Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 37


__ADS_3

"Kenapa? Apa kau ingin makan sepiring berdua dengan ku?!" tanya Vero saat melihat Rania hanya diam berdiri di tempatnya.


"Ah... tidak Tuan" jawab Rania dan bergegas keluar untuk mengambil makan siangnya. Tak lupa ia juga membawa dua botol air mineral dingin yang berasal dari kulkas pantry.


"Hei! Kau anggap aku ini virus apa? kenapa duduk mu jauh sekali!" seru Vero yang melihat Rania memilih duduk di sofa ujung yang berseberangan dengannya. "Pindah ke sini, aku tidak memiliki penyakit menular" ucapnya lagi sambil menunjuk sofa di sampingnya.


"Maaf Tuan, bukan maksud saya seperti itu" jawab Rania sungkan.


"Sudahlah cepat makan, sebelum nasi ini menjadi dingin" sahut Vero sambil mulai memakan nasi beserta lauk dan sayur yang tersedia.


Rania yang melihat Vero makan dengan lahapnya pun hanya bisa terdiam dengan masih menggigit sendok di mulutnya.


"Apa kau ingin aku suapi?" tanya Vero mencoba menggoda Rania yang terlihat menggemaskan dengan ekspresi itu.


"Tidak Tuan, Terima kasih" jawab Rania dan mulai memakan makan siangnya juga.


Mereka pun menikmati makan siang itu dalam diam, berbeda dengan otak mereka yang sibuk berfikir masing masing hal yang berbeda.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


"Jadi ini hari pertama kita sebagai kekasih kan?" tanya Vero setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Rania yang sedang minum pun tersedak, bahkan ada sedikit air yang keluar dari mulutnya.


"Pelan pelan jika sedang minum" ucap Vero santai sambil menyerahkan kotak tisu kepada Rania.


"Maksud perkataan Tuan barusan apa?" tanya Rania saat sudah selesai minum.


"Memang kau tidak mendengar perkataan ku tadi pagi?" Vero balik bertanya.


"Tapi saya fikir itu hanya cara anda bercanda dengan karyawan anda agar karyawan anda bisa fokus bekerja tanpa terganggu hal pribadi" jawab Rania mencoba menerima akal sehatnya daripada mendengar kata hatinya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kau fikir semua yang aku lakukan terhadap mu hanya sebuah gurauan?" ucap Vero kesal sambil mencondongkan badannya ke arah Rania. "Katakan yang sebenarnya Rani, apa kau tidak menyukaiku? Apakah kau tidak merasa berdebar jika berdekatan dengan ku?" tanya Vero lagi semakin mendekat hingga Rania terpojok di ujung sofa.


"Bu... bukan seperti itu maksud saya Tuan, hanya saja saya...saya..." ucapan Rania terputus karena ia tampak ragu menjelaskan alasannya, takut sang CEO marah dan memecatnya.


"Saya apa? Jika berbicara yang jelas Rani!" seru Vero frustasi sambil mengusap wajahnya.


"Apakah saya boleh jujur Tuan?" tanya Rania seakan ia takut akan reaksi dari Bossnya tersebut.


"Silahkan" ucapnya santai sambil bersandar di sofa memperhatikan Rania yang tengah gugup.


"Saya tidak mempunyai sebuah rasa yang sama seperti yang Tuan rasakan, maaf saya tidak bisa membalas perasaan anda" ucap Rania sambil menundukkan kepala karena takut dengan tatapan yang di berikan oleh Vero.


"Apa kau yakin? Apa tidak ada alasan lain? Apa hati mu telah di miliki oleh pria lain?" tanya Vero yang sangsi bahwa perasaannya mendapatkan penolakan seperti itu.


"Sejujurnya saya masih mencari pria yang telah mencuri hati saya sejak kecil, dia adalah cinta pertama saya Tuan. Hati saya tidak bisa berpaling darinya Tuan" jawab Rania sendu saat mengingatnya.


"Hmmm... cukup menarik. Sepertinya perasaannya kepadaku tidak pernah berubah meskipun aku telah menghilang selama beberapa tahun ini. Baik lah aku akan melihat, siapa yang akan di pilihnya nanti. Masa depannya atau masa lalunya" gumam Vero dalam hati.


"Tunggu dulu Tuan... tapi kenapa aku menjadi pengantin Anda? Bukan kah Anda tadi bilang hanya jadi kekasih Tuan?" Rania yang terkejut mendengarnya mencoba protes dengan kata kata yang di ucapkan oleh Bossnya itu.


"Memang selamanya kau akan jadi kekasih ku? Bukan kah akhir dari hubungan antara dua orang kekasih adalah menikah? Jadi apa bedanya?" jawab Vero santai sambil mengangkat bahunya.


"Jelas saja berbeda Tuan! Tulisannya saja berbeda apa lagi artinya" gumam Rania kesal dalam hati sambil menghela nafas.


"Jadi bagaimana? Apa kau menerima usul ku?" Vero bertanya kembali.


"Baik lah Tuan" ucap Rania pasrah sambil menundukkan kepalanya karena sudah terjebak dan tidak memiliki pilihan lain lagi.


"Hei! Jangan sedih seperti itu, tenang saja selama itu aku akan tetap memberikan perhatian terhadap mu" ucap Vero sambil mengangkat dagu Rania agar melihatnya "Aku akan tetap mengajak mu kencan seperti kekasih pada umumnya" lanjut Vero sambil menatap ke dalam netra Rania yang seakan menariknya ke dalam lubang tanpa dasar. "Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta kepada sosok ku yang sekarang sama seperti kau mencintai sosok masa kecil ku" tekad Vero dalam hati.


Rania yang mendapat tatapan intens seperti itu, merasakan bahwa hatinya mulai berdesir dan jantungnya berdetak lebih kencang. Tubuhnya sudah mulai merasakan panas dingin ketika tatapan Vero beralih ke arah bibirnya. Vero pun dengan perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rania yang sudah mulai merona.

__ADS_1


Ceklek....


Seketika Vero pun langsung terjatuh ke arah belakang sandaran sofa ketika dadanya di dorong dengan keras oleh Rania. Sementara Rania yang terkejut saat mendengar suara pintu terbuka langsung berdiri dan menatap ke arah pintu yang terbuka.


"Permisi Tuan" ucap Asisten Jeff tanpa rasa bersalah karena telah merusak suasana romantis di antara mereka berdua.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu!" seru Vero kesal karena merasa terganggu.


"Maaf Tuan, tapi saya sudah mengetuk pintu berkali kali. Saya fikir Tuan tidak ada di ruangan maka saya masuk untuk memastikannya" ucap Jeff menjelaskan.


"Aaahhh... sudah lah" ucapnya sambil berjalan menuju meja kerjanya. Ia berfikir percuma saja memarahi asistennya tersebut, karena suasana yang telah di hancurkan olehnya tidak akan bisa kembali.


"Saya permisi Tuan" ucap Rania yang ternyata telah selesai membersihkan sisa makan siang mereka.


"Kau kembali lah bekerja" jawab Vero sambil lalu.


Rania pun akhirnya keluar dan membawa nampan tersebut ke pantry karena nanti akan ada OB yang membersihkannya dan mengembalikannya ke kantin.


"Hah... hampir saja tadi Dia menciumku. Bagaimana jika tadi Asisten Jeff melihat kami sedang berciuman" ucap Rania malu sambil menutup wajahnya. "Tapi bagaimana caranya aku bisa menemukan kakak dalam waktu sebulan? Sedangkan aku saja tidak tau keberadaannya di mana selama sepuluh tahun ini" lanjutnya lagi sambil menghela nafas. "Apakah aku harus menerima takdir menjadi pengantin CEO Macan itu" ucap Rania sendu sambil menatap bayangannya di cermin.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2