Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 42


__ADS_3

"Tenang lah dulu Nia" ucap Ibu asuhnya sambil memeluk tubuhnya yang gemetar.


"Pasti anda berbohong kan Bi? Bibi hanya bercanda kan?" tanya Nia seakan tidak percaya apa yang di katakan wanita paruh baya di hadapannya ini.


"Maaf Nia tapi ini adalah kenyataannya" ucap Ibu Atma yang ikut bersedih melihat Nia yang terpuruk.


"Ini nggak mungkin Bu. Ini pasti hanya mimpi" tangis Nia dalam pelukan sang ibu asuh. Mereka pun tidak melanjutkan cerita menanti Rania hingga tenang kembali.


"Minumlah dahulu Nia" ucap Ibu Atma sambil menyodorkan gelas teh ke hadapan Rania.


Rania pun menerima dan meminumnya, ia sedikit lebih tenang walaupun masih ada sisa sisa tangisannya. "Baiklah Bi, sekarang bisakah Bibi melanjutkan cerita mengenai Ibu saya" ucapnya sambil sesegukan.


"Ibu mu dulu pernah menderita kanker payudara saat usia mu menginjak lima tahun. Ia pun mengikuti saran dari dokter untuk mengangkat salah satu *********** agar tidak menyebar. Di saat itu lah Ayah mu mulai melakukan perselingkuhan, ia melakukannya karena baginya ibu mu sudah tidak sempurna. Tapi alih alih minta cerai ibu mu tetap mempertahankan rumah tangga nya demi menjaga agar kau tetap berada di dalam keluarga yang utuh, tidak kehilangan kasih sayang kedua orang tua dan terutama agar kau tidak di kucilkan di lingkungan sekolah yang baru kau mulai" ucap Ibu Atma memulai ceritanya.


"Tahun demi tahun berlalu, tapi Ayah mu tidak jera untuk tetap berselingkuh dengan wanita wanita yang lebih muda. Hingga akhirnya ia bertemu seorang wanita yang membuatnya tergila gila dan ingin menceraikan ibu mu karena wanita tersebut tidak mau hanya menjadi simpanan ayah mu. Puncaknya adalah ketika ayah mu pergi dari rumah dan meninggalkan kalian berdua" lanjutnya sambil menyeka air mata yang sedikit menggenang di pelupuk matanya.


Rania pun teringat ketika malam itu ayahnya pergi membawa koper untuk meninggalkan rumah mereka. Bahkan tangisan memohon Rania di kaki ayahnya pun tidak bisa menghentikan kepergiannya malam itu. Akhirnya ia hanya bisa menangis di dalam pelukan sang ibu.


"Ingat lah Nia, ini semua salah ibu mu" ucap Ayahnya kala itu sambil melepaskan pelukan Rania dari kakinya. 'Ternyata benar selama ini ada wanita lain di sisi ayah', batinnya.

__ADS_1


"Keadaan itu membuat ibu mu drop, sehingga kanker yang sudah pergi tiba tiba datang kembali bahkan kali ini lebih ganas. Ia pun bingung harus mengadu kepada siapa lagi, ia hanya bisa bercerita kepada bibi karena ia adalah anak tunggal. Namun karena keadaan ekonomi bibi kala itu juga tidak baik dengan tiga anak yang harus di tanggung, maka ibu mu tidak ingin merepotkan bibi untuk mengurus mu. Akhirnya dengan berat hati Ibu menitipkan kau di panti asuhan kasih bunda agar ia bisa memulai perawatannya dan bangkit kembali bersama mu. Ia yakin bahwa kau akan di rawat dengan baik di sana karena Ibu mu telah melihat bagaimana Ibu Wati mengelola panti itu dengan baik. Ibu mu pernah mengunjungi mu setelah kemoterapi pertamanya. Ia bisa melihat bahwa kau baik baik saja di sana bersama Ibu Wati, itu lah sebabnya Bibi bisa mengenali ibu asuhmu saat bertemu" Ibu Atma pun meminum tehnya untuk membasahi tenggorokannya yang sedikit kering.


'Kapan Ibu datang? Mengapa ia tidak menemui ku untuk menjelaskan semuanya?' gumam Rania dalam hati dengan sedih.


"Akan tetapi ketika kami ingin mengunjungi mu lagi, panti asuhan mu sudah tidak ada lagi dan telah ada tanda kepemilikan yang baru. Bibi berusaha mencari informasi di sekitar panti, tapi tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti karena beberapa orang mengatakan bahwa kalian di pindah kan ke panti asuhan lain atau di bawa ke dinas sosial. Bibi pun berusaha mencari keberadaan mu dengan mencari di semua panti asuhan yang ada baik terdaftar maupun tidak, bahkan bibi pun mendatangi dinas sosial untuk mencari mu. Tapi semua usaha itu nihil karena kami tak bisa menemukan mu. Bibi berusaha menyimpan ini dari Ibu mu agar ia tidak merasa khawatir dan terus semangat dalam menjalani pengobatannya, akan tetapi pada akhirnya Bibi pun tak bisa lagi menutupi keadaan yang sesungguhnya kepada Ibu mu. Akhirnya apa yang Bibi takutkan terjadi, Ibu mu langsung drop karena kehilangan harapannya, dengan menurunnya kondisi Ibu mu maka itu juga mempengaruhi proses pengobatannya apalagi Ibu mu telah kehilangan mu yang merupakan harapan hidupnya. Bibi sungguh menyesal tidak memaksa Ibu mu untuk menitipkan mu pada Bibi" ucap Ibu Atma yang merasa menyesal karena tidak bisa menjaga Rania.


"Tidak apa apa Bi, saya yakin Ibu pasti mengerti kondisi Bibi saat itu" ucap Rania berusaha agar sahabat Ibunya tidak menyesal atas semua keputusan yang di ambil oleh Ibunya saat itu.


"Terima kasih Nia atas pengertian mu, kamu memang anak yang berhati baik dan lembut seperti Ibu mu" balasnya sambil menggenggam tangan Rania. "Pada akhirnya Ibu mu pun kalah dalam perjuangan melawan penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya hingga ke dalam tulangnya" lanjutnya sambil meneteskan air mata.


Rania pun yang mendengar cerita itu hanya bisa menangis tersedu sedu dalam pelukan Ibu asuh yang telah merawatnya dengan baik selama ini.


"Ma...ma...maksud Bibi sekarang ayah ku di penjara?!" seru Rania kembali terkejut akan kenyataan yang harus di hadapinya dengan tiba tiba.


"Bibi tidak tahu pasti karena Bibi tidak mengikuti perkembangan kasusnya, terakhir kali Bibi melihat bahwa kasus itu telah masuk persidangan" Ibu Atma mengatakan apa yang di ketahuinya.


Mendengar itu Rania hanya bisa menangis dalam pelukan Sang Ibu asuhnya, sementara Ibu Wati berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut punggung Rania.


"Sebelum meninggal Ibu mu menitipkan ini kepada Bibi untuk di serahkan langsung apabila bertemu dengan mu" ucap Ibu Atma sambil mengeluarkan sepucuk surat dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Rania. "Bibi selama ini menyimpan surat itu dan selalu membawanya kemana pun Bibi pergi karena Bibi yakin akan bertemu denganmu suatu saat nanti" ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Rania pun memeluk surat itu dalam dekapannya seolah sedang memeluk ibunya. "Jadi Bibi, sekarang Ibu berada di mana? Bisa kah Aku mengunjunginya?" tanyanya yang sudah memendam rindu teramat dalam.


"Bagaimana jika besok saja kita lanjutkan pembicaraan ini, sebaiknya kita semua beristirahat karena hari sudah larut. Kau juga pasti lelah Nia setelah perjalanan jauh yang kau tempuh" ucap Ibu Wati mencoba menyudahi pembicaraan yang membuat semua orang bersedih.


"Benar Nia apa yang di katakan Ibu asuh mu, sebaiknya kita beristirahat untuk memulihkan tenaga. Besok Bibi pasti akan antar kan kau ke tempat Ibu mu" ucap Ibu Atma menyetujuinya karena melihat Rania yang sudah seperti akan ambruk.


Rania pun akhirnya hanya pasrah dan masuk ke dalam kamarnya dengan di tuntun oleh Ibu Wati. Sementara Ibu Atma membereskan sisa cangkir di atas meja sebelum ikut beristirahat di dalam.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2