
. "Nona..." terdengar riuh menyebut nama Avril.
"Jangan karena jabatanmu lebih tinggi kau bisa dengan mudah merendahkan orang lain. Apa kau pikir dengan merendahkan derajat seseorang seperti ini akan membuatmu semakin tinggi? Dan akan membuatku dianggap tinggi? Tidak Alvi." Tak ada tanggapan apapun dari Alvi, tatapannya kini semakin tajam dan suasana kembali mencekam. Namun disana tak ada yang berani menatap pada Alvi kecuali Avril sendiri.
"Aku keberatan. Jadi aku akan keluar dari perusahaan ini dan mengundurkan diri." Lanjut Avril yang membantu Devia berdiri.
"Nona..." lirih Devia.
"Nona.. kau mengganggu rapatku." Alvi menatap Avril dengan dingin dan nafas yang menderu kesal. Avril menunduk tak berani menatap balik. Devia melirik kearah Avril yang bersentuhan langsung dengannya.
"Nona gemetaran?" Gumam Devia masih menatap Avril.
"Keluar." Tegas Alvi. Avril tersentak lalu menghela nafas berat. Dengan tak menoleh pada Alvi, Avril berbalik dan hendak pergi. Semua pandangan menatap heran pada Avril.
"Mau kemana kau Nona Revano?" Seketika langkah Avril terhenti.
"Bukankah kau menyuruhku keluar?" Tanya Avril yang tak membalikan badannya dan tetap membelakangi Alvi.
"Apa yang aku lakukan? Aku seolah mempermalukan diriku sendiri. Jika aku tahu rapatnya belum selesai, mana mungkin aku mau kesini." Gumam Avril yang malu setengah mati hingga wajahnya memerah.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?" Avril semakin heran dan terhenti melihat satu persatu pimpinan keluar dari ruangan. Avril berbalik, dan Alvi masih diposisinya. Avril melirik kearah Irfan yang kini sejajar berpapasan dengannya. Irfan memalingkan wajahnya yang sendu ketika menatap Avril.
"Devia dan Rania temui aku diruanganku. ." Ucap Pak Yusuf ketika Devia hendak ikut keluar.
"Dimengerti pak." Jawab keduanya menunduk.
"Jika berkenan. Mohon maafkan kesalahan saya tuan." Alvi tak menanggapi perkataan Pak Yusuf dan kemudian berlalu mendahului Devia dan Rania yang masih berdiri diam dan menimbang nyali untuk berbicara pada Avril yang perlahan melepaskan tangannya dari Devia.
"Nona..." Avril menoleh pada Devia yang memanggilnya lirih dan terdengar gemetar.
"Saya berharap nona bisa memaafkan kesalahan saya." Lanjut Devia menunduk dengan rasa bersalah. Avril tersenyum menanggapi Devia.
"Saya bukan orang jahat yang tak memaafkan seseorang. Dan lagi pula ini hanya salah faham, jadi saya mengerti."
"Terima kasih nona. Dan sekali lagi mohon maafkan saya yang sudah lancang mengidolakan tuan Alvi." Kini suara Devia terdengar lirih setengah berbisik.
"Tak apa jika sekedar mengidolakan, Tapi hanya satu hal yang tak bisa saya maafkan." Ucap Avril dengan tawa kecil. Devia hanya menyernyit tanpa berani bertanya kembali pada Avril. Saat ini, dimaafkan oleh Avril dan Alvi saja sudah termasuk keberuntungan untuknya. Dan dipecat dengan tidak dipermalukan juga merupakan sebuah kehormatan baginya. Meskipun bukan diperusahaan itu, Devia masih membutuhkan pekerjaan.
"Sa-saya juga... maaf sudah mengira bahwa nona dan pak Ray bertunangan." Sontak semua terbelalak menatap Rania yang semakin menciut setelah mengatakan hal itu. Alvi menoleh pada Ray dibelakangnya yang memalingkan wajahnya menghindari tatapan Alvi.
"Meng-mengapa Kak Rania berfikir seperti itu?" Tanya Avril memiringkan kepalanya, rasanya ingin tertawa saat itu. Tapi Avril menahan dirinya untuk tenang.
"Karena... pak Ray selalu menemui nona. Dan saya juga sempat melihat pak Ray memberikan bekal untuk nona. Jadi saya pikir..." Rania menghela nafas sebelum menyelesaikan kata-katanya.
"Tunangan saya bernama Tania. Bukan Avril Vania." Cetus Ray membuat Avril tertawa geli tapi membuat Alvi mendengus kesal.
"Kakak menyukai Ray?" Rania tercengang dan menjadi salah tingkah.
"Ti-tidak. Bu-bukan... sa-saya hanya mengidolakannya saja." Jawab Rania lalu menutup mulutnya gugup dan merutuki dirinya.
Avril kembali tertawa kecil.
"Hemmm Ray... aku tahu kau ingin tertawa kan? Mengapa kau menahan diri? Kau takut pada Alvi?" Ejek Avril menatap mata Alvi dengan wajah menantang.
"Kau tak takut padaku?" Tanya Alvi dengan masih memasang wajah dingin.
"Tapi nyatanya kau yang lebih takut padaku." Cetus Avril menyimpulkan senyum ejek.
"Jadi? Mengapa kau berkunjung ke ruanganku?" Alvi beranjak kemudian melangkah mendekati Avril.
"Kau melupakan ini tuan. Dan aku terganggu dengan semua panggilan yang terus menerus. Ditambah petugas keamanan yang ada didepan ruanganmu tidak mau memberikannya padamu." Avril menunjukan benda canggih itu didepan wajah Alvi.
"Sekarang kau tahu alasanku memberikannya padamu." Ucap Alvi acuh.
"Apa? Kau benar-benar menjahiliku." Avril menggembungkan pipinya kesal.
"Ray." Alvi menghela nafas panjang.
"Dimengerti tuan." Jawab Ray kemudian mengajak Devia dan Rania keluar dari ruangan meninggalkan Avril dan Alvi.
"Ray.. tunggu." Panggil Avril yang hendak mengejar Ray, namun tangannya ditarik oleh Alvi.
"Mau kemana kau pengacau?"
"Hah?" Avril menatap kesal pada Alvi.
"Kau sudah mengacaukan rapatku, jadi kau harus menerima hukumannya."
"Hukuman apa? Bukankah kau bertanya siapa yang keberatan dengan keputusanmu, harus ikut keluar dengan bu Devia. Dan aku sudah bilang aku yang keberatan dan akan mengundurkan diri." Jawab Avril dengan lantang.
"Apa atasanmu menyetujuinya?"
"Ya... pasti setuju." Avril mendadak gugup. Jelas sekali atasan yang dimaksud adalah Alvi, bukan Deri dan Roby.
"Kau sangat percaya diri nona Revano. Tapi apa kesepakatan akan terjadi jika salah satu pihak tidak setuju?" Alvi semakin dekat dengan Avril yang menimbang kembali kata-katanya.
"Ja-jadi apa hukumannya?" Avril perlahan melangkah mundur menghindari Alvi yang berniat menjahilinya.
"Bereskan ruanganku."
"Lagi? Tapi sudah bersih..." rengek Avril dengan manja.
"Mau membantah?"
__ADS_1
"Ehehe ti-tidak! Baiklah... tapi menjauh dariku sialan." Avril mendorong kasar wajah Alvi yang terkekeh kembali ke mejanya.
"Kau tak boleh keluar sebelum ruangan ini bersih."
"Dimengerti pak suam." Jawab Avril mendelik membuat Alvi menatap dalam dengan tawa yang tak bisa ditahan.
"Apa? Coba ulangi!"
"Apa?" Avril kembali bertanya seolah tak mengerti.
"Kubilang ulangi lagi!" Alvi kembali menghampiri Avril.
"Tidak mau."
"Ohhh jadi kau tak mau?"
"Iya.. memang aku tak mau..."
"Kalau begitu, akan aku terkam kau di ruangan itu sampai kau mengulanginya." Alvi menunjuk pintu yang berada tepat di belakang meja kerjanya. Avril terbelalak dan menjauh menghindari Alvi.
"Ray... tolong aku... ada harimau Ray...." teriak Avril dengan nada becanda.
"Ohhh jadi kau berharap Ray menyelamatkanmu?" Alvi menyunggingkan senyumnya yang menakutkan itu.
"Ihhhh Ray.... kau tak dengar?" Lagi-lagi Avril menoleh pada pintu dengan wajah ketakutan.
"Ahahaha kau menggemaskan sayang" Alvi mencubit kedua pipi Avril.
"Aaaaaa sakit." Avril mengusap kasar pipinya.
"Benarkah? Tidak keras juga." Ejek Alvi kemudian mengusap lembut pipi Avril.
"Nyinyinyi"
"Ehhhh siapa yang mengajarimu? Tak boleh seperti itu pada suami."
"Hmmm jadi harus bagaimana? Apa harus seperti ini?"
Avril mencubit hidung Alvi dengan keras.
"Aduduh..."
"Tidak keras juga." Avril meniru kembali nada bicara Alvi di kata-kata itu.
"Hemmm balas dendam?"
"Siapa?"
"Aku kenapa?"
"Kau menyebalkan. Tapi...."
"Tapi?"
"Aku mencintaimu."
"Hemmmmmm?"
"Hanya hemmm?"
"Lalu?"
"Kau tidak mencintaiku?"
"Apa membuktikan perasaan harus selalu dikatakan?" Avril tersenyum sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan Alvi.
"Maaf aku hanya izin 10 menit. Jadi aku tak bisa lama-lama disini." Avril menutup pintu ruangan dengan wajah mengejek Alvi yang terdiam ketika Avril berlalu.
"Aku masih merindukanmu." Alvi menghela nafas berat dan duduk bersandar disofa.
Pintu kembali terbuka, dan terlihat kepala Avril yang menampakan dibalik pintu.
"Jangan lupa minum obat oke." Avril kembali menutup pintu tanpa tahu Alvi yang menghela nafas ingin bicara.
"Kau sendiri belum sarapan" ucap Alvi kembali menghela nafas berat.
"Suami macam apa aku? Aku mengajakmu makan dikantor, tapi malah meninggalkanmu rapat." Alvi mengeluh sendiri dan memejamkan matanya.
. Aldi termenung menatap Amel dari balik kaca tebal.
"Mengapa kau keras kepala kak? Apa kau tidak menyayangiku? Walaupun kita selalu bertengkar, dan aku selalu menjahilimu, tapi itu sebagai bentuk aku menyayangimu. Semua lelucon yang kita lakukan, meskipun kadang ucapanmu kejam padaku, tapi hal itu yang aku rindukan sekarang. Aku akan kesepian kak." Aldi tak bisa menahan air matanya yang memaksa untuk keluar dari kelopak yang sudah terlalu lama menangis itu.
"Al..." Syifa meraih bahu Aldi dengan ragu. Aldi menoleh dan memperlihatkan wajah menyedihkannya.
"Mengapa kau disini?" Tanya Aldi kembali berpaling dan menatap Amel semakin dalam.
"Aku bagian shift 2, jadi aku--" Syifa terhenti tiba-tiba saat Aldi memeluk dirinya.
"Aku tahu aku memang tak tahu malu, tapi bisakah kau tak meninggalkanku? Setidaknya saat ini saja. Temani aku sebentar." Syifa termangu, karena ini kali pertama Aldi memeluknya. Syifa membalas pelukannya dan mengusap punggung Aldi dengan ikut menangis. Entah menangis karena terharu, atau ikut bersedih dengan apa yang dirasa Aldi sekarang.
Reno yang melihatnya dari jauh, dengan santai tersenyum lalu berjalan entah kemana.
"Kau naif Aldi." Cetus Reno.
__ADS_1
Mungkin dalam sandiwara ini, hanya Syifa yang sempat terbawa perasaan karena sikap Reno yang cenderung lebih tahu cara memperlakukan wanita seperti apa dan harus bagaimana.
Aldi dengan tiba-tiba melepas pelukannya pada Syifa.
"Ma-maaf. Apa kau kesini dengan Reno?" Sontak Syifa menoleh ke belakang dan kini tak mendapati Reno.
"Iya.. tapi.... "
"Aku takut Reno salah faham."
"Reno pergi? Dia bilang akan menyusulku?" Gumam Syifa tak melanjutkan obrolannya dengan Aldi.
"Syifa... aku minta maaf." Ucap Aldi membuyarkan lamunan Syifa.
"Tentang?" Syifa menyernyit tak mengerti.
"Aku tak bisa menjadi apa yang kau inginkan. Aku terlalu mengejar Avil sampai aku mengabaikanmu. Tapi aku tak tahu, saat kau dengan Reno, aku merasa bahwa ini juga yang kau rasakan selama denganku."
"Ak-aku tak mengerti Aldi... coba kau jelaskan lebih jelas lagi."
"Sepertinya... ah bukan. Ini nyata dan bukan 'sepertinya'. Aku mulai mencintaimu Syifa. Bukan lagi karena untuk pelampiasan agar aku bisa melupakan Avil. Tapi memang karena aku menyadari bahwa hanya kau lah yang selalu ada disampingku dalam keadaan apapun."
"Eh?"
"Syifa! Bisakah aku memperbaiki hubungan kita?" Aldi meraih bahu Syifa yang terdiam menatap mata Aldi yang kini terlihat tulus ucapannya. Air matanya kembali berderai.
"Apa aku terlambat? Kau benar-benar sudah berpaling pada Reno?"
"Tidak Al... Syifa tak pernah berpaling darimu. Selama denganku, aku melihat bahwa dirinya tulus mencintaimu, dan bukan karena perjodohan." Syifa menoleh pada pemilik suara itu. Reno menjawab pertanyaan Aldi sebelum Syifa menjawabnya.
"Jadi? Kalian berpura-pura pacaran selama ini?" Syifa tersentak. Mengapa Aldi langsung menyimpulkan kesana?
"Ahahha apa yang kau bicarakan? Sudah kubilang aku tak tahan dengan sikapmu yang mengabaikan Syifa. Ku pikir jika aku menggantikan posisimu, dan berusaha membuatnya bahagia, Syifa akan benar-benar bahagia. Tapi nyatanya, kau lah satu-satunya orang yang bisa membuatnya bahagia Al." Jelas Reno meyakinkan Syifa untuk tidak berkata apa-apa saat ini. Dan biarkan Reno saja yang bicara.
"Tapi kalian bilang kalian berpacaran kan?"
"Bukan kita, tapi aku saja yang mengatakannya. Jika sudah tahu sakitnya kehilangan, maka jangan sesekali kau mengabaikannya lagi. Kesempatan tak pernah datang dua kali, jika ada pun itu mungkin menjadi kesempatan terakhir." Reno dengan santai kembali berlalu dari hadapan Aldi.
"Ehh dan satu lagi. Kebetulan aku bertemu dengannya pagi ini, jadi ku pikir aku menemaninya saja ke sini. Bahaya jika perempuan pergi sendiri kan? Apalagi calon istri dari Aldian Mahendra. Bahaya sekali... hahaha"
"Kenapa? Reno tak mengatakan yang sebenarnya? Padahal bisa saja kan?" Gumam Syifa menatap kepergian Reno.
Terlihat Reno biasa saja dan terus berjalan menjauh dari Syifa dan Aldi. Dan dengan santai menerima sebuah panggilan masuk. Dan jelas sepertinya itu dari Bagas.
*kilas balik beberapa waktu lalu saat Amel masih sadar.
. Terlihat Aldian lebih banyak diam setelah tahu Syifa dan Reno berpacaran.
"Kau kenapa Al? Kakak perhatikan kau melamun terus."
"Tak apa kak." Jawab Aldi melemparkan senyum paksanya untuk sekedar meyakinkan.
"Kau bertengkar dengan Syifa? Sudah lama kakak tidak bertemu lagi dengannya." Terlihat Amel menahan sakit di bagian kepalanya.
"Lebih dari itu kak."
"Kau membuatnya pergi?"
"Sepertinya begitu."
"Apa kau mencintainya?"
"Aku tak tahu. Hatiku tak karuan sekarang. Pada Syifa aku seperti tak ada rasa, dan pada Avil pun demikian." Amel tersenyum menanggapi keluhan adiknya.
"Jangan terfokus pada apa yang kamu kejar, sampai kau melupakan apa yang seharusnya kamu jaga. Yang kamu kejar sudah mendapatkan kebahagiaannya. Dan sekarang yang seharusnya kamu jaga pun sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Kau benar-benar payah Aldi."
"Ahaha kakak benar. Aku memang payah. Aku berhasil mengabaikan Syifa, tapi tak bisa mengejar Avil kembali."
"Mengapa kau tak meminta Syifa untuk kembali padamu?"
"Dia sudah dengan Reno kak." Aldi menunduk kemudian menoleh dan tersenyum pada Amel.
"Dan kau menyerah begitu saja?"
"Bukankah kakak sendiri yang bilang. Jangan egois hanya karena mencintainya." Amel tertawa kecil.
"Mengapa aku punya adik yang bodoh sepertimu? Lihat dulu situasi dan kenyataannya."
"Apa maksud kakak?"
"Dengan kata lain kalian saling membutuhkan bukan? Kau boleh egois jika diapun bahagia denganmu."
"Tapi aku tak ingin menyakiti perasaannya."
"Jika hanya memikirkan perasaan, tak akan ada ujungnya." Aldi menyernyit semakin tak mengerti dengan yang diucapkan Amel.
---
. "Sekarang aku mengerti dengan yang diucapkan kakak."
"Hmmm?" Syifa kembali terheran dengan Aldi yang memeluknya tiba-tiba.
-bersambung.
__ADS_1