Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 52


__ADS_3

"Jadi kita mau makan siang di mana hari ini Tuan?" tanya Rania saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Haaah....." Vero pun menjawab dengan menghela nafas.


"Tuan?!" tanya Rania lagi dengan hati hati.


"Hmmm....." lagi lagi Vero hanya menjawab dengan aneh.


Hari ini ia kenapa?, batin Rania.


Apa ada masalah saat ia keluar tadi?, masih bertanya dalam hati.


Kenapa ia tidak peka sich?!, batin Vero kesal.


Aku akan bersikap dingin sampai ia menyadari kesalahannya, tekadnya dalam hati.


"Apa Tuan sedang ada masalah saat di luar tadi?" tanya Rania yang tidak bisa melihat Vero yang dingin seperti ini.


"Masalahnya itu adalah KAU!" jawab Vero penuh penekanan.


"Kenapa jadi saya Tuan?!" ucap Rania bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kan tadi tidak ikut bersamanya saat keluar" gumamnya dengan pelan.


"Karena kau tidak menuruti ku! Sudah ku bilang jangan panggil aku seperti itu jika hanya berdua!" seru Vero kesal. "Memang kau masih melihat ada yang lain selain aku" gumamnya juga dengan pelan.


Rania pun tersenyum kecil ketika mengetahui bahwa pria di sampingnya kesal dengan panggilan tersebut. "Lalu saya harus memanggil apa Tuan?!" ucap Rania bermaksud menggoda Vero.


"Apa saja selain panggilan itu" jawab Vero yang mulai merasa sedikit berbunga menunggu panggilan apa yang akan di berikan oleh kekasihnya ini.


"Baik lah Boss!" ucap Rania sambil menahan tawanya.


"Itu sama saja" jawab Vero sambil cemberut.


"Hahahahaha... Baik lah, jangan cemberut gitu donk kakak ku sayang" ucap Rania sambil mengelus pundak Vero seakan sedang membujuknya.

__ADS_1


"Aku juga tidak suka itu! Panggilan itu sudah di gunakan oleh Putri sebagai adik ku. Kau itu kan kekasih ku, bukan adik ku!" jawab Vero tidak suka.


"Emmm..." Rania pun berfikir sambil memegang dagunya.


"Bagaimana jika Ay saja? singkatan dari Ayang atau Sayang?" tanya Rania sambil menutup wajahnya yang tersipu malu.


"Boleh juga, aku suka panggilan itu" jawab Vero sambil tersenyum. "Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu" lanjutnya sambil memegang tangan Rania.


"Baik lah tapi jika hanya berdua saja ya Tuan" ucap Rania tersipu malu.


"Masih saja kau memanggil ku dengan Tuan" ucap Vero lagi lagi sambil menghela nafasnya.


Tawa renyah Nia pun terdengar di dalam mobil, "Maaf mungkin saya telah terbiasa dengan panggilan itu" ucapnya di sela tawanya.


Vero pun akhirnya ikut tertawa bersama.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Akhirnya tiba lah mereka di sebuah resto yang mengusung konsep alam terbuka. Begitu masuk ke dalam halaman resto banyak terdapat bean bag yang ada di bawah rindangnya pepohonan. Di sana juga terdapat gazebo gazebo kecil jika ingin makan bersama keluarga. Walaupun begitu tetap ada ruang untuk makan di dalam resto dengan pendingin udara, bagi pengunjung yang tak ingin makan di luar. Di area dalam juga terdapat playground untuk pengunjung yang membawa serta anak anak.


"Nia mulai hari ini aku akan selalu menjaga mu" ucap Vero tiba tiba sambil menggenggam tangan Rania. "Jadi jika ada yang menyakiti mu, katakan lah pada ku. Akan aku balas berkali kali lipat dari penderitaan mu" lanjutnya lagi.


Apa yang kakak bicarakan? Kenapa tiba tiba berkata seperti itu? Apa ia mengetahui sesuatu?, batin Rania.


"Baik lah, anda tak perlu khawatir kan itu" jawabnya sambil menepuk nepuk tangan Vero yang berada di atas tangannya.


"Berhenti lah bicara formal pada ku!" ucap Vero frustasi sambil mengacak rambutnya.


"Hehehe... sungguh susah untuk menghilang kan semua kebiasaan itu" ucap Rania sambil tersenyum.


"Maka dari itu berlatihan sekarang" jawab Vero sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ay tidak perlu memgkhawatirkan aku" ucap Rania dengan tersipu malu.

__ADS_1


Vero pun mendekat dan menyentuh pipi Rania yang merona merah saat mencoba mengatakan hal itu. "Kau tampak manis jika seperti ini" ucap Vero lembut sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rania.


Tiba tiba ia terjerembab ke belakang akibat dorongan dari seseorang.


"Maaf kakak jangan seperti itu, kita sedang berada di tempat umum" ucap Rania cepat saat menyadari apa yang akan di lakukan Vero.


"Jadi jika bukan tempat umum boleh ya" ucapnya menggoda Rania yang wajahnya makin bersemu merah. "Hahahahaha" terdengar suara tawa Vero yang telah berhasil membuat Rania salah tingkah.


"Sudah lah sebaiknya kita kembali saja ke kantor" ucap Rania kesal sambil berdiri.


"Jangan ngambek dunk Ay, nanti cantiknya ilang loh" ucap Vero di sela tawanya.


Rania tak bergeming dan tetap berjalan.


"Baik lah kita kembali ke kantor" ucap Vero sambil menggenggam tangan Rania dan berjalan bersama menuju mobil mereka terparkir.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Saat malam hari ketika sudah berada di kamarnya, Rania pun mengeluarkan semua surat kabar yang ia bawa dari kantor tadi. Ia kemudian mulai menggunting semua berita mengenai kejadian yang berhubungan dengan ayahnya. Baik itu berita mengenai kecelakaan atau pun saat sidang pengadilan. Ia membuatnya menjadi satu kliping dalam sebuah map file agar mudah untuk mencari semua info yang di butuhkan nya.


Di dalam berita tersebut di katakan bahwa kejadian kecelakaan itu terjadi akibat supir yang kehilangan kendali di jalanan menurun yang licin akibat hujan. Di jelaskan pula bahwa cuaca saat itu cukup buruk dengan hujan deras yang di sertai petir dan kilat.


Sang pengemudi berinisial ES di tetapkan sebagai tersangka utama. Hal ini karena kelalaiannya menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya. Keluarga korban pun yang tidak ingin terekspos oleh media hanya menyebut kan inisial EW saja. Mereka yang saat itu sedang berduka pun hanya menyerahkan kasus ini kepada sang pengacara keluarga untuk mengurus semuanya.


"Waktu kejadian ini ayah sudah pergi meninggalkan kami bahkan aku pun sudah berada di panti asuhan" gumam Rania dengan sedih. "Aku ingat saat itu sedang menunggu kakak di taman hiburan" lanjutnya lagi mengenang hari itu.


Kemudian ia pun melanjutkan membaca sebuah berita yang di dalamnya di sebutkan bahwa selain satu keluarga korban dalam mobil yang di tabrak, ada pula seorang penumpang yang berada satu mobil bersama ayahnya. Mereka berdua saat itu sama sama tak sadarkan diri akibat benturan keras di kepala.


Lalu siapa yang berkendara bersama ayah? Kenapa tidak ada info mengenainya di mana pun?, tanya Rania dalam hati sambil membolak balik klipingnya. Bahkan ia pun mencari kembali di surat kabar, takut ada hal yang terlewat kan olehnya.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊

__ADS_1


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏


__ADS_2