
. Alvi hanya terdiam, dan ikut bersandar di mobil Galih.
"Itu percuma. Walaupun aku mencintainya pun, jika hatinya masih mengharapkanmu, aku tak bisa apa-apa." Ucap Alvi menerawang jauh kedepan.
"Tapi, jangan karena aku mempercayaimu, bukan berarti aku menyerah." Ucap Aldi membuat Alvi menoleh.
"Jangan egois Aldi. Jika kau menyakiti teman Avril, maka Avril akan membencimu." Ucap Alvi menatap dalam pada Aldi.
"Benarkah? Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika Avil akan menerimaku kembali?" Alvi terlihat kesal mendengar pertanyaan Aldi.
Aldi beranjak. Wajahnya sedikit panik, ketika melihat Avril dan Galih keluar dari pintu utama rumah sakit. Dengan terburu-buru, Aldi masuk kedalam mobil.
Alvi terheran menatap tingkah Aldi yang terlihat bersembunyi dari Avril.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alvi heran.
"Aku tak ingin Avril tahu bahwa aku menunggunya." Jawab Aldi yang kemudian masuk kedalam mobil dan memakai hoodie beserta maskernya.
Alvi masih bersandar di mobil Galih. Menatap Avril dan Galih yang berjalan berdampingan menghampirinya.
"Perkenalkan Avril. Ini supir baru kita." Ucap Galih tanpa berekspresi.
"Benarkah? Apa kakak tidak salah memilih seorang supir?"
"Memangnya kenapa? Dia sangat cocok menjadi supirmu."
"Apa kakak serius? Jika dia menjadi supirku, maka bisa-bisa aku di turunkan di tengah jalan, lalu aku ditinggalkan begitu saja."
Alvi menatap konyol kedua bersaudara itu.
"Terus saja kalian mengejekku."
"Aku tidak mengejekmu." Ucap Galih santai.
"Terserah kau saja." Alvi berlari memutari mobil dan masuk kedalam tepat dibelakang kemudi.
"Heiii... kau tidak membukakan pintu untukku.?" Teriak Galih.
"Buka saja sendiri." Teriak Alvi dari dalam.
Avril hanya tertawa melihat tingkah keduanya.
Dari dalam mobil yang lain, Aldi menatap Avril begitu dalam.
"Aku merindukan senyummu itu Avil..." gumam Aldi seraya menyandarkan tubuhnya.
Avril memasuki mobil. Kemudian Alvi melajukan mobil meninggalkan rumah sakit.
Aldi masih berdiam diri dan tak berniat pergi dari sana. Pikirannya masih kacau dan berkecamuk.
"Syifaa..." lirihnya. "Apa aku harus menerima kehadiranmu?" Lanjutnya memejamkan matanya.
--
Alvi menepikan mobil disamping mobil ayah.
Bibi berlari dari dalam dan menghampiri Avril.
"Bibi bantu non." Ucap bibi ramah ketika Avril keluar dari mobil.
"Jangan berlebihan bi... aku baik-baik saja." Ucap Avril tersenyum.
"Tetap saja bibi khawatir jika non masuk rumah sakit." Ucapnya tanpa menyembunyikan ekspresi khawatirnya.
"Ahhh bibi....." Avril memeluk bibi manja.
Galih menatap datar pada Avril. Begitupun Alvi.
Galih berlalu memasuki rumah diikuti Alvi dari belakang.
Terlihat ayah sedang duduk di sofa.
"Ayah sudah pulang?" Tanya Galih duduk di depan ayah. Begitupun Alvi yang duduk disamping Galih.
"Iya. Tak lama sebelum kalian tiba." Jawab Ayah.
"Maaf Galih tidak menjemput ayah ke bandara." Ucap Galih merasa bersalah.
"Tidak apa. Justru ayah senang. Kau setiap saat menjaga adikmu."
"Tidak ayah. Kali ini bukan aku yang menjaga Avril." Galih melirik kearah Alvi.
"Begitu ya?" Ayah tersenyum menatap Alvi.
Alvi terlihat kebingungan, sesekali menoleh pada Galih yang ikut menatapnya.
"Dimana Avril?" Tanya ayah mendongak dan menatap keluar pintu yang terbuka.
"Dia masih diluar bersama bibi." Jawab Galih.
"Ayah...." ucap Alvi setelah hening beberapa saat.
"Ada apa Alvi?" Tanya ayah menyernyitkan dahinya.
"Maaf jika mendadak, tapi..... apakah ayah akan memberi restu pada saya dan Avril?" Tanya Alvi sedikit ragu.
Ayah tidak menjawab, dan Galih terlihat tenang biasa saja.
__ADS_1
"Apa artinya kau berniat melamar Avril?" Tanya ayah.
Alvi mengangguk pelan. "Tapi saya tidak bisa membawa siapapun untuk melamar secara resmi." Alvi menunduk.
"Apa yang kau katakan?" Galih menepuk pundak Alvi. "Dengan berbicara langsung pada ayah, ini sudah menjadi resmi. Tapi, tetap saja hanya Avril yang bisa menjawab. Aku dan ayah hanya mengikuti keputusan Avril saja." Ucap Galih.
Dari belakang sofa yang diduduki Alvi, Avril diam menatap rambut Alvi.
"Apa Alvi benar-benar serius? Tapi kenapa aku menjadi takut. Takut jika Aldi akan datang kembali jika aku menerima Alvi. Tapi untuk menolakpun, rasanya aku tak bisa. Sebenarnya perasaan apa ini?" Gumam Avril menatap ayah.
"Jadi? apa jawabanmu?" Tanya Ayah menatap Avril.
"Sejak kapan kau disana adik bodoh?" Tanya Galih tanpa menoleh. Namun Avril tidak menjawab pertanyaan Galih.
Alvi menoleh kebelakang.
"Apa?" Avril menggembungkan pipinya.
"Tidak." Alvi kembli menoleh menatap Ayah.
"Jangan menerimanya ayah. Dia hanya becanda." Ucap Avril memalingkan wajahnya.
"Apa kau masih menganggapku becanda? Apa aku harus menikahimu sekarang agar kau percaya bahwa aku tidak becanda Avril." Jelas Alvi.
"Hentikan Alvi." Ucap Avril dengan nada datar.
"Maafkan aku Avril." Alvi menahan kepalanya dengan satu tangan.
"Maaf, tapi berikan aku waktu untuk memikirkannya ayah." Avril berjalan cepat menuju kamarnya, tanpa menoleh dan tak mempedulikan panggilan Galih.
"Jangan tersinggung. Avril memang begitu jika tak bisa memutuskan keputusannya." Ucap Ayah menatap Alvi.
"Tak apa ayah. Aku tidak menyalahkan Avril." Ucap Alvi seraya menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Mengapa bahasamu menjadi berbeda?" Galih menyernyitkan dahinya menatap Alvi.
"Harusnya kau sudah mengerti Galih. Bukankah tadi aku melamar Avril secara resmi? Tentu saja aku harus memakai bahasa yang formal." Jawab Alvi dengan percaya diri.
"Terserah kau saja Alvi." Galih menghela nafas panjang.
"Kau tidak tahu yang sebenarnya. Kau belum memahami Avril sepenuhnya." Lanjut Galih, kemudian terdengar nafas Alvi yang berat. "Aku yang paling memahami Avril lebih dari siapapun. Jadi, percayalah pada ucapanku. Karena jika tidak, kau akan menyesal sendiri." Lanjut Galih meyakinkan.
Alvi menoleh pada Galih, lalu menatapnya dalam.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak menyedihkan sepertimu." Ucap Galih mendelik.
"Ahhh sial. Aku ada janji dengan klien siang ini." Galih beranjak dari duduknya. "Jika kau akan beristirahat, istirahatlah di kamarku." Ucap Galih terhenti lalu menoleh pada Alvi.
"Tidak Galih. Aku akan pulang. Dan aku harus ke kantor. Aku sibuk hari ini, karena sekertarisku tidak ada untuk beberapa hari." Ujar Alvi kemudian beranjak lalu menghampiri ayah dan mencium tangannya. "Aku permisi ayah. Dan sampikan kembali permintaan maafku pada Avril." Ayah hanya mengangguk. Tidak ada kata-kata yang mau keluar dari mulutnya saat Alvi bersikap seperti ini.
"Alvi, jika Avril tidak menerimamu pun, kau akan tetap menjadi anakku." Alvi terdiam menatap ayah yang tersenyum. Rasanya ingin memeluk dengan erat, dan menangis sejadi-jadinya.
"Terimakasih ayah. Tapi aku punya keputusan sendiri jika Avril tidak menerimaku." Jawab Alvi tersenyum namun tangannya terus mengepal, menahan diri agar tidak menangis.
Alvi berbalik dan berlalu meninggalkan rumah itu. Melajukan mobilnya dengan sedikit cepat menuju rumahnya.
"Apa benar aku terlalu terburu-buru?" Gumam Alvi memijit dahinya. "Apa Avril akan menjauhiku? Ahhh sial. Apa yang aku lakukan? Untuk meyakinkan Avril saja, aku tak berhasil. Dan ini, aku malah secara resmi melamarnya pada ayahnya." Alvi terus gelisah sepanjang jalan. Bahkan sampai rumahpun, Alvi tidak banyak bicara.
Saat Dina sudah menyiapkan keperluan Alvi, Alvi masih terdiam. Namun saat Dina hendak meninggalkan Alvi, ucapan Alvi membuat Dina menoleh dan merasa Ada yang menusuk dadanya. Kata itu tak lain adalah "terimakasih Avril." Ya... nama yang bukan namanya.
"Maaf tuan. Saya Dina bukan Avril." Ucap Dina kembali menghadapkan dirinya pada Alvi.
Alvi menatap Dina tanpa berkedip, mengingat ucapannya barusan. "Apa aku terlalu memikirkan Avril?" Gumam Alvi mengusap wajahnya.
"Ahhh maafkan aku Dina. Nama itu terlontar begitu saja." Dina hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu kembali berjalan meninggalkan ruangan Alvi. Setelah memastikan pintu benar-benar tertutup, Alvi terduduk di sofa. "Avrillll..... kau benar-benar mengacaukanku." Kembali Alvi memijit kepalanya.
. Disisi lain, Avril yang sudah menelpon Bagas karena tidak bisa masuk kuliah hari ini, terduduk di samping jendela dan menatap keluar.
"Apa yang harus aku katakan.?" Lirih Avril.
Galih membuka pintu dan masuk menghampiri Avril.
"Apa kau memikirkan Alvi?" Galih duduk di kasur Avril.
"Tidak." Jawab Avril tanpa menoleh pada Galih.
"Ohhh baguslah." Ucap Galih kembali beranjak.
Saat Galih sudah meraih pintu, Avril memanggil Galih dan membuat Galih kembali menoleh pada Avril.
"Jika kau tidak mencintainya, kau tidak mungkin tidak mempunyai jawabannya. Tanyakan saja pada hatimu. Jangan sampai menyesal sendirian." Ucap Galih berlalu menutup pintu.
Avril menghela nafas panjang. Lalu memutuskan menemui Alvi ke perusahaannya.
. Setelah lama bersiap, Avril menuruni tangga. Kali ini, Avril benar-benar kembali ke versinya yang lama. Memakai dress dan rambut yang terurai.
"Bukankah non belum pulih." Ucap bibi khawatir menghampiri Avril yang terhenti.
"Aku baik-baik saja bi. Jangan khawatir." Avril tersenyum meyakinkan.
"Non akan pergi kemana?" Tanya bibi.
"Aku ada sedikit urusan. Dan sampaikan maafku pada ayah jika nanti ayah marah padaku." Avril kembali berlari meninggalkan bibi yang termangu.
Avril melajukan mobilnya menuju perusahaan D. Tak peduli Alvi sedang sibuk atau tidak, Avril harus menemui Alvi.
. Sampai di depan perusahaan, Avril langsung masuk dan kembali bertemu dengan Irfan.
__ADS_1
"Avril? Kau kesini lagi?" Tanya Irfan senang. Avril mengangguk dan tersenyum menanggapi pertanyaan Irfan.
"Kau akan menemuiku atau sedang apa?" Tanyanya lagi.
"Tidak kak. Aku ingin menemui presdir." Jawab Avril tanpa menghilangkan senyumannya.
"Sepertinya penting."
"Sangat penting."
"Baiklah aku akan mengantarmu." Irfan hendak meraih tangan Avril, namun dengan cepat Avril menarik tangannya lalu memegang tali tasnya.
"Aku akan mengikutimu dari belakang." Ucap Avril.
Dengan terpaksa, Irfan berjalan didepan Avril.
. Sampai di depan ruangan Alvi, Avril terkejut ketika melihat sekertaris Alvi kini bukan Ray. Sekilas mengingat ucapan Alvi pada Ray kemarin malam. Avril menghela nafas lega dan tersenyum sedikit kegirangan.
Dengan sopan sekertaris itu menundukan kepalanya memberi hormat pada Irfan.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan pak presdir." Sekertaris itu mengangguk tanda mengerti. Lalu mempersilahkan Avril masuk.
Terlihat Alvi yang sibuk dengan tumpukan map dan kertas-kertas dimeja.
"Sangat sibuk?" Ucap Avril duduk di depan Alvi.
"Avril?" Alvi yang terkejut dengan kedatangan Avril. Dan menoleh pada Irfan yang masih berdiri di belakang Avril.
"Kau bisa kembali." Ucap Alvi pada Irfan. Irfan tersenyum lalu mengangguk.
"Avril.. jika ada apa-apa cari saja aku." Ucap Irfan sebelum pergi.
"Tenang saja. Aku akan menjaga Avril." Ucap Alvi
"Baiklah terimakasih pak." Irfan berbalik dan berlalu meninggalkan ruangan.
Diluar, Irfan terus tersenyum. Tapi, tetap saja dihatinya masih terasa ada yang janggal dengan kedatangan Avril sendiri ke perusahaan D. Irfan terus menjauhkan pikirannya bahwa Avril adalah kekasih Alvi.
. Didalam ruangan, Alvi menelpon seseorang untuk membawakan teh ke ruangannya.
"Apa kau merindukanku? Kita baru saja menghabiskan waktu bersama beberapa saat yang lalu bukan?" Alvi berjalan menuju sofa dan kemudian duduk.
Avril mengikuti Alvi dan duduk di depan Alvi.
"Disini masih luas. Mengapa kau duduk disana?" Tanya Alvi menepuk sofa disampingnya.
"Apa yang akan orang lain katakan jika melihatku duduk disampingmu Alvi." Ucap Avril kesal.
Alvi terkekeh melihat Avril.
"Kau tahu Avril? Melihatmu bertingkah seperti itu, membuatku ingin menciummu."
"Jangan macam-macam Alvi. Aku kesini bukan untuk menjual diriku." Avril semakin kesal.
"Aku hanya becanda Avril... lalu? Apa yang membuatmu repot-repot menemuiku, sedangkan kau baru keluar dari rumah sakit." Alvi menyilangkan kakinya lalu menyandarkan tubuhnya. Avril tidak langsung menjawab pertanyaan Alvi, dan beberapa kali menghela nafas dalam.
"Sebelumnya aku minta maaf, tapi...." ucap Avril ragu.
"Kau menolakku?"
"Tidak." Tegas Avril. "Bukan begitu. Aku tidak menolakmu."
"Apa itu artinya kau menerimaku?"
"Tidak juga... aku tidak yakin apa aku menerimamu atau tidak. Aku tak bisa memutuskannya secepat ini." Ucap Avril kesal sendiri.
"Mengapa kau kesal.? Jika kau tak bisa menerimaku, harusnya kau bilang dengan jelas bahwa kau menolakku."
"Aku tidak bisa Alvi."
"Kau masih mengharapkan Aldi kembali kan?" Deg... Avril menatap Alvi dengan menyernyitkan dahinya.
'Tok.. tok...' ceklak. Pintu terbuka dan seorang Office Boy memasuki ruangan dengan membawa secangkir teh dan menghampiri Alvi dengan menundukan kepalanya.
"Maaf pak. Saya tidak tahu jika ada tamu." Ucapnya meletakkan cangkir teh di meja.
"Tak apa." Jawab Alvi. Office Boy itupun kembali dan berlalu menutup pintu.
"Jadi, apa kau akan menggantungkan jawabanmu? Dan membuatku terus menunggumu sampai kau dan Aldi kembali bersama?" Ucap Alvi memalingkan wajahnya.
"Dan apa aku harus menerimamu sementara kau dan kak Amel.--"
"Amel tidak ada hubungannya denganku. Berhenti menyebut nama Amel dan mengira bahwa aku mencintainya." Bentak Alvi membuat Avril terkejut dan menatap Alvi. Dengan tiba-tiba tubunya gemetar...
"Maafkan aku Avril..." ucap Alvi menyadari Avril yang terkejut dan gemetar karenanya.
Alvi beranjak dan beralih duduk disamping Avril.
"Maaf.." lirih Alvi.
. Avril beranjak dan melangkah menjauhi Alvi. Dengan cepat Alvi mengejar lalu memeluk Avril dengan erat.
"Jangan pergi. Tetaplah disini. Maafkan aku..." lirih Alvi membuat Avril terdiam.
Tiba-tiba pintu terbuka, alangkah terkejutnya Amel saat melihat Alvi yang memeluk Avril. Avril melepaskan tangan Alvi. Lalu menghampiri Amel.
"Kak... i-ini tak seperti yang kau lihat. Jangan salah fah--"
__ADS_1
Plak.... tamparan keras tepat dipipi Avril membuat Alvi terkejut.
-bersambung.