupannya karena apa yang di katakan adiknya adalah benar.
"Sudah lah untuk saat ini kakak sedang fokus untuk keluarga kita, terutama mami" balas Vero sambil tersenyum.
"Tapi siapa tau jika kakak mengenalkan calon istri kepada mami, maka ia akan lebih cepat sembuh karena ada yang merawat dan memperhatikannya" usul Putri lagi.
"Hei... Adik ku sayang, kakak mu ini mencari calon istri bukan perawat untuk mami. Jika hanya untuk merawat mami saja, kakak bisa menyewa perawat profesional" seru Vero yang kesal akan ide adiknya yang aneh itu.
"Ucapan kakak ada benarnya juga" ucap Putri sambil memegang dagunya seperti berfikir. "Lalu seperti apa kriteria istri idaman kakak?" tanyanya yang penasaran.
"Kakak tidak punya kriteria khusus, karena yang utama dia mencintai kakak dan kakak juga mencintainya. Karena jika kami saling mencintai, kami bisa menerima semua hal baik dan buruk dalam hidup masing masing hingga nanti kami hidup menua bersama" Vero menjelaskan sambil menyentuh bibirnya ketika teringat akan peristiwa yang membuatnya ingin kembali merasakan manisnya bibir tersebut. Akan tetapi ingatan itu juga membawanya pada kenangan buruk bahwa untuk pertama kalinya ada yang berani menyentuh wajahnya dengan sebuah tamparan.
__ADS_1
"Wow... ternyata kakak ku ini sangat romantis sekali ya. Seharusnya banyak wanita yang tergila gila dengan kakak begitu kakak mengatakan hal romantis di hadapan mereka" ucap Putri ketika mendengar penuturan Vero.
"Sudah lah untuk apa membahas hal yang tidak penting" ucap Vero sambil tetap fokus mengemudi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, tiba lah mereka di sebuah rumah bercat putih yang tidak terlalu besar tetapi cukup asri dengan halaman yang cukup luas.
"Oma Opa!" teriak Putri sambil berlari ketika Vero baru saja memarkirkan mobilnya. Sedangkan Vero hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang seperti anak anak tersebut.
"Putri jangan berlari seperti itu, kau kan bukan anak kecil lagi" sahut Opa yang menyambut di depan pintu. Putri pun langsung memeluk dan mencium Opanya sambil bertanya tentang keberadaan Sang Oma. "Oma sedang menyiapkan makan malam di belakang" ucap Opa dan Putri pun langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Masuk lah nak biar nanti pelayan yang membawa barang barang kalian" ucap Opa kepada Vero yang mencium tangan Opa dan mereka pun masuk bersama.
Mereka pun menuju ke dapur bersama dan tersenyum ketika terdengar suara Oma dan Putri yang sedang menyiapkan makan malam. Ketika sampai di meja makan, Vero melihat orang lain selain Oma dan adiknya, ia pun merasa tak asing dengan sosok wanita tersebut.
"Ibu Wati?!" tanyanya untuk memastikan sosok yang dilihatnya.
"Nak Putra!" seru wanita tersebut yang tampak terkejut dibuatnya.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
...Happy Monday All.... Semangat beraktivitas lagi guys... 😉...
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰