Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris
Bab 55


__ADS_3

"Kau tenang lah, aku yakin Putri pasti bisa melewati ini semua. Dia orang yang kuat" ucap Vero menenangkan Rania yang masih menangis di dalam pelukannya.


"Tapi Aku takut Kak... masih jelas di mata ku bagaimana tubuh Ale yang terkena kap mobil. Harusnya aku Kak yang mengalami hal mengerikan itu bukan Ale" ucap Rania dengan tangis yang semakin menyayat hati bagi yang mendengarnya.


"Sssttt... Sudahlah semua ini bukan salah mu. Ini sudah menjadi takdir bagi kalian" ucap Vero terus berusaha menenangkan Rania yang sepertinya masih terguncang. Mereka pun terus menunggu di luar ruangan operasi selama berjam jam lamanya.


Mereka pun langsung berdiri ketika lampu tanda operasi berubah hijau dan dokter keluar ruang operasi. Ia pun membuka maskernya kemudian melihat mereka berdua yang menanti dengan penuh kecemasan.


"Bagaimana kondisi adik saya Dokter?" tanya Vero dengan cemas sambil tetap menggenggam tangan Rania untuk saling berbagi kekhawatiran mereka.


"Beruntung operasinya berjalan lancar, hanya saja karena ini bukan operasi pasien yang pertama maka kami tidak bisa memastikan kapan pasien bisa siuman. Sekarang pasien kami masukkan ke ruang perawatan ICU untuk terus di lakukan pemantauan. Saya harap keluarga banyak banyak berdoa untuk kesembuhan pasien. Jika begitu saya permisi" jelas sang dokter yang kemudian pergi berlalu.


Rania yang mendengar hal tersebut semakin terguncang dan merasa bersalah. Ia pun kemudian merasakan kepalanya berputar dan tubuhnya yang tak kuat menahan semua rasa itu pun akhirnya tumbang dan jatuh tak sadar kan diri. Beruntung Vero dengan sigap langsung menahan tubuhnya dan langsung menggendongnya menuju ruang perawatan.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Ketika Vero sedang menjaga Rania di kamar VIP rumah sakit, tiba tiba sang asisten pun mengetuk pintu. Kemudian Vero pun langsung berdiri dan keluar untuk menemuinya, setelah sebelumnya membetulkan selimut Rania. Mereka pun berbicara sambil duduk di kursi luar agar pembicaraan ini tidak di dengar oleh Rania.


"Jadi bagaimana hasil dari penyelidikan mu?" tanya Vero langsung.


"Saya harap Anda tidak terkejut dengan apa yang akan saya sampaikan, karena saya sendiri pun terkejut dan tak pernah menyangka dengan apa yang saya dapatkan" jawab Jeff agar Tuannya bersiap.


"Sudah lah langsung katakan saja, tidak usah berbelit belit" ucap Vero yang penasaran.


"Setelah melakukan penyelidikan bersama pihak kepolisian, ternyata nomor polisi kendaraan tersebut terdaftar atas nama Nona Olivia Tuan" ucap Jeff menjabarkan hasilnya.


"APA!" seru Vero yang terkejut. "Sungguh aku tidak menyangka ia berbuat senekat itu, padahal aku sudah memperingatkannya sebelumnya" lanjutnya lagi dengan geram. "Lanjutkan semua proses sesuai hukum, bahkan jika perlu buat ia agar di deportasi ke negara asalnya" perintah Vero kepada asistennya.

__ADS_1


"Baik Tuan" jawab Jeff.


Aku tak kan membiarkannya lolos karena telah menyakiti dan membuat kedua orang wanita yang sangat aku cintai terluka dan harus di rawat. Bahkan jika dia harus membusuk di penjara atau pun menghilang dari pandangan ku. Karena jika tidak mungkin aku yang akan menghabisinya dengan tangan ku sendiri, batin Vero.


"Apa ada lagi yang Anda butuhkan Tuan?" tanya Jeff lagi ketika melihat Vero terdiam.


"Bawa kan baju ganti untuk aku dan Rania, serta kebutuhan lain yang di perlukan" jawab Vero.


"Baik Tuan, akan saya persiapkan segera. Saya juga akan membawakan Anda makan malam Tuan" ucap Jeff.


"Tidak perlu, aku tidak lapar" ucap Vero malas sambil memijat pangkal hidungnya.


"Tapi Anda harus tetap menjaga kesehatan anda Tuan, bagaimana Anda bisa menjaga mereka berdua jika anda juga ikut di rawat?" balas Jeff memberi kekuatan kepada Tuannya.


"Baik lah, kau atur saja. Aku akan kembali ke dalam" ucap Vero kemudian berdiri. Jeff pun hanya menganggukan kepala dan segera pergi untuk mempersiapkan apa yang di minta oleh Bossnya.


...❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁...


Olivia yang baru saja tiba di apartemennya, langsung mengambil minum di lemari pendingin. Ia merasa lelah seolah olah sedang di kejar oleh seseorang.


Aku sudah menghilangkan semua bukti yang berada di mobil ku. Tidak mungkin mereka bisa menemukan sesuatu yang terkait dengan ku, batin Olivia dengan cemas. Olivia tak pernah menyadari bahwa banyak CCTV tersembunyi di sekitar area itu, otaknya seolah tak bisa di ajak berfikir karena hatinya sudah di penuhi dendam dan kebencian yang mengendalikan semuanya.


Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!


Suara bel pintu mengejutkan Olivia yang sedang memikirkan semua jalan keluar yang bisa ia lakukan. Ia pun kemudian hanya diam di tempatnya, berharap tamu yang tak di undang tersebut segera pergi. Akan tetapi harapannya sia sia karena bel pintu pun kembali berbunyi, bahkan di sertai ketukan.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Nona Olivia kami dari kepolisian! Kami tahu anda ada di dalam! Segera buka pintunya atau kami dobrak!" seru seorang petugas kepolisian melalui interkom yang ada di pintu luar.


"Bagaimana ini? Kenapa polisi bisa sampai terlibat bahkan mereka sudah bisa menemukan ku di apartemen?" gumam Olivia ketakutan.


"Nona segera buka pintunya! Kami punya surat perintah untuk menahan anda! Jika anda tidak ingin ada keributan, buka pintu ini sekarang!" seru petugas polisi lagi yang sudah mulai tak sabar.


Ceklek....


Pintu pun kemudian terbuka dan dari dalam keluar wanita dengan wajah yang datar tanpa ekspresi, walaupun sebenarnya dalam hatinya berdebar ketakutan.


"Maaf lama karena tadi saya lagi di kamar mandi" ucap Olivia membuat alasan "Sebenarnya ada masalah apa ya Pak? Kenapa malam malam begini bapak bapak berkunjung ke kediaman saya?" tanya Olivia seolah olah tak melakukan apa pun.


"Maaf Nona jika kami mengganggu istirahat malam anda, tapi kami mendapat laporan bahwa anda telah menabrak seseorang tadi siang. Dari hasil penyelidikan kami menunjukkan bahwa kendaraan anda melaju dengan kecepatan sangat tinggi, jadi saya harap anda ikut kami untuk di lakukan interogasi" jelas salah satu petugas tersebut.


"Tapi saya rasa anda salah Pak! Bukan saya yang melakukannya!" seru Olivia ketika polisi berusaha untuk memborgol tangannya.


"Silahkan Anda ikut kami dahulu Nona. Anda berhak di dampingi oleh pengacara. Semua yang ada ungkapkan bisa di jadikan bukti di pengadilan" ucap salah satu petugas membacakan hak Olivia sebelum memborgol dan membawanya ke kantor polisi.


"Aku tidak bersalah! Sekretaris sialan itu yang harus di hukum!" Olivia masih saja terus berteriak teriak tak terima jika harus di penjara. Tapi para petugas tersebut tak peduli dan tetap membawanya ke dalam mobil tahanan.


❣ ❣ ❀ ❀ ❣ ❣


Selamat Membaca semuanya...😊😊😊


...Jangan Lupa tambahkan ke Favorit ya.... 🤩...


Mohon dukungannya pada novel pertama ku ini dengan memberikan Vote, Rate, Komen, hadiah dan Likenya dari kalian pembaca semua...😊 Satu dukungan dari kalian akan sangat berarti dan menambah semangat author untuk terus update 😉 Terima Kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2