Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
10


__ADS_3

. "Apa yang kau pikirkan bodoh.? Hanya karena Aldian dan Syifa mengkhianatimu, kau sampai tak menganggap siapapun disekelilingmu. Bukankah ada aku, Reno, dan Alvian yang selalu disisimu? Mau sampai kapan kau akan seperti ini? Jika kau jatuh, kita jatuh bersama. Dan biarkan aku dan Reno membantumu saat kau jatuh sendirian. Aku temanmu, kita dari kecil bersama. Apa kau tidak menganggap keberadaanku?" Bagas menatap tajam pada Avril yang terlihat ketakutan saat menatap Bagas.


"Hentikan Bagas. Avril ketakutan melihatmu. Aku mengerti kau marah, tapi jangan membentaknya seperti itu. Bicaralah baik-baik." Reno beralih duduk di samping Avril.


Avril memalingkan kembali wajahnya.


"Maaf Avril." Bagas menunduk ditumpu oleh tangannya dimeja. "Aku hanya merindukan kebersamaan kita dulu." Lanjut Bagas mendongak.


"Avril... Maafkan aku juga. Aku tak bermaksud menutupi kenyataan bahwa Syifa adalah tunangan dari Aldian. Karena aku pikir kau sudah tahu selama ini." Reno mengusap pundak Avril. Avril menoleh dan tersenyum pada Reno.


"Tidak ada yang salah disini. Aku yang hanya ingin menyendiri saja." Ucap Avril beralih menoleh pada Bagas.


Bagas yang mendelik melihat senyuman Avril, namun Reno langsung memeluk Avril dengan senang.


"Aku merindukanmu." Bagas tercengang melihat Reno yang memeluk Avril.


"Apa-apaan kau Reno? Kenapa hanya kau saja yang memeluk Avril?"


"Kau ingin memeluknya? Tak boleh Bagas.... karena kau sudah memarahinya." Ejek Reno melirik Bagas penuh kemenangan.


"Avril..." panggil Bagas. Dan Avril menoleh padanya.


"Teruslah tersenyum seperti itu. Aku muak melihatmu tak berekspresi." Bagas mengalihkan pandangannya.


"Maaf." Avril menitikan air matanya namun tetap tersenyum.


. Diperusahaan D, Alvi tengah bergelut dengan berkas-berkas di meja nya.


"Sial."


"Setelah ini selesai, tuan bisa menemui nona Avril." Ucap Ray memasang senyuman.


"Ahhh sudah berapa lama aku tidak bertemu dengannya Ray? Sepertinya sudah 1 bulan kan?."


"2 hari yang lalu tuan. Belum terlalu lama." Wajah Ray berubah lebih senang ketika melihat sebuah nama di panggilan masuk pada ponsel tuannya.


Dengan cepat Alvi menjawab.


"Apa kau merindukanku?" Ucap Alvi tanpa menyapa terlebih dahulu.


"Jangan becanda Alvi. Aku tidak merindukanmu." Ucap Avril terdengar kesal.


"lalu? Kenapa kau menelponku?"


"Ak-aku..... emmmmm....." Avril terlihat ragu melirik kearah Bagas lalu pada Reno.


"Hemmm?" Alvi menyernyitkan dahinya.


"Maaf."


"Apa?" Alvi semakin heran. "Untuk apa?"


"Jika akhir-akhir ini aku acuh padamu." Avril memalingkan pandangannya.


Dengan tiba-tiba Alvi tertawa menanggapi Avril.


"Apanya yang lucu?" Avril menggembungkan pipinya.


"Kau. Kau sangat lucu Avril... padahal biasanya kau sangat acuh padaku. Entah apa yang salah padamu, kali ini kau meminta maaf padaku? Aha... hahah... hahaha...." ucap Alvi sambil tertawa.


"Tertawalah sepuasmu." Avril memutus panggilan lalu meletakan ponselnya di meja dengan kesal. Namun Bagas dan Reno tersenyum melihat sikap Avril yang seperti ini.


Ponsel Avril berdering, dengan sigap di geser layar ponsel dan di letakkan ditelinga.


"Avril... maafkan aku. Sungguh aku hanya becanda. Aku kegirangan saat tahu kau tidak lagi marah padaku. Aku mohon Avril jangan marah lagi. Emmmm bagaimana jika nanti malam kita dinner, yaa sebagai permintaan maaf ku dan sekalian kita berkencan." Ucap Alvi tanpa memberi kesempatan orang lain bicara.


"Hiiiiiiiiiiii aku menolak. Aku masih normal sialan." Ucap Bagas merinding. "Aku Bagas. Bukan Avril.... aku tidak mau kencan denganmu.. waaaaaa" Bagas sedikit berteriak. Melihat itu, Avril dan Reno bertatapan lalu tertawa bersama.


"Bisa-bisanya aku dan Bagas kesepian 2 minggu ini.


Avrilll... aku benar-benar bersyukur menjadi bagian hidupmu. Meskipun hanya sekedar teman." Gumam Reno menatap Avril.


. Malam hari, Avril sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.


Ponselnya beberapa kali berbunyi. Avril hanya meliriknya saja, dan tidak berniat menjawab. Entah kenapa, rasa kecewanya belum hilang pada Syifa.


Setelah jeda beberapa menit, ponsel Avril kembali berbunyi. Namun kali ini Avril menjawab panggilan telpon itu.


"Hallo. Aku sedang sibuk." Ucap Avril.


"Aku dibawah. Dan bawa laptopmu." Ucap Alvi dengan nada datar.


"Untuk apa? Ehhhh" Avril menggembungkan pipinya ketika mengetahui panggilan di akhiri.


Dengan malas, Avril membawa laptopnya kebawah.


Dan didapati Alvi yang duduk di sofa dengan ayah yang sedang fokus membaca sebuah buku.


"Dia benar-benar begitu dekat dengan ayah." Gumam Avril menuruni tangga.


Avril meletakan laptop dan ponselnya di meja kaca, lalu duduk di lantai. Alvi ikut duduk disamping Avril.


"Duduk di tempat yang beralas, disana dingin." Ucap Alvi merebut laptop Avril. Avril hanya menatap Alvi.


"Ayah.... dia mengambil laptop ku. Aku banyak tugas." Rengek Avril menunjuk Alvi. Ayah hanya mendongak menanggapi Avril lalu tersenyum. Avril menggembungkan pipinya kesal.


"Sikapmu sama seperti pada Aldian dulu" Ucap Galih tiba-tiba datang. Dan 'brughhhh' sebuah buku mendarat di wajah Galih.


"Apa yang kau lakukan bodoh?" Teriak Galih menatap tajam pada Avril.


"Jika kau menyebut nama itu didepanku, bukan hanya buku, tapi juga kau yang akan aku lempar." Geram Avril menunduk dan mengepalkan tangannya.


Alvi melirik ngeri gadis disampingnya.

__ADS_1


"Benar-benar menakutkan. Apa dia benar-benar perempuan?" Gumam Alvi.


"Aku dengar minggu ini ada pertemuan dengan perusahaan B." Tanya ayah melirik Galih yang duduk di belakang Avril.


Avril tersentak, Galih melirik heran pada Avril yang terlihat menahan kesal. Karena perusahaan B adalah perusahaan keluarga Aldian.


"Apa kau mau melempar ayah dengan buku?" Ejek Galih.


"Kenapa kakak bekerja sama dengan perusahaan itu?" Lirih Avril.


"Bagiku, jika itu menguntungkan kenapa tidak?" Jawab Galih santai.


"Tapi aku merasa keberatan." Ucap Avril dengan tegas.


"Itu masalahmu bukan masalahku."


"Kupikir kau mengerti perasaanku." Lirih Avril.


Ayah mendongak dan meletakkan bukunya. Menatap Avril yang menunduk.


"Nak... jika kau membawa masalah pribadimu kedalam bisnis, kau tak akan maju sedikitpun. Hilangkan egomu itu." Tegas ayah.


"Yaaa... lebih jelasnya, kau bisa bertanya pada Alvi." Galih menyandarkan kepalanya. Avril menoleh pada Alvi yang santai melirik Avril.


"Dia tipe orang yang membenci siapapun. Kecuali orang yang benar-benar menarik perhatiannya dan benar-benar bisa dipercaya. Tapi dia tidak pernah membawa perasaan pribadanya pada pekerjaan." Lanjut Galih melirik Alvi.


"Maaf!" Avril menunduk kembali.


. Alvi membantu Avril mengerjakan tugas-tugasnya.


Sesekali Alvi menjahili Avril yang terus fokus pada laptopnya. Tepat pukul 11 malam, melihat ayah yang sudah kembali ke kamarnya, kak Galih yang tertidur di sofa, dan Alvi yang masih terlihat segar mengutak-atik ponselnya.


"Kembalilah ke kamar." Ucap Alvi tanpa melirik pada Avril.


"Dan kau?" Tanya Avril menoleh setelah membereskan buku-buku dan laptopnya.


"Jika urusanku dengan Galih selesai, aku akan pulang." Jawabnya menoleh pada Avril.


Avril memalingkan wajahnya, terlihat kesal.


"Bukankah ini sudah malam. Terlalu berbahaya jika pulang terlalu larut."


Alvi hanya tersenyum mendengar apa yang Avril katakan.


"Baiklah aku akan menginap. Sesuai permintaan nyonya Revano." Ejek Alvi berbisik di telinga Avril.


Avril terkejut dan menjauh. Menatap kesal pada Alvi.


"Kupikir Alvi sengaja menemuiku." Gumam Avril.


Avril beranjak dari duduknya.


"Jika urusanmu pada kak Galih, kenapa kau malah sibuk membantuku?"


"Apa salah jika aku ingin membantumu? Waktu kita terbatas, aku tak bisa berlama-lama bersamamu jika tidak seperti ini." Avril memalingkan wajahnya.


"Apa sudah selesai adegan romantisnya?" Tanya Galih membuat Avril terkejut. Alvi tertawa melihat Avril.


"Kau lucu saat terkejut Avril." Avril berbalik lalu menendang kaki Galih dengan kesal.


Dan pergi setengah berlari menaiki anak tangga.


Avril berhenti di tengah tangga dan menatap anak tangga didepannya.


"Alvi...." panggil Avril tanpa menoleh.


"Hemmm?" Alvi menoleh pada Avril yang tengah berdiri ditangga.


"Terimakasih." Ucap Avril kembali melanjutkan langkahnya. Alvi tersenyum menanggapi ucapan Avril.


"Jangan berlari! Kakimu bisa sakit lagi." Ucap Alvi sedikit berteriak.


"Aku benci mengatakannya, tapi... terima kasih." Ucap Galih menatap pada arah kamar Avril.


"Ahaha bukan apa-apa. Itu sudah menjadi tugasku sebagai calon suaminya. Ya kan kakak ipar?" Ejek Alvi melirik pada Galih yang wajahnya tiba-tiba berubah menjadi kesal ketika meliriknya.


"Jika urusanmu dengan Amel belum selesai, maka jangan berharap bisa menjadi adik iparku." Ucap Galih melirik tajam pada Alvi.


"Ahaha baiklah baiklah." Alvi menyembunyikan kekesalannya dengan senyuman canda saat mendengar nama Amel.


Galih dan Alvi memasuki ruang kerja.


Disisi lain, Avril hanya berguling-guling di kasurnya. Tak bisa tidur, memikirkan apa yang sedang Alvi dan kakaknya bicarakan. Karena tidak biasanya mereka sengaja membicarakan bisnis seperti ini.


Avril menutup matanya, lalu melihat wajah Alvi didepannya. Avril terbangun menepuk-nepuk pipinya beberapa kali.


"Apa yang aku pikirkan?"


Avril menutupi tubuhnya dengan selimut. Menutup rapat-rapat wajahnya.


Dan perlahan terlelap dalam mimpinya.


. Pagi harinya, Avril terkejut mendapati Alvi yang sedang sibuk dengan dasinya. Menuruni tangga dengan langkah pelan, memperhatikan Alvi yang kesal sendiri.


Avril tertawa kecil melihat tingkah Alvi.


Avril meletakan barang-barangnya di meja, dan meraih dasi Alvi.


"Aku bisa sendiri Avril..." Alvi menatap Avril yang tak mendengarnya.


"Avril...." ucapnya sedikit kesal.


"Diam dan jangan bergerak." Ucap Avril yang fokus pada dasi Alvi yang berantakan.

__ADS_1


"Aku lihat, dasi mu sangat rapi setiap hari, ku kira kau yang melakukannya." Ejek Avril.


"Dina yang menyiapkannya." Lirih Alvi memalingkan pandangannya.


Avril menyernyitkan dahinya. "Dina?"


"Iya. Dia keponakan Bu Rumi. Pelayan dirumahku."


'Drtttt' Avril dengan kuat mendorong dasi sampai Alvi tercekik. Alvi terbatuk dan melonggarkan dasinya, mengusap lehernya pelan lalu menatap tajam pada Avril.


"Apa kau mau membunuhku?" Avril hanya mendelik memalingkan pandangannya.


"Alvi selama ini satu rumah dengan seorang perempuan? Bahkan selalu menyiapkan keperluannya. Entah kenapa itu membuatku kesal." Avril menghela nafas panjang.


"Uhuk.. ehemmm.... apa kau cemburu?" Alvi mendekatkan wajahnya pada Avril. Hanya beberapa cm antara wajah Alvi dan pipi Avril. Sorot mata Alvi selalu terasa hangat ketika berada di depannya. Avril hanya terdiam, melirik tajam kearah Alvi yang tersenyum mengejeknya.


"Apa kau dekat dengan Dina?" Tanya Avril menatap lurus pada objek didepannya.


"Dulu iya, tapi sekarang tidak." Jawab Alvi tanpa menjauh dari Avril. Avril menggembungkan pipinya yang membuat Alvi begitu gemas. 'Cup' Alvi mencium pipi Avril dan tersenyum melihat Avril yang terkejut dan mejauh darinya.


'Plak' wajahnya merah karena tamparan Avril.


"Apa yang kau lakukan berengsek?" Avril mendekatkan tangannya yang di kepal kuat ke depan wajah Alvi.


Alvi meraih tangan Avril dan masih tersenyum.


"Kau sangat menggemaskan. Jika kau tak suka aku seperti tadi, jangan sesekali bersikap menggemaskan didepanku. Mengerti?"


Avril memalingkan wajahnya. Pipinya memerah seperti tomat.


Namun tangannya tetap mengepal menahan kesal.


"Aku tidak akan berpaling darimu Avril..." ucap Alvi membuat Avril menoleh kembali.


"Ada apa? Kalian berisik sekali." Ucap Galih mengacak rambutnya.


"Ahaha tidak ada. Adikmu sedang merindukanku." Ucap Alvi melirik Avril.


Galih melirik Avril yang memalingkan wajahnya.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Galih pada Avril.


Avril menggeleng. Lalu berjalan menuju meja makan. Avril menoleh dan mendapati Alvi yang sedang memasang jam tangannya.


"Aku akan menyusul." Ucap Alvi menoleh lalu tersenyum pada Avril.


Alvi berjalan menuju meja makan bersama dengan Ayah.


Avril merasa heran pada Galih yang memakai pakaian kasual hari ini.


"Aku ada acara dengan Nadia." Ucap Galih menatap Avril.


"Kenapa Kak Nadia tidak lagi kerumah.?" Tanya Avril sebelum melahap makanannya.


"Kau merindukannya?" Avril mengangguk menanggapi pertanyaan Galih.


"Padahal kau sendiri tahu hari pernikahanku tinggal menghitung hari." Galih menepuk dahinya.


Avril terkejut dan menatap Ayah. Ayah hanya mengangguk. Avril merutuki dirinya, mengapa dia bisa lupa bahwa kakaknya akan menikah.


Avril menunduk menatap nanar makanan didepannya.


"Jangan bersedih. Aku tidak akan meninggalkanmu setelah menikah." Galih meyakinkan Avril.


"Bukan itu. Aku hanya tidak tahu harus dengan siapa aku ke acara pernikahanmu kak. Aku dan Aldian sudah putus, dan jika dengan Baren, bisa saja. Tapi mereka akan membawa pasangannya. Mungkin." Gumam Avril memutar sendok dan garpunya dipiring.


"Ada aku Avril.... kau tak perlu memikirkan dengan siapa kau akan berpasangan. Iya kan Ayah mertua?" Alvi menatap ayah penuh harap. Namun ayah hanya menggeleng dengan sikap keduanya.


. Selesai sarapan, Avril beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan meja makan.


"Ayah... hari ini ada acara di rumah teman. Aku akan pulang agak malam." Teriak Avril dari ruang keluarga.


Alvi menyusul Avril dan merebut kunci mobilnya.


"Aku yang mengantarmu, dan jangan menolak." Avril kembali menarik nafasnya.


"Baiklahh.... aku menurut." Avril memasuki mobil membuat Alvi tersenyum senang.


. Diperjalanan


"Apa acara temanmu?" Tanya Alvi dengan fokus menyetir.


"Lamaran." Jawab Avril terlihat sedang berfikir.


"Dan kau akan datang seorang diri tanpa pasangan?" Avril mengangguk.


"Jam berapa?"


"Apanya?" Avril menyernyitkan dahinya.


"Acaranya!" Alvi menoleh pada Avril.


"Jam 7." Alvi hanya mengangguk menanggapi Avril membuat Avril terheran.


Sampai di sebrang gerbang, Alvi menarik tangan Avril. Avril menatap Alvi yang semakin dekat padanya.


Rasanya ingin menghindar, namun Avril hanya menutup matanya. Tepat di dahinya Alvi melayangkan kecupan perpisahan.


"Aku hanya mencintaimu. Ingat itu"


Avril memalingkan kembali wajahnya yang memerah.


"Aku akan menjemputmu."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2