Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 26


__ADS_3

Mereka pun akhirnya tiba di area pembangunan Mall STAR Grup yang baru. Mereka pun berjalan jalan di sekitar sambil menunggu para direksi dan investor yang ingin berkunjung untuk melihat perkembangan pembangunan Mall tersebut. Tak berselang lama para direksi dan investor pun mulai berdatangan sehingga mereka pun bisa langsung berkeliling untuk meninjau perkembangan pembangunan yang sudah berjalan lebih dari lima puluh persen tersebut.


Setelah puas berkeliling dan melihat hasil pembangunan yang berjalan dengan pesat, mereka pun lalu makan siang bersama di sebuah resto di dekat tepi pantai yang telah di pesan sebelumnya oleh Rania sebagai sekretaris CEO yang membantu menghandle semua pekerjaan Vero bersama Sang asisten Jeff yang tidak hadir hari ini.


Kemudian tidak hanya makan siang, mereka pun bisa bersantai menikmati berbagai wahana dan hiburan yang banyak tersedia di sekitar pantai. Bahkan mereka pun telah menyewa aula besar untuk bisa sekedar bernyanyi menghilangkan beban kerja yang ada. Dan tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat hingga senja hampir menjelang mereka semua pun berpamitan untuk kembali ke kesibukan mereka masing masing.


Tersisa hanya Vero dan Rania yang sedang bersantai sambil menikmati senja di pantai.


"Haaah... lelahnya hari ini" ucap Rania yang menghela nafas sambil bersandar di kursi tepi pantai yang memang di sediakan oleh pihak pengelola untuk para pengunjung bersantai sekedar menikmati senja di penghujung hari.


"Tapi semuanya sudah selesai dan sukses besar bukan?" balas Vero untuk kembali menyemangati sekretarisnya yang terlihat lelah.


"Iya aku cukup senang bahwa semua hal yang sudah aku dan asisten Jeff persiapkan berhasil memuaskan para direksi dan investor" balas Rania sambil tersenyum dan memejamkan mata.


"Aku cukup bangga memiliki kalian berdua yang selalu kompak dan banyak membantu ku dalam berbagai hal" ucap Vero memujinya dan tersenyum sambil memandang wajah Rania yang semakin cantik di bawah langit senja.


"Bisa kah kita tinggal sebentar untuk melihat senja ini Tuan?" tanya Rania sambil menatap Vero dengan penuh harap.


"Tentu saja, bukan kah kita juga bisa sekalian makan malam sebelum pulang" balas Vero sambil tersenyum.

__ADS_1


Rania pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap senja di ujung cakrawala. "Mengapa begitu mempesona senyuman manisnya itu. Wahai hati berhentilah berdebar seperti ini, ia terlalu jauh untuk kau jangkau. Itu hanya lah bentuk pujiannya kepada karyawan yang telah bekerja keras" gumam Rania dalam hati ketika melihat senyuman manis Vero tersebut.


"Kau ingin makan malam apa?" tanya Vero tiba tiba di tengah kesunyian yang menghinggapi mereka.


"Bagaimana jika kita makan di area luar saja Tuan? Bukan kah indah sambil menatap bintang bintang di langit" jawab Rania memberikan usul.


"Baiklah sepertinya cukup bagus. Aku pun sudah penat jika harus makan di area tertutup" balas Vero menyetujui usul Rania tersebut.


Akhirnya mereka pun memesan berbagai makan seafood yang tersedia di resto terkecuali kerang karena bisa merepotkan nanti pada akhirnya dan mulai makan malam di area luar resto yang tampak indah karena di hiasi kerlap kerlip lampu yang dipasang di berbagai pohon dan sudut di tepi pantai tersebut. Mungkin banyak orang yang mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang menikmati makan malam romantis di pantai, karena mereka tampak begitu serasi bila bersama.


Ketika telah selesai makan malam, Vero pun pergi sebentar meninggalkan Rania yang masih menatap pantai yang indah karena di terangi oleh cahaya bulan.


"Ini untuk mu" ucap Vero sambil menyerahkan kotak kembang api kepada Rania yang hanya menatapnya bingung dengan pemberian tersebut.


"Bolehkah saya melakukannya Tuan?" tanya Rania seolah tak percaya melihat Sang Boss begitu memperhatikannya.


"Tentu saja. Lakukan lah sebelum kita pulang, agar kau tak memimpikannya saat tiba di ibu kota" jawab Vero "Bukan kah terlalu jauh jika kita harus kembali lagi hanya untuk menemani kau bermain kembang api" lanjutnya sambil tersenyum mengejek Rania.


Rania pun langsung mengambil kotak kembang api tersebut dari tangan Vero dengan kesal. Ia pun lalu menyalakan dua kembang api sekaligus dan mulai membawanya berlari di pinggir pantai. Ia pun tertawa senang menikmati sensasi angin malam yang berhembus menyentuh pipi mulusnya. Vero hanya tersenyum melihat tingkah laku Rania yang begitu gembira seperti anak kecil.

__ADS_1


Ketika Rania mengambil kembang api lagi, ia pun menarik tangan Vero untuk ikut bermain bersamanya. Vero yang mulanya tidak berminat akhirnya pun ikut bermain setelah di tarik tarik tanpa henti oleh Rania. tanpa pemberitahuan rintik hujan mulai turun perlahan membasahi bumi. Rania pun yang merasakan rinai hujan tersebut bukan berlari untuk berteduh akan tetapi tetap berlarian di pinggir pantai sambil tertawa. Ia pun merentangkan tangannya menggapai titik hujan dengan mendongakkan kepalanya menatap langit merasakan hujan yang terasa hangat.


Tiba tiba langit malam yang sudah kelabu berubah menjadi lebih gelap dan petir serta guntur yang menggelegar pun saling bersahutan. Hujan rintik tersebut telah mulai berubah menjadi sebuah badai dengan angin yang berhembus kencang. Vero pun langsung terdiam dan segera menutup telinganya begitu mendengar suara guntur yang tidak berhenti. Ia pun mencoba memejamkan matanya menahan tangis, berusaha untuk menghilangkan trauma nya akan badai yang telah mengubah hidupnya. Badai telah membuatnya kehilangan masa remajanya, cinta pertamanya bahkan kehangatan keluarga yang telah di renggut tiba tiba dari sisinya.


Di tengah derasnya hujan itu, Vero pun merasakan bahwa ada yang menyelimuti bahunya dengan sebuah coat dan tangan tersebut pun melingkar di bahunya seakan ingin ia berbagi segala gundah yang di rasakan nya kini. Ia pun merasakan ada detak jantung lain yang berdetak seirama dengan detak jantungnya di arah belakang punggungnya. Ini adalah momen pertama baginya bahwa ada seseorang yang berusaha menenangkan dan memahami dirinya yang selalu sendiri, hal ini pun membuat hatinya menghangat.


Awalnya Rania ragu untuk menyelimuti Vero dengan coat yang di pakainya, akan tetapi keraguannya sirna ketika melihat Sang CEO terlihat gemetar ketakutan saat badai mulai datang. Untuk pertama kalinya ia melihat air mata dari Boss yang selama ini selalu terlihat dingin dan arogan. Walaupun air mata itu bercampur dengan air hujan, tapi ia yakin bahwa ada sebuah trauma yang merupakan kelemahan yang selama ini Vero pendam seorang diri. Rania pun akhirnya memeluk Vero dari belakang sekadar mencoba untuk menenangkannya walaupun hatinya pun ikut berdesir merasakan kedekatan mereka.


Untuk beberapa saat mereka pun terdiam di bawah hujan sambil berpelukan dan mencoba mencerna perasaan mereka masing masing di dalam hati.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


...Happy Weekend..... 😉 Selamat Tahun baru untuk semua pembaca setia Novel pertama ku ini. Semoga tahun ini lebih baik lagi dan semoga pandemi ini segera berlalu... Amin Ya Robal Alamin 😇🙏...


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel ini dengan memberikan Vote dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Terima Kasih 🙏

__ADS_1


Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya... ♡Thanks!...


__ADS_2