
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar di sebuah gedung tempat tinggal para karyawan. Terlihat seorang gadis sedang melamun di depan jendela sambil memegang segelas coklat hangat untuk menemani malam dinginnya. Rintik hujan yang terlihat di luar membuat hatinya mengingat kembali memori indah nan pilu yang masih tersimpan rapi dan selalu ada di dalam relung hati nya yang terdalam.
Perlahan Dia menuju meja yang ada dikamar tersebut, mulai memainkan sebuah lagu yang seperti menggambarkan keadaan diri nya saat ini.
Ku sangka tak pernah terjadi
Perihnya hati yang tertusuk
Pada diriku yang
Mencintai dirimu selalu
Menyayangimu sepenuh hati
Dan kini kau pergi
Sendiri menatap bintang di langit
Tak ada teman yang menemani
Dan kau pun tak pernah peduli
Sendiri dalam gerimis dan hujan
Telanjang menggigil menantimu
Berharap kau pun menemani
Seperti dulu lagi
Meskipun kini kau t'lah pergi
Meninggalkan ku sendiri
Tapi masih kuharap
Masih ada yang sudi menemani
Diriku yang tak terkendali
Menanti dirimu
__ADS_1
Sendiri menatap bintang di langit
Tak ada teman yang menemani
Dan kau pun tak pernah peduli
Sendiri dalam gerimis dan hujan
Telanjang menggigil menantimu
Berharap kau pun menemani
Seperti dulu lagi
Seperti dulu lagi dulu lagi
(Lirik by Tere - Sendiri)
Dia begitu menghayati lagu tersebut sambil memainkan pemutar musik berbentuk bianglala tersebut, hingga tanpa terasa air mata itu pun meleleh dengan sendirinya melewati pipi ny yang mulus. Ia kemudian menelungkupkan wajah nya ke atas dua tangan nya di meja. Dan tanpa terasa ia pun tertidur dengan posisi tetap seperti itu.
Saat Fajar hampir menjelang, gadis itu terbangun karena merasa kebas pada tangannya yang di jadikan tumpuan saat tertidur di atas meja. Dia pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk melakukan aktivitas yang tidak dapat di tahannya lagi.
"Astaga kenapa mata ku jadi sembab seperti ini!" seru nya kaget saat menatap cermin yang memperlihat wajah nya akibat tertidur sambil menangis.
Setelahnya ia pun kembali bergelung dalam selimut untuk menghangat kan badan dan melanjutkan tidur nya yang sempat sedikit terganggu.
...****************...
Pagi hari awal minggu di sambut dengan cerah nya sinar mentari. Ramai nya lalu lalang orang orang yang akan beraktivitas kembali setelah sejenak rehat dari rutinitas yang cukup melelahkan. Sama hal nya dengan Rania yang melangkah kan kaki dengan riang dan senyum manisnya yang tak kalah bersinar dengan sang mentari pagi.
"Selamat pagi semua!" seru Rania dengan riang
"Selamat pagi juga" balas rekan rekan nya tersenyum melihat semangat gadis muda tersebut.
"Semenjak ada Rania suasana di sini lebih ceria ya walau pun tetap penuh kesibukan. hahahaha" sahut salah satu rekan nya sambil tertawa.
"Ah bisa saja bapak ini. Baik lah mari kita hadapi kesibukan hari ini" ucap Rania penuh semangat.
Setelah beberapa saat mengerjakan file di komputer, kepala tim menghampiri nya dan meminta untuk membuat salinan beberapa berkas di ruang foto copy.
"Baik Pak akan saya kerjakan" ucap Rania langsung beranjak untuk melaksanakan tugas tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih y Rania" balas kepala tim dan kembali ke meja nya untuk melanjutkan mengerjakan file file yang masih menumpuk. Rania pun melangkah kan kaki nya menuju ruang foto copy yang ada di ujung lorong.
Setelah selesai melakukan tugas nya, Ia pun kembali dan menyerah kan hasil salinan dokumen tersebut ke kepala tim.
"Terima kasih Rania. Oh ya bisa sekalian tolong antar ini ke ruang atas?" tanya kepala tim
"Maksud Bapak ruangan CEO!?" tanya Rania kaget
"Iya. Kamu serahkan saja dokumen ini ke asisten Jeff atau letak kan di meja jika tidak ada orang, jadi kamu tidak perlu ketemu CEO jika kamu takut bertemu dengannya" jelas Kepala tim lagi.
"Baiklah Pak!" seru nya sambil tersenyum.
"Ok. Terima Kasih y Rania" balas kepala tim sambil menepuk bahu Rania.
Rania pun bergegas naik ke lift untuk pergi ke Lantai 20 di mana ruangan CEO maupun asisten nya berada. Setelah pintu lift terbuka, Rania mengetuk pintu ruangan pertama di lantai itu yang merupakan ruangan asisten Jeff, karena tidak ada sahutan maka ia membuka pintu dan melongok kan kepalanya. Akan tetapi ternyata ruangan itu kosong.
"Mungkin asisten Jeff ada di ruangan CEO" guman nya dalam hati.
Rania pun bergegas pergi ke ruangan lain yang merupakan ruangan sang penguasa di gedung ini.
Tok... Tok... Tok...
Rania mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk, akan tetapi tetap tidak ada sahutan dari dalam. Dengan memberanikan diri ia mencoba mengintip melalui celah pintu, tetapi ruangan itu juga kosong.
"Permisi Tuan!" seru Rania saat memasuki ruangan sang CEO. Dia menengok ke sana ke mari untuk memastikan bahwa benar benar tidak ada orang di dalam ruangan tersebut.
"Ah... mungkin mereka sedang keluar. sebaik nya aku letakkan saja dokumen ini di meja sebelum sang CEO dingin itu kembali dan aku bertemu dengan nya" gumam Rania sambil meletakkan dokumen tersebut dengan hati hati di meja sang CEO.
"Hei! Apa yang kau lakukan di ruangan ku! " tiba tiba terdengar sebuah suara bariton di belakangnya. Rania yang terkejut langsung membalik kan badannya dan tanpa sengaja menjatuh kan tempat pensil yang berada di pinggir meja tersebut.
Bruuuk...sraaak....
semua alat tulis berhamburan di lantai
"Kaaauuuu....!" seru sang CEO sambil menatap nya dengan tatapan tajam dan dingin
Selamat Membaca semuanya...😊😊😊
Jangan Lupa tambahkan ke Favorit y.... 🤩
Mohon beri dukungan Vote dan Likenya ya semua...😊 Terima Kasih 🙏
__ADS_1
Love Love Love buat kalian semua 🥰🥰🥰