
Saat Fery dan beberapa petugas kepolisian tiba di rumah sakit, keadaan cukup kacau karena banyak orang yang telah datang. Baik para pencari berita atau pun keluarga korban. Tampak anak lelaki korban kecelakaan tadi sudah di temani oleh kakek dan neneknya. Fery pun segera mencari tahu keadaan rekan kerjanya. Ia pun melihat Edwin sedang di tangani oleh dokter di dalam salah satu tirai di IGD.
Ia pun kemudian mencari tahu kabar terbaru mengenai para korban.
"Oma bagaimana keadaan Papi, Mami dan Putri. Hiks... Hiks... Hiks... " ucap anak lelaki tersebut sambil menangis di dalam pelukan neneknya, sementara sang kakek bergerak mondar mandir karena gelisah menanti kabar anak, menantu beserta juga cucunya.
"Yang sabar ya, kita harus banyak banyak berdoa untuk keselamatan Papi, Mami dan juga Putri. Hanya itu yang bisa kita lakukan selama dokter menangani mereka" ucap sang nenek menenangkan cucunya dan semakin mempererat pelukannya.
Tak berselang lama, keluar seorang dokter dengan perawat dari dalam ruangan IGD, mereka pun bergegas menemuinya.
"Apakah anda keluarga dari bapak Daniel Wijaya?" tanya perawat kepada kakek tersebut.
Apa?! Bukan kah Daniel Wijaya adalah investor yang akan kami temui malam ini?, batin Fery terkejut saat mendengar bahwa korban yang di tabraknya adalah mobil orang yang sangat berpengaruh. Ia pun kemudian semakin mendekat agar dapat mendengar lebih jelas lagi.
"Iya saya ayahnya suster, bagaimana keadaan anak dan mantu serta juga cucu saya?" jawab Opa dengan khawatir kepada perawat.
"Silahkan dengar langsung penjelasan dari dokter ya pak" jawab perawat itu lagi menunjuk kepada dokter yang keluar bersamanya tadi.
Mereka semua pun berjalan mendekat ke arah dokter tersebut.
"Sebelumnya saya mohon maaf dan turut berduka cita, karena anak bapak telah meninggal dunia saat masih di lokasi kejadian" ucap dokter dengan sedih.
"PAPI!" jerit bocah lelaki tersebut yang langsung menangis dalam pelukan sang nenek. Oma pun turut menangis karena kehilangan putra kesayangannya. Sementara Opa hanya bisa memegang dinding di sampingnya agar tidak terjatuh.
Bagaimana ini? Kejadian ini sudah memakan korban, aku tidak ingin di penjara! Aku harus menjalankan semua sesuai rencana awal ku, tekad Fery dalam hati.
"Lalu bagaimana kondisi menantu dan cucu perempuan saya dokter?" tanya Opa lagi.
"Kondisi Ibu Desi pun tidak terlalu baik Pak, akibat benturan dan himpitan dari dashboard mobil menyebabkan beberapa tulang dada ibu Desi menekan organ dalamnya. Saya juga khawatir akan ada trauma di kepala akibat benturan, saya sarankan untuk Ibu di rawat ke luar negeri yang memiliki peralatan lengkap dengan segera. Karena jika terlalu lama di tunda bisa membahayakan kesehatannya, di tambah trauma akibat kehilangan suami sebaiknya di bawa pergi dari tempat yang bisa mengingatkannya akan trauma ini" jelas dokter yang semakin membuat keluarga itu bersedih. "Tapi untuk cucu bapak saya mohon maaf, karena cucu bapak hingga kini belum sadarkan diri" ucap dokter sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maksud dokter bagaimana? Jelas kan lebih detail dok, karena jujur saja otak saya sudah tidak bisa di ajak berfikir" ucap Opa kepada dokter karena frustasi akan kejadian ini.
"Cucu bapak mengalami koma, sehingga di sarankan untuk masuk ke ruang ICU. Sebenarnya kondisinya tidak terlalu membahayakan akan tetapi mungkin alam bawah sadarnya menolak untuk keluar dari mimpi panjangnya. Ini bisa di sebabkan trauma sebelum dan saat kecelakaan, nanti akan kami pantau terus kondisinya, akan tetapi untuk sementara di sarankan untuk tidak melakukan perjalanan jauh" jelas dokter tersebut. "Saya harap Bapak bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk semuanya" ucap dokter lagi sambil menepuk bahu Opa dan pergi berlalu.
"Jika Bapak sudah tenang, silahkan ke meja administrasi untuk menyelesaikan pembayaran uang muka" ucap perawat itu kepada Opa yang tertunduk lesu.
"Baik suster" jawab Opa lemas dan perawat itu pun segera pergi juga.
"Apa yang harus kita lakukan Ma?" tanya Opa kepada Oma yang menjawab dengan gelengan kepala karena masih bingung akan situasi yang mereka hadapi. Pada akhirnya mereka bertiga saling berpelukan menangisi semuanya bersama sama.
Aku harus segera menemui Edwin untuk menjalankan rencana ku sebelum terlambat, batin Fery dan segera berlalu dari sana.
...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...
Fery pun kemudian menemukan bilik kamar di mana rekan bisnisnya telah selesai di lakukan perawatan. Fery pun mendekati ranjang Edwin saat di lihat mata rekan bisnisnya terbuka.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Fery cemas.
"Iya aku baik baik saja, hanya kepala ku rasanya sakit dan seperti berputar jika aku bangun" jelas Edwin mengenai apa yang di rasakannya.
"Jika begitu sebaiknya kau berbaring saja" ucap Fery sambil memegang bahu Edwin agar tetap berbaring di ranjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa aku bisa berada di sini?" tanya Edwin lagi.
"Apa kau tidak ingat?" tanya Fery was was.
Aku harus memanfaatkan kesempatan ini, batinnya.
"Yang aku ingat adalah kita akan menemui investor untuk merger perusahaan kita" ucap Edwin samar samar mulai sedikit mengingat.
__ADS_1
"Iya kau benar, tapi di tengah jalan saat kau mengemudi kau kehilangan kendali dan menabrak sebuah mobil" ucap Fery menjebak sang rekan bisnis.
Edwin pun memegang kepalanya berusaha mengingat kembali kejadian sebenarnya. "Bukan kah kau yang mengemudi? Aku yakin akan hal itu! Kenapa kau menyebutku yang mengemudi? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Edwin heran.
"Mobil yang kita tabrak adalah mobil Daniel Wijaya, investor yang akan kita temui" jelas Fery sambil menghela nafas. "Dan sekarang ia telah meninggal dunia akibat kecelakaan itu" lanjutnya lagi sambil tertunduk.
"Innalillahi Wa Inailahi rojiun" ucap Edwin, "Lalu apa hubungannya jika aku atau kau yang mengemudi?" tanyanya lagi.
"Karena polisi sudah menyelidiki kecelakaan ini dan aku takut di penjara karena telah lalai dan menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya" jelas Fery.
"APA!" seru Edwin terkejut. "Jadi maksud mu tidak masalah jika aku yang menerima hukuman itu?" tanya Edwin kesal.
"Aku mohon padamu bantu aku" ucap Fery sambil menggenggam tangan Edwin. "Bagaimana nanti nasib keluarga ku, kau tahu anak ku masih kecil dan istri ku tidak bekerja. Jika aku di penjara siapa yang akan menjaga dan merawat mereka" ucapnya lagi memelas.
"Tapi aku pun punya keluarga! Bagaimana pendapat mereka jika tahu aku menjadi tersangka dan di sidang!" seru Edwin bersikeras.
"Keluarga mu yang mana hah?! Bukan kah kau sudah meninggalkan mereka demi wanita penggoda yang cantik, bahkan sekarang ia pun telah meninggalkan mu di saat harta mu telah habis dan menyisakan utang!" seru Fery juga mengingatkan Edwin akan kesalahan di masa lalunya.
Edwin pun hanya bisa menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah kepada keluarganya.
"Kau tenang saja aku akan menjaga perusahaan kita agar tetap bertahan. Aku pun akan berusaha mencari keluarga mu lagi agar saham mu bisa ku berikan kepada anak mu" ucap Fery bernegoisasi.
❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣
Happy Weekend..... 😉 Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...
Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏
__ADS_1