
. Sampai di rumah sakit, ketiganya keluar dari mobil dan berlalu mencari keberadaan Andara dan yang lain.
Terlihat mama Aldi menangis di dekapan mama Reno. Aldi menghampiri dan meraih mamanya sambil terisak.
"Al..." lirih Syifa meraih bahu Aldi dari belakangnya. Aldi menoleh kebelakang lalu mengusap pipinya yang basah.
"Bagaimana keadaan Avil?" Tanya Aldi pada Syifa yang menunduk tak tahu harus menjawab apa.
"Mengapa diam?" Tanya Aldi lagi dengan pelan.
"Kak Noah belum memberitahu kondisinya." Jawab Syifa dengan sedikit ragu. Syifa meraih wajah Aldi yang sudah penuh dengan luka lebam.
"Apa perutmu sakit?" Tanya Syifa yang menyadari ketidakstabilan nafas Aldi. Aldi hanya mengangguk menanggapi.
"Kita obati dulu.." Aldi menggeleng meraih tangan Syifa.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak Al.. kau harus di obati." Aldi tertegun melihat mata Syifa yang berkaca-kaca karena mengkhawatirkannya.
"Annisa.." lirih Dewi meraih tangan Syifa.
"Jangan tinggalkan Aldi ya..." lanjut Dewi kembali menangis. Kehilangan sosok suami, setelah kehilangan seorang putri membuatnya begitu terpukul. Aldi menatap nanar pada ibunya. Jika seandainya dia benar-benar bunuh diri, mungkin Dewi saat ini tak akan terlihat kuat didepan semua orang. Dalam sekejap kehilangan semua anggota keluarganya. Tiba-tiba Aldi tersentak mengingat pada Alvi.
"Dimana Alvi?" Tanya Aldi tiba-tiba.
"Kak Noah masih menanganinya." Jawab Syifa.
Dengan bujukan Syifa, Reno dan Aldi menemui dokter untuk memeriksa lukanya.
"Tidak parah, namun tetap harus di rawat. Agar lukanya cepat membaik." Ucap bu dokter dengan ramah.
"Tapi dok..." Aldi secara refleks menggantungkan ucapannya lalu menoleh pada Syifa.
"Pemakaman ayah sudah diatur oleh ayahku Al. Dan mama akan menemani mama Dewi untuk sementara waktu. Maafkan aku tak bisa banyak membantu. Aku tak ingin meninggalkanmu disini." Ujar Syifa seolah mengerti dengan pikiran Aldi.
"Tak apa Syifa..." lirih Aldi yang kemudian menunduk lesu.
"Bahkan aku tak bisa mengantarkan sampai ke peristirahatan terakhirnya. Mengapa ayah bertindak bodoh? Untuk menyalahkan polisi saja aku tak bisa, karena pada dasarnya ayah yang merencanakan semua ini." Gumam Aldi memejamkan matanya dan menghela nafas panjang menahan kesedihan yang mungkin sudah menyelimuti hatinya saat ini.
. Aldi menatap lekat pada langit-langit kamar ruangan. Hari ini Syifa belum menemuinya, mungkin tidak akan menemuinya. Karena Syifa harus membagi waktu untuk magangnya, bahkan Syifa menyempatkan waktu untuk menemani Dewi, mama Aldian.
"Mama pasti kesepian." Aldi hanya bisa bergumam sendiri sesekali melirik pada cairan infus yang menetes perlahan. Sudah 2 hari Aldi dan Reno di rawat. Benturan di perutnya masih terasa nyeri, dan terlihat ada lebam yang bila tersentuh, akan terasa menusuk sampai ke dalam.
"Al..." panggil Reno yang terbaring di sisi ranjangnya. Mereka dirawat dalam satu kamar.
"Hemmm..." Aldi enggan menoleh dan menanggapi lebih jauh.
"Di..." panggil Reno lagi.
"Hemmmmmmm" kali ini tanggapan Aldi sedikit meninggi.
"Yannnnnn" lanjut Reno seakan mengejek Aldi.
"Diam kau sialan." Aldi melempar bantalnya ke wajah Reno yang seketika terkejut karenanya.
"Aduh.... sakit sialan." Reno membalas melempar kembali bantal milik Aldi.
"Apa kau begitu bosan sampai memanggilku dengan menyicil seperti itu?"
"Kapan kita pulang ya?"
"Mana ku tahu."
"Bagaimana kalau kita ke ruangan Avil." Ucap Reno tiba-tiba antusias.
"Lalu? Caranya?" Aldi menatap datar pada Reno yang berpikir bahwa ke kamar Avril itu hal yang mudah.
"Ku dengar Noah tidak ada. Dia sedang sibuk." Bisik Reno.
"Alvi bagaimana sekarang?" Aldi menerawang seakan melewati mata Reno.
"Katanya tak ada peningkatan. Dan Avil pun masih belum sadar. Hissshhh aku tak bisa membayangkan luka-luka separah itu kembali terbuka." Reno bergidik ngeri membayangkan kondisi Alvi saat ini.
"Apa kau bisa diam Ren... ceritamu seakan kau menyindirku dengan keras." Aldi berbalik membelakangi Reno.
"Al... maafkan aku. Aku tak bermaksud." Reno menatap nanar punggung Aldi yang menyembunyikan rasa sedihnya.
. Ditengah keheningan, tiba-tiba pintu dibuka dengan keras. Reno menoleh dan mendapati Bagas yang terengah dan sangat bisa ditebak bahwa dirinya berlari menuju kamar itu.
__ADS_1
"Avil....." Bagas menggantungkan kata-katanya dan sesekali menyelaraskan nafasnya yang masih terengah.
"Avil kenapa?" Tanya Aldi yang tiba-tiba terbangun dan menatap pada Bagas.
"Itu... mati." Jawab Bagas setengah berteriak. Aldi dan Reno terbelalak lalu keduanya bergegas turun dari ranjangnya dengan tanpa sadar ada infusan yang masih menempel di tangannya. Hingga saat keduanya melangkah, cairan infusan itu terjatuh bersamaan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bagas yang terheran dengan Aldi dan Reno.
"Ke kamar Avil." Jawab keduanya bersamaan dengan wajah yang panik setengah mati.
"Mau apa?" Tanya Bagas lagi.
"Jangan halangi aku Gas.." teriak Aldi yang menatap tajam pada Bagas yang berdiri di ambang pintu.
"Kalian disini saja. Tubuh kalian masih belum pulih kan?"
"Menyingkir atau aku bunuh kau sekarang juga." Aldi tetap tajam menatap Bagas yang menatap konyol Aldi dan Reno.
"Apa yang mereka pikirkan?" Gumam Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mengapa kalian panik?" Tanya Bagas yang tak bisa menahan rasa herannya.
"Kau jangan becanda Gas... kau bilang mati. Aku tak akan percaya. Aku ingin memastikannya sendiri bahwa Avil baik-baik saja." Ucap Reno yang meraih kantong infus dan hendak berlalu melewati Bagas.
"Apa yang kalian pikirkan? Avil tak mati. EKG nya yang mati." Bagas menepuk dahinya dengan kesalahfahaman kedua temannya.
"Lagi pula siapa yang bilang Avil mati?" Lanjut Bagas tak kalah kesal.
"Kau." Jawab Aldi dan Reno lagi bersamaan.
"Ehh... aku?" Bagas menyernyit heran dan membiarkan Reno dan Aldi melewatinya.
. Sampai di kamar inap Avril, Aldi menatap nanar pada kedua orang di ruangan itu yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Avril yang tengah di tangani Noah, dan Alvi yang terbaring disamping ranjang Avril yang sama-sama terlelap dengan perban ditubuhnya. Sepertinya dokter sengaja tak memakaikan baju untuk Alvi. Terlihat darah yang tersirat dibalik perban. Apa lagi di bahu dan perutnya yang mungkin kembali terbuka saat terjun menyusul Avril.
"Siapa yang mengizinkan kalian keluar dari kamar ?" Tanya Noah yang masih sibuk menangani Avril.
"Aku ingin bertemu dengan Avil." Jawab Aldi yang sama-sama enggan memalingkan pandangannya dari Avril.
"Avril baik-baik saja.. hanya EKG nya yang rusak. Aku dan petugas yang lain sudah menggantinya. Semula aku juga terkejut. Aku kira Avril--"
"Apa kau bisa diam dokter?" Aldi menyela dengan rasa kesal. Noah terdiam tiba-tiba mengatupkan mulutnya. Aldi berjalan menghampiri Avril yang sepertinya enggan membuka mata saat ini.
"Al..." panggil Baren dengan suara pelan.
"Jangan pergi Avil...." ucap Aldi sedikit meninggikan suaranya.
. Tanpa disadari, Avril perlahan membuka matanya dan mencoba menggerakkan tangannya untuk meraih lengan Aldi. Menyadari pergerakan Avril, Aldi mendongak dan mematung tak percaya ketika menatap Avril. Baren terperanjat lalu ikut menghampiri Avril.
"Avil..." panggil Baren yang terkejut sekaligus senang melihat Avril sadar.
"Wah... kalian seperti kisah putri tidur. Sang pangeran menciumnya, lalu dia bangun." Cetus Bagas antusias.
Melihat Avril membalas tatapannya, Aldi kembali membenamkan wajahnya di pundak Avril dan masih saja terisak, bahkan lebih keras.
"Syukurlah... kau selalu saja membuatku khawatir." Ucap Aldi tak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.
Avril masih terdiam, mencoba mengumpulkan semua kesadarannya dan menyeimbangkan pikirannya. Setelah semua kesadarannya terkumpul, Avril terbelalak kemudian terbangun dan mendorong kepala Aldi sedikit menjauhinya.
"Alvi..." panggil Avril menatap pada Noah. Noah hanya menunjuk ke sisi kanan dimana Alvi berbaring. Avril mengikuti arah kemana Noah menunjuk. Dengan tak berpikir lagi, Avril mencoba turun dari ranjang, namun hampir terjatuh karena tubuhnya yang masih lemas dan sulit di seimbangkan. Beruntung Bagas dengan sigap menahan Avril sehingga Avril tak jadi terjatuh.
"Ma-maaf." Lirih Avril menyentuh kepalanya yang terus berputar-putar.
"Kau mau kemana?" Tanya Reno yang ikut meraih Avril.
"Ren... Alvi.... dia baik-baik saja? Dia masih hidup kan? dia seperti itu karena aku kan? Ren... mengapa dia masih tertidur? Ren... jawab." Avril semakin meninggikan suaranya lalu terduduk di lantai. Lututnya benar-benar lemas dan gemetaran. Untuk berdiri saja, ia merasa kesulitan.
"Alvi baik-baik saja Avril... kau jangan khawatir. Hanya lukanya saja yang kembali terbuka. Dan benturan dikepalanya yang mungkin menjadi pemicu mengapa sampai sekarang Alvi belum sadar." Ucap Noah seraya membantu Avril kembali ke ranjangnya dan berniat menenangkan Avril.
"Noah... jika terjadi apa-apa pada Alvi, aku tak segan membunuhmu." Ucap Avril dengan nada dingin, bahkan lebih dingin dari pada Alvi.
Keempat orang yang mendengarnya itu bergidik ngeri.
"Dia ketularan Alvi." Cetus Bagas.
"Isssshhhhh" terdengar Alvi meringis menahan sakit ditubuhnya namun enggan membuka mata.
"Alvi..." panggil Avril yang lagi-lagi mencoba turun dari ranjang namun ditahan oleh Bagas dan Reno.
"Av-ril...." lirih Alvi yang sayup-sayup mendengar suara Avril memanggilnya. Pemandangan itu terus muncul di hadapan Alvi. Apa lagi saat mata terpejam. Kejadian itu terasa semakin jelas. Bagaimana Avril perlahan menghilang dibalik arus air.
__ADS_1
"Avril." Teriak Alvi yang langsung terbangun dan kemudian terengah sambil meringis kesakitan. Hampir seluruh tubuhnya dibalut oleh perban.
"Mengapa kau bergerak seperti itu. Lukamu sangat parah Alvi." Ucap Noah yang segera meraih Alvi.
"Dimana Avril Noah... ughhhh...."
"Hati-hati Alvi... tanganmu patah."
"Aku ingin bertemu Avril Noah..." ucap Alvi yang masih terdiam ditempat karena rasa sakitnya.
"Aku disini Alvi." Avril tak kuasa jika hanya melihat Alvi yang menahan sakit di tubuhnya. Alvi menatap nanar pada Avril yang terlihat sangat pucat. Rasa ingin memeluknya karena senang bahwa Avril kembali selamat, dan rasa sedihnya karena tak bisa menjaga Avril sampai ia mengalami hal yang hampir membuatnya terbunuh.
Alvi sesenggukan menopang dahinya dengan tangan. Dirinya menangis karena 2 hal saat ini. Sakit di sekujur tubuh, dan gagal menjadi pelindung Avril yang pernah ia janjikan tempo hari.
"Alvi... apa sangat sakit? Sampai kau menangis seperti itu?" Tanya Reno menghampiri Alvi lalu meraih bahunya.
"Kau menyentuh luka ku yang terparah Ren." Ucap Alvi membuat Reno kembali menarik tangannya lagi.
"Maaf... aku tak sengaja."
"Kau berniat membunuhku?"
"Tidak Alvi... aku senang kau selamat." Reno memeluk gemas kepala Alvi dengan wajah yang di paksakan untuk tertawa.
"Lepaskan aku Reno. Aku masih normal." Ucap Alvi dengan datar seraya menahan kesakitan.
"Kau pikir aku tak normal?" Reno melepaskan pelukannya lalu beralih ke ranjang Avril.
. Pintu dibuka dengan kasar, seketika seisi ruangan menoleh kearah pintu.
"Alvil?" Teriak Demira.
"Alvil?" Reno menyernyit heran dengan polos menatap Demira yang terengah.
"Iya. Alvi dan Avil." Jawab Demira tak kalah polos. Entah kenapa Demira terlihat tenang-tenang saja. Bahkan saat berjalan menghampiri Avril yang kini tengah terbaring, Demira hanya menatap datar pada Avril.
"Demi..." lirih Avril yang mengulurkan tangannya. Namun Demira menepis kasar tangan Avril dengan raut wajah yang terlihat marah. Baren terheran dengan sikap Demira. Demira mengepalkan tangannya dan menghela nafas dalam-dalam.
"Sampai kapan Avil? Mau sampai kapan kau akan membuatku khawatir terus seperti ini?" Demira yang menahan embun dimatanya kini gagal dan Avril kembali melihat dirinya menangis.
"Kau begitu bodoh. Mengapa kau begitu ceroboh? Kau takut pada air, tapi kau malah terjun kedalam sungai itu. Bagaimana jika kau bertemu dengan buaya?" Lanjut Demira kini memaksakan tawanya agar Avril tak terlalu tertekan.
"Kau tak tahu Dem?" Tanya Reno.
"Apa?" Demi menoleh dengan wajah penasaran.
"Justru Avil di selamatkan siluman buaya." Cetus Reno dengan tanpa dosa.
'Bugh' Alvi melempar bantal langsung mengenai wajah Reno.
"Arghhh mengapa kau melemparku."
"Apa maksudmu siluman buaya hah?"
"Memang benar kan? Yang banyak simpanan perempuan itu apa namanya kalau bukan buaya."
"Jangan menyebar berita yang tidak-tidak Ren. Aku setia. Aku hanya mencintai Avril, dan Avril satu-satunya wanita dalam hidupku."
"Yaa tuan Revano... aku percaya padamu." Reno mendelik lalu mengusap wajahnya yang terasa berdenyut karena lemparan Alvi.
"Ughhh kau dan Aldi sama-sama gila. Melemparku dengan bantal" cetus Reno yang memasang wajah kesakitan.
"Sakit?" Tanya Demira yang hendak meraih wajah Reno, namun sebuah tangan mendahului menggenggam pergelangan tangan Demira.
"Kau mau apa?" Tanya Noah dengan tatapan dingin.
"Aku ingin melihat lukanya..." jawab Demira.
"Aku dokternya disini." Ucapnya, menyunggingkan senyum di wajah Demira.
"Kau cemburu pak dokter?" Ejek Demira membuat Noah menjadi gugup dan salah tingkah.
"Ti-tidak. Sudahlah. Jangan mengotori tanganmu dengan menyentuhnya." Noah memalingkan wajahnya yang kesal.
Tanpa disadari, Avril terus menatap Alvi dengan rasa sesal yang teramat. Berandai-andai bisa mengulang waktu, jika saja Avril menurut dengan yang di ingatkan Alvi untuk tidak kemana-mana tanpa izinnya, dan tidak terlalu mengkhawatirkan Aldi, mungkin ini tak akan terjadi. Yang lebih menyesakkan, Alvi terus saja melempar senyumnya seakan dirinya baik-baik saja.
"Wah... aku terkesan kalian selamat." Ucap seseorang yang bersandar dipintu.
-bersambung.
__ADS_1