Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 60


__ADS_3

Karena merasa penasaran, Rania pun mencoba untuk membuka pintu kamar perawatan tersebut. Tangannya pun sudah mulai menyentuh handle pintu, ketika tiba tiba ada sebuah suara yang cukup mengejutkannya.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Vero yang membuat Rania urung untuk membuka pintu.


"Tadi aku habis menjeguk Ale kak, aku hanya berjalan jalan sebentar mencari udara segar. Aku bosan kak di kamar terus" jawab Rania sambil tersenyum.


"Ya sudah mau aku temani jalan jalan di luar atau mau langsung ke kamar?" tanya Vero lagi.


"Bagaimana jika kita berjalan jalan di taman sebentar kak?" jawab Rania.


"Baiklah, ayo" ucap Vero sambil menggandeng Rania, membantunya agar bisa berjalan dengan stabil.


Mereka pun duduk di taman rumah sakit, di sebuah bangku yang berada di bawah pohon rindang. Cuaca sore menjelang senja saat itu hangat walaupun angin yang berhembus cukup dingin menembus kulit. Rania yang masih menggunakan pakaian pasien tersebut pun mengelus kedua lengannya secara bersamaan. Vero yang melihat hal tersebut pun melepas jaket yang di pakainya dan langsung memakaikannya di bahu Rania.


"Terima kasih kak" ucap Rania tersenyum melihat perlakuan manis Vero tersebut.


"Sudah tahu anginnya dingin, kenapa ingin keluar tanpa membawa jaket hah?!" ucap Vero kesal seperti memarahi seorang anak kecil.


"Maaf kak kan aku sudah dua hari berada di kamar terus" balas Rania sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Kapan ya kak Ale akan tersadar kembali?" tanyanya tiba tiba sambil menatap ke arah kejauhan.


"Kau tak perlu terlalu memikirkannya karena Putri adalah anak yang kuat ia pasti akan siuman dalam beberapa hari ini. Sekarang yang terpenting adalah kau harus menjaga kesehatan mu agar saat Putri terbangun ia akan senang karena usahanya untuk menyelamatkan mu berhasil" ucap Vero sambil merangkul bahu Rania.


"Ia kak, tapi entah kenapa aku masih terus merasa bersalah kepadanya. Aku belum bisa tenang jika ia masih belum sadar kak" ucap Rania sambil menyandarkan kepalanya di dada Vero yang bidang.


"Kau harus menghilangkan rasa bersalah itu, karena itu adalah pilihan Putri untuk menolong sahabat baiknya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah banyak banyak berdoa agar ia bisa segera kembali berkumpul dengan kita" ucap Vero menenangkannya.


"Iya Kak, aku juga akan sering sering berinteraksi dengannya agar ia bisa merasakan kehadiran ku yang merindukan tawanya" jawab Rania bersungguh sungguh.

__ADS_1


Vero pun hanya tersenyum dan mengelus lengan Rania memberikan dukungan untuk kekasihnya agar tetap kuat. Mereka pun menikmati senja sore itu dengan damai.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Setelah selesai makan malam dan memastikan Rania minum obat, maka Vero pun langsung menyuruh Rania untuk tidur agar besok bisa di ijinkan pulang. Akhirnya Rania pun mencoba memejamkan matanya walaupun otaknya masih bekerja karena di penuhi banyak pertanyaan akan sebuah suara yang masih membuatnya penasaran.


Siapa sebenarnya pria yang di rawat di kamar tersebut, mengapa suaranya sangat mirip dengan ayah. Tapi bagaimana aku bisa memastikannya dengan benar sedangkan kakak selalu di samping mengawasi ku, ucapnya dalam hati bingung harus melakukan apa.


"Jangan khawatir aku masih menemani mu di sini" ucap Vero saat melihat mata Rania yang sedikit mengintip.


"Aaahhh... kakak bukan begitu maksud ku" ucap Rania malu.


"Lalu maksud mu apa?" tanya Vero tersenyum melihat Rania malu karena tertangkap basah pura pura tidur.


"Aku hanya belum bisa tidur saja Kak, tapi kakak terus saja memaksa ku untuk tidur" jawab Rania sambil mencebik kan bibirnya.


"Baik lah, apa kau ingin di bacakan dongeng pengantar tidur hmmm?!" ucap Vero sambil duduk di sisi kasur Rania dan mulai merapikan anak anak rambut di sekitar dahi Rania.


"Hahahahaha" Vero pun hanya menertawakan tingkah Rania yang membuatnya gemas. "Nanti kau tidak bisa bernafas Nia" ucap Vero sambil menarik lembut selimut tersebut dan membelai lembut rambut Rania.


Aku akan segera mencari tahu setelah aku keluar besok, jika aku tunda lebih lama nanti pasien tersebut pindah bagaimana?, tekad Rania sebelum ia terlelap jatuh ke alam mimpi.


Vero pun merapikan selimut tersebut ketika di dengarnya suara teratur nafas Rania yang menandakan bahwa ia telah tertidur. Ia pun mematikan lampu hingga pencahayaan di kamar itu sedikit berkurang karena hanya berasal dari lampu tidur di samping ranjang. Vero pun kemudian melangkah ke sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang juga lelah.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Bandara Internasional So**Ta

__ADS_1


Olivia pun berjalan menuju gate keberangkatan internasional, ia menatap sendu ke belakang berharap ada seseorang yang menahannya pergi. Sang Ayah yang melihatnya pun lalu menepuk bahunya dan mendorong punggungnya secara perlahan agar ia segera berjalan. Olivia pun mengangguk lemah sambil terus berjalan.


Tampak seorang pria yang turun dari sebuah taksi dan segera berlari ke dalam bandara bahkan sebelum taksi itu benar benar berhenti. Sang supir pun hanya menggelengkan kepalanya dan turun untuk menutup pintu bagian penumpang yang masih terbuka.


Untung di kasih lebih jadi tidak masalah lah, mungkin orang itu sedang terburu buru mengejar pesawat, batin sopir tersebut sambil tersenyum dan kemudian ia pun melajukan taksinya untuk segera keluar dari area bandara.


"OLIE!...Haaah...Haaah...Haaah!" teriaknya sambil terengah engah karena habis berlari.


Olivia pun langsung menegok ke belakang saat ia mendengar namanya di panggil oleh seseorang. Ia pun tersenyum saat melihat pria yang memanggil namanya tersebut. Ia pun langsung menghampiri Figo dan mereka pun berpelukan.


"Maaf kan karena aku baru bisa menemui sekarang, kemarin aku ada pekerjaan yang mengharuskan aku keluar kota beberapa waktu" ucap Figo sambil memegang bahu Olivia.


"Tidak apa apa aku bisa mengerti, aku hanya minta kau terus ingat dan dukung aku di mana pun aku berada" jawab Olivia sambil meneteskan air mata.


"Tentu saja aku selalu mendukung mu apa pun yang terjadi, jadi kau jangan bersedih" ucap Figo sambil menghapus air mata di pipi Olivia. "Aku akan segera menyusul mu saat urusan ku di sini sudah selesai, bisakah kau tetap menunggu ku?" ucapnya lagi


Olivia pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


"Olivia kita harus segera boarding pass jika tidak ingin terlambat" ucap sang ayah mengingatkan Olivia.


"Baik Daddy" ucapnya kepada ayahnya "Baik lah aku harus pergi sekarang" ucap Olivia berpamitan kepada Figo untuk terakhir kalinya.


"Hati hati, hubungi aku jika kau sudah tiba di sana" ucap Figo dan kembali memeluk Olivia. Ia pun kemudian melambaikan tangannya saat Olivia mulai masuk ke dalam. Ia terus berada di bandara hingga pesawat yang di naiki Olivia mengudara. Barulah ia kemudian berjalan keluar mencari taksi dengan wajah tertunduk lesu.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊

__ADS_1


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


__ADS_2