
. Alvi terdiam sesaat menatap wajah Baren bergantian.
"Kemanapun kau pergi, aku ingin ikut." Ucap Bagas.
"Kau becanda? Aku mau pergi ke kota S." Alvi mendelik.
"Ishh kau meninggalkan Avril sampai sejauh itu?" Bagas menggeleng konyol.
"Kau pikir aku rela pergi jauh untuk siapa?"
"Waw.. suami yang bertanggungjawab." Reno beranjak dan melangkah mendekati Alvi.
"Ohh jelas. Aku tak seperti kalian yang hanya bermalas-malasan." Alvi tak kalah angkuh dari kedua bocah nakal dihadapannya.
"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku." Ucap Reno meraih pundak Alvi dengan tatapan dan raut wajah yang serius.
"Aku ada meeting. Setelah itu aku akan terbang ke kota S."
"Berapa lama?" Tanya Bagas memperlihatkan wajah khawatirnya.
"Satu bulan."
"Hemmm ku pikir pimpinan tertinggi hanya duduk manis dan tinggal tanda tangan kontrak saja." Cetus Bagas.
"Aku di kota S hanya satu minggu, selebihnya aku ada urusan di London dengan Damian."
"Urusan apa?" Bagas menghampiri Alvi dengan antusias.
"Bisnis."
"Benarkah?" Bagas menyernyit ragu menatap Alvi.
"Kau pikir bisnis apa? Narkoba? Cih... aku memang bebas dalam bergaul, tapi jika terlibat kasus seperti itu, oh maaf aku masih mempunyai batas kesadaran." Ucap Alvi seraya membuka kembali pintu ruangan.
"Kalian sebaiknya pulang, dan jangan mengganggu Avril selagi aku tak ada." Lanjutnya sebelum benar-benar pergi.
"Hei tuan Alvian... jika bukan kita yang menjagakannya untukmu, lalu siapa? Kau mungkin cemburu tapi jadikan pengecualian untukku dan Reno." Ucap Bagas dengan berdecak kesal.
Alvi berlalu begitu saja seakan tak mempedulikan ucapan Bagas.
. Baren sesegera mungkin pergi dari ruangan Alvi, karena tak manemukan Ray dimanapun.
Sampai dilantai bawah, Baren menemukan Avril yang sedang membawa banyak berkas.
"Avril... apa yang kau lakukan?" Baren berlari menghampiri.
"Baren?"
"Isshh harusnya kau dibagian--" Bagas tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat mata Avril yang terlihat seperti akan keluar.
"Matamu seperti siluman" cetus Bagas bergidik ngeri.
Reno hanya tertawa melihat kekonyolan Bagas dan melihat Avril yang baik-baik saja.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Reno menepuk kepala Avril pelan.
"Sedang apa kalian disini? Atau jangan bilang..."
"Iya kau benar. Aku memenuhi permintaan Alvi untuk meminta izin padanya langsung. Tapi dia sangat sibuk." Ucap Reno seraya menoleh ke arah lift.
"Memangnya kalian mau apa?"
"Aku tadinya ingin mengajakmu ke rumahku nanti malam. Ibuku yang meminta. Tapi melihat sikap Alvi, sepertinya aku ragu kau akan datang."
"Aku akan bicara padanya nanti."
"Oh iya Avril... perasaanku gelisah saat mendengar Alvi akan ke luar kota, dan setelah itu menyusul kak Damian ke London. Entah ini hanya perasaanku saja, atau ada firasat yang--"
"Aku yakin Alvi baik-baik saja. Dan aku percaya padanya. Dia tak mungkin menghianatiku." Avril menyela dan melemparkan senyuman paksa pada Reno.
"Aku juga mengkhawatirkannya Ren..." gumam Avril.
"Ya sudah.. aku sedang sibuk saat ini. Nanti aku kabari jika ayah dan kakak mengizinkan." Avril membenahkan setumpuk berkas yang hampir terjatuh.
"Apa di kantor ini tidak tahu siapa dirimu?" Tanya Bagas sedikit berbisik.
"Sebagian orang tahu. Tapi aku lebih suka seperti ini."
"Hemmm Aviiiiillllll...." rengek Bagas dan ditanggapi hembusan nafas berat oleh Avril.
"Sudah... kalian pulang sana...."
"Kau mengusirku?" Reno melirik tajam dengan tangan yang melipat didadanya.
"Tidak..."
"Lalu?"
"Hanya mempersilahkan kalian pergi."
"Huuuu itu sama saja." Bagas mengusap kasar wajah Avril hingga poni nya yang rapi menjadi berantakan.
Adegan itu kebetulan dilihat oleh Irfan. Bahkan kedua temannya pun sampai saat ini tak pernah jauh dari Avril.
Terlihat Baren melambai tanda memberi salam perpisahan dan kemudian berlalu meninggalkan Avril yang sedikit terburu-buru memasuki lift.
. Alvi memasuki ruang meeting, dan mendapati Adam yang sudah menunggu bersama sekertarisnya.
Terlihat sang sekertaris tertegun saat Alvi melirik ke arahnya.
"Om punya sekertaris baru?" Tanya Alvi yang kemudian duduk di kursi kesayangannya.
"Yaa.. Mira berhenti karena ingin fokus mengurus keluarganya." Jawab Adam.
"Jadi.. apa yang ingin om bicarakan? Setahuku, kita belum ada perjanjian tentang proyek bisnis atau apapun." Alvi menyipitkan matanya seolah mengingat sesuatu.
"Aku ingin kau membantu Aldi untuk menjadi pimpinan yang sepertimu."
__ADS_1
"Aku rasa pembahasan ini bisa di bahas kapan-kapan saja om. Bukannya aku tak sopan tapi aku benar-benar sibuk. Aku harus berangkat ke luar kota."
"Hemmm baiklah kabari aku jika kau sudah ke London."
"Dari mana om tahu aku akan ke London?"
"Kau pikir aku tak dekat dengan pamanmu?"
"Ohh ya. Maaf aku berangkat om. Jika ada apa-apa hubungi pak Yusuf saja. Semua tanggung jawab perusahaan aku serahkan pada pak Yusuf." Alvi beranjak dari duduknya dan tanpa berlama-lama, Alvi berlalu begitu saja.
. Saat jam istirahat, Avril mengirim sebuah pesan pada Alvi tentang dirinya akan ke rumah Reno malam ini, walau pun sudah tahu pesan itu tak akan terkirim sekarang karena mungkin Alvi masih diperjalanan.
Namun Avril terheran ketika melihat Ray dan pak Yusuf ada di kantor. Avril segera berlari menghampiri keduanya. Ray dengan sopan menundukan kepalanya dan pak Yusuf melakukan hal yang sama.
"Ke-kenapa kau disini Ray? Lalu Alvi dengan siapa?"
"Maaf nona, tuan tak mengizinkan saya pergi dengannya karena khawatir jika ketiadaan tuan di sini, akan ada beberapa pihak yang mengambil keuntungan." Jawab Ray dengan hati ragu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya Ray?"
"Tidak nona.. saya sudah mengatur beberapa pengawal untuk menjaga tuan." Ucap pak Yusuf meyakinkan dengan melemparkan senyuman.
"Tetap saja aku khawatir..."
"Nona tenang saja. Saya sudah mengantisipasi kemungkinan--"
"Kau pikir semua akan berjalan sesuai dengan yang kau perkirakan Ray? Aku tahu kau handal mengatur semuanya dan bahkan selalu berjalan sesuai dengan aturan dan rencanamu. Tapi kali ini kau tak dengannya, dan kau masih tenang-tenang saja?"
"Jaga ucapan nona. Bagaimana pun Ray punya wewenang atas Alvi." Kini pak Yusuf terlihat sangat tenang, tatapan yang dingin dan seakan seperti orang yang tak memiliki ekspresi. Mungkin sama seperti Alvi.
"Baiklah pak. Maaf sudah lancang mengkhawatirkan Alvi. Kalau begitu saya juga tak akan peduli jika terjadi apa-apa pada Alvi." Avril berlalu dengan rasa kesal. Ray menunduk dirinya tak tahu harus bagaimana. Ray tahu persis seperti apa perasaan Avril sekarang.
"Maaf nona...." gumamnya menatap sayu pada Avril yang berlalu dengan langkah cepat.
. Avril berpikir ketiadaan Alvi di kantornya, sikap semua orang yang mengetahui fakta tentang siapa dirinya akan menjauhinya, namun Roby semakin ketat mengawasi seolah waspada terhadap semua orang. Hingga menimbulkan anggapan bahwa dirinya menyukai Avril.
Beberapa kali Roby menjelaskan bahwa dirinya hanya menganggap Avril sebagai adiknya, namun seisi ruangan itu tidak percaya, dan malah terus mengejek Avril.
Avril menunjukan cincin pertunangannya sebagai bukti bahwa dirinya mempunyai kekasih. Tapi mereka tetap tak percaya karena Avril tak memberitahu siapa kekasihnya.
. Malam harinya, Avril tengah berbincang dengan ibu Reno di ruang keluarga. Sudah seperti anaknya sendiri, sikap ibu Reno sangat lembut pada Avril.
"Ibu pikir kau akan menjadi pacar Reno."
"Ahaha ibu sendiri tahu Avril dan Reno itu teman." Ucap Avril tertawa kecil.
Ditengah perbincangan, ponsel Avril berdering dan dengan cepat Avril menjawab panggilan telponnya.
"Kau sudah sampai?" Tanya Avril tanpa basa-basi.
"Sudah... kau dimana?"
"Aku masih di rumah Reno."
"Belum pulang? Dengan siapa?"
"Belum.. aku dengan ayah dan kak Galih."
"Kak Nadia ikut."
"Apa ayahmu dan ayah Reno sudah akur?"
Mendapati pertanyaan itu, Avril menoleh kearah ruang tamu.
"Emmm masih terjadi perang dingin." Ucapnya seraya melangkah ke ruang tamu. Namun Avril terkejut melihat ayah Reno dan ayahnya kini tengah berbincang di selipkan nada becanda dan sebuah tawa.
"Oke Andre, aku akan memberi tugas salah satu bawahanku untuk mengawasinya." Ucap Andara setelah mengambil cangkir berisi kopi yang di letakkan di meja.
"Kau sendiri tahu bagaimana pamannya. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaganya?"
"Andre... kau sangat menyayangi menantumu itu."
"Om benar. Bahkan ayah jika dengannya selalu melupakan bahwa aku anak kandungnya." Timpal Galih melirik pada ayah.
"Lirikan apa itu Galih?" Ayah tak kalah tajam melirik Galih.
"Tidak.... bukan apa-apa."
Avril mulai mengerti ternyata selama ini perselisihan antara ayahnya dan ayah Reno itu hanya kesalahfahaman. Tapi Avril masih penasaran apakah ayah Bagas masih membenci ayahnya atau tidak. Secara ayah Bagas sedikit lebih dekat dengan ayah Aldi.
. Setiap hari kini Avril lalui tanpa ada Alvi. Hampa memang, tapi dirinya pun tak ingin menjadi egois karena perasaannya. Lagi pula, Alvi bekerja untuk Avril juga. Sudah 2 pekan Alvi meninggalkannya, bisa ditebak kini Alvi sudah berada di London. Demira pun mengabari hal itu beberapa hari yang lalu.
"Jangan lupa kau milikku." Ucap Alvi disetiap perbincangan dengan Avril di sambungan telponnya. Avril hanya tertawa kecil menanggapi. Rasanya seperti pacaran anak SMP.
"Kau juga. Disana banyak perempuan cantik, jangan berpaling dariku." Ucap Avril sedikit pelan.
"Hemmm jadi sekarang nona Revano bisa cemburu? Biasanya kau tak peduli jika aku dekat dengan siapapun."
"Ya sudah.. kalau begitu tinggal saja disana.! Tak usah mengingatku."
"Wahhh nona Revano marah..... tapi apa kau yakin akan rela jika aku tak pulang?"
"Terserah...."
"Benarkah? Bagaimana jika aku tiba-tiba kecelakaan, lalu meninggalkanmu. Aku yang tak rela meninggalkanmu sendirian."
"Jangan.... kau harus kembali dengan selamat. Jangan bicara seperti itu Alvi... aku tak suka. Apapun yang terjadi, aku akan menunggumu pulang, dan kau harus pulang dengan selamat." Rengek Avril menggembungkan pipinya.
"Pasti kau menggembungkan pipimu kan?"
"Tidak..."
"Ahhh aku benar-benar rindu."
"Aku juga."
"Hemmm rasanya ingin kabur saja dari pekerjaanku."
__ADS_1
"Itu berarti kau tak bertanggungjawab pak Suami."
"Aku tak bisa melihatmu menggembungkan pipi dengan gemas, merapikan dasi ku dengan serius, bahkan aku tak bisa melihat senyummu secara langsung."
"Sudahlah tuan... jangan berkhayal terus, sebaiknya kau tidur dan istirahat." Terdengar Avril tertawa kecil membuat Alvi tersenyum tipis.
"Janji, kau tak boleh termakan rayuan Aldian, Baren dan si Noah."
"Hah? Ahahaha sudahi cemburu mu tuan... aku tak ada hati pada mereka."
"Yaaa baiklah aku percaya...."
. Satu pekan kembali berlalu, tak biasanya Avril merasa gelisah mengingat pada Alvi. Avril segera menelpon Alvi untuk memastikan keadaannya.
"Ada apa?" Terdengar suara berat dari seberang. Dan sudah dipastikan Alvi baru bangun.
"Kau baik-baik saja?" Alvi tertegun dan membuka matanya lebar mendapati pertanyaan itu.
"Kenapa tiba-tiba? Aku baik-baik saja."
"Perasaanku tak enak Alvi... aku takut ada apa-apa padamu." Rengek Avril terdengar berdecak kesal.
"Tenanglah.. tidak ada apa-apa... aku hanya kelelahan saja."
"Kau bekerja sampai malam lagi?"
"Heem... Damian sedikit kesulitan, jadi aku membantunya sebentar."
"Kapan kau pulang?"
"Kamis ini. Kenapa? Kau sudah sangat merindukanku sayang?"
"Alvi.. aku tidak becanda."
"Ahaha iya iya. Nanti aku kabari jika aku akan pulang. Jaga dirimu disana."
"Kau juga. Jaga kesehatanmu. Jaga keselamatanmu. Perhatikan kondisi, dan cuaca jika ingin berpergian."
"Baiklah nyonya Revano tersayang. Mengapa kau menjadi cerewet? Siapa yang mengajarimu? Nadia atau Demi?"
"Aku mengkhawatirkanmu bodoh."
"Iya iya aku tahu..."
"Ya sudah.. maaf menganggu istirahatmu."
"Tak apa sayang. Aku suka jika diganggu olehmu."
"Iiihhhhhh" Avril menutup panggilan telponnya dengan tertawa kecil sembari berlari meninggalkan kamarnya.
"Kau tak bekerja?" Tanya ayah yang sedang duduk di sofa dengan koran didepannya.
"Aku libur ayah..." jawab Avril terus menuruni tangga.
"Apa Alvi mengabarimu?"
"Iya. Baru saja."
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia bilang baik-baik saja, tapi....." Avril tak melanjutkan ucapannya dan kemudian duduk didepan ayah.
"Tapi apa?" Ayah mendongak menatap Avril.
"Perasaanku tidak enak ayah... aku merasa khawatir pada Alvi.."
"Sejujurnya ayah juga merasa begitu... entah kenapa, ayah merasa gelisah pagi ini."
Avril semakin khawatir mendengar pernyataan ayahnya.
"Emmm hari ini aku mau pergi dengan Baren ayah. Mungkin sampai sore."
"Mau kemana?"
"Hanya nongkrong saja di cafe..."
"Baiklah.. tapi kalau bisa kau jangan terlalu dekat pada mereka, kau harus ingat pada Alvi."
"Iya ayah... aku tahu batasan ku. Lagi pula, Aldi dan Syifa juga akan menyusul nantinya."
"Ya sudah.. hati-hati. Sudah masuk musim penghujan. Jangan lupa pakai jaket."
"Iya ayahh..."
---
. "Avril... Alvi ada mengabarimu?" Tanya Reno setelah mereka duduk di salah satu meja favorit mereka.
"Ada.." jawab Avril dengan hati masih gelisah.
"Syukurlah..." ucap Bagas mengusap dadanya.
"Kenapa memang?" Avril merasa heran dan bertanya-tanya.
"Tidak... aku bertanya saja. Takutnya ada apa-apa pada si manusia es itu." Cetus Bagas.
"Apa mereka merasakan hal yang sama denganku? Ya Tuhan.. lindungi Alvi dari segala macam bahaya.." gumam Avril.
"Avril.. kau melamun?" Tanya Syifa yang sudah duduk didekatnya.
"Syif-Syifa? Ka-kapan kau datang?" Semua menyernyit heran dengan pertanyaan Avril.
"Kau tidak menyadari kedatanganku?" Avril menggeleng lemas.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aldi yang ditanggapi anggukan oleh Avril.
Tak lama, dering ponsel Avril berbunyi.
__ADS_1
"Hallo Demi." Terdengar isak tangis Demi diseberang. Namun setelah itu, Avril terperanjat mematung dengan air mata yang terus berderai.
-bersambung.