
Hari hari pun berlalu dengan tenang seakan kejadian di pantai kala itu hanya lah sebuah perjalanan bisnis biasa. Walaupun hati mereka masing masing masih berdebar bila mengingat waktu itu di saat keheningan malam mulai menemani mereka bersama taburan bintang di langit.
"Besok aku akan melakukan perjalanan ke luar negeri karena ada hal mendesak yang harus aku tangani sendiri dan Jeff akan tinggal untuk mengurusi perusahaan. Kau ikuti saja perintahnya dan bantu ia menghandle semua pekerjaan yang ada" perintah Vero kepada Jeff dan Rania sebelum ia pergi.
"Baik Tuan" jawab mereka secara bersamaan.
"Baik lah. Apakah semua sudah siap?" tanyanya lagi kepada sang asisten mengenai persiapan kepergiannya.
"Sudah Tuan, semua sudah di atur sesuai keinginan Tuan dan tinggal menunggu supir untuk menjemput nona Putri" jawab Jeff menjelaskan semuanya.
"Tidak perlu biar nanti aku saja yang jemput dan kami akan berangkat bersama menuju bandara" ucap Vero memberi perintah lagi.
"Baik Tuan, saya akan memberi info kepada supir anda" balas Jeff kemudian berlalu untuk ke basement menemui supir pribadi Sang CEO.
"Kau tidak perlu mengantar ku, kembali lah bekerja" ucap Vero sambil berjalan pergi menuju pintu.
"Percaya diri sekali dia, siapa juga yang mau mengantarnya" gumam Rania di belakang punggung Vero yang berlalu. "Akhirnya aku sedikit bisa bernafas lega untuk sementara waktu" lanjutnya tersenyum sambil berjalan menuju meja kerjanya kembali.
Tring...
Sebuah notif chat aplikasi hijau masuk ke dalam ponsel Rania, yang ternyata di kirim oleh sahabatnya Ale.
π±'Aku hari ini akan berangkat ke luar negeri.
Maaf aku tidak sempat berpamitan secara langsung padamu karena perjalanan ini pun tiba tiba tidak aku rencanakan' tulisnya di dalam chat tersebut.
π±'Apa! Kau akan pergi ke luar negeri?
Apakah kau pergi ke sana untuk liburan?
Baiklah aku akan memaafkan mu jika kau membawakan aku oleh oleh. hehehehehe' Rania yang terkejut pun langsung membalasnya.
π±'Tentu saja aku akan membawakan oleh oleh untuk sahabat terbaik ku ini.
Kebetulan aku lagi libur mid semester dan mami ingin bertemu dengan ku.
__ADS_1
Sebab kondisinya tidak memungkinkan untuk menemui ku di sini yang pasti akan membangkitkan traumanya kembali ' Ale mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
π±'Semoga mami lekas sembuh ya.
Padahal CEO Macan ku sedang ada perjalanan bisnis dalam minggu ini.
Jadi aku banyak waktu luang karena tidak harus mengikuti perintah perintah anehnya itu.
Aku ingin menghabiskan weekend ini bersama mu, karena aku kangen' balasnya menceritakan sedikit rencananya kepada Ale.
'Benarkah?
Itu artinya kau bisa menikmati hari hari mu dengan tenang sebelum ia kembali.
Tapi maaf aku tak bisa menemani hari tenang mu ' balasnya menampilkan emoticon sedih.
π±'Sudah lah tidak apa, kau nikmati jalan jalan mu sedangkan aku juga akan menikmati waktu tenang ku ' mencoba meyakinkan sahabatnya agar bersemangat.
π±'Baik lah, jaga diri mu ' pesan terakhir Ale.
...β β β β β β...
Di ruang tunggu keberangkatan sebuah bandara internasional
"Kau sedang chat dengan siapa? Kenapa wajah mu seperti sedih dan bahagia secara bersamaan?" tanya Vero yang memperhatikan mimik wajah Putri yang berubah ubah. Mereka sedang menunggu jadwal pesawat mereka yang akan segera lepas landas.
"Aku sedang berpamitan dengan sahabat ku, karena aku tidak bisa menemuinya secara langsung akibat kesibukannya bekerja. Padahal minggu ini Bossnya yang arogan itu sedang melakukan perjalanan bisnis, tapi aku tidak bisa menemaninya bersenang senang" Putri pun menjelaskan kepada kakaknya.
"Kau kan bisa menghiburnya nanti setelah pulang, lagi pula ini kesempatan mu bertemu mami setelah sekian lama. Apa kau tak merindukannya?" tanya Vero sambil membelai rambut adik kesayangannya itu.
"Tentu saja aku merindukan mami juga kak!" seru Putri "Aku nanti akan membelikan oleh oleh yang bagus sebagai ganti kepergian ku ini" lanjut Putri sambil tersenyum.
"Baiklah nanti akan kakak temani kau jalan jalan di sana. Ayo pesawat kita akan segera berangkat" ucap Vero sambil bangkit berdiri saat di dengarnya pengumuman dari pengeras suara di bandara.
...β β β β β β...
__ADS_1
Saat dalam perjalanan pulang setelah bekerja, Rania melihat sebuah pesawat melintas di atas langit senja. Ia pun mendongak ke atas langit untuk menatap pesawat tersebut hingga hilang dari pandangannya.
"Sebenarnya hal mendesak apa yang perlu di tanganinya segera? Apakah ada hubungannya dengan wanita yang sering meneleponnya? Karena sepertinya mereka pergi bersama?" gumam Rania sambil menundukkan kepala memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi antara Sang CEO dengan wanita tersebut.
Karena berjalan sambil menunduk akibatnya ia tanpa sengaja menabrak bahu seseorang.
"Maaf saya tidak sengaja" ucapnya sambil menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.
"Kau tidak apa apa Rania?" tanya orang tersebut yang membuatnya terkejut dan mendongak untuk melihat orang yang di tabraknya.
"Tuan Figo!" seru Rania yang mengenali orang tersebut.
"Iya sudah lama tak berjumpa, maaf karena kesibukan ku maka aku jarang menghubungimu padahal aku telah berjanji untuk mengajak mu makan siang" ucap Figo sedikit merasa bersalah.
"Sudahlah tidak apa apa Tuan, saya tidak mengharapkan imbalan apa pun" ucap Rania agar Figo dapat mengurangi rasa bersalahnya.
"Baiklah, tapi kenapa kau sepertinya sedang bersedih hingga tak melihat ke mana arah jalanmu?" tanya Figo lagi.
"Saya hanya sedikit lelah karena pekerjaan Tuan" ucapnya untuk menutupi kesedihan hatinya.
"Baiklah jika begitu aku permisi, nanti aku hubungi lagi untuk menepati janji ku" ucap Figo sambil mengedipkan sebelah matanya dan setengah berlari menghampiri asistennya yang terlihat tidak sabar menunggu di samping mobilnya.
Rania pun hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Figo dari kejauhan. Jangan kan untuk memikirkan Figo bahkan sang cinta pertama yang masih di nantinya pun sedikit memudar dari hatinya, perlahan dan pasti seseorang mulai masuk menggantikannya untuk bertahta di hati yang telah lama merindu akan sebuah cinta dan kasih sayang.
Sementara itu dari balik jendela sebuah pesawat yang sedang terbang tinggi di angkasa, tampak seorang pria tengah melamun memandang langit di luar sana. Ia berharap wanita yang telah mencairkan hatinya yang dingin itu baik baik saja selama ia tinggalkan. Karena urusan ini harus ia tangani secara langsung agar tidak semakin menambah dalam luka hati dan trauma yang di alami oleh keluarganya, ia ingin agar suatu saat keluarga mereka utuh kembali. Ia menatap adik kesayangannya yang sudah terlelap ke dalam mimpi akibat kelelahan dalam perjalanan yang cukup panjang dan lama. Ia sedikit membetulkan selimut yang di kenakan adiknya untuk menghalau dinginnya malam dan kemudian memejamkan mata mencoba untuk tertidur dan beristirahat.
β£ β£ β β β£ β£
Selamat Membaca semuanya...πππ
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... π€©...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote dan Likenya dari kalian pembaca semua...π Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update π Terima Kasih π
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... β‘Thanks!...
__ADS_1
...Love Love Love buat kalian semua π₯°π₯°π₯°...