Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
79. Episode terakhir


__ADS_3

. Avril kembali berlalu ke kamarnya dengan masih membawa Reifan tanpa menanggapi apapun yang Alvi katakan.


"Al." Panggil Galih tanpa menoleh.


"Siapa yang kau panggil?" Tanya Alvi melirik sinis pada Galih.


"Kalian." Jawab Galih dengan santai.


"Tak jelas." Cetus Alvi mendelik kesal.


"Nama kalian sama sialan." Ucap Galih setengah berteriak.


"Kau menyalahkanku?" Alvi tak kalah berteriak.


"Ish.. tidak. Sekarang ikut aku keluar." Galih beranjak ke teras diikuti oleh Alvi dan Aldi.


"Ada apa kak?" Tanya Aldi yang masih mempertahankan kesadarannya dan tidak ingin terlibat kegilaan dengan mereka.


"Siapa diantara kalian yang akan menikahi Avril?" Tanya Galih yang mulai terdengar serius.


"Bukankah sudah jelas Alvi?" Aldi menyela sebelum Alvi menjawab.


"Tapi aku tak ingin kau memisahkan Avril dengan Reifan." Ucap Galih menoleh pada Aldi.


"Reifan putraku kak. Aku berhak atas dirinya."


"Tapi kau tak akan bisa merawatnya sendiri. Apa kau akan membebankan pada mama? Tidak kan? Al... Reifan masih membutuhkan sosok seorang ibu."


"Lalu aku harus bagaimana kak? Meskipun seperti ini, aku tak ingin jauh dari Reifan. Dia segalanya untukku kak. Aku tahu dan aku mengerti Avril sangat menyayangi Reifan. Tapi bukankah Avril akan menikah dengan Alvi, dan nantinya punya anak juga?"


"Aku sudah tahu jalan pembicaraanmu Galih." Ucap Alvi ikut menyela.


"Kau mau Aldi dan Avril menikah kan? Tapi kau merasa bingung karena posisiku yang menjadi tunangan Avril. Kenapa saat aku tak ada saja kau melangsungkan pernikahan adikmu dengan orang lain?"


"Alvi... aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya ingin mendapatkan titik terang saja. Aku tak tega jika melihat Avril yang kembali bersedih karena dipisahkan dengan Reifan." Galih menghela nafas berat menoleh bergantian menatap Aldi dan Alvi.


"Kenapa harus bingung? Kau tinggal menikahkan Avril dengan Aldi saja."


"Kau gila Al." Teriak Aldi beranjak dari duduknya.


"Gila apanya? Reifan masih membutuhkan sosok ibu kan? Lalu kau sebagai ayah kandungnya tak bisa jauh darinya? Apa salah usulanku?"


"Tidak Al.. aku tahu bagaimana kau mencintai Avril."


"Aldi.. aku tak ingin egois karena aku mencintainya. Sosok ibu sangat penting untuk Reifan saat ini. Aku tak ingin menjadi penghalang hubungan erat Avril dan Reifan. Dan memang sejak awal aku tak seharusnya hadir dalam hidup Avril. Jika saja saat itu aku tahu Avril sudah memiliki kekasih, dan aku tak langsung jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu, mungkin kalian memang sudah menikah."


"Tidak Al.. kehadiranmu dan Syifa sudah menjelaskan bahwa aku dan Avil memang tak ditakdirkan bersama."


"Syifa meninggal pun menunjukan bahwa kalian harus bersama setelah berpisah."


:"Cukup Al... aku tak paham dengan jalan pikiranmu. Jika saja aku dan Avil memang harus bersama, harusnya saat kau pergi dan saat Syifa memutus ikatan pertunangan, mungkin saat itu aku dan Avil sudah menikah. Tapi nyatanya tidak Al. Keadaan memang memberiku kesempatan, tapi takdir tidak." Alvi terdiam memalingkan pandangannya.


Avril bersandar di pintu dengan memangku tangan menatap datar pada Alvi. Alvi beranjak lalu mengacak pelan rambut Avril dan mengecup kening Avril kemudian berlalu menuju mobil. Avril merasakan kehampaan dari sikap Alvi yang kian terasa dingin. Aldi pun menyadari akan sikap Alvi yang kini berbeda.


"Avil maaf." Ucap Aldi setelah Alvi berlalu.


"Untuk apa?" Tanya Avril yang menatap gerbang yang jauh darinya.


"Untuk semuanya." Jawab Aldi lesu.


"Sudahlah Al... aku akan bicara kembali pada Alvi." Galih menepuk pundak Aldi lalu beranjak dan kembali memasuki rumah.


"Al.. untuk semuanya akan ku maafkan. Tapi tidak jika kau memisahkanku dengan Reifan." Ucap Avril yang ikut duduk di sebrang Aldi.


"Tapi..."


"Sudah... aku tak ingin dengar lagi. Jika kau bersedia menikah denganku, maka kita menikah saja. Jika kau rela melihatku dan Alvi menikah, maka jangan mempersulit jalannya."


"Avil kau..."


"Kenapa? Aku salah?"


"Alvi mencintaimu."


"Aku tahu."


"Apa jadinya jika kau menikah denganku?"


"Bukankah ini maumu?"


"Tidak Avil. Sekarang aku hanya ingin melihatmu bahagia meskipun tidak denganku."


"Ya sudah. Buat Alvi percaya padaku lagi dan tidak berpikir bahwa aku masih mencintaimu." Avril beranjak dan memasuki rumah meninggalkan Aldi sendiri diluar.


"Eh... aku ditinggal? Avil..." panggil Aldi mengikuti Avril memasuki rumah. Sudah biasa jika Aldi menginap dirumah Avril, begitupun sebaliknya.


. Esok harinya, Avril kembali masuk kerja dan meninggalkan Reifan dengan Nadia. Avril merasa tenang karena Reifan ada teman jika dirumahnya. Ravendra yang menjaganya seperti adik, menghilangkan kekhawatiran Avril jika meninggalkan Reifan.


"Dadahhh mommy..." Reifan melambaikan tangan mengantarkan Avril ke depan rumah.


"Tunggu mommy pulang ya sayang...." ucap Avril memberikan kecupan bertubi-tubi pada Reifan.

__ADS_1


"Aku juga mau Vil" ucap Aldi menatap harap pada Avril.


"Mau apa?" Avril menyernyit heran dengan Aldi.


"Mau di cium." Jawab Aldi dengan polos.


"Makan tuh cium." Avril mendorong pipi Aldi dengan kasar. Aldi hanya terkekeh melihat raut wajah Avril yang kesal karenanya.


"Dadah daddy...." Reifan memberi sun jauh dengan tangannya pada Aldi diiringi tawanya yang menggemaskan.


Aldi melajukan mobil meninggalkan kediaman rumah Avril. Wajah Avril terlihat berseri hari ini. Selain karena Alvi hari ini akan ke perusahaan D, Reifan pun semakin bisa diatasi.


. Disamping itu, Alvi tengah berada di rumah tepatnya di taman sang ibu. Menatap lekat pada bunga-bunga yang berjejer.


"Tuan... sudah siang. Apa tuan tidak akan bekerja?" Tanya Ray dari arah pintu membuyarkan lamunan Alvi.


"Baiklah." Ucap Alvi beranjak lalu berjalan melewati Ray yang masih di tempatnya.


"Hari ini ada rapat dan kunjungan ke perusahaan P tuan. Perihal kontrak yang nona Avril ajukan." Alvi tak menanggapi apapun dan tetap fokus berjalan.


"Ray. Tukar posisimu dengan Avril." Ucap Alvi saat terhenti di depan mobil.


"Eh? Apa maksud tuan?"


"Kau jadi sekertaris Aldi, dan Avril jadi sekertarisku." Ucap Alvi lagi.


"Tuan tak sedang becanda kan?"


"Kapan aku becanda Ray?" Tanya Alvi berbalik dan dengan suara setengah berteriak.


"Ma-maaf tuan. Sa-saya tidak bermaksud." Ray menundukan pandangannya dengan rasa bersalah.


"Ishhh aku harus bagaimana Ray? Aku tak rela jika Avril terlalu dekat dengan Aldi." Rengek Alvi kembali pada mode kekanak-kanakannya.


"Itu masalah cinta saja tuan.... mengapa harus dibawa-bawa dengan masalah pribadi." Gumam Ray memasang senyuman yang biasanya.


"Senyummu masih sama saja Ray. Ku kira saat aku tinggalkan 3 tahun, senyummu akan berubah." Cetus Alvi yang berlalu memasuki mobil.


"Dan sikap tuan pun masih sama sejak 3 tahun yang lalu." Gumam Ray yang ikut berlalu memasuki mobil lalu melajukannya meninggalkan kediaman rumah Alvi.


. Sampai diperusahaan P, Alvi disambut hangat oleh pihak perusahaan P. Terlihat Avril ikut menyambut kedatangan Alvi di loby. Senyumnya mengembang menyapa Alvi dengan ramah. Saat Alvi berjalan menuju lift dengan diikuti Avril dari belakang, Alvi menyuruh Ray untuk berpisah lift.


"Ray...." rengek Avril yang menyadari situasinya.


"Maaf nona..." ucap Ray berbisik.


"Sedang merencanakan apa kalian?" Tanya Alvi dengan menatap tajam pada Avril.


Didalam, Alvi menyandarkan kepalanya pada Avril dengan lesu. Avril melirik kearah cctv didalam lift itu. Mereka pasti melihatnya dengan Alvi.


"Kau kenapa? Sakit lagi? Mengapa memaksakan bekerja?" Namun Alvi malah memeluk Avril dengan erat dan tak menjawab pertanyaan Avril.


"Al... jangan membuatku khawatir." Lirih Avril membalas pelukan Alvi.


"Jangan menikah dengan Aldi." Rengek Alvi semakin erat memeluk Avril.


"Al... aku sulit bernafas." Avril memukul punggung Alvi dengan sedikit keras, hingga Alvi melepaskan pelukannya.


"Al... jika seandainya aku meninggalkanmu, mohon maafkan aku." Ucap Avril setelah menghela nafas sejenak.


"Apa maksudmu? Kau benar-benar akan menikah dengan Aldi?"


"Aku tak tahu Al... yang sekarang ada dipikiranku hanya Reifan. Aku tak ingin berpisah dengannya."


"Baiklah aku mengerti." Alvi sedikit bergeser menjauh dari Avril. Entah karena marah, atau karena pintu lift akan terbuka.


Avril mengantarkan Alvi menuju ruang pertemuan, dan sudah ada Aldi dan Baren disana.


"Kemana yang lain?" Tanya Alvi terheran.


"Ini pertemuan kita saja Al." Jawab Reno.


"Maksudmu?" Alvi semakin heran.


"Jika tidak di meetingkan seperti ini, kalian pasti akan salah faham terus." Ucap Bagas mendesah kesal.


"Sudah jelas kan Avril akan menikah dengan temanmu ini?" Delik Alvi tak kalah kesal.


"Siapa bilang?" Tanya Aldi dan Baren serempak.


"Avril sendiri." Jawab Alvi dengan tenang. Sontak ketiga solid itu menoleh bersamaan pada Avril yang memalingkan wajahnya.


"Aku tak tanggung jawab jika ada perang dunia kelima." Ucap Reno mengangkat kedua tangannya dan berlalu keluar dari ruangan.


"Aku tak mau tanggung jawab jika acara pernikahanmu hancur Vil." Bagas mengikuti Reno keluar dari ruangan.


Kini tinggal Aldi dan Alvi yang menatap Avril dengan tajam. Avril hanya tersenyum menanggapi tatapan kedua pria itu.


. 2 bulan telah berlalu, Baren tengah mengantar seseorang yang sedang fitting baju pengantin.


Di ruangan lain, Avril keluar dengan balutan gaun putih yang dipilih oleh Nadia.

__ADS_1


"Avil... kau mengagumkan." Ucap Demira dengan menatap kagum pada Avril.


"Mommy.... cantik." Ucap Reifan dengan antusias.


"Terimakasih sayang."


"Daddy?" Reifan menoleh dan sedikit berlari menuju ruangan lain.


"Papa, daddy mana?" Tanya Reifan dengan polos pada Reno.


"Di ruang ganti sayang." Jawab Reno meraih Reifan pada pelukannya.


Aldi keluar dari ruang ganti dengan santai. Reifan beranjak dan kembali berlari menghampiri Aldi.


"Bagaimana? Pas kan?" Tanya Reno beranjak dari duduknya dan menghampiri Aldi.


"Pas dan sedikit memancarkan aura pengantin baru." Jawab Aldi memangku Reifan.


"Akhirnya Avil menikah juga. Tinggal kau yang belum Gas." Reno menoleh pada Bagas yang terlihat santai.


"Iya iya... nanti aku cari di danau." Ucap Bagas mendelik kesal.


"Eh... yang kau temui nantinya bukan jodoh. Tapi buaya betina." Reno terkekeh merasa puas dengan ejekannya.


"Apa saat kalian menikah, kalian juga seperti ini?" Tanya Alvi yang baru keluar dari ruang ganti dengan jas putih khas seorang pengantin pria.


"Ayah...." panggil Reifan dan merentangkan tangannya ingin di gendong. Alvi dengan senang hati membawa Reifan pada pangkuannya.


"Waw... kau gagah sekali Al." Ucap Bagas melongo menatap Alvi.


"Ohhh sudah jelas." Alvi menyisir rambutnya dengan jari dengan ekspresi wajah yang angkuh.


"Tapi kau seperti duda anak satu Al." Reno kembali terkekeh melihat Alvi.


"Itu aku Ren." Geram Aldi menatap tajam pada Reno.


"Ahaha maaf Al... aku tak bermaksud." Ucap Reno menahan tawanya.


"Aku harap Avril tak gila menikah dengan orang ini ya Tuhan..." ucap Bagas mengadahkan tangan dan menatap ke atas dengan doanya.


"Apa maksudmu hah?" Alvi menatap tajam pada Bagas yang kemudian berlari memasuki ruangan dimana Avril berada. Bagas tertegun melihat betapa anggunnya Avril dengan gaun pengantin itu, di hiasi senyumnya yang begitu manis.


"Al... sepertinya aku jatuh cinta pada calon istrimu." Ucap Bagas yang enggan memalingkan pandangannya dari Avril.


"Jika kau menatapnya lebih lama, aku cungkil matamu Gas." Tegas Alvi membuat Bagas memejamkan matanya dengan paksa.


"Kau jahat Al." Cetus Bagas.


"Baru tahu?"


"Sudah tahu." Ejek Bagas.


"Oh iya Al... menjelang pernikahan kau tak boleh kemana-mana." Ucap Reno kemudian.


"Kenapa?" Tanya Alvi dengan wajah heran.


"Yaaa untuk menghindari hal yang tak diinginkan." Jawab Reno menebak.


"Kau juga seperti itu?" Reno mengangguk menanggapi.


"Kau juga?" Alvi beralih menatap Aldi. Aldi hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.


"Isshhh menyebalkan."


"Jika kau tak mau menikah, biar Aldi saja yang menikah lagi." Cetus Bagas membuat Aldi geram ingin membungkam mulutnya.


Kedua pihak telah menyetujui perjanjian hak asuh untuk Reifan. Avril berhenti bekerja dan mengurus Reifan saat Aldi bekerja atau dinas ke luar kota.


. Hari yang ditunggu tiba, Avril beberapa kali menghela nafas karena gugup. Demira menyemangati dengan tersenyum lebar kearahnya.


"Avil... aku ingin menangis." Rengek Demira menahan air matanya agar tak keluar.


"Aku bahagia Dem..."


"Aku juga... kau akan menjadi iparku." Demira memeluk Avril dengan erat.


Avril dirias dengan makeup tebal. Gaun berwarna putih menambah keanggunannya. Hiasan rambut yang berkilauan menambah kesan elegan seorang Avril. Galih menyambut Alvi memasuki gedung. Alvi begitu gagah dengan balutan jas berwarna putih, melangkah mendekati meja ijab qabul. Duduk dan menunggu Avril keluar dari ruangan rias. Avril berjalan dengan anggun diiringi Nadia dan Demira disampingnya.


Avril duduk disamping Alvi yang menatap kagum kecantikan Avril saat menjadi pengantin. Alvi mengucapkan ikrar setelah ayah. Air mata Avril jatuh tak bisa terbendung. Kini Avril sudah resmi menjadi istri Alvian Revano.


Aldi tersenyum penuh haru, entah karena hatinya terasa tersayat, atau karena dirinya ikut bahagia melihat sang mantan kekasih menemukan kebahagiaannya sendiri. Meskipun tak bersamanya.


"Daddy...." Reifan menunjuk pada Avril dan Alvi yang tengah berjalan menuju pelaminan.


Keduanya terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak, banyak cobaan yang mereka lalui dan akhirnya bisa sampai ke titik ini.


Tak lupa mereka mengabadikan momen bahagia ini bersama dalam sebuah jepretan foto bersama. Reifan dan Ravendra menjadi pusat perhatian karena keduanya yang sangat menggemaskan.


Dan benar, semua akan menemukan kebahagiaannya sendiri, tanpa perlu terburu-buru, dan tak perlu menyalahkan masa lalu.


...~SELESAI~...

__ADS_1


__ADS_2