Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 63


__ADS_3

"Apakah benar bahwa Om Edwin Sanjaya itu adalah ayah kandung mu Rania?" tanya Figo memastikan kebenarannya kepada Rania.


Rania yang masih terkejut pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. "Lalu Tuan sendiri bagaimana ceritanya bisa mengenal Ayah saya?" tanyanya balik kepada Figo.


"Kebetulan Om Edwin itu adalah teman almarhum ayah saya. Mereka berdua dulu adalah rekan bisnis bersama" jawab Figo menjelaskan apa hubungannya dengan ayah Rania.


"Maaf jika saya membuat anda teringat kembali kepada ayah anda yang sudah tiada Tuan. Tapi jika saya boleh tahu, sudah berapa lama ayah saya sakit seperti ini Tuan?" tanya Rania kepada Figo.


"Sebelumnya ayah mu telah memiliki gejala penyakit gula, tapi ia tidak terlalu perduli karena sibuk bekerja. Akan tetapi semenjak persidangan ayah mu sudah di pastikan mengalami penyakit gula berdasarkan pemeriksaan kesehatan selama proses penyelidikan, mungkin karena asupan makanannya yang tidak terkontrol selama ini. Bahkan kondisinya semakin buruk ketika di dalam tahanan, meskipun ada dokter yang selalu rutin memeriksa dan memberinya obat. Ia harus rajin untuk minum obatnya agar gula darahnya stabil, belum lagi di tambah stress yang membuatnya semakin kurus. Ia selalu memikirkan mu tapi ia juga selalu melarang ku untuk mencari mu" jelas Figo sedih.


"Kenapa Ayah tidak mau mencari saya Tuan?" tanya Rania dengan mata yang mulai berembun saat mendengar cerita mengenai sang ayah.


"Ia tidak ingin kau malu dan terkena dampak karena ia adalah seorang narapidana. Ia tidak ingin kau di cap sebagai anak seorang pembunuh dan alasan yang paling berat baginya adalah karena ia pernah meninggalkan mu sehingga kau sangat bersedih dan juga terluka" jelas Figo sambil tertunduk tidak berani menatap Rania.


"Ayah" isak Rania sedih sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ya Alloh kenapa bisa ayah berfikiran seperti itu, padahal aku putri satu satunya tidak mungkin akan meninggalkannya seorang diri dalam kondisi apa pun. Seberat apa pun masalah mu ayah, seharusnya kau berbagi dengan ku bukan menanggungnya seorang diri hingga menderita sakit seperti ini, batinnya.


Di saat mereka sedang bersedih dan gelisah menunggu hasil pemeriksaan, tiba tiba terdengar suara seorang pria yang terlihat gusar.


"Sedang apa kalian berdua di sini?!" seru Vero penuh penekanan.


"Kakak!" seru Rania terkejut.


"Tuan Vero?!" seru Figo yang juga terkejut.


"Kau sudah pernah ku peringatkan untuk tidak mendekati Rania sedikit pun! Apa kau sudah lupa hah?!" seru Vero lagi sambil menarik kerah baju Figo hingga ia tertarik berdiri dari kursi.


"Kakak ini semua tidak seperti yang kau fikirkan" ucap Rania sedikit terisak sambil berusaha menarik tangan Vero dari kerah baju Figo.


"Lihat! Kau bahkan sudah berani membuatnya menangis seperti itu?!" seru Vero tanpa melihat sedikit pun ke arah Rania. Bahkan tangan Vero sudah mulai naik ingin memukul wajah sang lawan.


"Cukup Kak! Hentikan!" teriak Rania.

__ADS_1


Di saat keadaan semakin tegang, tiba tiba dokter keluar bersama kepala sipir.


"Eheeemmm..." ucap kepala sipir mengalihkan perhatian mereka semua.


Saat melihat dokter keluar, Rania langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Rania seketika.


Ayah?!, batin Vero terkejut.


Figo pun langsung menghempaskan tangan Vero dari kerah bajunya saat melihat Vero yang terdiam bagai patung. Lalu Figo pun berjalan menuju ke arah Rania yang telah bersama dokter. Vero yang tersadar pun langsung mendekat dan merangkul Rania, tidak memberikan celah sedikit pun kepada rivalnya.


"Saya harap Nona tenang dulu, kita dengar penjelasan dokter mengenai kondisi pasien" ucap kepala sipir kepada mereka semua.


"Kondisi pasien saat ini sudah stabil, kadar gula darahnya pun sudah kembali menurun. Akan tetapi akibat penyakit gula darahnya maka terjadi gangguan ginjal pada pasien dan harus di lakukan proses hemodialisis dua kali seminggu untuk mengoptimalkan kinerja ginjalnya" jelas dokter yang menangani sang ayah.


"Ayah.....!" ucap Rania terisak, hampir saja terduduk di lantai andai saja Vero tidak sedang merangkulnya.


Sementara Figo hanya bisa memijat pangkal hidungnya saat mendengar kondisi sahabat ayahnya tersebut.


"Sudah seharusnya pasien di rawat di sini sehingga bisa melakukan hemodialisis secepatnya" jelas dokter lagi.


"Baik lah dokter jika harus seperti itu, maka saya harus menghubungi pihak terkait untuk melakukan penjagaan di kamar tersangka" ucap kepala sipir pun permisi untuk mengatur jadwal penjagaan di rumah sakit.


"Dokter apakah saya bisa menemui ayah saya?" tanya Rania lagi.


"Sebaiknya anda menjeguknya setelah di pindah ke kamar perawatan, karena sekarang pasien butuh banyak istirahat dan sedang tertidur akibat pengaruh obat" jawab sang dokter.


Rania pun hanya bisa tertunduk lesu saat mendengar penjelasan sang dokter. Vero pun hanya bisa mengelus lengan sang kekasih untuk menenangkannya.


"Baik dok, saya akan segera mengurus administrasi pasien terlebih dahulu" ucap Figo.


"Baik lah, jika begitu saya permisi" ucap dokter sambil berlalu pergi.

__ADS_1


"Aku pergi ke meja administrasi dulu, nanti aku kabari nomor kamar ayah mu" ucap Figo kepada Rania. "Tolong jaga dia" ucapnya kepada Vero.


"Tak perlu kau katakan juga, sudah pasti aku akan menjaganya dengan baik" ucap Vero kesal.


Terutama menjaganya dari mu wahai laki laki penggoda, batin Vero.


Figo pun segera pergi mengurus administrasi agar sahabat ayahnya bisa mendapat perawatan terbaik. Tidak lupa ia juga menghubungi pengacara untuk mengurus masalah hukum yang terjadi, mungkin nantinya tersangka bisa di jadikan tahanan rumah jika mengingat kondisinya.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Sementara itu di kamar perawatan VIP, tampak seorang ibu sedang memeluk sang putri dengan erat sambil terisak.


"Mami... aku tidak bisa bernafas" ucap Putri manja.


"Maaf kan Mami Put, Mami terlalu bahagia" ucap ibunya sambil mengendurkan pelukannya dan membelai puncak kepala Putri.


Putri pun hanya tersenyum dan memeluk Mami nya dengan manja. Putri pun lalu menengok ke kiri dan ke kanannya seolah sedang mencari seseorang.


"Kau sedang mencari siapa Putri?" tanya Mami ikut celingukan juga.


"Apa hanya Mami seorang di sini? Tidak ada yang lainnya lagi?" tanya Putri heran.


"Opa sedang tidak enak badan sehingga harus beristirahat di apartemen di temani Oma. Sedangkan kakak mu sedang mencari Rania sahabat mu" jelas ibunya.


"Memang Rania menghilang ke mana?" tanya Putri bingung.


"Entah lah, Mami juga tidak terlalu faham bagaimana jalan ceritanya hingga mereka bisa terpisah, padahal mereka berangkat bersama sama" ucap Mami lagi.


"Tapi Mami kenapa kaki ku tidak bisa di gerakkan?" tanya Putri saat hendak mencoba menggerakkan kedua kakinya.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Happy Monday.....😉 Selamat Membaca semuanya...😊😊😊

__ADS_1


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


__ADS_2